All My Heart
Cast:
Lee Donghae
Park Hyerim
Lee Jinki
Genre: Family
Rate: General
Dia mungkin baru saja mengenalku.
Tapi aku sudah jauh lebih mengenalnya sebelum pertemuan itu terjadi. Aku pernah
menangis hanya karena membaca cerita hidupnya. Ketika dia menceritakan semua
tentang Ayahnya dan bagaimana perjuangan mereka. Aku tahu itu. Meskipun saat
itu aku belum berada di sampingnya, tapi aku tidak pernah membiarkan ia
menangis sendiri. Aku juga akan menitikan airmata apabila dia menangis.
Terserah siapapun jika ingin mengatai
bahwa yang aku lakukan ini bodoh. Aku tidak akan peduli. Yang pasti aku hanya
ingin menjadi sosok yang tidak membiarkan dirinya terpuruk sendiri. Aku ingin
menjadi orang yang paling dekat dengannya. Ya, menjadi sosok adik dari seorang
Lee Donghae adalah angan-anganku sedari dulu.
Sejak kecil, aku sering kali iri
dengan sepupuku hanya karena dia punya sosok kakak laki-laki. Ditambah lagi
sang kakak sangat perhatian dengannya. Dia benar-benar beruntung aku pikir. Dan
aku ingin seperti dirinya. Aku ingin mempunyai sosok Kakak di rumah yang bisa aku
panggil dengan sebutan “Oppa”.
Dan sosok Lee Donghae adalah sosok
Abang yang ada dalam bayanganku semenjak kecil. Abang yang lembut, lucu, teguh
dan penyayang. Semuanya ada pada diri Lee Donghae. Aku pikir akan sangat
menyenangkan jika sekiranya aku bisa bercanda dengannya sebagaimana sepupuku
itu dengan Abangnya. Yah, aku sangat mengharapkan itu terjadi. Sampai beberapa
tahun kemudian…
---
“Oppa, .. Apa tidak dingin?” tanyaku.
Orang yang berjalan di sampingku menggelengkan kepalanya. Aku hanya menatapnya
sekilas, lalu memperbaiki posisi payung yang kupegang agar bisa menaungi tubuh
kami di bawahnya. “Jaketmu sudah habis basah seperti itu, .. kenapa tidak
mengambil saja mantel yang tadi Eomma siapkan, eoh?”
“Gwenchanayo, Hye Rim~ah. Oppa sudah
biasa seperti ini.” Sahutnya. Aku memilih diam setelah itu dengan posisi masih
setia memayungi tubuh Donghae yang mulai membersihkan daun-daun yang berjatuhan
di makam Ayahnya.
“Aku tidak bisa melihat jika kuburan
Abeoji seperti ini.” Ucapnya yang setelah itu meminta bunga yang ada padaku
untuk ia letakkan ke makam sang Ayah.
Lalu setelah itu mengambil posisi untuk memberi penghormatan.
Aku hanya bisa menatap nanar dengan
perasaan yang kecut. Bagaimana tidak, saat dulu di mana aku melihat ia yang
menangis di depan kamera begitu menceritakan sang Ayah saja sudah berhasil
membuatku ikut terisak, apalagi bila secara langsung seperti ini. Batinku tidak
kuat melihat Donghae berusaha menyembunyikan airmatanya di tengah rinai-rinai
hujan yang turun dan menetes begitu saja ke wajahnya.
“Abeoji, ..” ucap Donghae memulai
pembicaraannya begitu sudah mengambil posisi berjongkok di samping makam
Ayahnya. Lalu berkata lagi, “Kau pasti senang, kan kalau anakmu yang paling
tampan ini datang membawa calon menantu untukmu?”
Aku berdecak begitu mendengarnya
sembari memutar bola mata jengah.
“Dia cantik, pengertian, lembut dan,
… yah, pokoknya semua kriteria calon menantu idaman Abeoji semua ada pada
dirinya. Aku yakin Abeoji pasti sangat menyukainya lalu mengatakan bahwa aku
tidak salah pilih! Iya, kan? Ah, kita berdua memang satu hati.”
“—Abeoji, apa kau tidak rindu
denganku?”
Seketika aku tertegun. Kenapa
tiba-tiba pembicaraannya yang tadi menggebu-gebu malah berubah genre seperti
ini? Aku yang masih pada posisi di belakangnya dengan menggatang payung ke
atas, mencoba kembali memfokuskan pendengaranku.
“Kau tahu impian terbesarku itu apa?
Impian terbesarku adalah, aku ingin sekali Abeoji bisa hadir di pesta
pernikahanku nanti. Duduk mendampingiku dengan stelan jas yang sama. Aku ingin Abeoji
menggenggam tanganku atau menepuk-nepuk pundakku seperti yang sering Abeoji
lakukan untuk menenangkanku dan menyemangatiku. Aku sangat merindukan semua
itu, kau tahu kan?”
Aku benar-benar tidak tahu apa yang
harus kulakukan selain hanya mendaratkan telapak tanganku yang kosong ke pundak
kanannya. Sementara airmataku merembes tak terkendali lagi. Suaranya yang
tiba-tiba berubah parau itu membuat dadaku seperti ditikam mata belati tajam. “Tapi, aku selalu yakin kalau Abeoji selalu
di sampingku kapanpun dan bagaimanapun keadaanku. Abeoji akan selalu bersamaku
seperti bagaimana janji Abeoji dalam surat.”
“—Ah, iya, .. Aku hampir lupa untuk
mengatakan maaf kepadamu karena aku tidak bisa membawa calon menantumu saat
ini. Dia masih sibuk menyiapkan acara pernikahan nanti. Ya, kau taukan kalau
urusan perempuan itu memang berlipat-lipat repotnya daripada kaum kita?” ia
terkekeh sendiri, meskipun terdengar sengau. Sementara aku tidak lagi bisa
mencibirnya selain hanya ikut tersenyum. “Tapi aku janji, aku pasti akan
membawanya menemui Abeoji secepatnya! Oke, Abeoji?—Aku mencintaimu.”
Donghae mengakhiri pembicaraannya
dengan mencium batu nisan Ayahnya. Setitik airmata kembali jatuh ke pipinya
saat ia memberikan penghormatan terakhir sebelum pulang dari ziarah hari ini.
Aku menatapnya yang berbalik badan.
Ia hanya tersenyum, lalu mempersilahkan aku mengambil posisinya. Aku
mengangguk, lalu menyerahkan payung yang ada di tanganku kepada Donghae.
“Annyeonghasimnikka, Abeoji.” Ucapku
begitu merundukkan tubuhku sebagai penghormatan terhadap orang yang sangat
dihormati oleh Donghae dan juga aku.
“Kemarin begitu Donghae Oppa
mengajakku untuk mengunjungimu, aku benar-benar senang sekali dan pastinya aku
tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu denganmu.”
“—Abeoji, kau tidak marahkan jika aku
memanggilmu seperti itu? aku hanya ingin sekali masuk dalam daftar anak-anakmu
seperti Donghwa dan Donghae Oppa. Pasti akan menyenangkan sekali karena menjadi
putri satu-satunya. Meskipun sebentar lagi Donghae Oppa akan membawa putri yang
lain.” Ucapanku terhenti beberapa saat begitu mendengar suara kekehan dari
belakang. Dan aku hafal sekali itu suara siapa. Tapi aku tidak peduli itu.
Biarkan saja. Aku ingin bercerita banyak sekarang dengan Abeojiku.
“Oh, iya. Ini adalah pertemuan ketiga
kita. Waktu itu aku mengunjungimu bersama Eomma dan Donghwa Oppa. Kau pasti
sudah mengingat wajahku kan sekarang? Ah, kau harus mengingatnya, karena
sekarang aku sudah menjadi putri dalam daftar anak-anakmu. Hehehe…”
“Abeoji, .. sebentar lagi Donghaemu
yang manja itu akan menikah. Aku benar-benar tidak yakin apakah dia bisa
menjadi suami dan Ayah yang baik atau tidak. Lihat saja kelakuannya masih kekanak-kanakan
seperti itu—Aww!!”
“Kau mau cari mati, eoh?” suara
Donghae Oppa mengancamku begitu sudah berhasil mendaratkan jitakannya ke
kepalaku. Sementara kekehan menyebalkan itu kembali terdengar. Aku tidak mau
menoleh. Sedikitpun! Lebih baik aku meneruskan ceritaku. Bukannya Abeoji masih
menanti kelanjutannya?
“Nah, Abeoji lihat sendiri dia
menjitakku, kan? Dia memang selalu menyebalkan seperti ini.” Ucapku. Sedangkan
Donghae Oppa mendengus lirih di belakangku.
“Tapi aku menghormatinya. Malah
sangat-sangat menghormatinya. Dia persis seperti dirimu. Lembut, penyayang,
hormat juga bijak. Aku bangga punya Oppa seperti dirinya. Dan Aku berjanji akan
menjadi adik yang baik untuk Donghae-mu yang paling manja itu. Kau bisa
percayakannya kepadaku, Abeoji.”
“—Aku kira hanya ini yang bisa aku
ceritakan sekarang. Aku harus kembali untuk membantu persiapan pernikahan
mereka minggu depan. Kaulihat, bahkan anakmu yang paling tampan itu belum
memotong rambutnya sama sekali! Keterlaluan! Tapi aku janji akan menceritakan
lebih banyak nanti. Kita pasti bertemu lagi. Dan yang perlu kautahu, aku sangat
menghormati dan menyayangimu.”
Aku berdiri, kembali memberi
penghormatan sebagai tanda perpisahan hari ini. Lalu aku merasa seseorang
menepuk pundakku dari belakang, begitu aku berbalik Donghae langsung memelukku
erat, dan mulai terisak setelahnya.
Bisa kurasakan tubuhnya yang sedikit
bergetar begitu aku membalas memeluknya. Lalu memutuskan untuk menepuk-nepuk
pundaknya sedikit memberi penenangan. Setelah mungkin merasa cukup, Donghae
melepas pelukannya. “Gomawoyo, ..” ucapnya sengau. Aku mengangguk.
“Ehhemm…” tiba-tiba sebuah suara
memecah keheningan di antara kami. Aku menoleh dan mendapati sosok berjaket
putih dengan topi hitam melindungi kepalanya, berdiri sembari mengusap-usap
tengkuknya dengan tangan. Aku memang sudah tahu bahwa ada sosok lain selain aku
dan Donghae di sini sedari tadi, tapi aku hanya pura-pura tidak
menghiraukannya.
“Sejak kapan ada makhluk lain di
sini, Oppa?” ucapku yang memilih melemparkan pertanyaan kepada Donghae.
Sementara orang yang aku maksud itu melengos mendengarnya.
Donghae terkekeh, “Aish, jangan
seperti itu. Bagaimana pun dia yang sudah membuatmu pernah tidak bisa tidur
satu malam, eoh?”
Aku yang tidak ingin ucapan berbahaya
dari mulut Donghae semakin berkelanjutan itu segera saja mendaratkan kepalan
tanganku ke lengan atas tangannya. Ia mengaduh lirih sebentar kemudian kembali
terkekeh-kekeh menyebalkan. Aku hanya bisa mendengus sekarang, sementara orang
yang berdiri di antara kami itu semakin memperkecil matanya yang sipit. Seperti
berusaha mencerna maksud ucapan sekilas Donghae tadi. Benar-benar
menjengkelkan.
“Oppa sengaja memintanya ke sini
untuk menjemputmu.” Ucap Donghae kemudian begitu tawanya sudah mereda. “Oppa
mungkin tidak bisa kembali ke Seoul bersamamu setelah ini. Jongwoon hyeong baru
saja menelpon untuk hadir ke acara peresmian restourant barunya di Busan. Sementara
Eonnimu meminta untuk kau segera di kembalikan agar membantunya mengukur gaun.
Oppa tidak bisa mendampinginya hari ini, jadi—“
“Arraseo, ..” ucapku sambil
mengangguk-anggukan kepala karena tidak ingin mendengar penjelasan yang lebih
panjang lagi. “Tapi kenapa harus dia yang menjemputku?” ucapku kemudian sambil
melirik sosok namja berjaket putih itu yang tadinya tersenyum manis kini
tiba-tiba berubah berkerut mukanya karena mendengar kata-kataku. Donghae
lagi-lagi hanya bisa terkekeh.
“Kau sudah bosan dengannya, eoh?”
“Anni.” Sahutku, “Hanya saja jika
dengannya aku merasa jantungku tidak pernah bekerja normal.”
Seketika senyum itu pun kembali
merekah lebar di wajahnya. Matanya yang sipit menjadi hanya seperti garis
panjang yang menghiasi wajah putihnya. Aku terunduk mengulum senyum. Tidak tahu
apakah ucapanku barusan terlampau dari kata basi. Tapi masa bodoh, ..
menyenangkan hati orang pun sudah termasuk pahala bukan?
“Nde, .. Oppa tahu. Bahkan seperti
katamu waktu itu, .. coklat akan tiba-tiba terasa hambar hanya karena
melihatnya tersenyum.” Timpal Donghae yang kali ini tidak bisa mencegah hawa
hangat menjalari pipiku. Seperti ada listrik bertegangan rendah. Membuat aku
terpaku di tempat tanpa bisa mengangkat wajah. Bagaimana merahnya sekarang
wajahku pun, aku tidak bisa membayangkannya.
“Jinjja, hyeong?” ucap namja itu yang
setelahnya aku langsung menarik sebelah tangan Donghae untuk mengajaknya pergi.
Tidak ingin ini menjadi semakin berkelanjutan yang akhirnya pasti aku yang
menjadi bulan-bulanan mereka.
*
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar