Sabtu, 27 April 2013

All My Heart (Oneshot)

All My Heart

Cast:
Lee Donghae
Park Hyerim
Lee Jinki

Genre: Family
 
Rate:  General


Dia mungkin baru saja mengenalku. Tapi aku sudah jauh lebih mengenalnya sebelum pertemuan itu terjadi. Aku pernah menangis hanya karena membaca cerita hidupnya. Ketika dia menceritakan semua tentang Ayahnya dan bagaimana perjuangan mereka. Aku tahu itu. Meskipun saat itu aku belum berada di sampingnya, tapi aku tidak pernah membiarkan ia menangis sendiri. Aku juga akan menitikan airmata apabila dia menangis.

Terserah siapapun jika ingin mengatai bahwa yang aku lakukan ini bodoh. Aku tidak akan peduli. Yang pasti aku hanya ingin menjadi sosok yang tidak membiarkan dirinya terpuruk sendiri. Aku ingin menjadi orang yang paling dekat dengannya. Ya, menjadi sosok adik dari seorang Lee Donghae adalah angan-anganku sedari dulu.

Sejak kecil, aku sering kali iri dengan sepupuku hanya karena dia punya sosok kakak laki-laki. Ditambah lagi sang kakak sangat perhatian dengannya. Dia benar-benar beruntung aku pikir. Dan aku ingin seperti dirinya. Aku ingin mempunyai sosok Kakak di rumah yang bisa aku panggil dengan sebutan “Oppa”.

Dan sosok Lee Donghae adalah sosok Abang yang ada dalam bayanganku semenjak kecil. Abang yang lembut, lucu, teguh dan penyayang. Semuanya ada pada diri Lee Donghae. Aku pikir akan sangat menyenangkan jika sekiranya aku bisa bercanda dengannya sebagaimana sepupuku itu dengan Abangnya. Yah, aku sangat mengharapkan itu terjadi. Sampai beberapa tahun kemudian…

---

“Oppa, .. Apa tidak dingin?” tanyaku. Orang yang berjalan di sampingku menggelengkan kepalanya. Aku hanya menatapnya sekilas, lalu memperbaiki posisi payung yang kupegang agar bisa menaungi tubuh kami di bawahnya. “Jaketmu sudah habis basah seperti itu, .. kenapa tidak mengambil saja mantel yang tadi Eomma siapkan, eoh?”

“Gwenchanayo, Hye Rim~ah. Oppa sudah biasa seperti ini.” Sahutnya. Aku memilih diam setelah itu dengan posisi masih setia memayungi tubuh Donghae yang mulai membersihkan daun-daun yang berjatuhan di makam Ayahnya.

“Aku tidak bisa melihat jika kuburan Abeoji seperti ini.” Ucapnya yang setelah itu meminta bunga yang ada padaku untuk ia letakkan ke makam sang Ayah.  Lalu setelah itu mengambil posisi untuk memberi penghormatan.

Aku hanya bisa menatap nanar dengan perasaan yang kecut. Bagaimana tidak, saat dulu di mana aku melihat ia yang menangis di depan kamera begitu menceritakan sang Ayah saja sudah berhasil membuatku ikut terisak, apalagi bila secara langsung seperti ini. Batinku tidak kuat melihat Donghae berusaha menyembunyikan airmatanya di tengah rinai-rinai hujan yang turun dan menetes begitu saja ke wajahnya.

“Abeoji, ..” ucap Donghae memulai pembicaraannya begitu sudah mengambil posisi berjongkok di samping makam Ayahnya. Lalu berkata lagi, “Kau pasti senang, kan kalau anakmu yang paling tampan ini datang membawa calon menantu untukmu?”

Aku berdecak begitu mendengarnya sembari memutar bola mata jengah.

“Dia cantik, pengertian, lembut dan, … yah, pokoknya semua kriteria calon menantu idaman Abeoji semua ada pada dirinya. Aku yakin Abeoji pasti sangat menyukainya lalu mengatakan bahwa aku tidak salah pilih! Iya, kan? Ah, kita berdua memang satu hati.”

“—Abeoji, apa kau tidak rindu denganku?”

Seketika aku tertegun. Kenapa tiba-tiba pembicaraannya yang tadi menggebu-gebu malah berubah genre seperti ini? Aku yang masih pada posisi di belakangnya dengan menggatang payung ke atas, mencoba kembali memfokuskan pendengaranku.

“Kau tahu impian terbesarku itu apa? Impian terbesarku adalah, aku ingin sekali Abeoji bisa hadir di pesta pernikahanku nanti. Duduk mendampingiku dengan stelan jas yang sama. Aku ingin Abeoji menggenggam tanganku atau menepuk-nepuk pundakku seperti yang sering Abeoji lakukan untuk menenangkanku dan menyemangatiku. Aku sangat merindukan semua itu, kau tahu kan?”

Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan selain hanya mendaratkan telapak tanganku yang kosong ke pundak kanannya. Sementara airmataku merembes tak terkendali lagi. Suaranya yang tiba-tiba berubah parau itu membuat dadaku seperti ditikam mata belati tajam.     “Tapi, aku selalu yakin kalau Abeoji selalu di sampingku kapanpun dan bagaimanapun keadaanku. Abeoji akan selalu bersamaku seperti bagaimana janji Abeoji dalam surat.”

“—Ah, iya, .. Aku hampir lupa untuk mengatakan maaf kepadamu karena aku tidak bisa membawa calon menantumu saat ini. Dia masih sibuk menyiapkan acara pernikahan nanti. Ya, kau taukan kalau urusan perempuan itu memang berlipat-lipat repotnya daripada kaum kita?” ia terkekeh sendiri, meskipun terdengar sengau. Sementara aku tidak lagi bisa mencibirnya selain hanya ikut tersenyum. “Tapi aku janji, aku pasti akan membawanya menemui Abeoji secepatnya! Oke, Abeoji?—Aku mencintaimu.”

Donghae mengakhiri pembicaraannya dengan mencium batu nisan Ayahnya. Setitik airmata kembali jatuh ke pipinya saat ia memberikan penghormatan terakhir sebelum pulang dari ziarah hari ini.

Aku menatapnya yang berbalik badan. Ia hanya tersenyum, lalu mempersilahkan aku mengambil posisinya. Aku mengangguk, lalu menyerahkan payung yang ada di tanganku kepada Donghae.

“Annyeonghasimnikka, Abeoji.” Ucapku begitu merundukkan tubuhku sebagai penghormatan terhadap orang yang sangat dihormati oleh Donghae dan juga aku.

“Kemarin begitu Donghae Oppa mengajakku untuk mengunjungimu, aku benar-benar senang sekali dan pastinya aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu denganmu.”

“—Abeoji, kau tidak marahkan jika aku memanggilmu seperti itu? aku hanya ingin sekali masuk dalam daftar anak-anakmu seperti Donghwa dan Donghae Oppa. Pasti akan menyenangkan sekali karena menjadi putri satu-satunya. Meskipun sebentar lagi Donghae Oppa akan membawa putri yang lain.” Ucapanku terhenti beberapa saat begitu mendengar suara kekehan dari belakang. Dan aku hafal sekali itu suara siapa. Tapi aku tidak peduli itu. Biarkan saja. Aku ingin bercerita banyak sekarang dengan Abeojiku.

“Oh, iya. Ini adalah pertemuan ketiga kita. Waktu itu aku mengunjungimu bersama Eomma dan Donghwa Oppa. Kau pasti sudah mengingat wajahku kan sekarang? Ah, kau harus mengingatnya, karena sekarang aku sudah menjadi putri dalam daftar anak-anakmu. Hehehe…”

“Abeoji, .. sebentar lagi Donghaemu yang manja itu akan menikah. Aku benar-benar tidak yakin apakah dia bisa menjadi suami dan Ayah yang baik atau tidak. Lihat saja kelakuannya masih kekanak-kanakan seperti itu—Aww!!”

“Kau mau cari mati, eoh?” suara Donghae Oppa mengancamku begitu sudah berhasil mendaratkan jitakannya ke kepalaku. Sementara kekehan menyebalkan itu kembali terdengar. Aku tidak mau menoleh. Sedikitpun! Lebih baik aku meneruskan ceritaku. Bukannya Abeoji masih menanti kelanjutannya?

“Nah, Abeoji lihat sendiri dia menjitakku, kan? Dia memang selalu menyebalkan seperti ini.” Ucapku. Sedangkan Donghae Oppa mendengus lirih di belakangku.

“Tapi aku menghormatinya. Malah sangat-sangat menghormatinya. Dia persis seperti dirimu. Lembut, penyayang, hormat juga bijak. Aku bangga punya Oppa seperti dirinya. Dan Aku berjanji akan menjadi adik yang baik untuk Donghae-mu yang paling manja itu. Kau bisa percayakannya kepadaku, Abeoji.”

“—Aku kira hanya ini yang bisa aku ceritakan sekarang. Aku harus kembali untuk membantu persiapan pernikahan mereka minggu depan. Kaulihat, bahkan anakmu yang paling tampan itu belum memotong rambutnya sama sekali! Keterlaluan! Tapi aku janji akan menceritakan lebih banyak nanti. Kita pasti bertemu lagi. Dan yang perlu kautahu, aku sangat menghormati dan menyayangimu.”

Aku berdiri, kembali memberi penghormatan sebagai tanda perpisahan hari ini. Lalu aku merasa seseorang menepuk pundakku dari belakang, begitu aku berbalik Donghae langsung memelukku erat, dan mulai terisak setelahnya.

Bisa kurasakan tubuhnya yang sedikit bergetar begitu aku membalas memeluknya. Lalu memutuskan untuk menepuk-nepuk pundaknya sedikit memberi penenangan. Setelah mungkin merasa cukup, Donghae melepas pelukannya. “Gomawoyo, ..” ucapnya sengau. Aku mengangguk.

“Ehhemm…” tiba-tiba sebuah suara memecah keheningan di antara kami. Aku menoleh dan mendapati sosok berjaket putih dengan topi hitam melindungi kepalanya, berdiri sembari mengusap-usap tengkuknya dengan tangan. Aku memang sudah tahu bahwa ada sosok lain selain aku dan Donghae di sini sedari tadi, tapi aku hanya pura-pura tidak menghiraukannya.

“Sejak kapan ada makhluk lain di sini, Oppa?” ucapku yang memilih melemparkan pertanyaan kepada Donghae. Sementara orang yang aku maksud itu melengos mendengarnya.

Donghae terkekeh, “Aish, jangan seperti itu. Bagaimana pun dia yang sudah membuatmu pernah tidak bisa tidur satu malam, eoh?”

Aku yang tidak ingin ucapan berbahaya dari mulut Donghae semakin berkelanjutan itu segera saja mendaratkan kepalan tanganku ke lengan atas tangannya. Ia mengaduh lirih sebentar kemudian kembali terkekeh-kekeh menyebalkan. Aku hanya bisa mendengus sekarang, sementara orang yang berdiri di antara kami itu semakin memperkecil matanya yang sipit. Seperti berusaha mencerna maksud ucapan sekilas Donghae tadi. Benar-benar menjengkelkan.

“Oppa sengaja memintanya ke sini untuk menjemputmu.” Ucap Donghae kemudian begitu tawanya sudah mereda. “Oppa mungkin tidak bisa kembali ke Seoul bersamamu setelah ini. Jongwoon hyeong baru saja menelpon untuk hadir ke acara peresmian restourant barunya di Busan. Sementara Eonnimu meminta untuk kau segera di kembalikan agar membantunya mengukur gaun. Oppa tidak bisa mendampinginya hari ini, jadi—“

“Arraseo, ..” ucapku sambil mengangguk-anggukan kepala karena tidak ingin mendengar penjelasan yang lebih panjang lagi. “Tapi kenapa harus dia yang menjemputku?” ucapku kemudian sambil melirik sosok namja berjaket putih itu yang tadinya tersenyum manis kini tiba-tiba berubah berkerut mukanya karena mendengar kata-kataku. Donghae lagi-lagi hanya bisa terkekeh.

“Kau sudah bosan dengannya, eoh?”

“Anni.” Sahutku, “Hanya saja jika dengannya aku merasa jantungku tidak pernah bekerja normal.”

Seketika senyum itu pun kembali merekah lebar di wajahnya. Matanya yang sipit menjadi hanya seperti garis panjang yang menghiasi wajah putihnya. Aku terunduk mengulum senyum. Tidak tahu apakah ucapanku barusan terlampau dari kata basi. Tapi masa bodoh, .. menyenangkan hati orang pun sudah termasuk pahala bukan?

“Nde, .. Oppa tahu. Bahkan seperti katamu waktu itu, .. coklat akan tiba-tiba terasa hambar hanya karena melihatnya tersenyum.” Timpal Donghae yang kali ini tidak bisa mencegah hawa hangat menjalari pipiku. Seperti ada listrik bertegangan rendah. Membuat aku terpaku di tempat tanpa bisa mengangkat wajah. Bagaimana merahnya sekarang wajahku pun, aku tidak bisa membayangkannya.

“Jinjja, hyeong?” ucap namja itu yang setelahnya aku langsung menarik sebelah tangan Donghae untuk mengajaknya pergi. Tidak ingin ini menjadi semakin berkelanjutan yang akhirnya pasti aku yang menjadi bulan-bulanan mereka.

*
END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar