Sabtu, 27 April 2013

4 Years (ONESHOT)



4 Years

Author: Araiemei

Cast:
 Song Joongki
Choi Chaeyong
Lee Jinki

Rate: General

*
 

*
Sejatinya memang seperti ini, penyesalan selalu datang terlambat, dan berulang seperti sebuah player yang memutar terus kisah menyakitkan empat tahun yang lalu. Sejenak, dari luar ia akan terlihat baik-baik saja. Menjalani hari-harinya seperti biasa sebagai mahasiswa astronomi di salah satu universitas negeri di Seoul, juga sebagai pekerja di sebuah minimarket untuk menjadi kegiatan sampingan dan menambah pendapatannya. Ia berhasil menutupinya dengan senyuman yang ia miliki. Ia berusaha berjalan tegap, meski di dalam dirinya ia harus menahan sakit yang selalu membuatnya merasakan bahwa ia tidak bisa berdiri lama-lama. Kekosongan yang ia rasakan, telah berjalan lebih dari satu tahu tahun. Ya, genap empat tahun sudah berhasil ia lewati.
 Ia pikir hanya dalam waktu satu tahun akan cukup untuk menghantarkannya pada keadaan awal.Ia pikir satu tahun akan menjadi rentang waktumaksimal ia untuk berhasil melupakan seseorang—lebih tepatnya  kenangannya bersama seseorang. Ia akan meninggalkan kesakitannya dan kembali hidup dengan baik. Tapi ternyata empat tahun berlalu, ia tetap belum bisa untuk menata kembali hatinya. Empa ttahun berjalan malah hanya untuk menambah dalam lukanya. Dan sekarang ia masih berusaha untuk bisa mengerti dan memahami apa yang telah terjadi tanpa harus menangis lagi. Terlebih saat ia teringat bahwa dirinya adalah seorang namja.
Asap dari cangkir teh panas pun mengepul di atas meja kecil di dalam ruang tengah sebuah plat. Seorang laki-laki berjaket rajut hitam duduk menyandarkan punggungnya pada sofa. Lalu meraih cangkir teh itu dengan tangannya. Ia terlihat menikmati sekali menu minumannya pagi ini.
Biasanya apabila hari-hari di mana ia tidak memiliki mata kuliah di kampusnya, laki-laki ini menghabiskan satu harinya untuk bekerja lembur di minimarket. Namun sepertinya tidak dengan hari ini. Ia lebih memilih untuk libur dari pekerjaannya.
Begitu mendapat izin dari sang bospemilik minimarket tempat ia bekerja, laki-laki itu pun keluar dari plat tempatnya berdiam. Setelah terlebih dahulu membereskan barang-barangnya, ia melenggang keluar dengan ransel hitam yang tersangkut di pundak serta kamera yang menggantung di lehernya.
*
Empat tahun yang lalu...
 “Chaeyong-,” gumam Joongki begitu pandangannya tertubruk pada sosok yeoja yang melangkah pelan di depan meja kasir. Yeoja yang mengenakan hoodie coklat dengan potongan rambut pendek itu tampak terhenti langkahnya begitu menyadari ada seseorang yang mengenalinya.Ada raut keterkejutan di wajahnya, terlebih begitu namja penjaga meja kasir itu kembali menyebut namanya lirih, “Chaeyong-ah~”
Yeoja itu terkesiap, lalu segera mengambil langkah keluar dari minimarket yang baru saja ia masuki. Ia membatalkan niatnya untuk membeli barang-barang yang dicarinya di sana.Sementara Joongki yang menyadari orang yang baru saja dilihatnya itu berlalu pergi, langsung mengambil langkah untuk mengejarnya. Tidak mempedulikan panggilan bosnya yang terheran-heran dengan tingkahnya barusan.
 “Chaeyong-ah...” Joongki terus memanggil nama yeoja tersebut hingga keluar dari minimarket. Namun tidak mendapat gubrisan sama sekali. Orang yang dipanggil terus saja berlari menghindarinya yang berusaha mengejar di belakang. “Aku mohon beri aku kesempatan.” Teriaknya lagi.
Seketika langkah yeoja yang bernama Chaeyong itu terhenti. Bukan karena ucapan yang baru saja keluar dari mulut Joongki, tetapi lebih karena sebuah mobil yang menghalangi langkahnya saathendak menyebrang jalan. Memberi kesempatan Joongki meraih tangannya. Langkah Chaeyong pun tertahan.
 “Chaeyong-ah~ Aku mohon. Beri aku kesempatan berbicara denganmu malam ini.” Pinta Joongki. Chaeyong tidak menjawabnya. Gadis itu tidak bergerak sama sekali untuk sekedar memberi hentakan agar Joongki melepas tangannya. Ia tetap pada posisinya, berdiri memunggungi Joongki tanpa sedikit pun tertarik untuk menoleh ke belakang.
 “Jebal~” ucap Joongki kembali memohon, meski ia tahu bahwa hati Chaeyong tidak akan luluh sama sekali mendengarnya.
Joongki pun melepaskan genggamannya dari tangan Chaeyong. Berusaha mengatur detak jantungnya agar kembali stabil. Ia sadar dan bisa merasa apa yang sedang memenuhi matanya saat ini dan bagaimana bulir-bulir hangat itu berusaha mencari jalan keluar, tapi sekuat tenaga Joongki menahannya. Ia tidak boleh terlihat rapuh secepat ini, meskipun sebenarnya di dalam dirinya, itulah yang sedang ia alami. “—Ya, Setidaknya aku bisa mendengar kabarmu setelah setahun berada di London.” Ucapnya sambil sekuat tenaga mengatur nafas agar tidak terdengar serak. Namun yang terjadi, dadanya bertambah sesak setiap kali ia menahannya.
 “Aku masih tidak percaya kalau kita bisa bertatap muka lagi seperti ini. Karena mengingat sikapku waktu itu, aku sempat berpikir bahwa laki-laki bodoh sepertiku ini tidak pantas lagi menemuimu. Setelah berhasil membuatmu menangis, aku akan terlihat lebih jahat jika meminta kesempatan kedua. Tapi, apa tidak bisa jika kita mengobrol sebentar sebagai seorang teman?”
“—Chaeyong-ah~, bagaimana caranya agar kau bisa memaafkanku?”
“Eobseo!” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Chaeyong. Datar sekali. Namun, Joongki merasa Chaeyong sudah meresponnya. Joongki melangkah beberapa tapak agar sejajar di samping Chaeyong. Sejenak menatap yeoja itu dari samping, lalu tersenyum kecil, meskipun di dalam mulutnya ia bersusah payah menelan ludah yang terasa sangat pahit.
 “Kau tahu? Satu tahun tidak melihatmu, cukup membuatku rindu dengan masalalu kita. Cerita-cerita indah yang sudah mulai kita tulissejak balita. Tentang putri Chaeyong yang terobsesi ingin menjadi designer agar bisa membuat gaun yang indah seperti yang dikenakan Cinderella. Juga tentang pangeran Joongki sang pecinta purnama.” Seketika Joongki terkekeh akibat perkataannya sendiri, “Dan sekarang aku benar-benar masih tidak percaya kalau aku sudah menjadi mahasiswa astronomi. Padahal baru 1 minggu rasanya kita membuat dongeng-dongeng itu.”
Joongki menghembuskan nafasnya pelan, seraya menjejalkan tangannya ke dalam saku celana yang ia kenakan, “Geurreom, bagaimana kabarmu dengan Jinki? Kalian-“ seketika ucapan Joongki terhenti. Begitu ia menoleh untuk kembali menatap Chaeyong, ia bisa melihat dengan jelas gadis itu menyeka pipinya dengan telapak tangannya. Tapi, bukan karena Chaeyong menangis yang membuatnya merasa seperti ada meteor besar yang tiba-tiba jatuh menimpanya, tapi karena sebuah benda kecil yang melingkar pada jari manis gadis yang dulu sempat menjadi pengisi hari-harinya dengan tawa. Gadis masa kecilnya yang dulu menjadi temannya membuat dongeng, kini sudah mengenakan cincin platinum indah yang kilaunya untuk Joongki lebih tepat disebut sebagai mata belati. Terlalu perih begitu berhasil menusuk matanya.
Lagi-lagi, Joongki hanya bisa menahan pedih di krongkongannya saat berusaha menalan ludah, “I-itu, .. pasti dari Jinki ya?” tanyanya sebaik mungkin dan terdengar cukup bodoh. Ia tidak berhasil menyembunyikan gemetar begitu suaranya keluar.
Chaeyong menoleh untuk yang pertama kalinya.
 “Ma-maksudku... Cincin itu...” Joongki menjelaskan.
Seketika Chaeyong tersadar. Ia langsung memalingkan wajahnya seraya mengepal tangannya yang mana tersemat sebuah cincin platinum indah di sana. Tidak berani untuk menatap laki-laki di sebelahnya lagi. Melihat sekilas sepasang mata yang kemerah-merahan itu bagi Chaeyong sudah cukup membuat hatinya perih. Ia tidak bisa memungkiri bahwa itu terjadi pada hatinya yang dulu sempat menyimpan sebuah kesetiaan terhadap seorang namja, namun akhirnya malah harus mendapat pengkhianatan.
 “Chukkaeyo...” hanya kata-kata itu yang berhasil keluar dari mulut Joongki yang saat itu tidak bisa lagi menahan bendungan airmatanya. Di otaknya ia berpikir ingin terlihat baik-baik saja, bersikap selayaknya seorang teman yang baik.  Teman yang bisa dengan tulus mengucapkan selamat atas kebahagiaan yang di dapatkan oleh temannya. Tapi hatinya menolak. Ia benar-benar tidak bisa melakukannya.
“Gomawo,” suara Chaeyong pelan terdengar menjawab, “Neoneottae? Aku menunggu undangan pernikahanmu satu tahun ini.”
Pertanyaan yang tidak diinginkan oleh Joongki akhirnya pun keluar. Membuat puncak kesakitannya bertambah. Kejadian satu tahun yang lalu terputar kembali dengan jelas, dan menguak dalam lukanya. Argumen-arguman mereka waktu itu. Tangis Chaeyong begitu mendengar Joongki mengatakan kepadanya melalui telepon, ‘Aku akan menikah dengan perempuan lain.’ membuat Joongki hampir ingin membunuh dirinya sendiri. Tapi ia masih bisa berpikir jernih. Semuanya memang sudah menjadi kenangan. Dan sejatinya, penyesalan selalu datang terlambat.
Tidak ada suara yang terdengar keluar lagi dari mulut keduanya. Joongki maupun Chaeyong, saling membungkam mulut masing-masing. Membiarkan angin malam berhembus untuk semakin mengikat kebekuaan di antara mereka.

---
Seperti bernafas dalam mimpi buruk yang panjang. Ia telah melewati empat musim yang terus berganti setiap tahunya. Ia membuat suatu janji, bahwa ia akan melupakan kenangannya bersama gadis itu perlahan-lahan. Cerita-cerita indahnya yang berakhir dingin, ia pikir akan bisa menghapusnya di setiap penghujung musim. Namun setiap kali ia akan membuangnya dari pikirannya, semua itu malah kembali satu persatu kepadanya. Penyesalan-penyesalan mendatanginya beruntut-runtut begitu ia berpikir untuk tidak memikirkan gadis itu lagi.
Dulu ia bisa berkata, ‘Seandainya waktu itu kita bersikap lebih dewasa. Seandainya kita bisa mengetahui apa yang akan terjadi ke depan.’ Dan sekarang itu semua sudah tidak berlaku lagi.Seberapa pun kekuatan yang ia kerahkan untuk mengucapkannya terus menerus, ia tetap tidak bisa membatalkan takdir yang menggariskan bahwa gadis itu telah dimiliki orang lain. Gadis itu memang sudah resmi dipersunting seorang laki-laki 4 tahun yang lalu. Tepat dua bulan setelah pertemuan mereka di dekat minimarket.
 “Joongki hyeong~”
Joongki yang saat itu tengah asik mengambil angle yang pas untuk memotret pohon-pohon sakura di hadapannya, terhenti kegiatannya begitu mendengar sebuah suara memanggilnya dari arah belakang. Ia menurunkan kameranya dan menoleh ke sumber suara, sosok laki-laki melambai dengan senyum lebar kepadanya. Laki-laki yang cukup ia kenal dengan baik.
 “Lee Jinki!” sahutnya dan memutar tubuhnya sempurna menghadap laki-laki yang ternyata bernama Lee Jinki tersebut.
 “Sudah lama tidak bertemu, hyeong. Bagaimana kabarmu?” Ucapnya setelah mendatangi Joongki dan menyalaminya.
Joongki belum menjawab, memilih untuk merengkuh tubuh Jinki dan menepuk-nepuk pundaknya. “Jhoa!” ucapnya, setelah melepaskan pelukan mereka.
Jinki tersenyum.
 “Bagaimana denganmu?” Joongki bertanya balik, “Sepertinya sudah lama sekali tidak pulang ke Seoul.”
Jinki tertkekeh, “Ya, mau gimana lagi, hyeong? Aku masih ditugaskan di London. Lagi pula Chaeyong masih melanjutkan studinya di sana.”
 “Oh, iya!” Joongki berseru begitu mengingat sesuatu, “Kau datang ke sini sendiri?” tanyanya kemudian.
 “APPA~!”
Belum sempat Jinki menjawab pertanyaan Joongki, tiba-tiba perhatian mereka berdua teralih oleh suara seorang bocah laki-laki yang tengah berlari dengan kaki kecilnya menuju ke arah mereka. Jinki menoleh ke belakang, dan begitu mengetahui siapa sebenarnya yang datang, ia pun tersenyum. Ia berbalik, berjongkok seraya merentangkan kedua tangannya. Bocah itu pun menghambur ke dalam pelukan Jinki.
Sementara di belakang, Joongki benar-benar terpaku di tempat. Seperti tidak bisa mengalihkan fokus pada seorang perempuan yang tadi ikut-ikutan berlari mengejar bocah yang sekarang sudah berhasil ditangkap oleh ayahnya itu. Sejenak mata mereka bertemu. Namun dengan cepat perempuan itu memalingkan wajah. Memilih membesarkan langkahnya untuk menghampiri suami dan anaknya.
Joongki bisa merasakan perubahan atmosfer sejak beberapa detik yang lalu. Menguak kembali kenangan-kenangan yang sudah dengan susah payah ingin ia hapus. Dan kini semuanya malah kembali bermunculan lagi satu persatu. Namun ia tidak lagi merasakan sesuatu yang akan meluruh dari matanya, seperti saat dimana ia bertemu dengan gadis itu pada suatu malam di dekat minimarket beberapa tahun yang lalu. Meskipun hatinya masih terasa dijepit oleh sesuatu yang tajam.
Joongki masih berdiri di tempatnya, tidak bersuara sama sekali. Sampai sebuah panggilan kembali menyadarkannya.
 “Ini anak kami, hyeong. Namanya Jiyoung!”
***

Tinggalkan jejak, tolong xp :D 

 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar