4 Years
Author: Araiemei
Cast:
Song Joongki
Choi Chaeyong
Lee Jinki
Rate:
General
*
*
Sejatinya memang seperti ini, penyesalan selalu datang terlambat, dan
berulang seperti sebuah player yang memutar terus kisah menyakitkan
empat tahun yang lalu. Sejenak, dari luar ia akan terlihat baik-baik saja.
Menjalani hari-harinya seperti biasa sebagai mahasiswa astronomi di salah satu
universitas negeri di Seoul, juga sebagai pekerja di sebuah minimarket untuk
menjadi kegiatan sampingan dan menambah pendapatannya. Ia berhasil menutupinya
dengan senyuman yang ia miliki. Ia berusaha berjalan tegap, meski di dalam
dirinya ia harus menahan sakit yang selalu membuatnya merasakan bahwa ia tidak
bisa berdiri lama-lama. Kekosongan yang ia rasakan, telah berjalan lebih dari
satu tahu tahun. Ya, genap empat tahun sudah berhasil ia lewati.
Ia pikir hanya dalam waktu satu tahun akan cukup untuk
menghantarkannya pada keadaan awal.Ia pikir satu tahun akan menjadi rentang
waktumaksimal ia untuk berhasil melupakan seseorang—lebih tepatnya
kenangannya bersama seseorang. Ia akan meninggalkan kesakitannya dan kembali
hidup dengan baik. Tapi ternyata empat tahun berlalu, ia tetap belum bisa untuk
menata kembali hatinya. Empa ttahun berjalan malah hanya untuk menambah dalam
lukanya. Dan sekarang ia masih berusaha untuk bisa mengerti dan memahami apa
yang telah terjadi tanpa harus menangis lagi. Terlebih saat ia teringat bahwa
dirinya adalah seorang namja.
Asap dari cangkir teh panas pun mengepul di atas meja kecil di dalam ruang
tengah sebuah plat. Seorang laki-laki berjaket rajut hitam duduk menyandarkan
punggungnya pada sofa. Lalu meraih cangkir teh itu dengan tangannya. Ia
terlihat menikmati sekali menu minumannya pagi ini.
Biasanya apabila hari-hari di mana ia tidak memiliki mata kuliah di
kampusnya, laki-laki ini menghabiskan satu harinya untuk bekerja lembur di
minimarket. Namun sepertinya tidak dengan hari ini. Ia lebih memilih untuk
libur dari pekerjaannya.
Begitu mendapat izin dari sang bospemilik minimarket tempat ia bekerja,
laki-laki itu pun keluar dari plat tempatnya berdiam. Setelah terlebih dahulu
membereskan barang-barangnya, ia melenggang keluar dengan ransel hitam yang
tersangkut di pundak serta kamera yang menggantung di lehernya.
*
Empat tahun yang lalu...
“Chaeyong-,” gumam Joongki begitu
pandangannya tertubruk pada sosok yeoja yang melangkah pelan di depan meja
kasir. Yeoja yang mengenakan hoodie coklat dengan potongan rambut pendek itu
tampak terhenti langkahnya begitu menyadari ada seseorang yang mengenalinya.Ada
raut keterkejutan di wajahnya, terlebih begitu namja penjaga meja kasir itu
kembali menyebut namanya lirih, “Chaeyong-ah~”
Yeoja itu terkesiap, lalu segera mengambil langkah keluar dari minimarket
yang baru saja ia masuki. Ia membatalkan niatnya untuk membeli barang-barang
yang dicarinya di sana.Sementara Joongki yang menyadari orang yang baru saja
dilihatnya itu berlalu pergi, langsung mengambil langkah untuk mengejarnya.
Tidak mempedulikan panggilan bosnya yang terheran-heran dengan tingkahnya
barusan.
“Chaeyong-ah...” Joongki terus memanggil
nama yeoja tersebut hingga keluar dari minimarket. Namun tidak mendapat
gubrisan sama sekali. Orang yang dipanggil terus saja berlari menghindarinya
yang berusaha mengejar di belakang. “Aku mohon beri aku kesempatan.” Teriaknya
lagi.
Seketika langkah yeoja yang bernama Chaeyong itu terhenti. Bukan karena
ucapan yang baru saja keluar dari mulut Joongki, tetapi lebih karena sebuah
mobil yang menghalangi langkahnya saathendak menyebrang jalan. Memberi
kesempatan Joongki meraih tangannya. Langkah Chaeyong pun tertahan.
“Chaeyong-ah~ Aku mohon. Beri aku
kesempatan berbicara denganmu malam ini.” Pinta Joongki. Chaeyong tidak
menjawabnya. Gadis itu tidak bergerak sama sekali untuk sekedar memberi
hentakan agar Joongki melepas tangannya. Ia tetap pada posisinya, berdiri
memunggungi Joongki tanpa sedikit pun tertarik untuk menoleh ke belakang.
“Jebal~” ucap Joongki kembali
memohon, meski ia tahu bahwa hati Chaeyong tidak akan luluh sama sekali
mendengarnya.
Joongki pun melepaskan genggamannya dari tangan Chaeyong. Berusaha mengatur
detak jantungnya agar kembali stabil. Ia sadar dan bisa merasa apa yang sedang
memenuhi matanya saat ini dan bagaimana bulir-bulir hangat itu berusaha mencari
jalan keluar, tapi sekuat tenaga Joongki menahannya. Ia tidak boleh terlihat
rapuh secepat ini, meskipun sebenarnya di dalam dirinya, itulah yang sedang ia
alami. “—Ya, Setidaknya aku bisa mendengar kabarmu setelah setahun berada di
London.” Ucapnya sambil sekuat tenaga mengatur nafas agar tidak terdengar
serak. Namun yang terjadi, dadanya bertambah sesak setiap kali ia menahannya.
“Aku masih tidak percaya kalau kita
bisa bertatap muka lagi seperti ini. Karena mengingat sikapku waktu itu, aku
sempat berpikir bahwa laki-laki bodoh sepertiku ini tidak pantas lagi
menemuimu. Setelah berhasil membuatmu menangis, aku akan terlihat lebih jahat
jika meminta kesempatan kedua. Tapi, apa tidak bisa jika kita mengobrol
sebentar sebagai seorang teman?”
“—Chaeyong-ah~, bagaimana caranya agar kau bisa memaafkanku?”
“Eobseo!” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Chaeyong. Datar sekali.
Namun, Joongki merasa Chaeyong sudah meresponnya. Joongki melangkah beberapa
tapak agar sejajar di samping Chaeyong. Sejenak menatap yeoja itu dari samping,
lalu tersenyum kecil, meskipun di dalam mulutnya ia bersusah payah menelan
ludah yang terasa sangat pahit.
“Kau tahu? Satu tahun tidak
melihatmu, cukup membuatku rindu dengan masalalu kita. Cerita-cerita indah yang
sudah mulai kita tulissejak balita. Tentang putri Chaeyong yang terobsesi ingin
menjadi designer agar bisa membuat gaun yang indah seperti yang dikenakan
Cinderella. Juga tentang pangeran Joongki sang pecinta purnama.” Seketika
Joongki terkekeh akibat perkataannya sendiri, “Dan sekarang aku benar-benar
masih tidak percaya kalau aku sudah menjadi mahasiswa astronomi. Padahal baru 1
minggu rasanya kita membuat dongeng-dongeng itu.”
Joongki menghembuskan nafasnya pelan, seraya menjejalkan tangannya ke dalam
saku celana yang ia kenakan, “Geurreom, bagaimana kabarmu dengan Jinki?
Kalian-“ seketika ucapan Joongki terhenti. Begitu ia menoleh untuk kembali
menatap Chaeyong, ia bisa melihat dengan jelas gadis itu menyeka pipinya dengan
telapak tangannya. Tapi, bukan karena Chaeyong menangis yang membuatnya merasa
seperti ada meteor besar yang tiba-tiba jatuh menimpanya, tapi karena sebuah
benda kecil yang melingkar pada jari manis gadis yang dulu sempat menjadi
pengisi hari-harinya dengan tawa. Gadis masa kecilnya yang dulu menjadi
temannya membuat dongeng, kini sudah mengenakan cincin platinum indah yang
kilaunya untuk Joongki lebih tepat disebut sebagai mata belati. Terlalu perih
begitu berhasil menusuk matanya.
Lagi-lagi, Joongki hanya bisa menahan pedih di krongkongannya saat berusaha
menalan ludah, “I-itu, .. pasti dari Jinki ya?” tanyanya sebaik mungkin dan
terdengar cukup bodoh. Ia tidak berhasil menyembunyikan gemetar begitu suaranya
keluar.
Chaeyong menoleh untuk yang pertama kalinya.
“Ma-maksudku... Cincin itu...”
Joongki menjelaskan.
Seketika Chaeyong tersadar. Ia langsung memalingkan wajahnya seraya mengepal
tangannya yang mana tersemat sebuah cincin platinum indah di sana. Tidak berani
untuk menatap laki-laki di sebelahnya lagi. Melihat sekilas sepasang mata
yang kemerah-merahan itu bagi Chaeyong sudah cukup membuat hatinya perih. Ia
tidak bisa memungkiri bahwa itu terjadi pada hatinya yang dulu sempat menyimpan
sebuah kesetiaan terhadap seorang namja, namun akhirnya malah harus mendapat
pengkhianatan.
“Chukkaeyo...” hanya kata-kata itu
yang berhasil keluar dari mulut Joongki yang saat itu tidak bisa lagi menahan
bendungan airmatanya. Di otaknya ia berpikir ingin terlihat baik-baik saja,
bersikap selayaknya seorang teman yang baik. Teman yang bisa dengan tulus
mengucapkan selamat atas kebahagiaan yang di dapatkan oleh temannya. Tapi
hatinya menolak. Ia benar-benar tidak bisa melakukannya.
“Gomawo,” suara Chaeyong pelan terdengar menjawab, “Neoneottae? Aku menunggu
undangan pernikahanmu satu tahun ini.”
Pertanyaan yang tidak diinginkan oleh Joongki akhirnya pun keluar. Membuat
puncak kesakitannya bertambah. Kejadian satu tahun yang lalu terputar kembali
dengan jelas, dan menguak dalam lukanya. Argumen-arguman mereka waktu itu.
Tangis Chaeyong begitu mendengar Joongki mengatakan kepadanya melalui telepon,
‘Aku akan menikah dengan perempuan lain.’ membuat Joongki hampir ingin membunuh
dirinya sendiri. Tapi ia masih bisa berpikir jernih. Semuanya memang sudah
menjadi kenangan. Dan sejatinya, penyesalan selalu datang terlambat.
Tidak ada suara yang terdengar keluar lagi dari mulut keduanya. Joongki
maupun Chaeyong, saling membungkam mulut masing-masing. Membiarkan angin malam
berhembus untuk semakin mengikat kebekuaan di antara mereka.
---
Seperti bernafas dalam mimpi buruk yang panjang. Ia telah melewati empat
musim yang terus berganti setiap tahunya. Ia membuat suatu janji, bahwa ia akan
melupakan kenangannya bersama gadis itu perlahan-lahan. Cerita-cerita indahnya
yang berakhir dingin, ia pikir akan bisa menghapusnya di setiap penghujung
musim. Namun setiap kali ia akan membuangnya dari pikirannya, semua itu malah
kembali satu persatu kepadanya. Penyesalan-penyesalan mendatanginya
beruntut-runtut begitu ia berpikir untuk tidak memikirkan gadis itu lagi.
Dulu ia bisa berkata, ‘Seandainya waktu itu kita bersikap lebih dewasa.
Seandainya kita bisa mengetahui apa yang akan terjadi ke depan.’ Dan sekarang
itu semua sudah tidak berlaku lagi.Seberapa pun kekuatan yang ia kerahkan untuk
mengucapkannya terus menerus, ia tetap tidak bisa membatalkan takdir yang
menggariskan bahwa gadis itu telah dimiliki orang lain. Gadis itu memang sudah
resmi dipersunting seorang laki-laki 4 tahun yang lalu. Tepat dua bulan setelah
pertemuan mereka di dekat minimarket.
“Joongki hyeong~”
Joongki yang saat itu tengah asik mengambil angle yang pas untuk memotret
pohon-pohon sakura di hadapannya, terhenti kegiatannya begitu mendengar sebuah
suara memanggilnya dari arah belakang. Ia menurunkan kameranya dan menoleh ke
sumber suara, sosok laki-laki melambai dengan senyum lebar kepadanya. Laki-laki
yang cukup ia kenal dengan baik.
“Lee Jinki!” sahutnya dan memutar
tubuhnya sempurna menghadap laki-laki yang ternyata bernama Lee Jinki tersebut.
“Sudah lama tidak bertemu, hyeong.
Bagaimana kabarmu?” Ucapnya setelah mendatangi Joongki dan menyalaminya.
Joongki belum menjawab, memilih untuk merengkuh tubuh Jinki dan
menepuk-nepuk pundaknya. “Jhoa!” ucapnya, setelah melepaskan pelukan mereka.
Jinki tersenyum.
“Bagaimana denganmu?” Joongki
bertanya balik, “Sepertinya sudah lama sekali tidak pulang ke Seoul.”
Jinki tertkekeh, “Ya, mau gimana lagi, hyeong? Aku masih ditugaskan di
London. Lagi pula Chaeyong masih melanjutkan studinya di sana.”
“Oh, iya!” Joongki berseru begitu
mengingat sesuatu, “Kau datang ke sini sendiri?” tanyanya kemudian.
“APPA~!”
Belum sempat Jinki menjawab pertanyaan Joongki, tiba-tiba perhatian mereka
berdua teralih oleh suara seorang bocah laki-laki yang tengah berlari dengan
kaki kecilnya menuju ke arah mereka. Jinki menoleh ke belakang, dan begitu
mengetahui siapa sebenarnya yang datang, ia pun tersenyum. Ia berbalik,
berjongkok seraya merentangkan kedua tangannya. Bocah itu pun menghambur ke
dalam pelukan Jinki.
Sementara di belakang, Joongki benar-benar terpaku di tempat. Seperti tidak
bisa mengalihkan fokus pada seorang perempuan yang tadi ikut-ikutan berlari
mengejar bocah yang sekarang sudah berhasil ditangkap oleh ayahnya itu. Sejenak
mata mereka bertemu. Namun dengan cepat perempuan itu memalingkan wajah.
Memilih membesarkan langkahnya untuk menghampiri suami dan anaknya.
Joongki bisa merasakan perubahan atmosfer sejak beberapa detik yang lalu.
Menguak kembali kenangan-kenangan yang sudah dengan susah payah ingin ia hapus.
Dan kini semuanya malah kembali bermunculan lagi satu persatu. Namun ia tidak
lagi merasakan sesuatu yang akan meluruh dari matanya, seperti saat dimana ia
bertemu dengan gadis itu pada suatu malam di dekat minimarket beberapa tahun
yang lalu. Meskipun hatinya masih terasa dijepit oleh sesuatu yang tajam.
Joongki masih berdiri di tempatnya, tidak bersuara sama sekali. Sampai
sebuah panggilan kembali menyadarkannya.
“Ini anak kami, hyeong. Namanya
Jiyoung!”
***
Tinggalkan jejak, tolong xp :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar