SORRY, BUT I…
Author: Araiemei
Maincast:
Lee
Chaemi (OC)
Kwon Jiyoung (Big Bang)
Jung Jeongmin (OC)
Rate: General
*
---
“Hot
chocolate!”
Laki-laki bertubuh tinggi besar dan
berkulit hitam itu berhenti mendorong kereta minumannya di depan kursi yang di
duduki seorang perempuan muda yang tubuhnya dibalut oleh jaket rajut
keabu-abuan. Perempuan muda itu sekilas menyunggingkan senyum kepada si penjual
minuman di kereta yang ia tumpangi sekarang, lalu menyilangkan kedua tangannya
untuk mencoba menghalau rasa dingin yang menyelimuti suasana Swiss di tengah
puncaknya hujan salju tahun ini. Ia menyenderkan kepalanya pada sandaran kursi,
memandangi keadaan di luar kaca jendela di sampingnya. Jalanan yang seperti
sudah disulap menjadi hamparan permadani putih memanjang. Beberapa detik
kemudian ia menghembuskan napas pelan. Menciptakan gumpalan asap-asap kecil
keluar melalui mulutnya.
“Ga-, .. Ah, thank you~.” Perempuan
muda itu hampir saja mengucapkan terimakasih menggunakan bahasa aslinya. Namun,
ia segera tersadar bahwa sekarang ia berada di Swiss, bukan di Korea. Laki-laki
penjual minuman itu hanya tersenyum begitu menyodorkan hot chocolate yang
dipesan oleh perempuan muda berkulit putih itu. Lalu mengangguk dan kembali
mendorong kereta minumannya pergi.
Sepeninggal si penjual minuman,
perempuan muda yang sebagian kepalanya tertutup topi rajutan dan lehernya
dibalut syal berwarna merah itu mulai menikmati hot chocolatenya. Ia merasakan
sensasi hangat begitu coklat panas itu mengalir melalui kerongkongannya. Asap
yang mengepul juga membuat wajahnya merasakan hangat, meskipun tidak bertahan
lama. Karena dingin akan tetap terus mendekapnya, seperti salju yang menutupi
habis seluruh permukaan jalan. Sementara itu kereta terus berjalan, dan ia
tampak hanyut dalam lamunannya.
*
“Apakah tidak ada kesempatan lagi?”
“Aku tidak pernah memberimu
kesempatan!” sahutnya datar. Sementara laki-laki yang berdiri di sampingnya itu
terdiam begitu mendengarnya. Deru angin sore itu, mendekap kekakuan di antara
keduanya untuk beberapa detik. Suasana halte sepi oleh hiruk pikuk orang-orang.
Hanya mereka berdua di sana. Saling berkelut dengan hati dan pikiran mereka
masing-masing.
Laki-laki berkemeja biru tua itu,
yang lengannya agak di gelung setengah, dan sebuah ransel hitam yang tersangkut
di salah satu pundaknya, hanya bisa membasahi bibirnya, mecoba berpikir untuk
memilih kalimat yang tepat. Sejenak memutar bola matanya ke lain arah,
memasukan sebelah tangannya ke dalam saku jeansnya, lalu kembali menatap
seseorang yang sejak tadi berdiri di sampingnya. Ia menghembuskan napas
sejenak. Benar-benar bingung dengan apa yang harus ia lakuakan sekarang. Bukankah
ia sudah mendapatkan jawaban yang jelas?
“Nde! Mungkin ini akibat dari
kebodohanku.” Ujarnya setelah sepersekian detik berusaha memeras otaknya, demi
hanya untuk mendapatkan kalimat yang tepat. Dan entah kenapa, kalimat seperti
itu yang malah keluar.
Perempuan di sampingnya tampak
menyunggingkan senyum tipis, sedikit pun tidak tertarik untuk membalas menatap
ke arahnya. “Aku tidak mengatakan itu. Kau sendiri yang mengucapkannya.”
Sahutnya dingin. Lagi-lagi berhasil membuat laki-laki itu terdiam untuk
beberapa detik.
“Berharap namun terlambat itu memang
suatu kebodohan. Tapi, setidaknya, dulu harapan itu sempat mengarah kepadaku.”
“Apa maksudmu?” tiba-tiba perempuan
itu menyambar dengan cepat ucapan orang di sampingnya dengan tatapan yang boleh
dibilang, cukup menusuk.
“Ya, bukankah dulu, kau juga sempat
menaruh harapan yang sama?” si namja—(laki-laki) balas menatap, sambil sedikit
memutar posisinya agar tepat menghadap ke arah si yeoja—(perempuan). Kata-katanya
berhasil membuat hati orang di depannya itu seperti mendapat sengatan listrik
begitu mendengarnya.
Seketika yeoja yang lengan kanannya
mendekap erat buku-buku tebal yang ia bawa, segera memutar bola matanya jengah.
Berharap bus yang sudah ia tunggu sejak tadi itu datang, namun lagi-lagi ia
hanya bisa menghembuskan napas berat karenanya.
“Apa kau tidak capek berbicara
terus-terusan seperti itu?” ucap yeoja yang terus berusaha menghindarkan
matanya dari sosok laki-laki yang lekat sekali menatapinya sekarang. Ia bisa
merasakan perubahan atmosfer sejak beberapa detik yang lalu, namun ia mencoba
untuk tetap berusaha agar tidak terpengaruh pada suasana.
“Tidak!” sambar si namja segera,
“Aku bukan tipikal orang yang mudah menyerah.”
“Aku semakin tidak mengerti apa
maksud perkataanmu.”
“Karena kau terus berpura-pura.”
“Berhenti Jeongmin-ah!” bentak yeoja
itu tiba-tiba. “Aku muak mendengarnya! Itulah mengapa aku tidak menyukaimu, kau
tahu?! Kau terlalu kekanak-kanakan!”
Laki-laki bernama Jeongmin itu
terdiam seketika. Kata ‘kekanak-kanakan’ adalah hal yang paling tidak
disukainya, dan orang yang ia sukai baru saja mengatakan itu kepadanya. Ia tidak
bisa memungkiri bahwa hatinya cukup tersinggung. Seandainya saja yang
mengatakan itu seorang namja, mungkin dia sudah membuat suatu perhitungan.
Namun yang ada, sosok yeoja berambut lurus melewati bahu itu berdiri di
depannya sambil menatapnya dengan wajah merah, membuatnya untuk kembali
berpikir dua kali.
“Mianhae.” Jeongmin bergumam pelan,
namun bisa tertangkap oleh pendengaran si yeoja. “Jika memang itu yang menjadi
penghalang selama ini, aku berjanji untuk mengubahnya. Aku-“
“Busnya sudah datang.”
Kalimat Jeongmin terpotong. Yeoja
itu mengambil langkah menuju bus yang baru saja berhenti di depan halte tempat
mereka berdua menunggu, namun belum sempat menginjakan kakinya ke tangga bus, ia
berbalik badan menghadap ke arah Jeongmin yang masih belum bergerak sama sekali
dari tempatnya berdiri.
“3 hari lagi, aku berangkat ke
Swiss. Aku akan mengikuti pertukaran pelajar selama beberapa tahun di sana. Dan
aku harap dalam jangka waktu itu, kita bisa saling menemukan harapan yang lebih
baik untuk ke depannya. Dan besok aku tidak yakin apakah aku bisa datang ke
kampus atau tidak. Jadi, kupikir lebih baik jika aku mengatakannya hari ini
saja. Annyeonghigasaeyo~”
Yeoja itu merundukan sedikit
pundaknya sebagai tanda perpisahan mereka hari ini—lebih tepatnya untuk
beberapa tahun ke depan. Wajahnya menampilkan ekspresi datar, dan dengan segara
mengambil langkah menaiki tangga bus yang sudah menunggunya. Tidak lagi
memandang ke belakang, ataupun menatap melalui jendela bus. Ia ingin pergi,
tanpa membawa harapan yang dalam pada hal-hal yang sudah diputuskannya untuk
dilupakan saja.
Termasuk namja itu. Namja berkemeja
biru yang masih tak bergeming dari tempatnya, bahkan ketika bus itu sudah
berlalu dan tak terjangkau lagi oleh pandangannya. Semuanya. Harapan-harapan
yang selama ini ia coba simpan di dalam hatinya tiba-tiba mengecil perlahan-lahan
dalam waktu beberapa detik. Dan tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang hangat
jatuh dan perlahan-lahan mengalir di pipinya.
*
Tidak ada yang perlu dimaafkan
sebenarnya. Ia bahkan tidak menganggap kesalahan berada di pihak laki-laki itu
karena terlambat mengetahui semuanya. Datang pada saat di mana ia sudah
menyadari akan perasaannya yang sebenarnya. Perasaan yang beberapa waktu sempat
membuatnya gelisah. Perasaan yang awalnya ia pikir itu adalah rasa suka, namun
seiring berjalannya waktu, ia sadar bahwa perasaan itu tidak lebih hanya
sebatas perasaan kagum. Sosok itu datang hanya untuk mengingatkannya pada
seseorang yang terlebih dahulu mengisi hatinya.
Dia Jiyoung. Ya, laki-laki yang
berada di hatinya sejak awal itu adalah Jiyoung. Pemilik senyum manis yang
meluluhkan hatinya sejak pertemuan awal mereka. Ia masih ingat, begitu Jiyoung
meminjaminya pulpen untuk menandatangani kolom absen sebagai murid baru di
salah satu Senior High School di Busan. Dan perasaan itu memang sudah semenjak
awal hadir, membuatnya rela memendam perasaannya sendiri, karena ia tidak bisa
membagikannya kepada siapapun. Hingga tibanya upacara kelulusan senior-nya,
menjadi waktu di mana Chaemi bisa bertemu dengan orang itu untuk yang terakhir
kalinya.
Semenjak itu Chaemi tidak
mendapatkan kabar apapun lagi tentang Jiyoung. Ia tidak lagi memiliki
kesempatan untuk melihat laki-laki itu. Kemana Jiyoung melanjutkan
pendidikannya pun ia tidak tahu sama sekali. Chaemi sempat berpikir bahwa upacara
kelulusan beberapa tahun yang lalu telah memutus habis semuanya.
Seiring bergulirnya waktu, takdir
mempertemukannya dengan seseorang yang mengingatkannya pada perasaan indah yang
tak bisa tersampaikan itu. Meskipun sosok itu bukanlah Jiyoung. Namun berhasil
membuat Chaemi merasakan bahwa sosok itu adalah Jiyoung dan kembali
menghadirkan sesuatu yang indah seperti saat di mana ia bertemu Jiyoung.
Laki-laki itu mempunyai fostur, mata dan senyum yang untuk Chaemi sangat
mengingatkannya dengan seseorang. Tapi lagi-lagi, ia harus memendam semuanya.
Ia tetap tidak bisa mengutarakannya sampai ia tersadar akan sesuatu.
Ia sadar bahwa, Jeongmin bukanlah
Jiyoung, dan Jiyoung bukanlah Jeongmin. Keadaan hatinya setiap kali bertemu
Jeongmin adalah sebuah perasaan di mana ia kembali pada masalalu. Wajah yang
ditatapnya memang Jeongmin, tapi di hatinya Jiyounglah yang ada. Seakan-akan
kehadiran Jeongmin hanya menjadi sesuatu yang bisa mengembalikan kenangannya
akan sosok Jiyoung. Dan ia merasa cukup bersalah dengan ini. Terlebih begitu
Jeongmin datang kepadanya dengan sebuah harapan. Namun tetap ia tidak bisa menerimanya.
Daripada Jeongmin tersakiti apabila harus bersama-sama dengannya sementara
hatinya memikirkan yang lain.
‘Kau
di mana sekarang? Apakah sudah di bandara Internasional Zurich?’
Chaemi tertegun. Ternyata pesan yang
baru saja ia baca itu sudah masuk beberapa jam yang lalu. Tapi ia terlambat
membukanya, karena handphonenya sedari tadi hanya ditaruhnya di dalam tas.
Ia menghela napas pendek, kemudian
membalas pesan tersebut.
‘Maaf.
Aku terlambat membalasnya. Sekarang aku sudah di kereta menuju Leukerbad. Sepertinya,
sebentar lagi akan sampai. Di sini lebih dingin ya ternyata. Aku sudah
menghabiskan beberapa gelas hot chocolate untuk menghangatkan tubuh.’
Tidak
perlu selang waktu lama untuk menunggu orang itu membalas pesannya.
‘Kkekeke~
tunggulah beberapa menit lagi. Aku sudah menyiapkan hot chocolate yang banyak
untukmu. Hot chocolate special buatan seorang leader Jiyoung. Hahaha.’
Chaemi
hanya tersenyum tipis setelah memutuskan untuk menyimpan handphonenya kembali.
END
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar