Sabtu, 27 April 2013

Sorry, .. But I (Oneshot)




SORRY, BUT I…

Author: Araiemei

Maincast: 
 Lee Chaemi (OC)
 Kwon Jiyoung (Big Bang)
 Jung Jeongmin (OC)

Rate: General

*

---



“Hot chocolate!”
            Laki-laki bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam itu berhenti mendorong kereta minumannya di depan kursi yang di duduki seorang perempuan muda yang tubuhnya dibalut oleh jaket rajut keabu-abuan. Perempuan muda itu sekilas menyunggingkan senyum kepada si penjual minuman di kereta yang ia tumpangi sekarang, lalu menyilangkan kedua tangannya untuk mencoba menghalau rasa dingin yang menyelimuti suasana Swiss di tengah puncaknya hujan salju tahun ini. Ia menyenderkan kepalanya pada sandaran kursi, memandangi keadaan di luar kaca jendela di sampingnya. Jalanan yang seperti sudah disulap menjadi hamparan permadani putih memanjang. Beberapa detik kemudian ia menghembuskan napas pelan. Menciptakan gumpalan asap-asap kecil keluar melalui mulutnya.
            “Ga-, .. Ah, thank you~.” Perempuan muda itu hampir saja mengucapkan terimakasih menggunakan bahasa aslinya. Namun, ia segera tersadar bahwa sekarang ia berada di Swiss, bukan di Korea. Laki-laki penjual minuman itu hanya tersenyum begitu menyodorkan hot chocolate yang dipesan oleh perempuan muda berkulit putih itu. Lalu mengangguk dan kembali mendorong kereta minumannya pergi.
            Sepeninggal si penjual minuman, perempuan muda yang sebagian kepalanya tertutup topi rajutan dan lehernya dibalut syal berwarna merah itu mulai menikmati hot chocolatenya. Ia merasakan sensasi hangat begitu coklat panas itu mengalir melalui kerongkongannya. Asap yang mengepul juga membuat wajahnya merasakan hangat, meskipun tidak bertahan lama. Karena dingin akan tetap terus mendekapnya, seperti salju yang menutupi habis seluruh permukaan jalan. Sementara itu kereta terus berjalan, dan ia tampak hanyut dalam lamunannya.
*
            “Apakah tidak ada kesempatan lagi?”
            “Aku tidak pernah memberimu kesempatan!” sahutnya datar. Sementara laki-laki yang berdiri di sampingnya itu terdiam begitu mendengarnya. Deru angin sore itu, mendekap kekakuan di antara keduanya untuk beberapa detik. Suasana halte sepi oleh hiruk pikuk orang-orang. Hanya mereka berdua di sana. Saling berkelut dengan hati dan pikiran mereka masing-masing.
            Laki-laki berkemeja biru tua itu, yang lengannya agak di gelung setengah, dan sebuah ransel hitam yang tersangkut di salah satu pundaknya, hanya bisa membasahi bibirnya, mecoba berpikir untuk memilih kalimat yang tepat. Sejenak memutar bola matanya ke lain arah, memasukan sebelah tangannya ke dalam saku jeansnya, lalu kembali menatap seseorang yang sejak tadi berdiri di sampingnya. Ia menghembuskan napas sejenak. Benar-benar bingung dengan apa yang harus ia lakuakan sekarang. Bukankah ia sudah mendapatkan jawaban yang jelas?
            “Nde! Mungkin ini akibat dari kebodohanku.” Ujarnya setelah sepersekian detik berusaha memeras otaknya, demi hanya untuk mendapatkan kalimat yang tepat. Dan entah kenapa, kalimat seperti itu yang malah keluar.
            Perempuan di sampingnya tampak menyunggingkan senyum tipis, sedikit pun tidak tertarik untuk membalas menatap ke arahnya. “Aku tidak mengatakan itu. Kau sendiri yang mengucapkannya.” Sahutnya dingin. Lagi-lagi berhasil membuat laki-laki itu terdiam untuk beberapa detik.
            “Berharap namun terlambat itu memang suatu kebodohan. Tapi, setidaknya, dulu harapan itu sempat mengarah kepadaku.”
            “Apa maksudmu?” tiba-tiba perempuan itu menyambar dengan cepat ucapan orang di sampingnya dengan tatapan yang boleh dibilang, cukup menusuk.
            “Ya, bukankah dulu, kau juga sempat menaruh harapan yang sama?” si namja—(laki-laki) balas menatap, sambil sedikit memutar posisinya agar tepat menghadap ke arah si yeoja—(perempuan). Kata-katanya berhasil membuat hati orang di depannya itu seperti mendapat sengatan listrik begitu mendengarnya.
            Seketika yeoja yang lengan kanannya mendekap erat buku-buku tebal yang ia bawa, segera memutar bola matanya jengah. Berharap bus yang sudah ia tunggu sejak tadi itu datang, namun lagi-lagi ia hanya bisa menghembuskan napas berat karenanya.
            “Apa kau tidak capek berbicara terus-terusan seperti itu?” ucap yeoja yang terus berusaha menghindarkan matanya dari sosok laki-laki yang lekat sekali menatapinya sekarang. Ia bisa merasakan perubahan atmosfer sejak beberapa detik yang lalu, namun ia mencoba untuk tetap berusaha agar tidak terpengaruh pada suasana.
            “Tidak!” sambar si namja segera, “Aku bukan tipikal orang yang mudah menyerah.”
            “Aku semakin tidak mengerti apa maksud perkataanmu.”
            “Karena kau terus berpura-pura.”
            “Berhenti Jeongmin-ah!” bentak yeoja itu tiba-tiba. “Aku muak mendengarnya! Itulah mengapa aku tidak menyukaimu, kau tahu?! Kau terlalu kekanak-kanakan!”
            Laki-laki bernama Jeongmin itu terdiam seketika. Kata ‘kekanak-kanakan’ adalah hal yang paling tidak disukainya, dan orang yang ia sukai baru saja mengatakan itu kepadanya. Ia tidak bisa memungkiri bahwa hatinya cukup tersinggung. Seandainya saja yang mengatakan itu seorang namja, mungkin dia sudah membuat suatu perhitungan. Namun yang ada, sosok yeoja berambut lurus melewati bahu itu berdiri di depannya sambil menatapnya dengan wajah merah, membuatnya untuk kembali berpikir dua kali.
            “Mianhae.” Jeongmin bergumam pelan, namun bisa tertangkap oleh pendengaran si yeoja. “Jika memang itu yang menjadi penghalang selama ini, aku berjanji untuk mengubahnya. Aku-“
            “Busnya sudah datang.”
            Kalimat Jeongmin terpotong. Yeoja itu mengambil langkah menuju bus yang baru saja berhenti di depan halte tempat mereka berdua menunggu, namun belum sempat menginjakan kakinya ke tangga bus, ia berbalik badan menghadap ke arah Jeongmin yang masih belum bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri.
            “3 hari lagi, aku berangkat ke Swiss. Aku akan mengikuti pertukaran pelajar selama beberapa tahun di sana. Dan aku harap dalam jangka waktu itu, kita bisa saling menemukan harapan yang lebih baik untuk ke depannya. Dan besok aku tidak yakin apakah aku bisa datang ke kampus atau tidak. Jadi, kupikir lebih baik jika aku mengatakannya hari ini saja. Annyeonghigasaeyo~”
            Yeoja itu merundukan sedikit pundaknya sebagai tanda perpisahan mereka hari ini—lebih tepatnya untuk beberapa tahun ke depan. Wajahnya menampilkan ekspresi datar, dan dengan segara mengambil langkah menaiki tangga bus yang sudah menunggunya. Tidak lagi memandang ke belakang, ataupun menatap melalui jendela bus. Ia ingin pergi, tanpa membawa harapan yang dalam pada hal-hal yang sudah diputuskannya untuk dilupakan saja.
            Termasuk namja itu. Namja berkemeja biru yang masih tak bergeming dari tempatnya, bahkan ketika bus itu sudah berlalu dan tak terjangkau lagi oleh pandangannya. Semuanya. Harapan-harapan yang selama ini ia coba simpan di dalam hatinya tiba-tiba mengecil perlahan-lahan dalam waktu beberapa detik. Dan tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang hangat jatuh dan perlahan-lahan mengalir di pipinya.
*
            Tidak ada yang perlu dimaafkan sebenarnya. Ia bahkan tidak menganggap kesalahan berada di pihak laki-laki itu karena terlambat mengetahui semuanya. Datang pada saat di mana ia sudah menyadari akan perasaannya yang sebenarnya. Perasaan yang beberapa waktu sempat membuatnya gelisah. Perasaan yang awalnya ia pikir itu adalah rasa suka, namun seiring berjalannya waktu, ia sadar bahwa perasaan itu tidak lebih hanya sebatas perasaan kagum. Sosok itu datang hanya untuk mengingatkannya pada seseorang yang terlebih dahulu mengisi hatinya.
            Dia Jiyoung. Ya, laki-laki yang berada di hatinya sejak awal itu adalah Jiyoung. Pemilik senyum manis yang meluluhkan hatinya sejak pertemuan awal mereka. Ia masih ingat, begitu Jiyoung meminjaminya pulpen untuk menandatangani kolom absen sebagai murid baru di salah satu Senior High School di Busan. Dan perasaan itu memang sudah semenjak awal hadir, membuatnya rela memendam perasaannya sendiri, karena ia tidak bisa membagikannya kepada siapapun. Hingga tibanya upacara kelulusan senior-nya, menjadi waktu di mana Chaemi bisa bertemu dengan orang itu untuk yang terakhir kalinya.
            Semenjak itu Chaemi tidak mendapatkan kabar apapun lagi tentang Jiyoung. Ia tidak lagi memiliki kesempatan untuk melihat laki-laki itu. Kemana Jiyoung melanjutkan pendidikannya pun ia tidak tahu sama sekali. Chaemi sempat berpikir bahwa upacara kelulusan beberapa tahun yang lalu telah memutus habis semuanya.
            Seiring bergulirnya waktu, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang mengingatkannya pada perasaan indah yang tak bisa tersampaikan itu. Meskipun sosok itu bukanlah Jiyoung. Namun berhasil membuat Chaemi merasakan bahwa sosok itu adalah Jiyoung dan kembali menghadirkan sesuatu yang indah seperti saat di mana ia bertemu Jiyoung. Laki-laki itu mempunyai fostur, mata dan senyum yang untuk Chaemi sangat mengingatkannya dengan seseorang. Tapi lagi-lagi, ia harus memendam semuanya. Ia tetap tidak bisa mengutarakannya sampai ia tersadar akan sesuatu.
            Ia sadar bahwa, Jeongmin bukanlah Jiyoung, dan Jiyoung bukanlah Jeongmin. Keadaan hatinya setiap kali bertemu Jeongmin adalah sebuah perasaan di mana ia kembali pada masalalu. Wajah yang ditatapnya memang Jeongmin, tapi di hatinya Jiyounglah yang ada. Seakan-akan kehadiran Jeongmin hanya menjadi sesuatu yang bisa mengembalikan kenangannya akan sosok Jiyoung. Dan ia merasa cukup bersalah dengan ini. Terlebih begitu Jeongmin datang kepadanya dengan sebuah harapan. Namun tetap ia tidak bisa menerimanya. Daripada Jeongmin tersakiti apabila harus bersama-sama dengannya sementara hatinya memikirkan yang lain.
            ‘Kau di mana sekarang? Apakah sudah di bandara Internasional Zurich?’
            Chaemi tertegun. Ternyata pesan yang baru saja ia baca itu sudah masuk beberapa jam yang lalu. Tapi ia terlambat membukanya, karena handphonenya sedari tadi hanya ditaruhnya di dalam tas.
            Ia menghela napas pendek, kemudian membalas pesan tersebut.
            ‘Maaf. Aku terlambat membalasnya. Sekarang aku sudah di kereta menuju Leukerbad. Sepertinya, sebentar lagi akan sampai. Di sini lebih dingin ya ternyata. Aku sudah menghabiskan beberapa gelas hot chocolate untuk menghangatkan tubuh.’
            Tidak perlu selang waktu lama untuk menunggu orang itu membalas pesannya.
            ‘Kkekeke~ tunggulah beberapa menit lagi. Aku sudah menyiapkan hot chocolate yang banyak untukmu. Hot chocolate special buatan seorang leader Jiyoung. Hahaha.’
            Chaemi hanya tersenyum tipis setelah memutuskan untuk menyimpan handphonenya kembali.

END



Komentar Anda sangat berharga untuk saya ^^


Tidak ada komentar:

Posting Komentar