Harapan Dalam Kepahitan
Jika seandainya rentetan kisah pahit dalam hidupku, bisa dirangkai dengan
kata-kata indah seperti dalam tulisan, maka akan kupenuhi ia dengan majas-majas
yang anggun. Yang bisa menyulap hal-hal pahit menjadi manis untuk dinikmati.
Apabila masalah yang tertulis dalam buku takdirku, bisa kuatur seperti dalam
tulisan yang kubuat, pastilah aku akan memilih konflik yang menarik. Dimana
peristiwa pahit yang terjadi, pasti akan bersalin menjadi kebahagiaan yang
diiringi senandung riang nan berdendang syahdu dalam setiap hati tokohnya. Jika
bisa, aku ingin membuat duniaku sendiri, sepertiku menciptakan hal yang terjadi
dan akan terjadi untuk setiap tokoh dalam rangkai cerita yang kutulis dengan
pena hati. Bisakah begitu?
Saban siang, malam, sore, bahkan detik, aku terus merutuk, sampai-sampai
mengutuk diriku. Kenapa aku harus terlahir di sekeliling orang-orang yang tak
punya perasaan? Kenapa aku harus berjalan dalam takdir yang penuh dengan
duri-duri berbisa? Yang setiap saat menjalari hatiku. Membuat aku muak. Muak
dan ingin mati saja, jika aku mendengar setiap rentetan kata yang keluar dari
mulut mereka selalu ‘BERPISAH’ Tak adakah kata lain? Supaya aku tak terus
meneguk kepahitan yang harus kutelan mentah-mentah dengan deraian airmata.
Supaya aku tak tersiksa dengan racun yang tidak membunuhku seketika, tapi
perlahan-lahan dan membiarkan aku menikmati setiap sayatan sembilu yang
menggores batinku. Meremuk redamkan perasaanku, yang dulu pernah menggelora
untuk menjadi seseorang yang berguna bagi sesama. Dan kini semuanya terbenam,
beriringan dengan vonis yang harus aku terima, ditambah dengan keluarnya kata
cerai dari mulut keduanya yang hampir saja membuatku menghabisi nyawaku malam
itu. Mendahului apa yang telah divoniskan kepadaku.
Kenapa kalian setega itu? Kenapa kalian biarkan raga dan hatiku sakit
bersamaan?
Sungguh, saat ini, detik ini, aku tak butuh apa-apa selain hanya belaian
sayang dari mereka berdua. Saat ragaku harus bertahan menahan rasa sakit yang
terperikan rasanya. Berharap mereka berdua menggenggam tanganku, ketika gigiku
menghantam bibir bawahku guna menahan rasa sakit yang tak terbilang. Aku tak
bisa lagi menjerit, ketika nyeri yang menusuk pinggangku, dan serasa membuatnya
ingin patah. Tak banyak yang bisa aku lakukan selain berdoa kepada Yang
Di-Atas.
'Jika waktuku telah sampai, maka segeralah ambil aku Tuhan. Jika masih lama,
percepatlah. Karena aku tak sanggup menahan nyeri ini, dan mendengar pertengkaran
yang tak berjeda itu.'
*
Araiemei^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar