Sabtu, 27 April 2013

Harapan Dalam Kepahitan (Flashfiction)

Harapan Dalam Kepahitan

Jika seandainya rentetan kisah pahit dalam hidupku, bisa dirangkai dengan kata-kata indah seperti dalam tulisan, maka akan kupenuhi ia dengan majas-majas yang anggun. Yang bisa menyulap hal-hal pahit menjadi manis untuk dinikmati. Apabila masalah yang tertulis dalam buku takdirku, bisa kuatur seperti dalam tulisan yang kubuat, pastilah aku akan memilih konflik yang menarik. Dimana peristiwa pahit yang terjadi, pasti akan bersalin menjadi kebahagiaan yang diiringi senandung riang nan berdendang syahdu dalam setiap hati tokohnya. Jika bisa, aku ingin membuat duniaku sendiri, sepertiku menciptakan hal yang terjadi dan akan terjadi untuk setiap tokoh dalam rangkai cerita yang kutulis dengan pena hati. Bisakah begitu?
Saban siang, malam, sore, bahkan detik, aku terus merutuk, sampai-sampai mengutuk diriku. Kenapa aku harus terlahir di sekeliling orang-orang yang tak punya perasaan? Kenapa aku harus berjalan dalam takdir yang penuh dengan duri-duri berbisa? Yang setiap saat menjalari hatiku. Membuat aku muak. Muak dan ingin mati saja, jika aku mendengar setiap rentetan kata yang keluar dari mulut mereka selalu ‘BERPISAH’ Tak adakah kata lain? Supaya aku tak terus meneguk kepahitan yang harus kutelan mentah-mentah dengan deraian airmata. Supaya aku tak tersiksa dengan racun yang tidak membunuhku seketika, tapi perlahan-lahan dan membiarkan aku menikmati setiap sayatan sembilu yang menggores batinku. Meremuk redamkan perasaanku, yang dulu pernah menggelora untuk menjadi seseorang yang berguna bagi sesama. Dan kini semuanya terbenam, beriringan dengan vonis yang harus aku terima, ditambah dengan keluarnya kata cerai dari mulut keduanya yang hampir saja membuatku menghabisi nyawaku malam itu. Mendahului apa yang telah divoniskan kepadaku.
Kenapa kalian setega itu? Kenapa kalian biarkan raga dan hatiku sakit bersamaan?
Sungguh, saat ini, detik ini, aku tak butuh apa-apa selain hanya belaian sayang dari mereka berdua. Saat ragaku harus bertahan menahan rasa sakit yang terperikan rasanya. Berharap mereka berdua menggenggam tanganku, ketika gigiku menghantam bibir bawahku guna menahan rasa sakit yang tak terbilang. Aku tak bisa lagi menjerit, ketika nyeri yang menusuk pinggangku, dan serasa membuatnya ingin patah. Tak banyak yang bisa aku lakukan selain berdoa kepada Yang Di-Atas.
'Jika waktuku telah sampai, maka segeralah ambil aku Tuhan. Jika masih lama, percepatlah. Karena aku tak sanggup menahan nyeri ini, dan mendengar pertengkaran yang tak berjeda itu.'
*

Araiemei^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar