Senin, 15 Juli 2013

Songfic: I'll be Missing You

I’ll Be Missing You
Author: Araiemei
Maincast:
Kwon Seung Young (OC)
 Kim Junsu (JYJ)
 Jo Yeowoon (OC)
Kim Jaejoong (JYJ)
Rate: General
---


Seung Young’s POV
Suara nada sambung yang keluar dari speaker handphoneku, tak urung berganti dengan suara sapaan dari seseorang yang beberapa waktu ini benar-benar sangat kurindukan. Mendengarnya mengucapkan ‘Yeobosaeyo’ adalah sesuatu yang sangat aku nanti-nantikan setiap hari. Apa aku sudah membuatnya benar-benar marah? Apa ia tidak bisa memaafkan atas sikapku waktu itu?
Di satu sisi, aku memang merasa bersalah, tapi di sisi lain aku merasa kalau dia memang pantas dipermasalahkan. Tunggu, aku melakukannya atas dasar rasa cinta yang besar, bukan? Wajarlah jika seorang wanita menuntut atas sikap namjanya yang terlalu larut dalam pekerjaan dan tidak memperhatikan apapun lagi, bahkan kondisi fisiknya sendiri ia tidak peduli.
Joonsoo, sampai kapan kau mempertahankan sikapmu seperti ini?
Aku mendesah lemah. Tertunduk menatap kedua belah tanganku yang tersandar di paha sambil memegang sebuah benda persegi berwarna hitam. Sejak kemarin, entah sudah berapa pesan dan panggilan yang kulayangkan ke nomor handphonenya, tapi tetap tak mendapat gubrisan sama sekali.
Seegois inikah dia sekarang?
Pekerjaan telah membuatnya lupa akan segala-galanya. Pekerjaan lebih penting dari apapun di muka bumi ini untuknya.
Aku tahu dan aku bisa mencoba untuk terus mengerti, jika apa yang dia lakoni saat ini adalah mimpi-mimpi besarnya sejak lama. Menjadi seorang penyanyi yang tampil di atas panggung untuk menghibur penggemar-penggemarnya. Memberikan penampilan yang terbaik dengan suara emasnya. Dan aku juga tahu, jika menyanyi adalah kehidupannya.
Dan melihatnya sekarang, seharusnya aku senang—Hey! Siapa yang mengatakan aku tidak senang?—aku malah terlampau senang apabila bisa menyaksikannya di TV. Menonton konser ataupun acara-acaranya yang lain secara live. Yeoja mana yang tidak bangga memiliki namjachingu sepertinya? Tapi, apakah tidak bisa jika ia meluangkan sedikit waktu untuk membalas pesanku atau mengangkat telponku? Tidak perlu waktu satu menit aku pikir untuk mengucapkan ucapan selamat.
Aku bahkan belum mengerti, bagaimana pekerjaan-pekerjaan sudah membuat pola pikirnya berubah. Dia lebih sensitif. Terlalu cepat marah meski hanya karena masalah-masalah spele. Ataukah karena aku yang tidak bisa mengertinya? Tapi, aku pikir selama ini aku berusaha untuk bersikap baik dan mencoba untuk lebih memahaminya. Dan ujung-ujungnya tetap saja seperti ini, aku tidak dihiraukan.
*
Malam itu seharusnya menjadi malam yang indah untuk sepasang kekasih yang sudah lama tidak jalan berdua. Menghabiskan waktu mereka untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dulu sering mereka lakukan apabila berkencan. Naik bianglala, jalan bergandengan mengitari pusat kota, menikmati es cream di cafe dan masih banyak lagi.
Dalam menit-menit pertama sih, mereka masih terlihat baik-baik saja. Bercanda sambil sesekali si yeoja memukul kesal lengan pasangannya, lalu beberapa menit kemudian keduanya tertawa lagi.
Berjalan kaki berdua, di bawah sinar lampu-lampu kota, mereka saling bergandengan. Seolah tidak bisa dilepaskan oleh apapun. Karena gemuruh perasaan yang indah dan rindu yang membuncah sejak lama, mereka hanya bisa saling meredamnya apabila menyentuh tangan pasangannya masing-masing. Merasa nyaman dengannya dan tidak ingin terpisah oleh rutinitas-rutinitas yang menyita waktu mereka sehari-hari.
Dan cafe adalah tempat yang sulit terlewat untuk mereka berdua. Karena disanalah mereka bisa menatap dalam satu sama lain. Duduk berhadapan, bercerita lebih banyak, dan bercanda dengan lebih menyanangkan. Dan kadang-kadang bisa dilihat percikan-percikan merah timbul di pipi si yeoja apabila namjanya memegang hangat kedua belah tangannya yang terdampar di meja. Ah~ romantis sekali memang.
Namun sayangnya, itu tidak berlangsung lama untuk pasangan yang berposisi pada meja pojok cafe. Kehangatan yang mereka bangun beberapa menit yang lalu, tiba-tiba berubah panas. Atmosfer hampir saja meledak, apabila si yeoja tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menghempaskan handbag coklatnya ke arah si namja yang keras kepala.
“Kau berubah sekarang.” Lirih si yeoja sambil terus berusaha menahan genangan di matanya yang semakin memanas.
“Nde? Apa aku tidak salah dengar?” sahut si namja, lalu terkekeh lirih, “Seharusnya aku yang mengatakan itu. Kau berubah sekarang. Kau tidak sepengertian yang dulu.”
“Bagaimana lagi aku harus mengerti dirimu, Joonsoo-yya~? Aku bahkan lebih mengerti dirimu. Aku lebih peduli dengan keadaanmu ketimbang dirimu sendiri!”
Joonsoo mendengus kasar sambil membuang wajahnya saat yeoja di depannya menatapnya tajam dengan mata yang memerah.
“Kondisimu. Kesehatanmu. Aku hanya meminta kau memperhatikan itu. Okay! Aku tidak apa-apa jika pada akhirnya pekerjaan membuatmu melupakanku. Melupakan tentang kita. Tapi aku mohon, jangan terlalu memaksakan badanmu!”
Joonsoo bungkam, memilih tidak bersuara sama sekali.
“—Jika kau sakit, apa kau bisa bekerja dengan baik? Apa kau bisa memuaskan fansmu dengan penampilanmu yang memukau? Jadi, tolong... peduli dengan kesehatanmu.”
Setetes. Airmata itu pun sukses bergulir di wajah si yeoja. Ia mendongakan kepalanya sedikit. Mencoba menahan buliran-buliran yang lain. Sementara Joonsoo, belum bisa berkutik sama sekali.
“Joonsoo-yya~”
“Aku lebih mengerti pekerjaanku.” Suara datar Joonsoo pun akhirnya keluar, membuat ucapan yeojanya menggantung begitu saja.
Menatap wajah Joonsoo bingung.
“Selama ini aku tidak pernah merasa terbebani dengan pekerjaanku. Aku merasa baik-baik saja. Sama halnya dengan kondisiku. Aku sehat-sehat saja.”
‘Sehat-sehat saja?’ batin si yeoja. Sudah jelas-jelas waktu itu dia mendapat kabar namjanya yang jatuh pingsan setelah menyelesaikan konser mereka, dan tepat di depan matanya ia melihat hidung Joonsoo berdarah. Baik-baik bagaimana itu?
Namun dasar namja keras kepala, ia selalu menampik dengan mengatakan kalau dia baik-baik saja apabila si yeoja mencemaskan kesehatannya.
“Kau tidak seharusnya ikut campur sejauh ini atas pekerjaanku.”
Tunggu!
‘Ikut campur?’
Si yeoja tampak membularkan matanya menatap Joonsoo. Menunggu namja itu mengucapkan, ‘Ah, maksudku, kau tidak seharusnya mencemaskanku seperti ini. Aku baik-baik saja, chagiya~’
Tapi lagi-lagi ia harus menelan air liur pahit.
“Aku yang lebih mengerti semuanya, Seung Young~aa.” Ucap Joonsoo kemudian.
Dan akhirnya, airmata itu pun tidak bisa dibendung sama sekali olehnya.
*
Seorang yeoja memarkirkan sepedanya di pinggir jembatan. Melangkah perlahan-lahan untuk menyentuhkan tangannya pada pagar pembatas. Di depannya, sungai Han tampak menenangkan. Cahaya-cahaya lampu kota membias di permukaannya.
Ia mengeratkan jaket coklatnya, lalu memasukan tangannya ke dalam saku. Udara cukup dingin malam ini. Ia menarik nafas dalam-dalam. Mencoba untuk meneguhkan hati pada satu keyakinan. Dia pasti datang. Ya, laki-laki itu pasti datang menemuinya malam ini.
Biasanya mereka memang bertemu di sini. Tapi, dengan si namja terlebih dahulu menjemputnya di rumah, lalu mereka berangkat bersama menunggangi sepeda motor. Dan malam ini, si yeoja terpaksa menghalau dinginnya angin malam sendiri. Berangkat dari rumahnya ke tempat yang cukup spesial untuknya—mengingat malam itu adalah hari jadi hubungannya—ia terus mencoba berbesar hati.
Dia pasti datang dan dia akan menemuiku setelah pekerjaannya selesai, batinnya.
Tapi, seiring detik yang terus menggulir waktu. Gadis itu nampak semakin pucat dalam penantiannya. Ia merasakan ujung jemari-jemari tangannya mendingin. Rambutnya bergoyang-goyang dipermainkan angin, sebagaimana hatinya yang juga harus dipermainkan dalam hubungan yang entah kenapa semakin hari semakin absurd.
Seketika si gadis merasa lelah. Ia sudah menghabiskan 1 setengah jam lebih di sini hanya untuk menunggu seseorang. Dan 1 setengah jam berlalu, membuat ia merasa keyakinannya akan hubungannya dengan si namja perlahan-lahan meruntuh satu persatu.
Dan satu setengah jam lebih, ia merasa semuanya harus diakhiri.
*
Dalam beberapa detik, Seung Young merasa jantungnya berhenti berdetak. Tangannya hampir melepaskan handphonenya begitu saja ke tanah begitu seseorang menepuknya dari belakang sambil berteriak, “HEY!”
“YA!” pekiknya kesal sambil menimpukan sebuah novel yang tadi ia taruh di pangkuannya ke siku seseorang. Orang itu meringis sambil mengelus bagian tubuhnya yang mendapat serangan fisik. Dan tidak lama kemudian, kembali terkekeh sambil mengambil posisi duduk di samping Seung Young.
Sambil menekankan kedua telapak tangannya pada tepi bangku, yeoja berambut hitam sebahu itu menatap Seung Young, “Kau tidak takut kalau saja ada ruh jahat merasuki tubuhmu?” tanyanya sok menakut-nakuti.
Seung Young balas menatapnya, “Apa maksudmu?”
“Ya, aku hanya prihatin melihat tubuhmu yang sepertinya tidak ada jiwa sama sekali.”
“—kau kenapa?” tanyanya kemudian. Sedikit lebih melembutkan nada bicaranya.
Seung Young belum menjawab untuk beberapa detik, memilih menundukan kepalanya dan mengamati ujung jemari kakinya yang terselip di ujung sandal.
“Tentang Joonsoo?” kembali yeoja itu melayangkan pertanyaannya.
Dan akhirnya Seung Young pun mengangguk, meskipun terkesan samar.
“Yah!” ucap yeoja tersebut kemudian sambil menghembuskan nafasnya pelan, “Mungkin dia sedang menjalani rekaman sekarang. Bukankah mereka akan mengeluarkan mini album dalam beberapa minggu ke depan?”
“Kau tahu darimana?” Seung Young balik melempar pertanyaan, “Apa kau kembali berhubungan dengan Jaejoong?”
Dan yeoja itu dengan sigap menggelengkan kepala, “Tidak!” sahutnya mantap. “Aku tidak pernah berhubungan sejak aku mengiriminya sms di jembatan malam itu.”
“Kau marah?”
“Tidak!”
“Lalu kenapa kau memutusinya?”
“Aku lelah.” Sahut yeoja itu pelan.
Beberapa detik ia menghela nafas, “Aku bukan orang yang pengertian. Bahkan dalam kategori ‘cukup’ pun aku belum sampai. Mungkin bisa saja aku mengerahkan kesabaran yang lebih untuk tetap mempertahankan, tapi lagi-lagi aku bukan seseorang yang menyukai penantian. Aku tidak pernah mengingkan hubungan yang tanpa komitmen. Dan aku pikir akan lebih baik jika aku mundur saja.”
“—Aku tidak berniat menghasutmu dengan pemikiranku, lho ya~... Karena aku masih merasa keinginan untuk saling bersama masih ada dalam hubungan kalian. Joonsoo mungkin hanya tidak bisa membagi fokusnya beberapa waktu ini. Jadi, mencobalah sedikit bersabar.”
‘Bersabar untuk berapa lama lagi?’ batin Seung Young. Ia sudah mencoba untuk bersabar cukup lama. Dan ini membuatnya tidak bisa berkomentar sama sekali. Selain hanya kembali menundukkan kepala dan menarik nafas dalam-dalam.
Dan entah kenapa, semuanya terasa semakin menghimpit.
*
Seung Young’s POV
Aku tidak habis pikir dengan sikap yeoja yang berjalan bersamaku saat ini. Bahkan tidak bisa menebak sama sekali bagaimana jalan pikirannya yang sebenarnya. Dia selalu terlihat tidak membawa beban sama sekali. Senyumnya sangat tulus dan tawanya pun lepas.
Jika mengingat kisah cintanya, mungkin dia sedikit lebih tersakiti daripada aku. Dia sempat mengalami perasaan pahit karena tidak diindahkan. Dia juga sempat melewati masa-masa menunggu kedatangan seseorang. Malam di mana aku tertawa bersama Joonsoo, gadis ini harus meluapkan kesakitannya sendirian di kamar. Dia menangis satu malam suntuk. Beberapa hari jatuh sakit tanpa sepengetahuanku.
Tapi itulah dirinya. Jo Yeowoon. Gadis periang yang sudah kukenal sejak 5 tahun yang lalu. Baginya, cukup menangis satu malam suntuk, dan setelah itu dia akan menjadi amnesia karena airmatanya sendiri. Ya, dia sering berkata seperti itu kepadaku.
Seperti sekarang ini. Dengan lincah dia menggandengku berkeliling taman. Memetik bunga dan menyelipkannya di atas telingaku. Dan itu cukup membuatku tersenyum.
Gadis bermata belok itu kembali menggiringku ke arah jembatan. Di bawah, kami bisa menikmati suasana damai permukaan danau yang tenang. Yeowoon tidak pernah berhenti berceloteh. Mulutnya terus mengajakku untuk melihat tingkah hewan-hewan yang ada di sekitar danau.
“Lihat ranting pohon itu! Di sana ada burung!” serunya sambil menunjuk pohon yang ada di tepi danau. Dan senyumnya semakin mengembang begitu matanya melihat seekor kelinci berjalan mengendap-endap di bawahnya.
Aku hanya ikut tersenyum sekilas. Turut mendukung perasaannya yang sepertinya sangat baik hari ini. Namun, bayangan Joonsoo kembali merusak kenyamanan yang dibangun Yeowoon. Aku tidak bisa lepas dari melihat layar handphoneku sama sekali. Berharap sebuah pesan masuk tanpa sepengetahuanku. Dan setelahnya, air liur pahit kembali memenuhi mulutku.
“Kenapa?”
Aku terkesiap. Ternyata Yeowoon memperhatikanku dari tadi. Ia menangkap bagaimana ekspresi wajahku begitu mendapati kotak masuk yang tetap kosong.
“Anni.” Aku berusaha tersenyum begitu menjawab pertanyaannya.
Yeowoon tidak berkomentar lagi. Dia menghela nafas pendek, dan kemudian kembali meraih tanganku untuk menjangkau tempat yang lain.
*
Digiring ke pusat taman, bukannya membuat perasaanku membaik, tapi malah semakin kacau. Yeowoon dengan tampang tidak berdosanya menyuruhku duduk bersamanya di lapangan rumput yang hijau. Mengeluarkan dua buah novel dari dalam handbag hitamnya yang baru saja diambilnya di mobil sebelum tadi kami ke sini.
Dia menglurukan satu novel di tangannya kepadaku, “Mau baca? Ini novel baruku. Ceritanya seru. Aku membelinya 3 hari yang lalu dan selesai hari itu juga.” Ucapnya sumringah.
“Nde.” Sahutku sembari menyambutnya. Berusaha tersenyum walaupun kesannya kecut sekali.
Di sini. Di taman ini dan pada posisi seperti inilah dulu aku bersama Joonsoo melewati satu hari tersisa di penghujung musim semi. Di tengah-tengah kesibukannya pada awal-awal debut. Ia masih bisa meluangkan sedikit waktunya saat itu. Berbeda dengan sekarang. Bahkan untuk membalas pesanku saja susah sekali.
“Kalau lagi bosan, aku biasanya seperti ini.” Ucapan Yeowoon terdengar samar di telingaku. Ketika aku sudah hanyut dalam cerita cinta yang kubaca, perlahan-lahan, tulisan-tulisan yang ada dilembarannya semakin samar dan samar. Mataku seperti memiliki tabir yang semakin detik semakin menebal. Sebaris kalimat di sana, membuat suasana hatiku jadi bergemuruh dengan cara memposisikan aku dan Joonsoo berada dalam cerita.
Seketika sebuah tangan menarik tubuhku. Yeowoon berhasil melihat airmata yang jatuh satu persatu dari mataku hingga membasahi lembar novelnya. Aku merasakan kehangatan begitu tubuhku berhasil direngkuhnya erat dari belakang. Menyandarkan kepalaku di pundaknya. Hatiku tiba-tiba berubah nyaman saat tangannya mengelus puncak kepalaku lembut. Aku yang saat itu sudah mulai terisak, mencoba menahannya dengan memejamkan mata. Sementara di dalam hatiku sendiri bertanya, apakah dia benar-benar Yeowoon?
“Mianhae.” Ucapnya lembut. Namun berhasil membuatku tersentak. Ini tidak mungkin suara Yeowoon. Ya, ini bukan Yeowoon.
Aku mengenali suara ini cukup baik. Tapi, apa mungkin dia?
Perlahan-lahan kepalaku mendongak.
“Maaf, aku terlambat.” Ucapnya sekali lagi. Berhasil memasukan kembali ruh ke dalam tubuhku. Aku tersenyum. Meskipun sebelumnya aku sempat berpikir untuk menghantamnya dengan satu tinjuan. Tapi, sekarang hatiku menginginkan agar aku melakukan yang sesungguhnya kurasakan.
Senang. Ya, senang. Akhirnya dia pun datang.
*
Untuk sepupuku yang lagi tersepoi-sepoi member JYJ yang bernama Junsu, ini Fanfic requestmu :D Idenya berawal dari liat MV Davichi yang I'll be Missing You...

15 Juli 2013









Kadang ya begini, jika mengingat betapa nyamannya tinggal di rumah bersama keluarga, maka banyak yang gugur di tengah pertempuran. Tapi sekali lagi, perjuangan patut dinikmati.

Mungkin ini adalah kali pertama, aku mengutip statusku sendiri dari jejaring sosial (Facebook) yang sudah kuikuti semenjak tahun 2009. Bagaimana aku bisa menulisnya, bukan tanpa alasan, semua mengalir pada detik-detik benteng kesabaranku akan dirobohkan.
            Hari ini, tanggal 15 Juli 2013, bertepatan dengan menginjaknya angka 17 tahun usiaku. Aku pikir semua akan berjalan dengan baik-baik saja, menerima ucapan selamat ulang tahun dari kerabat-kerabat, lalu membalasnya dengan kalimat terimakasih dan sebagainya, yah, setidaknya sampai menginjak pukul 4 aku bisa berpikir begitu. Tapi, begitu jam sudah hampir menunjukkan waktu berbuka, di saat itulah rasanya dadaku dipenuhi dengan magma panas.
            Dalam jepitan waktu yang tidak lenggang lagi, aku dan 2 orang teman kostku, sibuk mengotak-atik kompor dan tabung gas yang tidak kunjung memunculkan bahkan setitik api pun. Well, jika ini terdengar spele, karena terkesan tidak berhubungan sekali antara hari ulang tahun dengan tabung gas yang bermasalah. Tapi, percayalah bahwa ini sangat menguji cara berpikirku.
            Beberapa hari sebelum kembalinya aku ke kost—dikarenakan jadwal sekolah yang kembali aktif dan kemungkinan berjalan sampai sekitar dua minggu ke depan, aku sempat menikmati beberapa hari awal Ramadhan dengan berkumpul bersama-sama keluargaku di rumah. Bangun pagi sekitar jam 6 untuk sekedar menikmati matahari terbit di seberang Mahakam, mendapat giliran jaga toko sementara Ibu menyiapkan menu berbuka yang kadang kuisi sambil memutar VCD, lalu bersiap-siap mandi dan setelah itu berkumpul di dapur selagi menunggu sirine berbunyi, adalah kegiatanku sehari-hari. Dan kadang aku bertanya-tanya, bagaimana bisa emosi akan mengganggu puasaku jika semuanya terasa nyaman seperti ini? Sampai akhirnya ketika aku memang diharuskan kembali pada arena pertarungan di Kabupaten, ah, pertanyaanku pun terjawab tuntas setuntas-tuntasnya: amarah memang adalah hal fatal yang mengganggu orang berpuasa. -_-
            Setelah entah keberapa kalinya percobaan yang menguras kesabaran, kami mengambil keputusan untuk menyerah. Sebagian temanku yang lain berpikir untuk lebih baik mencari makan di luar. Well, itu akan terdengar mudah bagi mereka yang longgar finansialnya, tapi bagaimana dengan kami yang dibekali sejumlah uang yang apabila dibelanjakan untuk memberi makan motor kesayangan saja akan ludes tak bersisa? 12 ribu harga nasi mawut, cukup untuk mengisi tabung bensin motorku sekitar 4 hari, atau uang jajan 3 hari.
            Tinggalah 3 orang pesakitan yang tidak tahu bagaimana nasib berbukanya berdiam diri di dapur. Menghitung menit-menit terakhir sebelum sirine berbunyi sambil membayangkan segelas air putih di depan yang menemaninya nanti. Aku teringat isi di dalam kertas plastik hitam besar yang berisi bungkusan mie instan dari Ibuku. Setidaknya, jika kompor tidak bermasalah seperti ini, mie rebus dan air putih akan menjadi menu istimewa. Tapi, sekali lagi, perjuangan memang tidak pernah menyenangkan. Perjuangan tidak membiarkan jagoan-jagoannya bisa bersantai di atas permadani  ataupun dipan, jagoan harus maju dengan ataupun tanpa senjata sambil merasakan bagaimana tetesan-tetesan peluh mengucur membasahi tubuhnya.
            Sampai akhirnya keajaiban datang. Allah memang tidak pernah menguji hamba-Nya diluar kemampuan mereka. Saat-saat genting seperti itu, kami mendengar suara seseorang memberi salam dari jendela kecil di dapur, begitu kami menoleh, Ibu pemilik kost berdiri di luar sambil membawa piring berisi sayur bening dan beberapa potong tempe goreng. Alhamdulillah, Ya Allah. Namun sesaat kami teringat, kami tidak memiliki nasi sama sekali. Salah satu temanku bergegas bangkit menyuci beberapa cup nasi untuk dimasukan kedalam magic com. Beberapa menit menghubungkannya dengan listrik, seketika lampu di kostan kami padam begitu saja. Dan saat itulah perlahan-lahan benteng pertahanan kami kembali dikikis.
            Di ulang tahun yang ke – 17 dan Ramadhan kedua di kostan, ujian mental datang 2x lipat dari tahun sebelumnya. Astaghfirullah. Aku berlindung kepada Allah dari sifat yang gemar berkeluh kesah.
            Semiris-mirisnya kami sebagai anak kostan, tapi ini adalah kali pertama kami tidak bisa menanak nasi sampai benar-benar bisa dimakan. Semua ini, aku berharap semoga Allah tidak membiarkan aku menjantuhkan air mata begitu saja saat kelak waktu berbuka tiba. Aku mencoba bertabah, ya, semuanya adalah proses.
            Kami masih mencoba berpikir keras, dan bertiga tetap pada posisinya. Sampai akhirnya mataku menubruk sebuah botol minuman soda yang tergeletak di samping gentong merah berisi air. Minyak tanah! Alhamdulillah, jalan lain pun terbuka. Kami segera tersadar saat itu bahwa kami masih memiliki satu kompor minyak tanah di dalam lemari, meskipun keadaan sumbunya sudah sakaratul maut. Perlu kesabaran ekstra untuk membuat apinya menyala dengan baik dan berwarna biru.
            Sementara menunggu nasi masak, kami membagi tugas masing-masing. Satu orang melakukan pekerjaannya sebagai pencincang mentimun untuk kami oseng-oseng, satu orang menyiapkan sambal, dan aku mendapat jatah menggoreng ikan asin yang perlu dicuci dan direndam beberapa saat sebelum dimasukan ke dalam minyak goreng panas.
            Di saat itulah, kami hanya bertiga. Setidaknya, perasaanku mengatakan begitu. Hanya ada 2 orang yang bersamaku menyiapkan menu berbuka. Yang lain aku tidak tahu entah kemana.  Di saat itulah aku kembali berpikir tentang tipe teman. Dan satu kesimpulan: menemukan teman yang peka dan cekatan itu sulit! Tapi menjalani kehidupan penuh perjuang lebih sulit untuk mereka yang sering membandingkan dengan kehidupan dalam lingkungan keluarga yang tentram!
            Aku bersyukur di sini. Meskipun dalam usia 17 aku masih terkesan menjadi anak manja di rumah, tapi aku dibiarkan mengecap bagian lain kehidupanku sebagai anak kost yang harus menghitung pendapatannya dan mencukupkan pengeluarannya. Dan di saat-saat seperti inilah aku mendapatkan satu kesimpulan yang lain: hidup terkadang tidak memberikan kita 2 pilihan. Dia lebih memaksa kita pada satu pilihan yang mutlak. Seperti kita tidak bisa memilih dalam hal kematian. Seperti kita tidak bisa memilih dalam hal waktu yang terus mengantarkan kita pada usia dewasa. Hidup kita dituntut untuk berperoses. Mau tidak mau , kita tetap mesti mengikuti alurnya. Berperoses dari seorang anak kecil yang meminta kepada orang tua bahkan hanya untuk membeli satu butir permen, menjadi manusia dewasa yang siap berpenghasilan sendiri untuk memberi orang tuanya satu teko atau lebih madu mahal.
            Dalam usia 17 tahun, aku memang belum dituntut untuk memikirkan tentang bagaimana caranya agar berpenghasilan. Masih banyak anak seusiaku  yang terlihat enjoy-enjoy saja. Sekolah dan bermain. Tapi, setidaknya jika aku belum bisa bergerak, aku harus memikirkan langkah-langkah untuk mendapatkannya. Aku tidak sama sekali menjadikan ‘uang’ sebagai prioritas utama dalam kehidupanku, tapi ada saatnya dimana kita dituntut untuk mendapatkannya tanpa mengajukan satu tangan ke arah orang tua. Yang perlu kuingat, waktu tidak membawaku kembali menjadi anak kecil!
            So, dalam usia ke – 17 ini, aku berharap semoga Allah memberikanku kesehatan badan dan jiwa. Senantiasa melimpahkan kasing sayangnya yang tidak terhingga. Menunjukkanku jalan untuk bisa menjadi perempuan sholehah yang bisa mengelola nikmat darinya sebagai ladang amal demi mencapai kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat. Dan mudah-mudahan stok kesabaranku bertambah agar bisa menghadapi persoalan-persoalan hidup dengan pembawaan yang tenang, tidak gegabah dan mudah terpancing suasana seperti hari ini yang akan menjadi hari esok. Amiin Ya Allah Ya Rabba’alamiin.
            Do’a juga selalu tercurah untuk kedua orang tuaku yang tidak pernah lupa untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada anak-anaknya. Semoga mereka diberi kesehatan, keselamatan dan perlindungan selagi aku meniti jalan untuk membanggakan mereka. Dan semoga Allah berkenan menjadikan diriku sebagai sarana dalam mewujudkan cita-cita terbesar mereka. Mamak, Bapak, ailopyu :*
            Juga keluarga besar SMA IT, Exogen Team yang mengucapkan selamat milad dengan senyum riang menentramkan. Aku mencintai mereka. Sekolah adalah rumah kedua untukku di sini. Terimakasih kadonya...
            Aku tidak akan melupakan ini. Hari ini dan kenangan ini.
           
I think, that’s enough.  Thanks for your attention :D hahaha... Bye~ ^^