Kadang ya begini, jika mengingat
betapa nyamannya tinggal di rumah bersama keluarga, maka banyak yang gugur di
tengah pertempuran. Tapi sekali lagi, perjuangan patut dinikmati.
Mungkin
ini adalah kali pertama, aku mengutip statusku sendiri dari jejaring sosial
(Facebook) yang sudah kuikuti semenjak tahun 2009. Bagaimana aku bisa menulisnya,
bukan tanpa alasan, semua mengalir pada detik-detik benteng kesabaranku akan
dirobohkan.
Hari ini, tanggal 15 Juli 2013,
bertepatan dengan menginjaknya angka 17 tahun usiaku. Aku pikir semua akan
berjalan dengan baik-baik saja, menerima ucapan selamat ulang tahun dari
kerabat-kerabat, lalu membalasnya dengan kalimat terimakasih dan sebagainya,
yah, setidaknya sampai menginjak pukul 4 aku bisa berpikir begitu. Tapi, begitu
jam sudah hampir menunjukkan waktu berbuka, di saat itulah rasanya dadaku
dipenuhi dengan magma panas.
Dalam jepitan waktu yang tidak
lenggang lagi, aku dan 2 orang teman kostku, sibuk mengotak-atik kompor dan
tabung gas yang tidak kunjung memunculkan bahkan setitik api pun. Well, jika
ini terdengar spele, karena terkesan tidak berhubungan sekali antara hari ulang
tahun dengan tabung gas yang bermasalah. Tapi, percayalah bahwa ini sangat
menguji cara berpikirku.
Beberapa hari sebelum kembalinya aku
ke kost—dikarenakan jadwal sekolah yang kembali aktif dan kemungkinan berjalan
sampai sekitar dua minggu ke depan, aku sempat menikmati beberapa hari awal
Ramadhan dengan berkumpul bersama-sama keluargaku di rumah. Bangun pagi sekitar
jam 6 untuk sekedar menikmati matahari terbit di seberang Mahakam, mendapat
giliran jaga toko sementara Ibu menyiapkan menu berbuka yang kadang kuisi
sambil memutar VCD, lalu bersiap-siap mandi dan setelah itu berkumpul di dapur
selagi menunggu sirine berbunyi, adalah kegiatanku sehari-hari. Dan kadang aku
bertanya-tanya, bagaimana bisa emosi akan mengganggu puasaku jika semuanya
terasa nyaman seperti ini? Sampai akhirnya ketika aku memang diharuskan kembali
pada arena pertarungan di Kabupaten, ah, pertanyaanku pun terjawab tuntas
setuntas-tuntasnya: amarah memang adalah hal fatal yang mengganggu orang
berpuasa. -_-
Setelah entah keberapa kalinya
percobaan yang menguras kesabaran, kami mengambil keputusan untuk menyerah.
Sebagian temanku yang lain berpikir untuk lebih baik mencari makan di luar. Well, itu akan terdengar mudah bagi
mereka yang longgar finansialnya, tapi bagaimana dengan kami yang dibekali
sejumlah uang yang apabila dibelanjakan untuk memberi makan motor kesayangan
saja akan ludes tak bersisa? 12 ribu harga nasi mawut, cukup untuk mengisi
tabung bensin motorku sekitar 4 hari, atau uang jajan 3 hari.
Tinggalah 3 orang pesakitan yang
tidak tahu bagaimana nasib berbukanya berdiam diri di dapur. Menghitung
menit-menit terakhir sebelum sirine berbunyi sambil membayangkan segelas air
putih di depan yang menemaninya nanti. Aku teringat isi di dalam kertas plastik
hitam besar yang berisi bungkusan mie instan dari Ibuku. Setidaknya, jika
kompor tidak bermasalah seperti ini, mie rebus dan air putih akan menjadi menu
istimewa. Tapi, sekali lagi, perjuangan memang tidak pernah menyenangkan.
Perjuangan tidak membiarkan jagoan-jagoannya bisa bersantai di atas
permadani ataupun dipan, jagoan harus
maju dengan ataupun tanpa senjata sambil merasakan bagaimana tetesan-tetesan
peluh mengucur membasahi tubuhnya.
Sampai akhirnya keajaiban datang.
Allah memang tidak pernah menguji hamba-Nya diluar kemampuan mereka. Saat-saat
genting seperti itu, kami mendengar suara seseorang memberi salam dari jendela
kecil di dapur, begitu kami menoleh, Ibu pemilik kost berdiri di luar sambil
membawa piring berisi sayur bening dan beberapa potong tempe goreng. Alhamdulillah, Ya Allah. Namun sesaat
kami teringat, kami tidak memiliki nasi sama sekali. Salah satu temanku
bergegas bangkit menyuci beberapa cup nasi untuk dimasukan kedalam magic com. Beberapa menit
menghubungkannya dengan listrik, seketika lampu di kostan kami padam begitu
saja. Dan saat itulah perlahan-lahan benteng pertahanan kami kembali dikikis.
Di ulang tahun yang ke – 17 dan
Ramadhan kedua di kostan, ujian mental datang 2x lipat dari tahun sebelumnya.
Astaghfirullah. Aku berlindung kepada Allah dari sifat yang gemar berkeluh
kesah.
Semiris-mirisnya kami sebagai anak
kostan, tapi ini adalah kali pertama kami tidak bisa menanak nasi sampai
benar-benar bisa dimakan. Semua ini, aku berharap semoga Allah tidak membiarkan
aku menjantuhkan air mata begitu saja saat kelak waktu berbuka tiba. Aku
mencoba bertabah, ya, semuanya adalah proses.
Kami masih mencoba berpikir keras,
dan bertiga tetap pada posisinya. Sampai akhirnya mataku menubruk sebuah botol
minuman soda yang tergeletak di samping gentong merah berisi air. Minyak tanah!
Alhamdulillah, jalan lain pun terbuka. Kami segera tersadar saat itu bahwa kami
masih memiliki satu kompor minyak tanah di dalam lemari, meskipun keadaan
sumbunya sudah sakaratul maut. Perlu kesabaran ekstra untuk membuat apinya
menyala dengan baik dan berwarna biru.
Sementara menunggu nasi masak, kami
membagi tugas masing-masing. Satu orang melakukan pekerjaannya sebagai
pencincang mentimun untuk kami oseng-oseng, satu orang menyiapkan sambal, dan
aku mendapat jatah menggoreng ikan asin yang perlu dicuci dan direndam beberapa
saat sebelum dimasukan ke dalam minyak goreng panas.
Di saat itulah, kami hanya bertiga.
Setidaknya, perasaanku mengatakan begitu. Hanya ada 2 orang yang bersamaku
menyiapkan menu berbuka. Yang lain aku tidak tahu entah kemana. Di saat itulah aku kembali berpikir tentang
tipe teman. Dan satu kesimpulan: menemukan teman yang peka dan cekatan itu
sulit! Tapi menjalani kehidupan penuh perjuang lebih sulit untuk mereka yang
sering membandingkan dengan kehidupan dalam lingkungan keluarga yang tentram!
Aku bersyukur di sini. Meskipun
dalam usia 17 aku masih terkesan menjadi anak manja di rumah, tapi aku
dibiarkan mengecap bagian lain kehidupanku sebagai anak kost yang harus
menghitung pendapatannya dan mencukupkan pengeluarannya. Dan di saat-saat
seperti inilah aku mendapatkan satu kesimpulan yang lain: hidup terkadang tidak
memberikan kita 2 pilihan. Dia lebih memaksa kita pada satu pilihan yang
mutlak. Seperti kita tidak bisa memilih dalam hal kematian. Seperti kita tidak
bisa memilih dalam hal waktu yang terus mengantarkan kita pada usia dewasa.
Hidup kita dituntut untuk berperoses. Mau tidak mau , kita tetap mesti
mengikuti alurnya. Berperoses dari seorang anak kecil yang meminta kepada orang
tua bahkan hanya untuk membeli satu butir permen, menjadi manusia dewasa yang
siap berpenghasilan sendiri untuk memberi orang tuanya satu teko atau lebih
madu mahal.
Dalam usia 17 tahun, aku memang
belum dituntut untuk memikirkan tentang bagaimana caranya agar berpenghasilan.
Masih banyak anak seusiaku yang terlihat
enjoy-enjoy saja. Sekolah dan bermain. Tapi, setidaknya jika aku belum bisa
bergerak, aku harus memikirkan langkah-langkah untuk mendapatkannya. Aku tidak
sama sekali menjadikan ‘uang’ sebagai prioritas utama dalam kehidupanku, tapi
ada saatnya dimana kita dituntut untuk mendapatkannya tanpa mengajukan satu
tangan ke arah orang tua. Yang perlu kuingat, waktu tidak membawaku kembali
menjadi anak kecil!
So, dalam usia ke – 17 ini, aku
berharap semoga Allah memberikanku kesehatan badan dan jiwa. Senantiasa
melimpahkan kasing sayangnya yang tidak terhingga. Menunjukkanku jalan untuk
bisa menjadi perempuan sholehah yang bisa mengelola nikmat darinya sebagai
ladang amal demi mencapai kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat. Dan
mudah-mudahan stok kesabaranku bertambah agar bisa menghadapi
persoalan-persoalan hidup dengan pembawaan yang tenang, tidak gegabah dan mudah
terpancing suasana seperti hari ini yang akan menjadi hari esok. Amiin Ya Allah Ya Rabba’alamiin.
Do’a juga selalu tercurah untuk
kedua orang tuaku yang tidak pernah lupa untuk mengucapkan selamat ulang tahun
kepada anak-anaknya. Semoga mereka diberi kesehatan, keselamatan dan
perlindungan selagi aku meniti jalan untuk membanggakan mereka. Dan semoga
Allah berkenan menjadikan diriku sebagai sarana dalam mewujudkan cita-cita
terbesar mereka. Mamak, Bapak, ailopyu :*
Juga keluarga besar SMA IT, Exogen
Team yang mengucapkan selamat milad dengan senyum riang menentramkan. Aku
mencintai mereka. Sekolah adalah rumah kedua untukku di sini. Terimakasih
kadonya...
Aku tidak akan melupakan ini. Hari
ini dan kenangan ini.
I
think, that’s enough. Thanks for your
attention :D hahaha... Bye~ ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar