Senin, 15 Juli 2013

15 Juli 2013









Kadang ya begini, jika mengingat betapa nyamannya tinggal di rumah bersama keluarga, maka banyak yang gugur di tengah pertempuran. Tapi sekali lagi, perjuangan patut dinikmati.

Mungkin ini adalah kali pertama, aku mengutip statusku sendiri dari jejaring sosial (Facebook) yang sudah kuikuti semenjak tahun 2009. Bagaimana aku bisa menulisnya, bukan tanpa alasan, semua mengalir pada detik-detik benteng kesabaranku akan dirobohkan.
            Hari ini, tanggal 15 Juli 2013, bertepatan dengan menginjaknya angka 17 tahun usiaku. Aku pikir semua akan berjalan dengan baik-baik saja, menerima ucapan selamat ulang tahun dari kerabat-kerabat, lalu membalasnya dengan kalimat terimakasih dan sebagainya, yah, setidaknya sampai menginjak pukul 4 aku bisa berpikir begitu. Tapi, begitu jam sudah hampir menunjukkan waktu berbuka, di saat itulah rasanya dadaku dipenuhi dengan magma panas.
            Dalam jepitan waktu yang tidak lenggang lagi, aku dan 2 orang teman kostku, sibuk mengotak-atik kompor dan tabung gas yang tidak kunjung memunculkan bahkan setitik api pun. Well, jika ini terdengar spele, karena terkesan tidak berhubungan sekali antara hari ulang tahun dengan tabung gas yang bermasalah. Tapi, percayalah bahwa ini sangat menguji cara berpikirku.
            Beberapa hari sebelum kembalinya aku ke kost—dikarenakan jadwal sekolah yang kembali aktif dan kemungkinan berjalan sampai sekitar dua minggu ke depan, aku sempat menikmati beberapa hari awal Ramadhan dengan berkumpul bersama-sama keluargaku di rumah. Bangun pagi sekitar jam 6 untuk sekedar menikmati matahari terbit di seberang Mahakam, mendapat giliran jaga toko sementara Ibu menyiapkan menu berbuka yang kadang kuisi sambil memutar VCD, lalu bersiap-siap mandi dan setelah itu berkumpul di dapur selagi menunggu sirine berbunyi, adalah kegiatanku sehari-hari. Dan kadang aku bertanya-tanya, bagaimana bisa emosi akan mengganggu puasaku jika semuanya terasa nyaman seperti ini? Sampai akhirnya ketika aku memang diharuskan kembali pada arena pertarungan di Kabupaten, ah, pertanyaanku pun terjawab tuntas setuntas-tuntasnya: amarah memang adalah hal fatal yang mengganggu orang berpuasa. -_-
            Setelah entah keberapa kalinya percobaan yang menguras kesabaran, kami mengambil keputusan untuk menyerah. Sebagian temanku yang lain berpikir untuk lebih baik mencari makan di luar. Well, itu akan terdengar mudah bagi mereka yang longgar finansialnya, tapi bagaimana dengan kami yang dibekali sejumlah uang yang apabila dibelanjakan untuk memberi makan motor kesayangan saja akan ludes tak bersisa? 12 ribu harga nasi mawut, cukup untuk mengisi tabung bensin motorku sekitar 4 hari, atau uang jajan 3 hari.
            Tinggalah 3 orang pesakitan yang tidak tahu bagaimana nasib berbukanya berdiam diri di dapur. Menghitung menit-menit terakhir sebelum sirine berbunyi sambil membayangkan segelas air putih di depan yang menemaninya nanti. Aku teringat isi di dalam kertas plastik hitam besar yang berisi bungkusan mie instan dari Ibuku. Setidaknya, jika kompor tidak bermasalah seperti ini, mie rebus dan air putih akan menjadi menu istimewa. Tapi, sekali lagi, perjuangan memang tidak pernah menyenangkan. Perjuangan tidak membiarkan jagoan-jagoannya bisa bersantai di atas permadani  ataupun dipan, jagoan harus maju dengan ataupun tanpa senjata sambil merasakan bagaimana tetesan-tetesan peluh mengucur membasahi tubuhnya.
            Sampai akhirnya keajaiban datang. Allah memang tidak pernah menguji hamba-Nya diluar kemampuan mereka. Saat-saat genting seperti itu, kami mendengar suara seseorang memberi salam dari jendela kecil di dapur, begitu kami menoleh, Ibu pemilik kost berdiri di luar sambil membawa piring berisi sayur bening dan beberapa potong tempe goreng. Alhamdulillah, Ya Allah. Namun sesaat kami teringat, kami tidak memiliki nasi sama sekali. Salah satu temanku bergegas bangkit menyuci beberapa cup nasi untuk dimasukan kedalam magic com. Beberapa menit menghubungkannya dengan listrik, seketika lampu di kostan kami padam begitu saja. Dan saat itulah perlahan-lahan benteng pertahanan kami kembali dikikis.
            Di ulang tahun yang ke – 17 dan Ramadhan kedua di kostan, ujian mental datang 2x lipat dari tahun sebelumnya. Astaghfirullah. Aku berlindung kepada Allah dari sifat yang gemar berkeluh kesah.
            Semiris-mirisnya kami sebagai anak kostan, tapi ini adalah kali pertama kami tidak bisa menanak nasi sampai benar-benar bisa dimakan. Semua ini, aku berharap semoga Allah tidak membiarkan aku menjantuhkan air mata begitu saja saat kelak waktu berbuka tiba. Aku mencoba bertabah, ya, semuanya adalah proses.
            Kami masih mencoba berpikir keras, dan bertiga tetap pada posisinya. Sampai akhirnya mataku menubruk sebuah botol minuman soda yang tergeletak di samping gentong merah berisi air. Minyak tanah! Alhamdulillah, jalan lain pun terbuka. Kami segera tersadar saat itu bahwa kami masih memiliki satu kompor minyak tanah di dalam lemari, meskipun keadaan sumbunya sudah sakaratul maut. Perlu kesabaran ekstra untuk membuat apinya menyala dengan baik dan berwarna biru.
            Sementara menunggu nasi masak, kami membagi tugas masing-masing. Satu orang melakukan pekerjaannya sebagai pencincang mentimun untuk kami oseng-oseng, satu orang menyiapkan sambal, dan aku mendapat jatah menggoreng ikan asin yang perlu dicuci dan direndam beberapa saat sebelum dimasukan ke dalam minyak goreng panas.
            Di saat itulah, kami hanya bertiga. Setidaknya, perasaanku mengatakan begitu. Hanya ada 2 orang yang bersamaku menyiapkan menu berbuka. Yang lain aku tidak tahu entah kemana.  Di saat itulah aku kembali berpikir tentang tipe teman. Dan satu kesimpulan: menemukan teman yang peka dan cekatan itu sulit! Tapi menjalani kehidupan penuh perjuang lebih sulit untuk mereka yang sering membandingkan dengan kehidupan dalam lingkungan keluarga yang tentram!
            Aku bersyukur di sini. Meskipun dalam usia 17 aku masih terkesan menjadi anak manja di rumah, tapi aku dibiarkan mengecap bagian lain kehidupanku sebagai anak kost yang harus menghitung pendapatannya dan mencukupkan pengeluarannya. Dan di saat-saat seperti inilah aku mendapatkan satu kesimpulan yang lain: hidup terkadang tidak memberikan kita 2 pilihan. Dia lebih memaksa kita pada satu pilihan yang mutlak. Seperti kita tidak bisa memilih dalam hal kematian. Seperti kita tidak bisa memilih dalam hal waktu yang terus mengantarkan kita pada usia dewasa. Hidup kita dituntut untuk berperoses. Mau tidak mau , kita tetap mesti mengikuti alurnya. Berperoses dari seorang anak kecil yang meminta kepada orang tua bahkan hanya untuk membeli satu butir permen, menjadi manusia dewasa yang siap berpenghasilan sendiri untuk memberi orang tuanya satu teko atau lebih madu mahal.
            Dalam usia 17 tahun, aku memang belum dituntut untuk memikirkan tentang bagaimana caranya agar berpenghasilan. Masih banyak anak seusiaku  yang terlihat enjoy-enjoy saja. Sekolah dan bermain. Tapi, setidaknya jika aku belum bisa bergerak, aku harus memikirkan langkah-langkah untuk mendapatkannya. Aku tidak sama sekali menjadikan ‘uang’ sebagai prioritas utama dalam kehidupanku, tapi ada saatnya dimana kita dituntut untuk mendapatkannya tanpa mengajukan satu tangan ke arah orang tua. Yang perlu kuingat, waktu tidak membawaku kembali menjadi anak kecil!
            So, dalam usia ke – 17 ini, aku berharap semoga Allah memberikanku kesehatan badan dan jiwa. Senantiasa melimpahkan kasing sayangnya yang tidak terhingga. Menunjukkanku jalan untuk bisa menjadi perempuan sholehah yang bisa mengelola nikmat darinya sebagai ladang amal demi mencapai kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat. Dan mudah-mudahan stok kesabaranku bertambah agar bisa menghadapi persoalan-persoalan hidup dengan pembawaan yang tenang, tidak gegabah dan mudah terpancing suasana seperti hari ini yang akan menjadi hari esok. Amiin Ya Allah Ya Rabba’alamiin.
            Do’a juga selalu tercurah untuk kedua orang tuaku yang tidak pernah lupa untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada anak-anaknya. Semoga mereka diberi kesehatan, keselamatan dan perlindungan selagi aku meniti jalan untuk membanggakan mereka. Dan semoga Allah berkenan menjadikan diriku sebagai sarana dalam mewujudkan cita-cita terbesar mereka. Mamak, Bapak, ailopyu :*
            Juga keluarga besar SMA IT, Exogen Team yang mengucapkan selamat milad dengan senyum riang menentramkan. Aku mencintai mereka. Sekolah adalah rumah kedua untukku di sini. Terimakasih kadonya...
            Aku tidak akan melupakan ini. Hari ini dan kenangan ini.
           
I think, that’s enough.  Thanks for your attention :D hahaha... Bye~ ^^
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar