I’ll
Be Missing You
Author:
Araiemei
Maincast:
Kwon
Seung Young (OC)
Kim Junsu (JYJ)
Jo Yeowoon (OC)
Kim
Jaejoong (JYJ)
Rate:
General
---
Seung Young’s POV
Suara nada sambung yang
keluar dari speaker handphoneku, tak urung berganti dengan suara sapaan dari
seseorang yang beberapa waktu ini benar-benar sangat kurindukan. Mendengarnya
mengucapkan ‘Yeobosaeyo’ adalah sesuatu yang sangat aku nanti-nantikan setiap
hari. Apa aku sudah membuatnya benar-benar marah? Apa ia tidak bisa memaafkan
atas sikapku waktu itu?
Di satu sisi, aku
memang merasa bersalah, tapi di sisi lain aku merasa kalau dia memang pantas
dipermasalahkan. Tunggu, aku melakukannya atas dasar rasa cinta yang besar,
bukan? Wajarlah jika seorang wanita menuntut atas sikap namjanya yang terlalu
larut dalam pekerjaan dan tidak memperhatikan apapun lagi, bahkan kondisi
fisiknya sendiri ia tidak peduli.
Joonsoo,
sampai kapan kau mempertahankan sikapmu seperti ini?
Aku mendesah lemah.
Tertunduk menatap kedua belah tanganku yang tersandar di paha sambil memegang
sebuah benda persegi berwarna hitam. Sejak kemarin, entah sudah berapa pesan
dan panggilan yang kulayangkan ke nomor handphonenya, tapi tetap tak mendapat gubrisan
sama sekali.
Seegois
inikah dia sekarang?
Pekerjaan telah
membuatnya lupa akan segala-galanya. Pekerjaan lebih penting dari apapun di
muka bumi ini untuknya.
Aku tahu dan aku bisa
mencoba untuk terus mengerti, jika apa yang dia lakoni saat ini adalah
mimpi-mimpi besarnya sejak lama. Menjadi seorang penyanyi yang tampil di atas
panggung untuk menghibur penggemar-penggemarnya. Memberikan penampilan yang
terbaik dengan suara emasnya. Dan aku juga tahu, jika menyanyi adalah
kehidupannya.
Dan melihatnya sekarang,
seharusnya aku senang—Hey! Siapa yang
mengatakan aku tidak senang?—aku malah terlampau senang apabila bisa
menyaksikannya di TV. Menonton konser ataupun acara-acaranya yang lain secara
live. Yeoja mana yang tidak bangga memiliki namjachingu sepertinya? Tapi,
apakah tidak bisa jika ia meluangkan sedikit waktu untuk membalas pesanku atau
mengangkat telponku? Tidak perlu waktu satu menit aku pikir untuk mengucapkan
ucapan selamat.
Aku bahkan belum
mengerti, bagaimana pekerjaan-pekerjaan sudah membuat pola pikirnya berubah.
Dia lebih sensitif. Terlalu cepat marah meski hanya karena masalah-masalah
spele. Ataukah karena aku yang tidak bisa
mengertinya? Tapi, aku pikir selama ini aku berusaha untuk bersikap baik
dan mencoba untuk lebih memahaminya. Dan ujung-ujungnya tetap saja seperti ini,
aku tidak dihiraukan.
*
Malam itu seharusnya
menjadi malam yang indah untuk sepasang kekasih yang sudah lama tidak jalan
berdua. Menghabiskan waktu mereka untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dulu
sering mereka lakukan apabila berkencan. Naik bianglala, jalan bergandengan mengitari
pusat kota, menikmati es cream di cafe dan masih banyak lagi.
Dalam menit-menit
pertama sih, mereka masih terlihat
baik-baik saja. Bercanda sambil sesekali si yeoja memukul kesal lengan
pasangannya, lalu beberapa menit kemudian keduanya tertawa lagi.
Berjalan kaki berdua,
di bawah sinar lampu-lampu kota, mereka saling bergandengan. Seolah tidak bisa
dilepaskan oleh apapun. Karena gemuruh perasaan yang indah dan rindu yang
membuncah sejak lama, mereka hanya bisa saling meredamnya apabila menyentuh
tangan pasangannya masing-masing. Merasa nyaman dengannya dan tidak ingin
terpisah oleh rutinitas-rutinitas yang menyita waktu mereka sehari-hari.
Dan cafe adalah tempat
yang sulit terlewat untuk mereka berdua. Karena disanalah mereka bisa menatap
dalam satu sama lain. Duduk berhadapan, bercerita lebih banyak, dan bercanda
dengan lebih menyanangkan. Dan kadang-kadang bisa dilihat percikan-percikan
merah timbul di pipi si yeoja apabila namjanya memegang hangat kedua belah
tangannya yang terdampar di meja. Ah~ romantis sekali memang.
Namun sayangnya, itu
tidak berlangsung lama untuk pasangan yang berposisi pada meja pojok cafe.
Kehangatan yang mereka bangun beberapa menit yang lalu, tiba-tiba berubah
panas. Atmosfer hampir saja meledak, apabila si yeoja tidak bisa menahan
dirinya untuk tidak menghempaskan handbag coklatnya ke arah si namja yang keras
kepala.
“Kau berubah sekarang.”
Lirih si yeoja sambil terus berusaha menahan genangan di matanya yang semakin
memanas.
“Nde? Apa aku tidak
salah dengar?” sahut si namja, lalu terkekeh lirih, “Seharusnya aku yang
mengatakan itu. Kau berubah sekarang. Kau tidak sepengertian yang dulu.”
“Bagaimana lagi aku
harus mengerti dirimu, Joonsoo-yya~? Aku bahkan lebih mengerti dirimu. Aku
lebih peduli dengan keadaanmu ketimbang dirimu sendiri!”
Joonsoo mendengus kasar
sambil membuang wajahnya saat yeoja di depannya menatapnya tajam dengan mata
yang memerah.
“Kondisimu.
Kesehatanmu. Aku hanya meminta kau memperhatikan itu. Okay! Aku tidak apa-apa
jika pada akhirnya pekerjaan membuatmu melupakanku. Melupakan tentang kita.
Tapi aku mohon, jangan terlalu memaksakan badanmu!”
Joonsoo bungkam,
memilih tidak bersuara sama sekali.
“—Jika kau sakit, apa
kau bisa bekerja dengan baik? Apa kau bisa memuaskan fansmu dengan penampilanmu
yang memukau? Jadi, tolong... peduli dengan kesehatanmu.”
Setetes. Airmata itu
pun sukses bergulir di wajah si yeoja. Ia mendongakan kepalanya sedikit.
Mencoba menahan buliran-buliran yang lain. Sementara Joonsoo, belum bisa
berkutik sama sekali.
“Joonsoo-yya~”
“Aku lebih mengerti
pekerjaanku.” Suara datar Joonsoo pun akhirnya keluar, membuat ucapan yeojanya
menggantung begitu saja.
Menatap wajah Joonsoo
bingung.
“Selama ini aku tidak
pernah merasa terbebani dengan pekerjaanku. Aku merasa baik-baik saja. Sama
halnya dengan kondisiku. Aku sehat-sehat saja.”
‘Sehat-sehat
saja?’ batin si yeoja. Sudah jelas-jelas waktu itu dia
mendapat kabar namjanya yang jatuh pingsan setelah menyelesaikan konser mereka,
dan tepat di depan matanya ia melihat hidung Joonsoo berdarah. Baik-baik bagaimana itu?
Namun dasar namja keras
kepala, ia selalu menampik dengan mengatakan kalau dia baik-baik saja apabila
si yeoja mencemaskan kesehatannya.
“Kau tidak seharusnya
ikut campur sejauh ini atas pekerjaanku.”
Tunggu!
‘Ikut
campur?’
Si yeoja tampak
membularkan matanya menatap Joonsoo. Menunggu namja itu mengucapkan, ‘Ah, maksudku, kau tidak seharusnya
mencemaskanku seperti ini. Aku baik-baik saja, chagiya~’
Tapi lagi-lagi ia harus
menelan air liur pahit.
“Aku yang lebih
mengerti semuanya, Seung Young~aa.” Ucap Joonsoo kemudian.
Dan akhirnya, airmata
itu pun tidak bisa dibendung sama sekali olehnya.
*
Seorang yeoja
memarkirkan sepedanya di pinggir jembatan. Melangkah perlahan-lahan untuk
menyentuhkan tangannya pada pagar pembatas. Di depannya, sungai Han tampak menenangkan.
Cahaya-cahaya lampu kota membias di permukaannya.
Ia mengeratkan jaket
coklatnya, lalu memasukan tangannya ke dalam saku. Udara cukup dingin malam
ini. Ia menarik nafas dalam-dalam. Mencoba untuk meneguhkan hati pada satu
keyakinan. Dia pasti datang. Ya, laki-laki itu pasti datang menemuinya malam
ini.
Biasanya mereka memang
bertemu di sini. Tapi, dengan si namja terlebih dahulu menjemputnya di rumah,
lalu mereka berangkat bersama menunggangi sepeda motor. Dan malam ini, si yeoja
terpaksa menghalau dinginnya angin malam sendiri. Berangkat dari rumahnya ke
tempat yang cukup spesial untuknya—mengingat malam itu adalah hari jadi
hubungannya—ia terus mencoba berbesar hati.
Dia
pasti datang dan dia akan menemuiku setelah pekerjaannya selesai,
batinnya.
Tapi, seiring detik
yang terus menggulir waktu. Gadis itu nampak semakin pucat dalam penantiannya.
Ia merasakan ujung jemari-jemari tangannya mendingin. Rambutnya
bergoyang-goyang dipermainkan angin, sebagaimana hatinya yang juga harus
dipermainkan dalam hubungan yang entah kenapa semakin hari semakin absurd.
Seketika si gadis
merasa lelah. Ia sudah menghabiskan 1 setengah jam lebih di sini hanya untuk
menunggu seseorang. Dan 1 setengah jam berlalu, membuat ia merasa keyakinannya
akan hubungannya dengan si namja perlahan-lahan meruntuh satu persatu.
Dan satu setengah jam lebih,
ia merasa semuanya harus diakhiri.
*
Dalam beberapa detik,
Seung Young merasa jantungnya berhenti berdetak. Tangannya hampir melepaskan
handphonenya begitu saja ke tanah begitu seseorang menepuknya dari belakang
sambil berteriak, “HEY!”
“YA!” pekiknya kesal
sambil menimpukan sebuah novel yang tadi ia taruh di pangkuannya ke siku
seseorang. Orang itu meringis sambil mengelus bagian tubuhnya yang mendapat
serangan fisik. Dan tidak lama kemudian, kembali terkekeh sambil mengambil
posisi duduk di samping Seung Young.
Sambil menekankan kedua
telapak tangannya pada tepi bangku, yeoja berambut hitam sebahu itu menatap
Seung Young, “Kau tidak takut kalau saja ada ruh jahat merasuki tubuhmu?”
tanyanya sok menakut-nakuti.
Seung Young balas
menatapnya, “Apa maksudmu?”
“Ya, aku hanya prihatin
melihat tubuhmu yang sepertinya tidak ada jiwa sama sekali.”
“—kau kenapa?” tanyanya
kemudian. Sedikit lebih melembutkan nada bicaranya.
Seung Young belum
menjawab untuk beberapa detik, memilih menundukan kepalanya dan mengamati ujung
jemari kakinya yang terselip di ujung sandal.
“Tentang Joonsoo?”
kembali yeoja itu melayangkan pertanyaannya.
Dan akhirnya Seung
Young pun mengangguk, meskipun terkesan samar.
“Yah!” ucap yeoja
tersebut kemudian sambil menghembuskan nafasnya pelan, “Mungkin dia sedang
menjalani rekaman sekarang. Bukankah mereka akan mengeluarkan mini album dalam
beberapa minggu ke depan?”
“Kau tahu darimana?”
Seung Young balik melempar pertanyaan, “Apa kau kembali berhubungan dengan
Jaejoong?”
Dan yeoja itu dengan
sigap menggelengkan kepala, “Tidak!” sahutnya mantap. “Aku tidak pernah
berhubungan sejak aku mengiriminya sms di jembatan malam itu.”
“Kau marah?”
“Tidak!”
“Lalu kenapa kau
memutusinya?”
“Aku lelah.” Sahut yeoja
itu pelan.
Beberapa detik ia menghela
nafas, “Aku bukan orang yang pengertian. Bahkan dalam kategori ‘cukup’ pun aku
belum sampai. Mungkin bisa saja aku mengerahkan kesabaran yang lebih untuk
tetap mempertahankan, tapi lagi-lagi aku bukan seseorang yang menyukai
penantian. Aku tidak pernah mengingkan hubungan yang tanpa komitmen. Dan aku
pikir akan lebih baik jika aku mundur saja.”
“—Aku tidak berniat
menghasutmu dengan pemikiranku, lho ya~... Karena aku masih merasa keinginan
untuk saling bersama masih ada dalam hubungan kalian. Joonsoo mungkin hanya
tidak bisa membagi fokusnya beberapa waktu ini. Jadi, mencobalah sedikit
bersabar.”
‘Bersabar
untuk berapa lama lagi?’ batin Seung Young. Ia sudah
mencoba untuk bersabar cukup lama. Dan ini membuatnya tidak bisa berkomentar
sama sekali. Selain hanya kembali menundukkan kepala dan menarik nafas
dalam-dalam.
Dan entah kenapa,
semuanya terasa semakin menghimpit.
*
Seung Young’s POV
Aku tidak habis pikir
dengan sikap yeoja yang berjalan bersamaku saat ini. Bahkan tidak bisa menebak
sama sekali bagaimana jalan pikirannya yang sebenarnya. Dia selalu terlihat
tidak membawa beban sama sekali. Senyumnya sangat tulus dan tawanya pun lepas.
Jika mengingat kisah
cintanya, mungkin dia sedikit lebih tersakiti daripada aku. Dia sempat
mengalami perasaan pahit karena tidak diindahkan. Dia juga sempat melewati
masa-masa menunggu kedatangan seseorang. Malam di mana aku tertawa bersama
Joonsoo, gadis ini harus meluapkan kesakitannya sendirian di kamar. Dia
menangis satu malam suntuk. Beberapa hari jatuh sakit tanpa sepengetahuanku.
Tapi itulah dirinya. Jo
Yeowoon. Gadis periang yang sudah kukenal sejak 5 tahun yang lalu. Baginya, cukup
menangis satu malam suntuk, dan setelah itu dia akan menjadi amnesia karena
airmatanya sendiri. Ya, dia sering berkata seperti itu kepadaku.
Seperti sekarang ini.
Dengan lincah dia menggandengku berkeliling taman. Memetik bunga dan
menyelipkannya di atas telingaku. Dan itu cukup membuatku tersenyum.
Gadis bermata belok itu
kembali menggiringku ke arah jembatan. Di bawah, kami bisa menikmati suasana
damai permukaan danau yang tenang. Yeowoon tidak pernah berhenti berceloteh.
Mulutnya terus mengajakku untuk melihat tingkah hewan-hewan yang ada di sekitar
danau.
“Lihat ranting pohon
itu! Di sana ada burung!” serunya sambil menunjuk pohon yang ada di tepi danau.
Dan senyumnya semakin mengembang begitu matanya melihat seekor kelinci berjalan
mengendap-endap di bawahnya.
Aku hanya ikut
tersenyum sekilas. Turut mendukung perasaannya yang sepertinya sangat baik hari
ini. Namun, bayangan Joonsoo kembali merusak kenyamanan yang dibangun Yeowoon.
Aku tidak bisa lepas dari melihat layar handphoneku sama sekali. Berharap
sebuah pesan masuk tanpa sepengetahuanku. Dan setelahnya, air liur pahit
kembali memenuhi mulutku.
“Kenapa?”
Aku terkesiap. Ternyata
Yeowoon memperhatikanku dari tadi. Ia menangkap bagaimana ekspresi wajahku
begitu mendapati kotak masuk yang tetap kosong.
“Anni.” Aku berusaha
tersenyum begitu menjawab pertanyaannya.
Yeowoon
tidak berkomentar lagi. Dia menghela nafas pendek, dan kemudian kembali meraih
tanganku untuk menjangkau tempat yang lain.
*
Digiring ke pusat
taman, bukannya membuat perasaanku membaik, tapi malah semakin kacau. Yeowoon
dengan tampang tidak berdosanya menyuruhku duduk bersamanya di lapangan rumput
yang hijau. Mengeluarkan dua buah novel dari dalam handbag hitamnya yang baru
saja diambilnya di mobil sebelum tadi kami ke sini.
Dia menglurukan satu
novel di tangannya kepadaku, “Mau baca? Ini novel baruku. Ceritanya seru. Aku
membelinya 3 hari yang lalu dan selesai hari itu juga.” Ucapnya sumringah.
“Nde.” Sahutku sembari
menyambutnya. Berusaha tersenyum walaupun kesannya kecut sekali.
Di sini. Di taman ini
dan pada posisi seperti inilah dulu aku bersama Joonsoo melewati satu hari
tersisa di penghujung musim semi. Di tengah-tengah kesibukannya pada awal-awal
debut. Ia masih bisa meluangkan sedikit waktunya saat itu. Berbeda dengan
sekarang. Bahkan untuk membalas pesanku saja susah sekali.
“Kalau lagi bosan, aku
biasanya seperti ini.” Ucapan Yeowoon terdengar samar di telingaku. Ketika aku
sudah hanyut dalam cerita cinta yang kubaca, perlahan-lahan, tulisan-tulisan
yang ada dilembarannya semakin samar dan samar. Mataku seperti memiliki tabir yang
semakin detik semakin menebal. Sebaris kalimat di sana, membuat suasana hatiku
jadi bergemuruh dengan cara memposisikan aku dan Joonsoo berada dalam cerita.
Seketika sebuah tangan
menarik tubuhku. Yeowoon berhasil melihat airmata yang jatuh satu persatu dari
mataku hingga membasahi lembar novelnya. Aku merasakan kehangatan begitu
tubuhku berhasil direngkuhnya erat dari belakang. Menyandarkan kepalaku di
pundaknya. Hatiku tiba-tiba berubah nyaman saat tangannya mengelus puncak
kepalaku lembut. Aku yang saat itu sudah mulai terisak, mencoba menahannya
dengan memejamkan mata. Sementara di dalam hatiku sendiri bertanya, apakah dia
benar-benar Yeowoon?
“Mianhae.” Ucapnya
lembut. Namun berhasil membuatku tersentak. Ini tidak mungkin suara Yeowoon.
Ya, ini bukan Yeowoon.
Aku mengenali suara ini
cukup baik. Tapi, apa mungkin dia?
Perlahan-lahan kepalaku
mendongak.
“Maaf, aku terlambat.”
Ucapnya sekali lagi. Berhasil memasukan kembali ruh ke dalam tubuhku. Aku
tersenyum. Meskipun sebelumnya aku sempat berpikir untuk menghantamnya dengan
satu tinjuan. Tapi, sekarang hatiku menginginkan agar aku melakukan yang
sesungguhnya kurasakan.
Senang. Ya, senang.
Akhirnya dia pun datang.
*
Untuk sepupuku yang lagi
tersepoi-sepoi member JYJ yang bernama Junsu, ini Fanfic requestmu :D Idenya berawal dari liat MV Davichi yang I'll be Missing You...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar