Title:
I Just Wanna Say I Love You
Author:
Araiemei
Cast:
Lee Jihyun (OC)
Yoo
Seungho
Genre:
Romance
Rate:
General
-
Lagi enggak bisa bikin cover :D
^^-^^
Malam itu dingin
sekali. Aku membungkus tubuhku dalam-dalam dengan selimut. Baru saja pulang
dari lembur di supermarket cukup membuatku merasakan bahwa otot-ototku menjadi
kaku dan seluruh persendianku ngilu.
Entah sudah berapa jam aku hanya membolak-balik posisi di
atas tempat tidur. Tidak bisa memejamkan mata sama sekali dari tadi. Aku yang
biasanya selalu terlelap dengan cepat apabila cuaca dingin seperti, namun
ternyata tidak dengan hari ini. Beberapa percakapan yang berhasil kudengar dari
karyawan-karyawan lain saat tengah membereskan barang-barang di locker cukup
berhasil menganggu pikiranku sampai sekarang.
“Jeongmal?”
“Ne, aku mendengarnya dari Yooweon.
Dia bilang seperti itu.”
“Ah, mungkin dia hanya membawa kabar
tidak benar.”
“Kalau soal itu sih, aku tidak tahu.
Tapi, kalau memang benar bagaimana? Aish, pasti akan sulit sekali mencari pekerjaan
lain.”
“Ne, aku sudah nyaman di sini.”
“Aku tidak ingin ada pengurangan
karyawan.”
“Aku juga!”
“Pengurangan karyawan!” tanpa sadar, kalimat itu meluncur
begitu saja dari mulutnya. Pengurangan karyawan adalah hal yang sering
didengarnya, malah sering terjadi kepadanya. Pada dasarnya, ia dan Seungho
sudah terbiasa untuk mencari penghasilan sendiri semenjak mereka masih kecil.
Dia memang sering menjalaninya. Ya, pengurangan karyawan
adalah hal yang lazim ia dapatkan saat bekerja, namun pada saat ini pengurangan
karyawan adalah hal yang paling tidak ingin ia dengar. Jika seandainya kabar
itu benar, dan ia menjadi salah satu dari mereka yang dikeluarkan, Jihyun
berpikir ujian besar akan kembali datang kepadanya. Saat ini, ia tengah sibuk
menyelesaikan tugas akhir sekolahnya, juga berburu untuk mendapatkan beasiswa
impiannnya, maka untuk mencari pekerjaan yang lain pasti akan menganggu
konsentrasinya. Ia sudah nyaman dengan jadwalnya saat ini. Menjadi mahasiswa
yang tengah merampungkan tugas akhir, dan karyawan tetap yang pasti mendapatkan
gaji setiap bulan.
Jihyun termangu di atas tempat tidurnya. Menggaruk
kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, melainkan pusing. Pusing memikirkan
hal-hal buruk yang akan terjadi kepadanya.
Sampai suara dering handphone di samping bantalnya
berbunyi membuat buyar pikiran Jihyun. Ia mendapati nama seseorang tertera di
sana memanggilnya.
“Seungi,” gumamnya begitu meraih benda persegi itu.
Untuk apa ia memanggilnya malam-malam seperti ini?
Bukankah biasanya sudah terlelap? Tiba-tiba pemikiran tidak benar mampir ke
otak Jihyun. Bagaimana kalau Seungho sebenarnya belum ada di rumah? Dan dia
mengalami hal tidak-tidak di luar sana? Ya, bukankah mereka tidak pulang
bersama-sama tadi.
“Ne, seungi-aa. Eodiseo?” tanya langsung begitu
mengangkat panggilan tersebut.
“Wae?” sahut orang di telepon itu, “aku di kamar. Kau
kenapa? Suaramu seperti tidak dalam keadaan-“
“Ah, gwenchana,” potong Jihyun saat itu juga, “kau kenapa
menelponku? Inikan sudah malam? Kau belum tidur?” lalu merebahkan kembali
tubuhnya ke kasur.
“Aku tidak bisa tidur,” sahut Seungho.
“Wae?”
Seungho menghembuskan nafas, mengangkat tangannya untuk
menjadi selat antara kepalanya dengan bantal, “I can’t stop think about you, Jihyun-aa.
Ah, aku pikir, aku sudah mulai merindukanmu sekarang,” ia terkekeh kemudian.
“Aish!” dengus Jihyun, “bilang saja sudah dari dulu!”
“Kenapa kau bisa tahu? Apa kau juga merasakan hal yang
sama dari dulu?”
“Eoh?” kaget Jihyun, “percaya diri sekali!”
Seungho tergelak, lalu diam seketika. Tiba-tiba suaranya
menghilang begitu saja. Jihyun mengernyitkan kening. Ia menatap layar
handphonenya. Panggilan itu belum terputus.
Ia kembali menempelkan benda itu ke telinganya, “Wae?”
tanyanya, “apa yang terjadi padamu, eoh? Kau sudah tidur?”
“...”
“Seungi-aa!”
“...”
“Ah, sepertinya kau memang sudah tidur. Geurrom, aku
matikan, ya?” bisiknya.
“Saranghae,” ucap seseorang tiba-tiba. Jihyun seketika
kaku di tempat. Ia bahkan belum sempat menggeser handphone itu dari telinganya
sedikitpun. Dan tiba-tiba suara itu menyerang jantungnya begitu saja.
“Saranghae, Lee Jihyun,” ujarnya sekali lagi, bahkan saat
Jihyun belum mengeluarkan jawaban apapun.
“Eoh?”
“Wae?” tanya suara berat itu dari speaker handphone Jihyun.
Suara yang selalu dirindukannya setiap saat, padahal kenyatannya mereka selalu
bertemu setiap hari. “Hanya ingin mengatakan kalau aku mencintaimu. Sangat
mencintaimu.”
“Ah,” Jihyun kembali sadar secara utuh, ia mengangguk.
“Nado,” ucapnya di tengah gejolak perasaan yang tidak bisa dijabarkan dengan
apapun. Jihyun bisa merasakan bagaimana hangatnya wajahnya saat itu. Tentang
jantungnya yang bekerja secara abnormal pun, ia sadar.
“Jalja!”
Jihyun mengangguk, seolah-olah Seungho berada di
sampingnya saat itu.
“Jaljayo!”
Dan malam itu, Jihyun berhasil meredam pikiran kusutnya
hanya karena sebuah panggilan dari seseorang yang sangat ia rindukan.
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar