Selasa, 10 September 2013

I JUST WANNA SAY (Drabble)



Title: I Just Wanna Say I Love You
Author: Araiemei
Cast: Lee Jihyun (OC)
Yoo Seungho
Genre: Romance
Rate: General
-
Lagi enggak bisa bikin cover :D
^^-^^
Malam itu dingin sekali. Aku membungkus tubuhku dalam-dalam dengan selimut. Baru saja pulang dari lembur di supermarket cukup membuatku merasakan bahwa otot-ototku menjadi kaku dan seluruh persendianku ngilu.
            Entah sudah berapa jam aku hanya membolak-balik posisi di atas tempat tidur. Tidak bisa memejamkan mata sama sekali dari tadi. Aku yang biasanya selalu terlelap dengan cepat apabila cuaca dingin seperti, namun ternyata tidak dengan hari ini. Beberapa percakapan yang berhasil kudengar dari karyawan-karyawan lain saat tengah membereskan barang-barang di locker cukup berhasil menganggu pikiranku sampai sekarang.
            “Jeongmal?”
            “Ne, aku mendengarnya dari Yooweon. Dia bilang seperti itu.”
            “Ah, mungkin dia hanya membawa kabar tidak benar.”
            “Kalau soal itu sih, aku tidak tahu. Tapi, kalau memang benar bagaimana? Aish, pasti akan sulit sekali mencari pekerjaan lain.”
            “Ne, aku sudah nyaman di sini.”
            “Aku tidak ingin ada pengurangan karyawan.”
            “Aku juga!”
            “Pengurangan karyawan!” tanpa sadar, kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Pengurangan karyawan adalah hal yang sering didengarnya, malah sering terjadi kepadanya. Pada dasarnya, ia dan Seungho sudah terbiasa untuk mencari penghasilan sendiri semenjak mereka masih kecil.  
            Dia memang sering menjalaninya. Ya, pengurangan karyawan adalah hal yang lazim ia dapatkan saat bekerja, namun pada saat ini pengurangan karyawan adalah hal yang paling tidak ingin ia dengar. Jika seandainya kabar itu benar, dan ia menjadi salah satu dari mereka yang dikeluarkan, Jihyun berpikir ujian besar akan kembali datang kepadanya. Saat ini, ia tengah sibuk menyelesaikan tugas akhir sekolahnya, juga berburu untuk mendapatkan beasiswa impiannnya, maka untuk mencari pekerjaan yang lain pasti akan menganggu konsentrasinya. Ia sudah nyaman dengan jadwalnya saat ini. Menjadi mahasiswa yang tengah merampungkan tugas akhir, dan karyawan tetap yang pasti mendapatkan gaji setiap bulan.
            Jihyun termangu di atas tempat tidurnya. Menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, melainkan pusing. Pusing memikirkan hal-hal buruk yang akan terjadi kepadanya.
            Sampai suara dering handphone di samping bantalnya berbunyi membuat buyar pikiran Jihyun. Ia mendapati nama seseorang tertera di sana memanggilnya.
            “Seungi,” gumamnya begitu meraih benda persegi itu.
            Untuk apa ia memanggilnya malam-malam seperti ini? Bukankah biasanya sudah terlelap? Tiba-tiba pemikiran tidak benar mampir ke otak Jihyun. Bagaimana kalau Seungho sebenarnya belum ada di rumah? Dan dia mengalami hal tidak-tidak di luar sana? Ya, bukankah mereka tidak pulang bersama-sama tadi.
            “Ne, seungi-aa. Eodiseo?” tanya langsung begitu mengangkat panggilan tersebut.
            “Wae?” sahut orang di telepon itu, “aku di kamar. Kau kenapa? Suaramu seperti tidak dalam keadaan-“
            “Ah, gwenchana,” potong Jihyun saat itu juga, “kau kenapa menelponku? Inikan sudah malam? Kau belum tidur?” lalu merebahkan kembali tubuhnya ke kasur.
            “Aku tidak bisa tidur,” sahut Seungho.
            “Wae?”
            Seungho menghembuskan nafas, mengangkat tangannya untuk menjadi selat antara kepalanya dengan bantal, “I can’t stop think about you, Jihyun-aa. Ah, aku pikir, aku sudah mulai merindukanmu sekarang,” ia terkekeh kemudian.
            “Aish!” dengus Jihyun, “bilang saja sudah dari dulu!”
            “Kenapa kau bisa tahu? Apa kau juga merasakan hal yang sama dari dulu?”
            “Eoh?” kaget Jihyun, “percaya diri sekali!”
            Seungho tergelak, lalu diam seketika. Tiba-tiba suaranya menghilang begitu saja. Jihyun mengernyitkan kening. Ia menatap layar handphonenya. Panggilan itu belum terputus.
            Ia kembali menempelkan benda itu ke telinganya, “Wae?” tanyanya, “apa yang terjadi padamu, eoh? Kau sudah tidur?”
            “...”
            “Seungi-aa!”
            “...”
            “Ah, sepertinya kau memang sudah tidur. Geurrom, aku matikan, ya?” bisiknya.
            “Saranghae,” ucap seseorang tiba-tiba. Jihyun seketika kaku di tempat. Ia bahkan belum sempat menggeser handphone itu dari telinganya sedikitpun. Dan tiba-tiba suara itu menyerang jantungnya begitu saja.
            “Saranghae, Lee Jihyun,” ujarnya sekali lagi, bahkan saat Jihyun belum mengeluarkan jawaban apapun.
            “Eoh?”
            “Wae?” tanya suara berat itu dari speaker handphone Jihyun. Suara yang selalu dirindukannya setiap saat, padahal kenyatannya mereka selalu bertemu setiap hari. “Hanya ingin mengatakan kalau aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.”
            “Ah,” Jihyun kembali sadar secara utuh, ia mengangguk. “Nado,” ucapnya di tengah gejolak perasaan yang tidak bisa dijabarkan dengan apapun. Jihyun bisa merasakan bagaimana hangatnya wajahnya saat itu. Tentang jantungnya yang bekerja secara abnormal pun, ia sadar.
            “Jalja!”
            Jihyun mengangguk, seolah-olah Seungho berada di sampingnya saat itu.
            “Jaljayo!”
            Dan malam itu, Jihyun berhasil meredam pikiran kusutnya hanya karena sebuah panggilan dari seseorang yang sangat ia rindukan.
*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar