Ibu bilang, kalau laki-laki itu tonggak pembaharuan. Dia merintis jalan untuk keturun-keturunannya dengan berpatokan dari mimpi yang ia dapatkan. Itu bukan sekedar mimpi belaka yang lantas dilupakan saat terbangun di pagi hari, tapi itu mimpi yang membuatnya menangis saat harus menyampaikan kepada keluarganya, dan tak pelak membuat semuanya ikut meneteskan airmata.
Aku tidak pernah
melihat rupanya, bahkan Ibuku yang menceritakannya. Tapi, itu tidak mengurangi
rasa kagumku terhadapnya. Bagaimanapun jauhnya perbedaan masa yang memisahkan
kami, tapi yang ada dalam diriku adalah bagiannya dan dalam dirinya adalah
bagianku. Karenanya aku ada, dan sampai kapapun aku merasakannya di sampingku.
Aku bisa melihatnya di
cermin, dan aku tidak berbohong tentang ini. Jika aku melihat sepasang mata
kecil di depanku, itu adalah matanya. Jika aku melihat kulit putih pucat,
itupun kulitnya. Ya, kami sama. Walaupun hanya setetes, tapi ditubuhku mengalir
darahnya. Dan walaupun sebait, aku menyukai ceritanya.
Aku tidak bisa membayangkan
jika saja ia tidak mengalami perjalanan dalam komanya, sebagaimana yang aku
dengar dari cerita Ibuku. Bagaimana jadinya kami, jika seandainya nyalinya ciut
untuk mengatakan tentang niatnya kepada keluarganya saat ia terbangun setelah
berbulan-bulan terbaring sebagai pasien yang kehilangan fungsi otak? Apakah
tetap akan ada kami? Apakah aku ada di dunia sebagai seorang gadis yang gemar
menelisik masalalu dan menuliskannya ulang sebagai sebuah cerita?
Tuhan memang Mahatahu.
Ibuku bilang, dari laki-laki itulah lahir seorang wanita
cerdas. Mengelola kebutuhan keluarga tanpa mengenyampingkan tugas utamanya
sebagai madrasah pertama. Dari rahimnya pun lahir seorang wanita manis yang tak
ingin jadi tebu. Dia nenek yang disayangi oleh cucu-cucunya. Dia nenek yang
bisa berkata dengan tegas, “Kalau kamu memang tidak sanggup menghidupi anak
cucuku, lebih baik kembalikan saja kepadaku. Hidup denganku, anak cucuku
mustahil kelaparan. Kalau memang kamu tidak menyukai anak itu dan membenci
status istrimu dulu, jangan berpikir untuk menyakiti mereka dengan sikapmu.
Kembalikan saja kalau memang tidak sanggup. Anak cucuku tidak pernah sengsara
hidup denganku!”
Well,
seharusnya lelaki manapun berpikir dua kali karena ini. Bersabarlah, tuan!
Ibuku bilang, dia perempuan yang paling teguh dengan
pendirian. Dia perempuan yang mampu berdiri di atas dua kakinya, meskipun
diterpa angin kencang dari arah mana saja.
Ditinggalkan saat
mengandung, disisihkan karena statusnya sebagai janda beranak satu, itu tidak
pernah membuatnya berpikir bahwa harga dirinya bisa diremehkan begitu saja.
Siapapun mereka yang bisa bersikap semena-mena dengannya, jangan harap akan
mendapat dengan mudah keterbukannya kembali. Dia tidak pernah mengharapkan
belas-kasih siapapun, karena dia terbiasa dengan didikan di madrasah pertamanya
untuk hidup mandiri. Maka begitulah sosoknya. Dia manis, tapi dia bukanlah tebu
yang bisa dicicipi lalu dibuang begitu saja. Dia bisa hidup dan menghidupi
keturunannya dengan kedua tangannya sendiri. Dia akan menunjukan kepada
siapapun, sepeninggalnya nanti, dia tidak akan meninggalkan hutang melainkan
sebuah kapal berisi barang dagangannya untuk diwariskan. Dialah wanita bermata sipit
dan berkulit putih yang paling tangguh.
Aku mengangguminya
sebagaimana Ibuku yang selalu memujinya.
Ibuku bilang, dia lelaki berdarah tionghoa yang paling
tampan. Dan aku setuju, meskipun frame berisi fotonya tidak terselamatkan dari
kejadian si jago merah 18 tahun yang lalu.
Aku tidak memerlukan
sebuah barang bukti dari selembar kertas berisi gambar, saat orang yang
diceritakan tengah tersenyum kepadaku setiap kali aku datang menemuinya.
Walaupun rambut itu sudah memutih hampir keseluruhan, kulit beningnya terbakar
oleh cahaya matahari di tengah luasnya sebuah perkebunan, di wajah dan tangannya
nyata setiap lipat keriputan, tapi wibawa seorang laki-laki berumur 70 tahunan
itu tidak akan sirna dikikis zaman. Dari pundaknya yang tegap telah memancarkan
bahwa dirinya lelaki mandiri. Kenangan pahitnya bahkan semenjak tingginya belum
mencapai 1 meter, sudah membentuknya sebagai lelaki yang gagah. Dia tampan! Aku
tidak pernah menampiknya.
Aku menyukai setiap
kali ia memanggilku dengan panggilan kesayangannya. Dan aku sangat menyukai
apabila ia membelaku. Ia bilang dari mataku, sejarah laki-laki yang bermimpi di
tengah kegagalan fungsi otak itu terbaca dengan jelas. Pada tubuhku mengalir
darah marga mereka, bukan marga yang lain.
Ya, aku menyukai ini,
sebagaimana aku menyukainya sebagai kakekku.
Dia perempuan yang cantik. Tapi Ibuku tidak pernah
mengatakannya. Ibuku tidak pernah memujinya. Aku melihatnya hanya dalam sebuah
lembar foto hitam putih kecil berukuran 3 x 4 yang sisi-sisinya telah robek
karena usia. Foto itu aku dapatkan dari tangan seorang wanita tua berumur 90
tahunan lebih. Ia menangis saat menyerahkannya kepadaku sambil memberi tahu
bahwa itulah nenekku.
Seorang anak kecil yang
tidak tahu apa-apa hanya bisa memandanginya dengan nanar. Ibuku tersenyum meski
kutahu di dalam hatinya bergetar. Mungkin dulu aku sulit untuk mengerti, tapi
sekarang semua sudah jelas sekali. Dia tidak mungkin bisa menjelaskannya secara
rinci. Aku tidak mungkin memaksanya bercerita lebih banyak ketimbang
menceritakan seorang wanita tionghoa yang sudah merawatnya hingga dewasa.
Karena dia tidak melihat orang itu. Ia tidak ingat bahkan jika harus dipaksa
sekalipun. Bahkan bagaimanapun wanita tua itu menceritakan kejadian pada ba’da
jum’at puluhan tahun yang lalu, ia tidak akan pernah sanggup.
Ya, aku mengerti ini,
Ibu, sebagaimana engkau mengerti semua hal tentangku
Kampung Halaman, 31 Juli 2013
Rima Ha
Rima Ha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar