Kamis, 12 September 2013

My Mom said, ...


Ibu bilang, kalau laki-laki itu tonggak pembaharuan. Dia merintis jalan untuk keturun-keturunannya dengan berpatokan dari mimpi yang ia dapatkan. Itu bukan sekedar mimpi belaka yang lantas dilupakan saat terbangun di pagi hari, tapi itu mimpi yang membuatnya menangis saat harus menyampaikan kepada keluarganya, dan tak pelak membuat semuanya ikut meneteskan airmata.
Aku tidak pernah melihat rupanya, bahkan Ibuku yang menceritakannya. Tapi, itu tidak mengurangi rasa kagumku terhadapnya. Bagaimanapun jauhnya perbedaan masa yang memisahkan kami, tapi yang ada dalam diriku adalah bagiannya dan dalam dirinya adalah bagianku. Karenanya aku ada, dan sampai kapapun aku merasakannya di sampingku.
Aku bisa melihatnya di cermin, dan aku tidak berbohong tentang ini. Jika aku melihat sepasang mata kecil di depanku, itu adalah matanya. Jika aku melihat kulit putih pucat, itupun kulitnya. Ya, kami sama. Walaupun hanya setetes, tapi ditubuhku mengalir darahnya. Dan walaupun sebait, aku menyukai ceritanya.
Aku tidak bisa membayangkan jika saja ia tidak mengalami perjalanan dalam komanya, sebagaimana yang aku dengar dari cerita Ibuku. Bagaimana jadinya kami, jika seandainya nyalinya ciut untuk mengatakan tentang niatnya kepada keluarganya saat ia terbangun setelah berbulan-bulan terbaring sebagai pasien yang kehilangan fungsi otak? Apakah tetap akan ada kami? Apakah aku ada di dunia sebagai seorang gadis yang gemar menelisik masalalu dan menuliskannya ulang sebagai sebuah cerita?
Tuhan memang Mahatahu.
            Ibuku bilang, dari laki-laki itulah lahir seorang wanita cerdas. Mengelola kebutuhan keluarga tanpa mengenyampingkan tugas utamanya sebagai madrasah pertama. Dari rahimnya pun lahir seorang wanita manis yang tak ingin jadi tebu. Dia nenek yang disayangi oleh cucu-cucunya. Dia nenek yang bisa berkata dengan tegas, “Kalau kamu memang tidak sanggup menghidupi anak cucuku, lebih baik kembalikan saja kepadaku. Hidup denganku, anak cucuku mustahil kelaparan. Kalau memang kamu tidak menyukai anak itu dan membenci status istrimu dulu, jangan berpikir untuk menyakiti mereka dengan sikapmu. Kembalikan saja kalau memang tidak sanggup. Anak cucuku tidak pernah sengsara hidup denganku!”
Well, seharusnya lelaki manapun berpikir dua kali karena ini. Bersabarlah, tuan!
            Ibuku bilang, dia perempuan yang paling teguh dengan pendirian. Dia perempuan yang mampu berdiri di atas dua kakinya, meskipun diterpa angin kencang dari arah mana saja.
Ditinggalkan saat mengandung, disisihkan karena statusnya sebagai janda beranak satu, itu tidak pernah membuatnya berpikir bahwa harga dirinya bisa diremehkan begitu saja. Siapapun mereka yang bisa bersikap semena-mena dengannya, jangan harap akan mendapat dengan mudah keterbukannya kembali. Dia tidak pernah mengharapkan belas-kasih siapapun, karena dia terbiasa dengan didikan di madrasah pertamanya untuk hidup mandiri. Maka begitulah sosoknya. Dia manis, tapi dia bukanlah tebu yang bisa dicicipi lalu dibuang begitu saja. Dia bisa hidup dan menghidupi keturunannya dengan kedua tangannya sendiri. Dia akan menunjukan kepada siapapun, sepeninggalnya nanti, dia tidak akan meninggalkan hutang melainkan sebuah kapal berisi barang dagangannya untuk diwariskan. Dialah wanita bermata sipit dan berkulit putih yang paling tangguh.
Aku mengangguminya sebagaimana Ibuku yang selalu memujinya.
            Ibuku bilang, dia lelaki berdarah tionghoa yang paling tampan. Dan aku setuju, meskipun frame berisi fotonya tidak terselamatkan dari kejadian si jago merah 18 tahun yang lalu.
Aku tidak memerlukan sebuah barang bukti dari selembar kertas berisi gambar, saat orang yang diceritakan tengah tersenyum kepadaku setiap kali aku datang menemuinya. Walaupun rambut itu sudah memutih hampir keseluruhan, kulit beningnya terbakar oleh cahaya matahari di tengah luasnya sebuah perkebunan, di wajah dan tangannya nyata setiap lipat keriputan, tapi wibawa seorang laki-laki berumur 70 tahunan itu tidak akan sirna dikikis zaman. Dari pundaknya yang tegap telah memancarkan bahwa dirinya lelaki mandiri. Kenangan pahitnya bahkan semenjak tingginya belum mencapai 1 meter, sudah membentuknya sebagai lelaki yang gagah. Dia tampan! Aku tidak pernah menampiknya.
Aku menyukai setiap kali ia memanggilku dengan panggilan kesayangannya. Dan aku sangat menyukai apabila ia membelaku. Ia bilang dari mataku, sejarah laki-laki yang bermimpi di tengah kegagalan fungsi otak itu terbaca dengan jelas. Pada tubuhku mengalir darah marga mereka, bukan marga yang lain.
Ya, aku menyukai ini, sebagaimana aku menyukainya sebagai kakekku.
            Dia perempuan yang cantik. Tapi Ibuku tidak pernah mengatakannya. Ibuku tidak pernah memujinya. Aku melihatnya hanya dalam sebuah lembar foto hitam putih kecil berukuran 3 x 4 yang sisi-sisinya telah robek karena usia. Foto itu aku dapatkan dari tangan seorang wanita tua berumur 90 tahunan lebih. Ia menangis saat menyerahkannya kepadaku sambil memberi tahu bahwa itulah nenekku.
Seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa hanya bisa memandanginya dengan nanar. Ibuku tersenyum meski kutahu di dalam hatinya bergetar. Mungkin dulu aku sulit untuk mengerti, tapi sekarang semua sudah jelas sekali. Dia tidak mungkin bisa menjelaskannya secara rinci. Aku tidak mungkin memaksanya bercerita lebih banyak ketimbang menceritakan seorang wanita tionghoa yang sudah merawatnya hingga dewasa. Karena dia tidak melihat orang itu. Ia tidak ingat bahkan jika harus dipaksa sekalipun. Bahkan bagaimanapun wanita tua itu menceritakan kejadian pada ba’da jum’at puluhan tahun yang lalu, ia tidak akan pernah sanggup.
Ya, aku mengerti ini, Ibu, sebagaimana engkau mengerti semua hal tentangku
Kampung Halaman, 31 Juli 2013

  Rima Ha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar