Kamis, 12 September 2013

Random Day (Cerpen)



Pucuk dicinta ulam pun tiba!
Sampai saat ini aku belum tahu tentang sejarah dari pepatah itu. Dari mana bahasanya dan siapa pencetusnya. Tapi, aku tidak tengah berbohong saat ini ketika aku mengatakan kalau aku mengalaminya. Aku merasakan makna dari kalimat itu. Pepatah itu, entah kenapa terasa dekat sekali denganku hari ini.
Aku tidak peduli dengan reaksi orang-orang yang kami lalui di jalan, ketika melihatku yang tengah mengendarai motor sambil menjerit-jerit kegirangan, tanpa bisa menghapus tautan lebar yang terkembang di wajahku. Aku bahagia sekali, sampai-sampai membuat teman yang berada di belakangku, beberapa kali menggoyang-goyangkan kepalaku yang tertutup helm berwarna putih, bermaksud agar aku sadar saat itu juga bahwa tingkahku lebih tepat dikira orang gila daripada orang yang jatuh cinta.
“Aaaa... Dokter,” pekikku lagi, sambil menyalip satu mobil Avanza hitam yang awalnya ada di depan kami. Sukses membuat temanku menjerit dan secara langsung menghantamkan kepalan tangannya ke punggungku. Dia shock!
“Ah, dia tampan sekali,” ucapku lagi, dan tersenyum semakin lebar. Entah kenapa, aku merasakan udara sangat lembut hari ini. Apakah memang begini? Tidak terlalu terlambat untukku merasakan yang namanya jatuh cinta, kan?
Tapi seseorang yang berada di belakangku tidak merespon sama sekali. Maafkan aku jika ini adalah karma.
Tapi, satu hal yang bisa digaris bawahi, seseorang yang jatuh cinta tidak bisa berhenti mengoceh tentang seseorang yang disukainya.Ya, aku yakin kau setuju.
“Shindi, kau lihat sendirikan? Dia memang keren! Aku tidak salahkan? Aku memang benar-benar jatuh cinta pada seseorang yang tepat, kan?”
“Iya...” sahut Shindi di belakang. Aku tersenyum. Meskipun tidak tahu jawaban itu memang benar-benar tulus atau hanya menutupi prinsipnya yang lebih keseringan abstain dengan pilihan.
“Hahh... Aku harap kami akan bertemu lagi pada suasana yang lebih indah.”
Entah dari mana datangnya udara yang menggerakan hatiku untuk mengucapkan kalimat yang lebih tepat disebut munajat: “Oh, Tuhan.. kalau memang dia jodohku maka dekatkanlah kami, Ya Tuhan.”
Dan aku tidak tahu bagaimana keadaan Shindi di belakangku. Apakah jeruk-jeruk yang baru dimakannya sudah habis dimuntahkannya? Yang bisa kudengar dia hanya mendengus sambil mengucapkan sesuatu, “Kau gila!”
Tapi, itu membuat senyumku semakin lebar.
*
Sore itu, aku baru menginjakkan kaki ke plat saat jam menunjukkan pukul 8 malam. Padahal hari ini hari libur yang seharusnya aku gunakan untuk beristirahat dari segala kegiatan yang menguras tenaga. Satu minggu lagi kami akan menghadapi ujian semester genap, tapi aku malah tetap menenggelamkan diriku dalam kesibukan organisasi-organisasi yang kuikuti.
Book Club adalah salah satunya. Bersama Miss Jus, pembina dari organisasi ini, kami menyusun agenda untuk acara bedah buku yang akan dilaksanakan 2 minggu kedepan. Rapat kerja untuk membentuk siapa saja yang menjadi panitia, cukup memakan waktu. Menentukan di mana acaranya, siapa penanggung jawab, serta hal-hal yang berbau dana dan sponsor harus kami susun rapi mulai hari ini, agar senin besok bisa dijalankan oleh penanggung jawab yang sudah diberi tugas.
Setibanya aku di plat, tidak ada tanda kehidupan sama sekali. Sepi. 3 orang temanku tengah berada di kampungnya masing-masing untuk menyelesaikan prakerin mereka selama 2 bulan. Hanya tersisa aku dan Shindi di sini. Tapi dia belum pulang sejak 2 hari yang lalu, dan terpaksa izin dari kantor tempatnya praktek, karena terserang diare. Dia masih di kampung sampai hari ini.
“Oh,”
Aku baru teringat, kalau aku belum mengecek handphoneku sama sekali. Biasanya jam-jam seperti ini, sms dari Ibuku masuk untuk sekedar menanyakan kabar.
Aku mendudukan tubuhku pada salah satu bangku meja makan, sambil mencoba membetulkan letak tulak punggungku dan pundakku yang sedikit melorot.
‘Kamu dimana, Mei? Udah ada di kost belum?’
Aku menggaruk kepala. Ini tidak seperti biasanya. Yang masuk bukan sms Ibuku, tapi saudara perempuanku.
‘Aku sudah di plat, nih. Kenapa?’
Tidak lama setelah aku membalas pesannya, handphoneku berdering, menandakan bahwa seseorang menelponku. Aku melirik. Penelponnya kakakku.
“Ya, hallo!”
“Kamu baru pulang?”
“Baru aja. Kenapa, kak?”
“Itu.. tadi Bapak di bawa ke Rumah Sakit.”
“Apa?!”
Aku tidak tahu bagaimana keadaan pendengaran kakakku saat ini. Yang aku peduli hanya informasi mengapa Bapak sampai harus dibawa ke Rumah Sakit kota?
“Ayah tadi sakit perut. Mungkin 10 menit lagi udah di sana. Kamu cek ya, kakak tadi enggak bisa ikut. Keponakanmu ini kasiannya. Nanti kasih kabar, oke?”
“Tapi keadaannya enggak parah-parah banget, kan?” tanyaku lagi yang cukup terundungi rasa panik.
“Enggak. Tadi bisa jalan, kok.”
“Ya, sip! Aku ke sana, nih. Nanti aku kabarin.”
Aku meletakan handphoneku begitu saja ke atas meja makan. Perasaanku tidak enak sama sekali sekarang. Belum hilang rasa pegal di tubuhku, sudah mendapat kabar kalau Ayah di bawa ke rumah sakit.
Aku bergegas bangkit dari posisiku. Melesat ke kamar mandi untuk sekedar membasahi wajah dan kepala, setelah itu segera mengganti seragam organiasai yang sejak tadi pagi kugunakan dengan kemeja coklat panjang dan rok hitam panjang.
Keadaan Ayah benar-benar mengganggu konsentrasiku. Aku terus berpikir bagaimana bisa Ayah yang selama ini jarang sakit-sakitan, malah harus dibawa ke Rumah Sakit seperti saat ini. Setelah sempat berkeliling hanya untuk mencari kunci motor yang memang sering terlupakan olehku, aku pun berangkat dengan tas ransel biru di pundak. Tas ransel yang selalu menjadi bahan ejekan Ayah dan Ibuku. Ah, Ayah.. Bagaimana keadaanmu?
*
Sesampainya aku di tempat tujuan, aku bisa melihat om-omku tengah menunggu di bangku panjang depan ruang IGD. Dari parkiran, aku berlari-lari kecil. Membawa selembar kertas kecil berwarna abu-abu di tanganku.
Menyempatkan menyapa saudara-saudara Ayahku yang hampir semuanya datang mengantar, aku langsung melesak ke dalam, mencari Ayahku. Dan tidak jauh dari pintu, aku melihat Ayahku duduk di atas sebuah ranjang sambil menekan perutnya dengan kain panas tebal. Ibuku berdiri di sampingnya untuk menunggu.
“Kok bisanya sakit perut sampai masuk rumah sakit?” tanyaku entah tertuju kepada siapa, dan belum sempat dijawab, aku kembali melempar pertanyaan, “Masih sakit kah, Yah?”
“Sekarang udah kurang.” Sahut Ayah.
“Udah disuntik tadi sama dokter.” Ibuku menimpali. Aku bisa melihat raut kusut yang belum semuanya hilang dari wajahnya.
Aku mengedarkan pandanganku. Bau rumah sakit yang khas dan membuatku tidak terlalu suka untuk datang ke sini. Terakhir aku datang sewaktu mendapat kabar adik Ibuku masuk ICU karena operasi usus buntu yang harus dilakukan hingga dua kali. Dan malam ini, aku datang lagi.
Sosok tinggi berkacamata, mengenakan seragam putih—yang bisa segera kutangkap bahwa dia adalah seorang dokter—keluar dari balik tirai yang mana di sana terbaring pasien perempuan dalam keadaan perut membuncit. Di lehernya melingkar alat medis yang biasa digunakan seorang dokter. Dan entah kenapa tiba-tiba bau khas rumah sakit yang tidak kusukai berubah menjadi aroma harum-haruman yang menyejukkan. Jika ini sebuah drama, mungkin saat ini adalah scene dimana cupid-cupid kecil mengarahkan anak panahnya ke hatiku. Tapi aku belum bisa menyimpulkan, apakah ini yang namanya terpesona? Yang kutahu jantungku tiba-tiba berdetak tanpa irama, dan mataku.. ah, kenapa sulit sekali teralihkan ke arah yang lain.
Hingga sebuah suara menghentikanku, “Emei, beliin bapak sate. Bapak mau makan satu kambing, nih..”
*

1 komentar: