Sabtu, 27 April 2013

All My Heart (Oneshot)

All My Heart

Cast:
Lee Donghae
Park Hyerim
Lee Jinki

Genre: Family
 
Rate:  General


Dia mungkin baru saja mengenalku. Tapi aku sudah jauh lebih mengenalnya sebelum pertemuan itu terjadi. Aku pernah menangis hanya karena membaca cerita hidupnya. Ketika dia menceritakan semua tentang Ayahnya dan bagaimana perjuangan mereka. Aku tahu itu. Meskipun saat itu aku belum berada di sampingnya, tapi aku tidak pernah membiarkan ia menangis sendiri. Aku juga akan menitikan airmata apabila dia menangis.

Terserah siapapun jika ingin mengatai bahwa yang aku lakukan ini bodoh. Aku tidak akan peduli. Yang pasti aku hanya ingin menjadi sosok yang tidak membiarkan dirinya terpuruk sendiri. Aku ingin menjadi orang yang paling dekat dengannya. Ya, menjadi sosok adik dari seorang Lee Donghae adalah angan-anganku sedari dulu.

Sejak kecil, aku sering kali iri dengan sepupuku hanya karena dia punya sosok kakak laki-laki. Ditambah lagi sang kakak sangat perhatian dengannya. Dia benar-benar beruntung aku pikir. Dan aku ingin seperti dirinya. Aku ingin mempunyai sosok Kakak di rumah yang bisa aku panggil dengan sebutan “Oppa”.

Dan sosok Lee Donghae adalah sosok Abang yang ada dalam bayanganku semenjak kecil. Abang yang lembut, lucu, teguh dan penyayang. Semuanya ada pada diri Lee Donghae. Aku pikir akan sangat menyenangkan jika sekiranya aku bisa bercanda dengannya sebagaimana sepupuku itu dengan Abangnya. Yah, aku sangat mengharapkan itu terjadi. Sampai beberapa tahun kemudian…

---

“Oppa, .. Apa tidak dingin?” tanyaku. Orang yang berjalan di sampingku menggelengkan kepalanya. Aku hanya menatapnya sekilas, lalu memperbaiki posisi payung yang kupegang agar bisa menaungi tubuh kami di bawahnya. “Jaketmu sudah habis basah seperti itu, .. kenapa tidak mengambil saja mantel yang tadi Eomma siapkan, eoh?”

“Gwenchanayo, Hye Rim~ah. Oppa sudah biasa seperti ini.” Sahutnya. Aku memilih diam setelah itu dengan posisi masih setia memayungi tubuh Donghae yang mulai membersihkan daun-daun yang berjatuhan di makam Ayahnya.

“Aku tidak bisa melihat jika kuburan Abeoji seperti ini.” Ucapnya yang setelah itu meminta bunga yang ada padaku untuk ia letakkan ke makam sang Ayah.  Lalu setelah itu mengambil posisi untuk memberi penghormatan.

Aku hanya bisa menatap nanar dengan perasaan yang kecut. Bagaimana tidak, saat dulu di mana aku melihat ia yang menangis di depan kamera begitu menceritakan sang Ayah saja sudah berhasil membuatku ikut terisak, apalagi bila secara langsung seperti ini. Batinku tidak kuat melihat Donghae berusaha menyembunyikan airmatanya di tengah rinai-rinai hujan yang turun dan menetes begitu saja ke wajahnya.

“Abeoji, ..” ucap Donghae memulai pembicaraannya begitu sudah mengambil posisi berjongkok di samping makam Ayahnya. Lalu berkata lagi, “Kau pasti senang, kan kalau anakmu yang paling tampan ini datang membawa calon menantu untukmu?”

Aku berdecak begitu mendengarnya sembari memutar bola mata jengah.

“Dia cantik, pengertian, lembut dan, … yah, pokoknya semua kriteria calon menantu idaman Abeoji semua ada pada dirinya. Aku yakin Abeoji pasti sangat menyukainya lalu mengatakan bahwa aku tidak salah pilih! Iya, kan? Ah, kita berdua memang satu hati.”

“—Abeoji, apa kau tidak rindu denganku?”

Seketika aku tertegun. Kenapa tiba-tiba pembicaraannya yang tadi menggebu-gebu malah berubah genre seperti ini? Aku yang masih pada posisi di belakangnya dengan menggatang payung ke atas, mencoba kembali memfokuskan pendengaranku.

“Kau tahu impian terbesarku itu apa? Impian terbesarku adalah, aku ingin sekali Abeoji bisa hadir di pesta pernikahanku nanti. Duduk mendampingiku dengan stelan jas yang sama. Aku ingin Abeoji menggenggam tanganku atau menepuk-nepuk pundakku seperti yang sering Abeoji lakukan untuk menenangkanku dan menyemangatiku. Aku sangat merindukan semua itu, kau tahu kan?”

Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan selain hanya mendaratkan telapak tanganku yang kosong ke pundak kanannya. Sementara airmataku merembes tak terkendali lagi. Suaranya yang tiba-tiba berubah parau itu membuat dadaku seperti ditikam mata belati tajam.     “Tapi, aku selalu yakin kalau Abeoji selalu di sampingku kapanpun dan bagaimanapun keadaanku. Abeoji akan selalu bersamaku seperti bagaimana janji Abeoji dalam surat.”

“—Ah, iya, .. Aku hampir lupa untuk mengatakan maaf kepadamu karena aku tidak bisa membawa calon menantumu saat ini. Dia masih sibuk menyiapkan acara pernikahan nanti. Ya, kau taukan kalau urusan perempuan itu memang berlipat-lipat repotnya daripada kaum kita?” ia terkekeh sendiri, meskipun terdengar sengau. Sementara aku tidak lagi bisa mencibirnya selain hanya ikut tersenyum. “Tapi aku janji, aku pasti akan membawanya menemui Abeoji secepatnya! Oke, Abeoji?—Aku mencintaimu.”

Donghae mengakhiri pembicaraannya dengan mencium batu nisan Ayahnya. Setitik airmata kembali jatuh ke pipinya saat ia memberikan penghormatan terakhir sebelum pulang dari ziarah hari ini.

Aku menatapnya yang berbalik badan. Ia hanya tersenyum, lalu mempersilahkan aku mengambil posisinya. Aku mengangguk, lalu menyerahkan payung yang ada di tanganku kepada Donghae.

“Annyeonghasimnikka, Abeoji.” Ucapku begitu merundukkan tubuhku sebagai penghormatan terhadap orang yang sangat dihormati oleh Donghae dan juga aku.

“Kemarin begitu Donghae Oppa mengajakku untuk mengunjungimu, aku benar-benar senang sekali dan pastinya aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu denganmu.”

“—Abeoji, kau tidak marahkan jika aku memanggilmu seperti itu? aku hanya ingin sekali masuk dalam daftar anak-anakmu seperti Donghwa dan Donghae Oppa. Pasti akan menyenangkan sekali karena menjadi putri satu-satunya. Meskipun sebentar lagi Donghae Oppa akan membawa putri yang lain.” Ucapanku terhenti beberapa saat begitu mendengar suara kekehan dari belakang. Dan aku hafal sekali itu suara siapa. Tapi aku tidak peduli itu. Biarkan saja. Aku ingin bercerita banyak sekarang dengan Abeojiku.

“Oh, iya. Ini adalah pertemuan ketiga kita. Waktu itu aku mengunjungimu bersama Eomma dan Donghwa Oppa. Kau pasti sudah mengingat wajahku kan sekarang? Ah, kau harus mengingatnya, karena sekarang aku sudah menjadi putri dalam daftar anak-anakmu. Hehehe…”

“Abeoji, .. sebentar lagi Donghaemu yang manja itu akan menikah. Aku benar-benar tidak yakin apakah dia bisa menjadi suami dan Ayah yang baik atau tidak. Lihat saja kelakuannya masih kekanak-kanakan seperti itu—Aww!!”

“Kau mau cari mati, eoh?” suara Donghae Oppa mengancamku begitu sudah berhasil mendaratkan jitakannya ke kepalaku. Sementara kekehan menyebalkan itu kembali terdengar. Aku tidak mau menoleh. Sedikitpun! Lebih baik aku meneruskan ceritaku. Bukannya Abeoji masih menanti kelanjutannya?

“Nah, Abeoji lihat sendiri dia menjitakku, kan? Dia memang selalu menyebalkan seperti ini.” Ucapku. Sedangkan Donghae Oppa mendengus lirih di belakangku.

“Tapi aku menghormatinya. Malah sangat-sangat menghormatinya. Dia persis seperti dirimu. Lembut, penyayang, hormat juga bijak. Aku bangga punya Oppa seperti dirinya. Dan Aku berjanji akan menjadi adik yang baik untuk Donghae-mu yang paling manja itu. Kau bisa percayakannya kepadaku, Abeoji.”

“—Aku kira hanya ini yang bisa aku ceritakan sekarang. Aku harus kembali untuk membantu persiapan pernikahan mereka minggu depan. Kaulihat, bahkan anakmu yang paling tampan itu belum memotong rambutnya sama sekali! Keterlaluan! Tapi aku janji akan menceritakan lebih banyak nanti. Kita pasti bertemu lagi. Dan yang perlu kautahu, aku sangat menghormati dan menyayangimu.”

Aku berdiri, kembali memberi penghormatan sebagai tanda perpisahan hari ini. Lalu aku merasa seseorang menepuk pundakku dari belakang, begitu aku berbalik Donghae langsung memelukku erat, dan mulai terisak setelahnya.

Bisa kurasakan tubuhnya yang sedikit bergetar begitu aku membalas memeluknya. Lalu memutuskan untuk menepuk-nepuk pundaknya sedikit memberi penenangan. Setelah mungkin merasa cukup, Donghae melepas pelukannya. “Gomawoyo, ..” ucapnya sengau. Aku mengangguk.

“Ehhemm…” tiba-tiba sebuah suara memecah keheningan di antara kami. Aku menoleh dan mendapati sosok berjaket putih dengan topi hitam melindungi kepalanya, berdiri sembari mengusap-usap tengkuknya dengan tangan. Aku memang sudah tahu bahwa ada sosok lain selain aku dan Donghae di sini sedari tadi, tapi aku hanya pura-pura tidak menghiraukannya.

“Sejak kapan ada makhluk lain di sini, Oppa?” ucapku yang memilih melemparkan pertanyaan kepada Donghae. Sementara orang yang aku maksud itu melengos mendengarnya.

Donghae terkekeh, “Aish, jangan seperti itu. Bagaimana pun dia yang sudah membuatmu pernah tidak bisa tidur satu malam, eoh?”

Aku yang tidak ingin ucapan berbahaya dari mulut Donghae semakin berkelanjutan itu segera saja mendaratkan kepalan tanganku ke lengan atas tangannya. Ia mengaduh lirih sebentar kemudian kembali terkekeh-kekeh menyebalkan. Aku hanya bisa mendengus sekarang, sementara orang yang berdiri di antara kami itu semakin memperkecil matanya yang sipit. Seperti berusaha mencerna maksud ucapan sekilas Donghae tadi. Benar-benar menjengkelkan.

“Oppa sengaja memintanya ke sini untuk menjemputmu.” Ucap Donghae kemudian begitu tawanya sudah mereda. “Oppa mungkin tidak bisa kembali ke Seoul bersamamu setelah ini. Jongwoon hyeong baru saja menelpon untuk hadir ke acara peresmian restourant barunya di Busan. Sementara Eonnimu meminta untuk kau segera di kembalikan agar membantunya mengukur gaun. Oppa tidak bisa mendampinginya hari ini, jadi—“

“Arraseo, ..” ucapku sambil mengangguk-anggukan kepala karena tidak ingin mendengar penjelasan yang lebih panjang lagi. “Tapi kenapa harus dia yang menjemputku?” ucapku kemudian sambil melirik sosok namja berjaket putih itu yang tadinya tersenyum manis kini tiba-tiba berubah berkerut mukanya karena mendengar kata-kataku. Donghae lagi-lagi hanya bisa terkekeh.

“Kau sudah bosan dengannya, eoh?”

“Anni.” Sahutku, “Hanya saja jika dengannya aku merasa jantungku tidak pernah bekerja normal.”

Seketika senyum itu pun kembali merekah lebar di wajahnya. Matanya yang sipit menjadi hanya seperti garis panjang yang menghiasi wajah putihnya. Aku terunduk mengulum senyum. Tidak tahu apakah ucapanku barusan terlampau dari kata basi. Tapi masa bodoh, .. menyenangkan hati orang pun sudah termasuk pahala bukan?

“Nde, .. Oppa tahu. Bahkan seperti katamu waktu itu, .. coklat akan tiba-tiba terasa hambar hanya karena melihatnya tersenyum.” Timpal Donghae yang kali ini tidak bisa mencegah hawa hangat menjalari pipiku. Seperti ada listrik bertegangan rendah. Membuat aku terpaku di tempat tanpa bisa mengangkat wajah. Bagaimana merahnya sekarang wajahku pun, aku tidak bisa membayangkannya.

“Jinjja, hyeong?” ucap namja itu yang setelahnya aku langsung menarik sebelah tangan Donghae untuk mengajaknya pergi. Tidak ingin ini menjadi semakin berkelanjutan yang akhirnya pasti aku yang menjadi bulan-bulanan mereka.

*
END

Bukti Cinta Tak Terbaca (Flashfiction)



Bukti Cinta Yang Tak Terbaca

            Mereka tak mengerti sama sekali tentang hatiku. Bahkan aku yakin kau pun tak tahu yang sebenarnya. Kau dan sahabatku sama saja, tak pernah dan tak akan pernah paham dan tahu dengan aku yang sudah terseret dalam ruang penantian tanpa kepastian ini. Menantimu sendiri dengan sebuah pena rindu dalam genggaman rasa. Pena rindu yang setiap saat kugoreskan dan membentuk kata cinta. Ya, cintaku hanya terukir dalam kata. Tak pernah terdengar oleh telingamu, tak pernah terbaca, karena kau tak mau membaca apa sebenarnya yang tertulis indah di sana, di hatiku. Kau tak pernah sadar kalau hatiku itu penuh tertulis namamu.
            Mereka, sahabatku, selalu beranggapan kalau aku menyukai dia. Mereka kira aku mengangguminya. Padahal mereka tak tahu, siapa sebenarnya yang ada di hatiku. Seseorang yang sudah dua tahun lamanya merengkuhku dalam penantian tanpa kepastian. Kau! Ya, kaulah yang membuatku betah menunggu tanpa tahu kapan bertemu lagi.
            Entah, ini adalah kebodohan apa tidak. Aku tidak peduli dengan anggapan orang-orang. Atau mungkin kau sendiri yang mau mengatakan kalau penantianku ini sia-sia, aku tetap tak peduli.
            Meski kusadar kalau aku ini tak ubahnya macam burung pungguk merindukan bulan. Aku sadar kau sekarang sudah menjadi bintang yang tak mungkin bisa kuraih, namun hanya bisa kupandang dari titik yang jauh. Tempat yang tak memungkinkan kau melihatku. Karena aku tak bersinar. Aku berada pada titik yang gelap. Hanya kau yang bisa memantulkan sinar ke arahku, dan membuatku selalu berdecak menganggumi kehebatanmu.
            Aku pun sadar, keinginan ini terlalu besar. Mendapatkanmu untuk menjadi milikku seorang adalah suatu kegilaan. Siapalah aku ini? Hanya gadis kecil yang tak punya apa-apa. Baru saja mengenal cinta lewat senyuman indahmu yang berkelap-kelip.
            Seandainya. Ya, aku hanya gadis yang pandai berandai untuk kau tahu betapa besarnya rasa suka yang kupendam selama ini dalam penantian tanpa kepastian. Sampai kapan pun, kau tak akan pernah melihatku, karena aku tak berkelip sepertimu.
            Namun, jika untuk memilikimu adalah suatu hal yang pasti tak akan terwujud, maka izinkanlah aku untuk tetap mengagumimu, memandangmu dari titik yang jauh dan sulit kau lihat. Biarkan kerlipmu tetap menerangi malamku yang suram dalam penantian tanpa kepastian ini. Agar tanganku tak kesusahan untuk mengungkapkan keindahanmu dalam tulisan. Agar penaku mudah kugoreskan dan membentuk kalimat cinta yang hanya bisa kututurkan dalam kata. Ya, sebuah cinta dalam kata-kata ditulisanku. Tidak akan pernah bisa kau dengar . Kau pun tak akan pernah mengetahuinya, karena kau tak mau membaca hatiku.
***
Araiemei^^

Beberapa tulisan yang aku post di sini jadi flashfiction, salah satunya Bukti Cinta Tak Terbaca sama Harapan Dalam Kepahitan, adalah tulisan yang dulu sempet aku ikutin lomba. Tapi sampe sekarang nggak ada pemberitahuan. Yah, aku pikir lebih baik kalau aku jadiin koleksi aja di blogku xD kkekeke~ 

Harapan Dalam Kepahitan (Flashfiction)

Harapan Dalam Kepahitan

Jika seandainya rentetan kisah pahit dalam hidupku, bisa dirangkai dengan kata-kata indah seperti dalam tulisan, maka akan kupenuhi ia dengan majas-majas yang anggun. Yang bisa menyulap hal-hal pahit menjadi manis untuk dinikmati. Apabila masalah yang tertulis dalam buku takdirku, bisa kuatur seperti dalam tulisan yang kubuat, pastilah aku akan memilih konflik yang menarik. Dimana peristiwa pahit yang terjadi, pasti akan bersalin menjadi kebahagiaan yang diiringi senandung riang nan berdendang syahdu dalam setiap hati tokohnya. Jika bisa, aku ingin membuat duniaku sendiri, sepertiku menciptakan hal yang terjadi dan akan terjadi untuk setiap tokoh dalam rangkai cerita yang kutulis dengan pena hati. Bisakah begitu?
Saban siang, malam, sore, bahkan detik, aku terus merutuk, sampai-sampai mengutuk diriku. Kenapa aku harus terlahir di sekeliling orang-orang yang tak punya perasaan? Kenapa aku harus berjalan dalam takdir yang penuh dengan duri-duri berbisa? Yang setiap saat menjalari hatiku. Membuat aku muak. Muak dan ingin mati saja, jika aku mendengar setiap rentetan kata yang keluar dari mulut mereka selalu ‘BERPISAH’ Tak adakah kata lain? Supaya aku tak terus meneguk kepahitan yang harus kutelan mentah-mentah dengan deraian airmata. Supaya aku tak tersiksa dengan racun yang tidak membunuhku seketika, tapi perlahan-lahan dan membiarkan aku menikmati setiap sayatan sembilu yang menggores batinku. Meremuk redamkan perasaanku, yang dulu pernah menggelora untuk menjadi seseorang yang berguna bagi sesama. Dan kini semuanya terbenam, beriringan dengan vonis yang harus aku terima, ditambah dengan keluarnya kata cerai dari mulut keduanya yang hampir saja membuatku menghabisi nyawaku malam itu. Mendahului apa yang telah divoniskan kepadaku.
Kenapa kalian setega itu? Kenapa kalian biarkan raga dan hatiku sakit bersamaan?
Sungguh, saat ini, detik ini, aku tak butuh apa-apa selain hanya belaian sayang dari mereka berdua. Saat ragaku harus bertahan menahan rasa sakit yang terperikan rasanya. Berharap mereka berdua menggenggam tanganku, ketika gigiku menghantam bibir bawahku guna menahan rasa sakit yang tak terbilang. Aku tak bisa lagi menjerit, ketika nyeri yang menusuk pinggangku, dan serasa membuatnya ingin patah. Tak banyak yang bisa aku lakukan selain berdoa kepada Yang Di-Atas.
'Jika waktuku telah sampai, maka segeralah ambil aku Tuhan. Jika masih lama, percepatlah. Karena aku tak sanggup menahan nyeri ini, dan mendengar pertengkaran yang tak berjeda itu.'
*

Araiemei^^

Kalender Bercoret (Flashfiction)



 Kalender Bercoret

Menghitung coretan silang yang berjejer pada setiap angka dalam kalender, aku menelen kepahitan itu seperti mengaduk-aduk perasaanku menjadi sebuah kekecutan warna gelap yang menghalangiku untuk memandang masa depan. Apa aku sanggup, di saat semua sudah mencampakanku dengan sebatang rokok yang terselip di antar jemari tangan, dan hanya mengharapkan untuk berbagi pada seseorang meskipun adalah seorang teman semu, aku harus menerima kenyataan bahwa aku harus menelan ini sendiri lagi. Dia pergi dan aku menyusuri hariku dengan menatap kalender bercoret tenta merah yang terperciki sedikit airmata setiap kali aku berharap pada sesuatu kemungkinan yang kosong, bahwa waktu itu memang tak bisa kembali.

*
Araiemei^^

Love Letter For You (Oneshot)



Love Letter For You


Author: Araiemei 


Main Cast:
 Kim Kibeom (SHINee)
Park Ririn (OC)


Rate: General


Genre: Fluff


*

Menunggu adalah hal yang paling tidak disukai siapapun, aku pikir. Namun anehnya, hal inilah yang selalu kulakoni hingga hari ini. Menunggunya dengan penuh harap, meskipun sudah beberapa kali harus menarik nafas kecewa. Aku bangun pagi-pagi, bersiap-siap, meski hanya dengan stelan biasa. Berharap Ibu memanggilku dari luar kamar untuk menyampaikan bahwa seseorang tengah menungguku untuk menemuinya. Berhari-hari seperti itu, dan hasil yang kudapatkan ialah kekecewaan yang juga berhari-hari membuatku merasakan kondisi yang lebih parah ketimbang saat penyakitku datang.
Aku meraih almanak kecil di atas lemari kecil di samping tempat tidurku, juga bolpoin yang terselip di dalam buku jurnal. Lalu menambah coretan silang pada angka yang terdapat di dalam almanak tersebut. Tanggal 25 Maret, berarti hari ini sudah menginjak hari ke 10. Hanya tersisa 1 hari, dan itu besok.
Aku tau ini cukup bodoh, atau mungkin terlalu bodoh. Menunggu seseorang yang tidak peduli sama sekali dengan keadaanku saat ini. Tapi aku tidak bisa menghentikan diriku sendiri untuk memendam harap bahwa dia pasti datang. Meski hanya sekedar menampakan batang hidung, tanpa mengucapkan kata ‘hati-hati di jalan’ atau ‘cepat sembuh’ dan lain sebagainya. Aku tidak peduli kata-kata seperti itu, yang kuinginkan dia datang disaat hari keberangkatanku. Itu saja.
Apa jangan-jangan dia tidak tahu sama sekali tentang keberangkatanku ke New York besok? Atau jangan-jangan dia tidak tahu sama sekali tentang penyakitku? Itu bisa saja terjadi sebenarnya. Tapi, bukankah beberapa hari yang lalu, aku sudah meninggalkan amanat untuk Jieun agar menyampaikan kepada teman-teman di kelas? Dan waktu itu juga mereka datang berbondong-bondong ke rumah untuk menemuiku. Yang tidak ada hanya dia saja. Dia yang tidak menampakan diri hingga sekarang.
Tentu saja aku sangat kecewa waktu itu. Meskipun harus mati-matian kusembunyikan. Tapi, lagi-lagi aku memang tidak bisa berharap banyak. Siapa aku untuknya? Aku hanyalah gadis penyakitan yang terlalu jauh memendam perasaan terhadapnya. Sementara dia tidak merasakan hal seperti yang kurasakan sama sekali. Berharap dia mengerti perasaanku, sementara aku sendiri tidak bisa menyampaikannya. Bagaimana dia bisa tahu, kalau setiap kali kami bertemu, aku malah mengambil langkah menghindar. Meskipun sebenarnya hatiku sangat menginginkan untuk melihatnya lebih lama. Berbicara, dan bersikap seperti biasa.
Aku mengembalikan almanak itu ke tempatnya, begitu melihat angka yang ditunjuk oleh jarum pendek di dinding kamarku. Pukul 8 .10. Udara pagi ini cukup baik jika kulihat dari jendela. Membuatku memutuskan untuk beranjak keluar kamar sebentar. Ya, aku pikir akan lebih baik jika sekiranya aku mendapatkan udara segar hari ini.
Di beranda rumah, mataku tertumbuk pada sebuah kotak surat persegi berwarna merah muda di dekat tangga. Aku ingat waktu kecil, begitu bangun tidur, aku langsung berlari keluar rumah hanya untuk memeriksa kotak ini. Dengan harapan ada surat baru dari teman penaku. Aku pikir, tidak ada salahnya jika aku kembali pada rutinitas masa kecilku itu. Sekedar memeriksa, walaupun tidak tahu apakah ada isinya atau tidak.
Pintu kecil yang menutupi bagian depan kotaknya, membuatku tersenyum begitu menyentuh ganggang kecil dan membukanya. Rasanya sudah lama sekali aku tidak menengok. Dan begitu terbuka, aku menemukan sebuah amplop kecil berwarna putih yang di atasnya tertempel pita merah muda. Aku bertanya-tanya akan siapa yang mengirim surat ini. Meskipun tidak menutup kemungkinan ada salah satu dari sahabat penaku dulu yang mengirimnya. Namun, aku ragu jika melihat dari bentuknya. Ini bukan seperti surat biasa. Di tambah lagi dengan setangkai mawar merah di sana.
Surat cinta? Tunggu! Siapa yang melakukan ini? Aku tidak memiliki teman dekat. Ah~ aku pikir aku bisa menebaknya sekarang. Ini pasti untuk si kecil Taemin! Bocah itu sudah berani main surat-suratan seperti ini. Sepertinya aku harus segera melaporkannya kepada Ibu.
Namun apa yang tertulis pada surat itu, begitu aku mengeluarkannya dan membaca alamat tujuannya, benar-benar membuatku terpaku untuk beberapa saat.  Surat ini bukan untuk Taemin. Jelas-jelas di sana tertulis namaku dengan jelas: ‘Park  Ririn’.
Aku sempat tidak percaya jika masih ada yang mengirimkan surat untukku hari ini. Tapi apa salahnya jika aku membukanya? Tujuannya juga untukku. Baiklah, aku harap isinya tidak berisi ancaman yang menakutkan. Lagipula dari bentuknya, surat ini sangat manis.
Annyeong, Ririn~ah…
Bagaimana kabarmu? Sudah lama sepertinya aku tidak bertemu denganmu. Ini cukup membuatku rindu sebenarnya.
Hari ini baik. Matahari cerah sekali. Sepertinya aku tidak salah memilih waktu untuk mengirimkan surat ini. Kkekeke~
Ririn~ah… beberapa hari yang lalu, aku mencoba untuk terus berhubungan dengan pamanku di Jepang. Mencoba menanyakan tentang masalahmu, dengan harapan akan ada solusi yang lebih ringan daripada harus berangkat keluar negeri. Tapi, yang ada aku tidak mendapatkannya. Begitu aku menjelaskan, pamanku malah menyarankan agar kau segera menjalani pengobatan di sana. Aku cukup kecewa mendengarnya. Maafkan aku, aku tidak bisa melakukan lebih banyak untukmu. Tapi, tenanglah, aku akan selalu berdoa untuk kesembuhanmu ^^
Jaga diri dan kesehatanmu di sana, ne~? Cepat sembuh dan segera kembali ke sini. Sekarang, .. apa kau bisa melihat ke depan?
Kegiatan membacaku seketika terhenti. Segera mengalihkan pandanganku ke depan, sesuai instruksi yang ada di dalam surat. Segerombolan bocah-bocah kecil berdiri di depan pagar rumahku sambil memegang benang balon di tangan mereka masing-masing, dan sebelah tangan mereka yang kosong melambai-lambai ke arahku. Dan bisa kulihat di sana, di belakang bocah-bocah itu, berdiri seorang laki-laki yang mengenakan kaos putih yang ia lapisi dengan jaket baseball hitamnya, juga turut melambai ke arahku dengan senyum yang manis. Sementara di keduabelah tangannya, ia juga tengah memegang benang balon dan setangkai mawar yang sama persis seperti yang kuambil di dalam kotak surat tadi. Sekarang aku sadar, siapa si pengirim surat itu sebenarnya.
Aku tidak tahu, bagaimana merah dan basahnya wajahku saat ini. Perasaanku tidak bisa dibendung sama sekali. Penantianku terjawab sekarang. Ia datang dengan sebuah kejutan istimewa yang tidak pernah terduga olehku, bahkan oleh siapapun. Rasanya aku ingin segera berlari ke arah mereka, bocah-bocah lucu itu dan juga namja si pengirim surat di tanganku ini. Namun,niatan itu terhenti seketika. Saat ia berteriak sesuatu kepadaku.
“Kau bahkan belum selesai membaca isi suratnya!”
Aku tertegun. Dan kemudian mencoba kembali membaca tulisan di surat itu.
Aku tau kau sangat menyukai anak kecil. Dan hari ini, aku mengumpulkan mereka untukmu. Aku ingin mengajakmu bermain bersama mereka. Kau tidak boleh melewatkan satu hari yang indah sebelum keberangkatanmu ke New York. Ara?
Baiklah, .. tapi sebelumnya kau harus mengetahui satu hal. Maaf, jika ini terlalu berlebihan. Tapi inilah yang sebenarnya ingin kusampaikan.
Ririn~ah… Apa kau mengingat tentang pertemuan awal kita? Saat kau tiba-tiba merasa lemah mengikuti upacara penerimaan siswa baru beberapa bulan yang lalu? Saat kau berganti posisi di belakangku? Agar kau tahu sekarang, aku mencintaimu sejak awal.
Maafkan aku jika ini terlalu lancang. Aku tidak berharap penuh kau bisa menerima, aku hanya ingin kau mengetahuinya. Karena aku pikir, aku akan sangat tersiksa jika tidak mengatakan semuanya.
Dan aku akan terlebih sangat senang jika hari ini kau bisa ikut bermain dengan kami. Ne? ^^
                                                                                                                       Kim Kibeom
            ***

END