Love Letter For You
Author: Araiemei
Main Cast:
Kim
Kibeom (SHINee)
Park
Ririn (OC)
Rate: General
Genre: Fluff
*
Menunggu
adalah hal yang paling tidak disukai siapapun, aku pikir. Namun anehnya, hal
inilah yang selalu kulakoni hingga hari ini. Menunggunya dengan penuh harap,
meskipun sudah beberapa kali harus menarik nafas kecewa. Aku bangun pagi-pagi,
bersiap-siap, meski hanya dengan stelan biasa. Berharap Ibu memanggilku dari
luar kamar untuk menyampaikan bahwa seseorang tengah menungguku untuk
menemuinya. Berhari-hari seperti itu, dan hasil yang kudapatkan ialah
kekecewaan yang juga berhari-hari membuatku merasakan kondisi yang lebih parah
ketimbang saat penyakitku datang.
Aku meraih almanak kecil di atas lemari kecil di samping tempat tidurku, juga bolpoin yang terselip di dalam buku jurnal. Lalu menambah coretan silang pada angka yang terdapat di dalam almanak tersebut. Tanggal 25 Maret, berarti hari ini sudah menginjak hari ke 10. Hanya tersisa 1 hari, dan itu besok.
Aku meraih almanak kecil di atas lemari kecil di samping tempat tidurku, juga bolpoin yang terselip di dalam buku jurnal. Lalu menambah coretan silang pada angka yang terdapat di dalam almanak tersebut. Tanggal 25 Maret, berarti hari ini sudah menginjak hari ke 10. Hanya tersisa 1 hari, dan itu besok.
Aku tau ini cukup bodoh, atau
mungkin terlalu bodoh. Menunggu seseorang yang tidak peduli sama sekali dengan
keadaanku saat ini. Tapi aku tidak bisa menghentikan diriku sendiri untuk
memendam harap bahwa dia pasti datang. Meski hanya sekedar menampakan batang
hidung, tanpa mengucapkan kata ‘hati-hati di jalan’ atau ‘cepat sembuh’ dan
lain sebagainya. Aku tidak peduli kata-kata seperti itu, yang kuinginkan dia
datang disaat hari keberangkatanku. Itu saja.
Apa jangan-jangan dia tidak tahu
sama sekali tentang keberangkatanku ke New York besok? Atau jangan-jangan dia
tidak tahu sama sekali tentang penyakitku? Itu bisa saja terjadi sebenarnya.
Tapi, bukankah beberapa hari yang lalu, aku sudah meninggalkan amanat untuk Jieun
agar menyampaikan kepada teman-teman di kelas? Dan waktu itu juga mereka datang
berbondong-bondong ke rumah untuk menemuiku. Yang tidak ada hanya dia saja. Dia
yang tidak menampakan diri hingga sekarang.
Tentu saja aku sangat kecewa waktu
itu. Meskipun harus mati-matian kusembunyikan. Tapi, lagi-lagi aku memang tidak
bisa berharap banyak. Siapa aku untuknya? Aku hanyalah gadis penyakitan yang
terlalu jauh memendam perasaan terhadapnya. Sementara dia tidak merasakan hal
seperti yang kurasakan sama sekali. Berharap dia mengerti perasaanku, sementara
aku sendiri tidak bisa menyampaikannya. Bagaimana dia bisa tahu, kalau setiap
kali kami bertemu, aku malah mengambil langkah menghindar. Meskipun sebenarnya
hatiku sangat menginginkan untuk melihatnya lebih lama. Berbicara, dan bersikap
seperti biasa.
Aku mengembalikan almanak itu ke
tempatnya, begitu melihat angka yang ditunjuk oleh jarum pendek di dinding
kamarku. Pukul 8 .10. Udara pagi ini cukup baik jika kulihat dari jendela.
Membuatku memutuskan untuk beranjak keluar kamar sebentar. Ya, aku pikir akan
lebih baik jika sekiranya aku mendapatkan udara segar hari ini.
Di beranda rumah, mataku tertumbuk
pada sebuah kotak surat persegi berwarna merah muda di dekat tangga. Aku ingat
waktu kecil, begitu bangun tidur, aku langsung berlari keluar rumah hanya untuk
memeriksa kotak ini. Dengan harapan ada surat baru dari teman penaku. Aku
pikir, tidak ada salahnya jika aku kembali pada rutinitas masa kecilku itu.
Sekedar memeriksa, walaupun tidak tahu apakah ada isinya atau tidak.
Pintu kecil yang menutupi bagian
depan kotaknya, membuatku tersenyum begitu menyentuh ganggang kecil dan
membukanya. Rasanya sudah lama sekali aku tidak menengok. Dan begitu terbuka,
aku menemukan sebuah amplop kecil berwarna putih yang di atasnya tertempel pita
merah muda. Aku bertanya-tanya akan siapa yang mengirim surat ini. Meskipun
tidak menutup kemungkinan ada salah satu dari sahabat penaku dulu yang
mengirimnya. Namun, aku ragu jika melihat dari bentuknya. Ini bukan seperti
surat biasa. Di tambah lagi dengan setangkai mawar merah di sana.
Surat cinta? Tunggu! Siapa yang
melakukan ini? Aku tidak memiliki teman dekat. Ah~ aku pikir aku bisa
menebaknya sekarang. Ini pasti untuk si kecil Taemin! Bocah itu sudah berani
main surat-suratan seperti ini. Sepertinya aku harus segera melaporkannya kepada
Ibu.
Namun apa yang tertulis pada surat
itu, begitu aku mengeluarkannya dan membaca alamat tujuannya, benar-benar
membuatku terpaku untuk beberapa saat.
Surat ini bukan untuk Taemin. Jelas-jelas di sana tertulis namaku dengan
jelas: ‘Park Ririn’.
Aku sempat tidak percaya jika masih
ada yang mengirimkan surat untukku hari ini. Tapi apa salahnya jika aku
membukanya? Tujuannya juga untukku. Baiklah, aku harap isinya tidak berisi
ancaman yang menakutkan. Lagipula dari bentuknya, surat ini sangat manis.
Annyeong,
Ririn~ah…
Bagaimana
kabarmu? Sudah lama sepertinya aku tidak bertemu denganmu. Ini cukup membuatku
rindu sebenarnya.
Hari ini
baik. Matahari cerah sekali. Sepertinya aku tidak salah memilih waktu untuk
mengirimkan surat ini. Kkekeke~
Ririn~ah…
beberapa hari yang lalu, aku mencoba untuk terus berhubungan dengan pamanku di
Jepang. Mencoba menanyakan tentang masalahmu, dengan harapan akan ada solusi
yang lebih ringan daripada harus berangkat keluar negeri. Tapi, yang ada aku
tidak mendapatkannya. Begitu aku menjelaskan, pamanku malah menyarankan agar
kau segera menjalani pengobatan di sana. Aku cukup kecewa mendengarnya. Maafkan
aku, aku tidak bisa melakukan lebih banyak untukmu. Tapi, tenanglah, aku akan
selalu berdoa untuk kesembuhanmu ^^
Jaga
diri dan kesehatanmu di sana, ne~? Cepat sembuh dan segera kembali ke sini.
Sekarang, .. apa kau bisa melihat ke depan?
Kegiatan
membacaku seketika terhenti. Segera mengalihkan pandanganku ke depan, sesuai
instruksi yang ada di dalam surat. Segerombolan bocah-bocah kecil berdiri di
depan pagar rumahku sambil memegang benang balon di tangan mereka
masing-masing, dan sebelah tangan mereka yang kosong melambai-lambai ke arahku.
Dan bisa kulihat di sana, di belakang bocah-bocah itu, berdiri seorang laki-laki
yang mengenakan kaos putih yang ia lapisi dengan jaket baseball hitamnya, juga
turut melambai ke arahku dengan senyum yang manis. Sementara di keduabelah tangannya,
ia juga tengah memegang benang balon dan setangkai mawar yang sama persis
seperti yang kuambil di dalam kotak surat tadi. Sekarang aku sadar, siapa si
pengirim surat itu sebenarnya.
Aku tidak tahu, bagaimana merah dan
basahnya wajahku saat ini. Perasaanku tidak bisa dibendung sama sekali.
Penantianku terjawab sekarang. Ia datang dengan sebuah kejutan istimewa yang
tidak pernah terduga olehku, bahkan oleh siapapun. Rasanya aku ingin segera
berlari ke arah mereka, bocah-bocah lucu itu dan juga namja si pengirim surat
di tanganku ini. Namun,niatan itu terhenti seketika. Saat ia berteriak sesuatu
kepadaku.
“Kau bahkan belum selesai membaca isi suratnya!”
“Kau bahkan belum selesai membaca isi suratnya!”
Aku tertegun. Dan kemudian mencoba
kembali membaca tulisan di surat itu.
Aku
tau kau sangat menyukai anak kecil. Dan hari ini, aku mengumpulkan mereka
untukmu. Aku ingin mengajakmu bermain bersama mereka. Kau tidak boleh
melewatkan satu hari yang indah sebelum keberangkatanmu ke New York. Ara?
Baiklah,
.. tapi sebelumnya kau harus mengetahui satu hal. Maaf, jika ini terlalu
berlebihan. Tapi inilah yang sebenarnya ingin kusampaikan.
Ririn~ah…
Apa kau mengingat tentang pertemuan awal kita? Saat kau tiba-tiba merasa lemah
mengikuti upacara penerimaan siswa baru beberapa bulan yang lalu? Saat kau
berganti posisi di belakangku? Agar kau tahu sekarang, aku mencintaimu sejak
awal.
Maafkan
aku jika ini terlalu lancang. Aku tidak berharap penuh kau bisa menerima, aku
hanya ingin kau mengetahuinya. Karena aku pikir, aku akan sangat tersiksa jika
tidak mengatakan semuanya.
Dan aku
akan terlebih sangat senang jika hari ini kau bisa ikut bermain dengan kami.
Ne? ^^
Kim Kibeom
***
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar