Sabtu, 27 April 2013

Love Letter For You (Oneshot)



Love Letter For You


Author: Araiemei 


Main Cast:
 Kim Kibeom (SHINee)
Park Ririn (OC)


Rate: General


Genre: Fluff


*

Menunggu adalah hal yang paling tidak disukai siapapun, aku pikir. Namun anehnya, hal inilah yang selalu kulakoni hingga hari ini. Menunggunya dengan penuh harap, meskipun sudah beberapa kali harus menarik nafas kecewa. Aku bangun pagi-pagi, bersiap-siap, meski hanya dengan stelan biasa. Berharap Ibu memanggilku dari luar kamar untuk menyampaikan bahwa seseorang tengah menungguku untuk menemuinya. Berhari-hari seperti itu, dan hasil yang kudapatkan ialah kekecewaan yang juga berhari-hari membuatku merasakan kondisi yang lebih parah ketimbang saat penyakitku datang.
Aku meraih almanak kecil di atas lemari kecil di samping tempat tidurku, juga bolpoin yang terselip di dalam buku jurnal. Lalu menambah coretan silang pada angka yang terdapat di dalam almanak tersebut. Tanggal 25 Maret, berarti hari ini sudah menginjak hari ke 10. Hanya tersisa 1 hari, dan itu besok.
Aku tau ini cukup bodoh, atau mungkin terlalu bodoh. Menunggu seseorang yang tidak peduli sama sekali dengan keadaanku saat ini. Tapi aku tidak bisa menghentikan diriku sendiri untuk memendam harap bahwa dia pasti datang. Meski hanya sekedar menampakan batang hidung, tanpa mengucapkan kata ‘hati-hati di jalan’ atau ‘cepat sembuh’ dan lain sebagainya. Aku tidak peduli kata-kata seperti itu, yang kuinginkan dia datang disaat hari keberangkatanku. Itu saja.
Apa jangan-jangan dia tidak tahu sama sekali tentang keberangkatanku ke New York besok? Atau jangan-jangan dia tidak tahu sama sekali tentang penyakitku? Itu bisa saja terjadi sebenarnya. Tapi, bukankah beberapa hari yang lalu, aku sudah meninggalkan amanat untuk Jieun agar menyampaikan kepada teman-teman di kelas? Dan waktu itu juga mereka datang berbondong-bondong ke rumah untuk menemuiku. Yang tidak ada hanya dia saja. Dia yang tidak menampakan diri hingga sekarang.
Tentu saja aku sangat kecewa waktu itu. Meskipun harus mati-matian kusembunyikan. Tapi, lagi-lagi aku memang tidak bisa berharap banyak. Siapa aku untuknya? Aku hanyalah gadis penyakitan yang terlalu jauh memendam perasaan terhadapnya. Sementara dia tidak merasakan hal seperti yang kurasakan sama sekali. Berharap dia mengerti perasaanku, sementara aku sendiri tidak bisa menyampaikannya. Bagaimana dia bisa tahu, kalau setiap kali kami bertemu, aku malah mengambil langkah menghindar. Meskipun sebenarnya hatiku sangat menginginkan untuk melihatnya lebih lama. Berbicara, dan bersikap seperti biasa.
Aku mengembalikan almanak itu ke tempatnya, begitu melihat angka yang ditunjuk oleh jarum pendek di dinding kamarku. Pukul 8 .10. Udara pagi ini cukup baik jika kulihat dari jendela. Membuatku memutuskan untuk beranjak keluar kamar sebentar. Ya, aku pikir akan lebih baik jika sekiranya aku mendapatkan udara segar hari ini.
Di beranda rumah, mataku tertumbuk pada sebuah kotak surat persegi berwarna merah muda di dekat tangga. Aku ingat waktu kecil, begitu bangun tidur, aku langsung berlari keluar rumah hanya untuk memeriksa kotak ini. Dengan harapan ada surat baru dari teman penaku. Aku pikir, tidak ada salahnya jika aku kembali pada rutinitas masa kecilku itu. Sekedar memeriksa, walaupun tidak tahu apakah ada isinya atau tidak.
Pintu kecil yang menutupi bagian depan kotaknya, membuatku tersenyum begitu menyentuh ganggang kecil dan membukanya. Rasanya sudah lama sekali aku tidak menengok. Dan begitu terbuka, aku menemukan sebuah amplop kecil berwarna putih yang di atasnya tertempel pita merah muda. Aku bertanya-tanya akan siapa yang mengirim surat ini. Meskipun tidak menutup kemungkinan ada salah satu dari sahabat penaku dulu yang mengirimnya. Namun, aku ragu jika melihat dari bentuknya. Ini bukan seperti surat biasa. Di tambah lagi dengan setangkai mawar merah di sana.
Surat cinta? Tunggu! Siapa yang melakukan ini? Aku tidak memiliki teman dekat. Ah~ aku pikir aku bisa menebaknya sekarang. Ini pasti untuk si kecil Taemin! Bocah itu sudah berani main surat-suratan seperti ini. Sepertinya aku harus segera melaporkannya kepada Ibu.
Namun apa yang tertulis pada surat itu, begitu aku mengeluarkannya dan membaca alamat tujuannya, benar-benar membuatku terpaku untuk beberapa saat.  Surat ini bukan untuk Taemin. Jelas-jelas di sana tertulis namaku dengan jelas: ‘Park  Ririn’.
Aku sempat tidak percaya jika masih ada yang mengirimkan surat untukku hari ini. Tapi apa salahnya jika aku membukanya? Tujuannya juga untukku. Baiklah, aku harap isinya tidak berisi ancaman yang menakutkan. Lagipula dari bentuknya, surat ini sangat manis.
Annyeong, Ririn~ah…
Bagaimana kabarmu? Sudah lama sepertinya aku tidak bertemu denganmu. Ini cukup membuatku rindu sebenarnya.
Hari ini baik. Matahari cerah sekali. Sepertinya aku tidak salah memilih waktu untuk mengirimkan surat ini. Kkekeke~
Ririn~ah… beberapa hari yang lalu, aku mencoba untuk terus berhubungan dengan pamanku di Jepang. Mencoba menanyakan tentang masalahmu, dengan harapan akan ada solusi yang lebih ringan daripada harus berangkat keluar negeri. Tapi, yang ada aku tidak mendapatkannya. Begitu aku menjelaskan, pamanku malah menyarankan agar kau segera menjalani pengobatan di sana. Aku cukup kecewa mendengarnya. Maafkan aku, aku tidak bisa melakukan lebih banyak untukmu. Tapi, tenanglah, aku akan selalu berdoa untuk kesembuhanmu ^^
Jaga diri dan kesehatanmu di sana, ne~? Cepat sembuh dan segera kembali ke sini. Sekarang, .. apa kau bisa melihat ke depan?
Kegiatan membacaku seketika terhenti. Segera mengalihkan pandanganku ke depan, sesuai instruksi yang ada di dalam surat. Segerombolan bocah-bocah kecil berdiri di depan pagar rumahku sambil memegang benang balon di tangan mereka masing-masing, dan sebelah tangan mereka yang kosong melambai-lambai ke arahku. Dan bisa kulihat di sana, di belakang bocah-bocah itu, berdiri seorang laki-laki yang mengenakan kaos putih yang ia lapisi dengan jaket baseball hitamnya, juga turut melambai ke arahku dengan senyum yang manis. Sementara di keduabelah tangannya, ia juga tengah memegang benang balon dan setangkai mawar yang sama persis seperti yang kuambil di dalam kotak surat tadi. Sekarang aku sadar, siapa si pengirim surat itu sebenarnya.
Aku tidak tahu, bagaimana merah dan basahnya wajahku saat ini. Perasaanku tidak bisa dibendung sama sekali. Penantianku terjawab sekarang. Ia datang dengan sebuah kejutan istimewa yang tidak pernah terduga olehku, bahkan oleh siapapun. Rasanya aku ingin segera berlari ke arah mereka, bocah-bocah lucu itu dan juga namja si pengirim surat di tanganku ini. Namun,niatan itu terhenti seketika. Saat ia berteriak sesuatu kepadaku.
“Kau bahkan belum selesai membaca isi suratnya!”
Aku tertegun. Dan kemudian mencoba kembali membaca tulisan di surat itu.
Aku tau kau sangat menyukai anak kecil. Dan hari ini, aku mengumpulkan mereka untukmu. Aku ingin mengajakmu bermain bersama mereka. Kau tidak boleh melewatkan satu hari yang indah sebelum keberangkatanmu ke New York. Ara?
Baiklah, .. tapi sebelumnya kau harus mengetahui satu hal. Maaf, jika ini terlalu berlebihan. Tapi inilah yang sebenarnya ingin kusampaikan.
Ririn~ah… Apa kau mengingat tentang pertemuan awal kita? Saat kau tiba-tiba merasa lemah mengikuti upacara penerimaan siswa baru beberapa bulan yang lalu? Saat kau berganti posisi di belakangku? Agar kau tahu sekarang, aku mencintaimu sejak awal.
Maafkan aku jika ini terlalu lancang. Aku tidak berharap penuh kau bisa menerima, aku hanya ingin kau mengetahuinya. Karena aku pikir, aku akan sangat tersiksa jika tidak mengatakan semuanya.
Dan aku akan terlebih sangat senang jika hari ini kau bisa ikut bermain dengan kami. Ne? ^^
                                                                                                                       Kim Kibeom
            ***

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar