Aku
ingin bercerita tentang Day, tapi aku lupa harus memulainya darimana? Apakah
dari kejadian si kacamata berjubah putih di basement waktu itu? Aku ragu,
karena sebenarnya semua berawal dari Instalasi Gawat Darurat. Tapi sekali lagi,
yang paling berkesan ialah pada siang Kamis waktu itu, saat aku harus memutar
gasan motorku dengan kecepatan yang lebih tinggi daripada biasa, dan berharap
dalam hati agar dia belum keluar dari area parkir karyawan. Namun ternyata dia
sudah terlebih dahulu masuk ke dalam sebuah mobil Kijang putih di dekat
ambulans, meninggalkan jejak kecewa di hatiku saat harus membelokan stang motor
ke arah pintu gerbang keluar.
Sampai malam awal bulan Juni yang
indah, aku kembali bisa melihatnya duduk di ruangan khusus, tepat di sela-sela
pintu yang terbuka, aku bisa melihat punggungnya walaupun sedikit sekali. Hanya
sedikit. Tidak bisa lebih jelas daripada ketika Ayahku dilarikan ke Instalasi
Gawat Darurat pertengahan Mei waktu itu.
Tapi, aku tidak berbohong jika mengatakan getaran random yang terjadi di
dalam dadaku lebih daripada hari pertama waktu itu.
Dia masih dengan kostumnya, jubah
putih perlambang sebuah kebesaran yang ia punya. Kacamata yang bertengger di
hidungnya, menambah kesan ‘wow’ seorang laki-laki berwajah Tionghoa dan bermata
sipit. Dia tampan, bahkan Ibuku pun menyetujuinya.
Aku tidak main-main jika hatiku
sudah mengatakan sesuatu, maka yang keluar dari mulutku adalah hal yang sama.
Aku menyukainya, ya, cukup menyukainya, atau sangat cukup menyukainya. Tapi,
sekali lagi, aku tidak bisa berharap banyak, terlebih begitu temanku mengatakan
sesuatu sebagai tanggapan atas curhatanku kepadanya.
“Kenapa ya, setiap yang kamu suka
aku enggak pernah setuju? Pertama kali kamu bilang kamu suka penyanyi korea
bernama Lee Jinki, sekarang seseorang yang...,”
Teteh menggaruk tengkuknya, “Ya,
rasanya mustahil saja.”
Aku berusaha tetap menarik bibirku
membentuk sebuah senyuman, meskipun di dalam hatiku mencelos. Menanggapi
sebagai sesuatu yang tidak serius adalah jalan aman daripada membentuk kalimat
yang mengajak berdebat. Sebenarnya aku sadar akan kalimat itu, temanku berniat
baik agar aku tidak terlalu larut dengan perasaan yang berlebihan, lagipula aku
hanya melihatnya sekilas untuk beberapa hari yang lalu, mungkin saja yang
kurasakan hanya sebuah kekaguman. Tapi, yang aku rasakan sama halnya dengan pendeskrifsian
di dalam novel-novel romance apabila tokohnya mengalami masa-masa yang indah
atau lebih singkatnya; jatuh cinta.
“Hati-hati, siapa tahu dia sudah
punya ekor,” ujar bibi temanku yang waktu itu tengah menjalani perawatan pasca
operasi. Aku hanya tersenyum. Memang apa yang dia katakan bisa saja ada
benarnya. Lagipula dia sudah menekuni profesinya. Jika aku berkilah dengan
mengatakan bahwa dia belum terlihat telah memiliki keluarga, maka itu tidak
berdasar sama sekali. Tampang yang babyface
tidak akan menjamin keadaan yang sesungguhnya.
Bercerita kepada siapapun, tidak
menjadi jalan keluar yang baik. Mereka kadang malah menganggap ini sebagai
lelucon seorang anak SMA. Aku belum menemukan tempat yang nyaman sama sekali,
bahkan aku merasa sebagian temanku malah bersikap untuk memanas-manasi. Sampai
suatu hari, teman satu platku berbicara, “Kau bisa mendekatinya. Aku yakin,”
ujarnya optimis. Aku tersenyum. Dari sini aku mendapatkan kesimpulan yang
elegan: curhatlah kepada orang yang sedang jatuh cinta, maka hasilnya tidak
akan pernah mengecewakan. Ah, aku sangat bersyukur temanku yang satu ini
akhirnya bisa menemukan cinta pertamanya. Sementara aku, masih menggatung
harapan pada seseorang.
Dari situ, aku berusaha mencari
infonya. Sebenarnya aku tidak menyukai ini, datang dengan alasan menjenguk
teman atau keluarga teman yang sakit, namun di dalam hati menaruh seseorang
sebagai objek pencarian yang utama. Aku berpikir, ini adalah kekonyolan
terparah yang pernah kulakukan. Tapi, mau bagaimana lagi, terkadang jatuh cinta
memang membuat seseorang kehilangan cara berpikirnya yang waras.
Usahaku tidaklah sia-sia. Aku
berhasil mendapatkan info tentang nama bahkan fotonya. Aku bersungguh-sungguh
dan tidak berbohong sama sekali. Iseng-iseng aku mengetikan nama lengkapnya di
kotak pencarian akun Facebook, dan benar, aku menemukannya. Tanpa pikir
panjang, aku meng-klik tombol permintaan pertemanan. Dalam hati berharap,
semoga saja dia menerimanya tanpa aku harus mengirim inbox terlebih dahulu.
Tapi, bagaimanapun aku tidak mungkin melakukannya. Segila-gilanya aku, aku
masih mencoba untuk menjadi gadis yang normal.
Sampai suatu hari, sebelum aku
memutuskan untuk memfollow twitternya, aku tersentak dalam sebuah kejadian yang
cepat dan mendebarkan. Aku hampir menabraknya di dekat pintu masuk salah satu
ruang ekonomi. Aku tersenyuh ke belakang dan tidak bisa berkata apa-apa.
Sementara dia berulang kali meminta maaf kepadaku, namun tidak kujawab. Entah
kenapa, sesuatu di dalam dadaku kembali bergetar secara abnormal, tapi tidak
semakin cepat seperti biasanya, sekarang malah melambat dan, melambat. Retinaku
menangkap sebuah bandul yang menggantung di lehernya. Seketika aku bisa merasakan
sebuah dinding yang besar menghalau pandanganku darinya, yang jelas-jelas masih
berdiri di depan wajah. Perbedaan dunia pun terasa, meski kami masih berpijak
di planet yang sama. Ini tidak bisa disatukan, dan aku tidak bisa
mempertahankannya.
Pertemuan
waktu itu, bukanlah sebuah pertemuan yang lazim, karena dia tidak melihatku
sebagaimana aku melihatnya. Dan hari ini, kami bertemu untuk menjadikan sudut
pandangku berbeda tentangnya. Aku seharusnya segera membuang perasaan ini dan
melupakan apa yang pernah terjadi dalam hidupku. Biarkan ini menjadi bunga
kenangan yang akan tersimpan di sudut hati yang jauh. Sampai akhirnya waktu
membuatku lupa dengan sendirinya bahwa aku pernah memiliki kisah singkat yang
menggetarkan. Sekali lagi, aku tidak bisa menyebutnya pertemuan.
Tepian Mahakam, 11 Juli 2013,
Rima. H
*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar