Senin, 15 Juli 2013

Fiction: Random Day



Aku ingin bercerita tentang Day, tapi aku lupa harus memulainya darimana? Apakah dari kejadian si kacamata berjubah putih di basement waktu itu? Aku ragu, karena sebenarnya semua berawal dari Instalasi Gawat Darurat. Tapi sekali lagi, yang paling berkesan ialah pada siang Kamis waktu itu, saat aku harus memutar gasan motorku dengan kecepatan yang lebih tinggi daripada biasa, dan berharap dalam hati agar dia belum keluar dari area parkir karyawan. Namun ternyata dia sudah terlebih dahulu masuk ke dalam sebuah mobil Kijang putih di dekat ambulans, meninggalkan jejak kecewa di hatiku saat harus membelokan stang motor ke arah pintu gerbang keluar.
            Sampai malam awal bulan Juni yang indah, aku kembali bisa melihatnya duduk di ruangan khusus, tepat di sela-sela pintu yang terbuka, aku bisa melihat punggungnya walaupun sedikit sekali. Hanya sedikit. Tidak bisa lebih jelas daripada ketika Ayahku dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat pertengahan Mei waktu itu.  Tapi, aku tidak berbohong jika mengatakan getaran random yang terjadi di dalam dadaku lebih daripada hari pertama waktu itu.
            Dia masih dengan kostumnya, jubah putih perlambang sebuah kebesaran yang ia punya. Kacamata yang bertengger di hidungnya, menambah kesan ‘wow’ seorang laki-laki berwajah Tionghoa dan bermata sipit. Dia tampan, bahkan Ibuku pun menyetujuinya.
            Aku tidak main-main jika hatiku sudah mengatakan sesuatu, maka yang keluar dari mulutku adalah hal yang sama. Aku menyukainya, ya, cukup menyukainya, atau sangat cukup menyukainya. Tapi, sekali lagi, aku tidak bisa berharap banyak, terlebih begitu temanku mengatakan sesuatu sebagai tanggapan atas curhatanku kepadanya.
            “Kenapa ya, setiap yang kamu suka aku enggak pernah setuju? Pertama kali kamu bilang kamu suka penyanyi korea bernama Lee Jinki, sekarang seseorang yang...,”
            Teteh menggaruk tengkuknya, “Ya, rasanya mustahil saja.”
            Aku berusaha tetap menarik bibirku membentuk sebuah senyuman, meskipun di dalam hatiku mencelos. Menanggapi sebagai sesuatu yang tidak serius adalah jalan aman daripada membentuk kalimat yang mengajak berdebat. Sebenarnya aku sadar akan kalimat itu, temanku berniat baik agar aku tidak terlalu larut dengan perasaan yang berlebihan, lagipula aku hanya melihatnya sekilas untuk beberapa hari yang lalu, mungkin saja yang kurasakan hanya sebuah kekaguman. Tapi, yang aku rasakan sama halnya dengan pendeskrifsian di dalam novel-novel romance apabila tokohnya mengalami masa-masa yang indah atau lebih singkatnya; jatuh cinta.
            “Hati-hati, siapa tahu dia sudah punya ekor,” ujar bibi temanku yang waktu itu tengah menjalani perawatan pasca operasi. Aku hanya tersenyum. Memang apa yang dia katakan bisa saja ada benarnya. Lagipula dia sudah menekuni profesinya. Jika aku berkilah dengan mengatakan bahwa dia belum terlihat telah memiliki keluarga, maka itu tidak berdasar sama sekali. Tampang yang babyface tidak akan menjamin keadaan yang sesungguhnya.
            Bercerita kepada siapapun, tidak menjadi jalan keluar yang baik. Mereka kadang malah menganggap ini sebagai lelucon seorang anak SMA. Aku belum menemukan tempat yang nyaman sama sekali, bahkan aku merasa sebagian temanku malah bersikap untuk memanas-manasi. Sampai suatu hari, teman satu platku berbicara, “Kau bisa mendekatinya. Aku yakin,” ujarnya optimis. Aku tersenyum. Dari sini aku mendapatkan kesimpulan yang elegan: curhatlah kepada orang yang sedang jatuh cinta, maka hasilnya tidak akan pernah mengecewakan. Ah, aku sangat bersyukur temanku yang satu ini akhirnya bisa menemukan cinta pertamanya. Sementara aku, masih menggatung harapan pada seseorang.
            Dari situ, aku berusaha mencari infonya. Sebenarnya aku tidak menyukai ini, datang dengan alasan menjenguk teman atau keluarga teman yang sakit, namun di dalam hati menaruh seseorang sebagai objek pencarian yang utama. Aku berpikir, ini adalah kekonyolan terparah yang pernah kulakukan. Tapi, mau bagaimana lagi, terkadang jatuh cinta memang membuat seseorang kehilangan cara berpikirnya yang waras.
            Usahaku tidaklah sia-sia. Aku berhasil mendapatkan info tentang nama bahkan fotonya. Aku bersungguh-sungguh dan tidak berbohong sama sekali. Iseng-iseng aku mengetikan nama lengkapnya di kotak pencarian akun Facebook, dan benar, aku menemukannya. Tanpa pikir panjang, aku meng-klik tombol permintaan pertemanan. Dalam hati berharap, semoga saja dia menerimanya tanpa aku harus mengirim inbox terlebih dahulu. Tapi, bagaimanapun aku tidak mungkin melakukannya. Segila-gilanya aku, aku masih mencoba untuk menjadi gadis yang normal.
            Sampai suatu hari, sebelum aku memutuskan untuk memfollow twitternya, aku tersentak dalam sebuah kejadian yang cepat dan mendebarkan. Aku hampir menabraknya di dekat pintu masuk salah satu ruang ekonomi. Aku tersenyuh ke belakang dan tidak bisa berkata apa-apa. Sementara dia berulang kali meminta maaf kepadaku, namun tidak kujawab. Entah kenapa, sesuatu di dalam dadaku kembali bergetar secara abnormal, tapi tidak semakin cepat seperti biasanya, sekarang malah melambat dan, melambat. Retinaku menangkap sebuah bandul yang menggantung di lehernya. Seketika aku bisa merasakan sebuah dinding yang besar menghalau pandanganku darinya, yang jelas-jelas masih berdiri di depan wajah. Perbedaan dunia pun terasa, meski kami masih berpijak di planet yang sama. Ini tidak bisa disatukan, dan aku tidak bisa mempertahankannya.
Pertemuan waktu itu, bukanlah sebuah pertemuan yang lazim, karena dia tidak melihatku sebagaimana aku melihatnya. Dan hari ini, kami bertemu untuk menjadikan sudut pandangku berbeda tentangnya. Aku seharusnya segera membuang perasaan ini dan melupakan apa yang pernah terjadi dalam hidupku. Biarkan ini menjadi bunga kenangan yang akan tersimpan di sudut hati yang jauh. Sampai akhirnya waktu membuatku lupa dengan sendirinya bahwa aku pernah memiliki kisah singkat yang menggetarkan. Sekali lagi, aku tidak bisa menyebutnya pertemuan.

Tepian Mahakam, 11 Juli 2013,
Rima. H
*
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar