Kamis, 30 Januari 2014

HEART - Chapter 1




CHAPTER 1
---
            Meringis. Bocah perempuan itu terus saja bersembunyi di sisi kanan Ayahnya. Tangannya mencengkram ujung baju sang Ayah. Sirat matanya seperti mengatakan kalau ia benar-benar takut dengan apa yang ia lihat sekarang.
            Melihat keadaan sang anak, Ayahnya menampilkan senyum menenangkan, “Sudah… Chae Rin jangan takut. Appa di sini.” Katanya.
            Tapi tetap saja tidak mudah untuk menghentikan gemetar pada tubuh kecil Chae Rin. Ia masih bersembunyi, sampai suara pukulan itu membahana lagi,
PLLAK!!
***
            Pagi itu, cuaca cukup cerah. Tidak tampak awan hitam menggelayut menutupi matahari. Dengan senyum manisnya Chae Rin keluar, membawa sebuah wadah kecil yang berisi makanan ikan di tangannya.
            Ia melangkah menuju kolam kecil yang berada di halaman belakang rumah, lalu menebarkan isi di dalam wadah itu ke kolam tersebut. Senyum itu kembali tertaut lebar begitu menyaksikan tingkah saling rebut antar ikan-ikan saat ia menebarkan makanan.
            Sampai seseorang memanggil namanya, Chae Rin menghentikan aktifitas, mencoba mendengarkan baik-baik apa yang orang itu katakan,
            “Bisakah kau membelikan Appa kopi di kedai Bibi Han?” begitu kalimat yang tertangkap oleh telinga Chae Rin yang saat itu masih berdiri di depan kolam.
            “Ye~, Appa… Aku akan ke sana.” sahutnya lalu segera masuk menghampiri sang Ayah yang saat itu sibuk mengutak-atik radio tuanya.
            “Ini uangnya. Cepat kembali, ne~?”
            Chae Rin mengangguk takzim begitu menerima beberapa lembar uang dari sang Ayah.
            Ayahnya tersenyum sembari mengacak poni Anaknya pelan.
            “Ah, Appa…” langkah kaki kecil Chae Rin seketika terhenti di dekat pintu, berbalik ke arah sang Ayah yang menoleh begitu mendengar suaranya, “—Berapa bungkus?”
            “Satu saja.”
            Chae Rin mengangguk sekali sebelum ia benar-benar sudah menghilang dari balik pintu yang tertutup.
---
            “Gamsahamnida~” Chae Rin menundukan kepalanya saat menerima bungkusan yang berisi pesanan sang Ayah dari tangan seorang wanita paruh baya pemilik kedai itu. Bibi Han, begitu ia sering memanggilnya.
“Ne~”
            Chae Rin melangkah keluar pagar kedai Bibi Han, setelah akhirnya langkahnya seketika terhenti. Matanya menangkap sosok bocah laki-laki bertubuh kurus itu berlari ketakutan, lalu bersembunyi di balik drum besar samping rumah bibi Han. Sejenak ia menatapi sosok itu, sampai sebuah teriakan membuatnya tersadar dari apa sebenarnya yang saat itu terjadi.
            “YA! Anak nakal! Kau bersembunyi, eoh? Jangan harap kau akan selamat kalau kau tertangkap mataku!” seorang wanita yang berada beberapa meter di hadapan Chae Rin itu berteriak keras. Suara cemprengnya melengking seperti tidak takut kalau-kalau saja setelah itu pita suaranya akan rusak. Penampilannya benar-benar sangat berantakan. Lihat saja baju terusan dan jaket yang ia pakai, kumal sekali! Sudah begitu, rambutnya juga kusut seperti tidak pernah mandi beberapa tahun.
            Tangan kanannya menggantang sebuah potongan kayu cukup besar. Dengan langkah yang lebar itu, ia menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, mencari sosok yang sudah membuatnya persis seperti orang kesurupan. Nafasnya menderu setiap kali ia berteriak, “YA! ANAK NAKAL! CEPAT KELUAR! APA KAU AKAN BENAR-BENAR MATI SETELAH INI!”
            Bengis! Itu yang sekarang berkelabat di otak si kecil Chae Rin. Ia menoleh ke arah sosok yang berada pada arah sebelah kiri  dari tempat sekarang ia berpijak. Chae Rin yakin bahwa bocah itu pasti masih bersembunyi di balik drum.
            Perlahan ia mendekat. Benar saja! Bocah laki-laki itu tampak menutup telinganya dengan kedua telapak tangan. Ia memejamkan mata, sementara kedua lutunya menekuk. Tidak menyadari kalau sekarang seseorang sudah mengambil tempat di sampingnya.
            “Kau takut?” bisik Chae Rin di dekat telinganya, berhasil membuat bocah itu tersentak kaget. “…Tenanglah! Aku—“
“Sstt!”
            Seketika Chae Rin menutup mulut, begitu bocah di sampingnya itu menyuruhnya untuk diam dengan isyarat jari telunjuk tangannya menempel ke bibir. Chae Rin bisa merasakan gemetar yang terjadi pada tubuh bocah laki-laki itu.
            Sejenak ia menatapi sosok di sampingnya. Kepalanya yang plontos menyembul untuk melihat situasi di depan kedai. Ahjuma itu masih berteriak-teriak keras dengan kalimat yang sama. Lalu memencak-mencak kesal, karena merasa panggilannya tidak juga diindahkan.
            Bocah laki-laki itu menghembuskan nafas begitu menyandarkan tubuh kurusnya pada badan drum. Masih gemetar, ia memeluk kedua lututnya lalu membenamkan wajahnya di sana.
            Ada rasa perihatin dalam benak Chae Rin melihat apa yang terjadi pada bocah itu, ia masih memandanginya, lalu mencoba untuk kembali membuka mulut, “Dia siapa?”
            Mendengar pertanyaan Chae Rin, bocah lelaki itu mengangkat wajah. Sejenak menatap Chae Rin datar, “Oori eomma~” lirihnya. Lalu begitu hendak membenamkan kembali wajahnya, Chae Rin mengeluarkan pertanyaan lagi,
            “Boleh aku tau namamu?”
            Kali ini, Chae Rin tidak mendapat jawaban, selain tatapan bocah itu yang terasa mulai tidak menyukai akan adanya ia di sana, “—Waeyo?”
            PLLAKK!!!
            Chae Rin tersentak kaget. Matanya baru saja menangkap sebuah sendal karet besar melayang ke kepala si bocah. Tepat! Tidak meleset sama sekali. Dan seketika juga matanya membulat. Sosok yang berantakan dan berteriak-teriak kasar di jalan itu tadi sudah berdiri beberapa meter di hadapan mereka. Tampak dadanya turun naik menatap siapa yang bersembunyi di balik drum itu sedari tadi.
            Gemetar tidak terjadi hanya pada bocah lelaki itu, tapi juga pada Chae Rin. Tanpa ia sadari, kantong plastik yang berisi bungkusan kopi pesanan sang Ayah itu sudah terlepas jatuh dari tangannya.
---
            “Chang Seok~ah!”
            “Wae Ommonim?” sahut lelaki paruh baya mengenakan kaos oblong putih itu, tanpa mengalihkan dari apa yang sekarang menjadi fokusnya. Tangan kanannya memegang obeng kecil sementara tangan kanannya memegangi sisi radio tua miliknya. Entahlah, apa sebenarnya sejarah yang tersimpan dari benda rongsokan itu. Sampai-sampai ia lebih memilih untuk terus berusaha memperbaikinya setiap kali mengalami ketidak-normalan, daripada membeli yang baru.
            Sosok wanita tua bertubuh kurus itu melangkah ke dapur, meletakan keranjang belanjaannya yang penuh berisi sayuran di dekat lemari masak, lalu kembali ke ruang tengah, mendekat ke arah meja kayu panjang di depan jendela, tempat di mana sekarang anak lelakinya itu berkutat dengan kesibukannya sendiri, “Dari kemarin kau selalu sibuk dengan ini.” Gerutunya, “—YA! Chang Seok~ah… Chae Rin di mana?”
            “Aku tadi menyuruhnya membeli kopi di kedai depan—YA! Sekarang sudah jam berapa?” tiba-tiba Chang Seok menoleh menatap jam di dinding rumah mereka, lalu tersentak kaget begitu menyadari sudah pukul berapa sebenarnya sekarang, “—Aigoo~”
            Ibunya yang tidak mengerti kenapa, menatap heran keadaan wajah Chang Seok yang tiba-tiba berubah panik, “Waeyo?” tanyanya penasaran begitu merasa ada aura yang tidak beres. Dan ini mungkin berkaitan dengan Chae Rin.
            “Ia keluar rumah saat jam menunjukkan pukul 8 kurang sepuluh menit, sekarang sudah pukul 9 lewat 15. Berarti hampir setengah jam. Tapi dia belum juga pulang.”
            “YA~ Chang Seok~aa… Kenapa bisa begini?”
            “Aku juga tidak tahu, Omonim.”
            Tampak gurat kekhawatiran di wajah keduanya. Atmosfer rumah tiba-tiba berubah buruk. Chang Seok meraih jaket hitamnya yang ada di sandaran kursi, lalu dengan segera melangkahkan kaki keluar rumah diikuti Ibunya yang sama-sama dipenuhi perasaan khawatir dan was-was akan keadaan si kecil Chae Rin.
---
            “Anak nakal! Siapa yang mengajarimu seperti ini, hahh? Bersembunyi dari orang tua! Tidak mendengar apa kata orang tua! Mau jadi apa kau—Jangan menambah benci Eomma, Jun Hae~aa!”
            Chae Rin meringis melihat aksi kekerasan di depan mukanya. Ia menjerit tertahan setiap kali tangan dan balok kayu itu menghantam kasar tubuh bocah lelaki di depannya. Bertubi-tubi dan tanpa ampun. Sampai ketika wanita yang dikiranya bukan berasal dari golongan manusia itu mengangkat tinggi-tinggi balok kayu di tangannya ke atas kepala si bocah, Chae Rin sontak berteriak, “BIBI, HENTIKAN!—JANGAN PUKUL KEPALANYA!”
            Sekita sepasang mata berwarna merah tajam itu menghujam tubuh kecil Chae Rin yang menggigil ketakutan. Kilat kemarahannya semakin terpancar. Nafasnya naik turun, “Siapa kau?” tanyanya sinis.
            Chae Rin tidak bersuara. Hanya butiran kecil bening yang keluar dari sudut matanya. Membuat kekesalan wanita bengis itu semakin memuncak, “YA! Kau tidak bertelinga?—Cepat pergi dari sini, atau aku akan menghukummu!”
“—PERGI DARI SINI AKU BILANG!” teriaknya semakin keras karena tidak menerima respon apa-apa dari Chae Rin, “—ANAK NAKAL! SIAPA ORANG TUAMU, EOH?”
            “Aku orang tuanya!” sahut sebuah suara yang tiba-tiba datang dari arah belakang.
            Wanita kasar itu segera menoleh ke arah sumber suara, “Neo…” gumamnya tertahan.
            “Dia anakku. Dan jangan pernah sekali-kali kau menyentuhnya!” ucap orang itu lagi seraya meraih tangan Chae Rin dan mendekap ke sisinya. “—Apa yang kaulakukan? Memukuli Jun Hae lagi?” tanyanya kemudian begitu melihat tubuh kurus seorang bocah lelaki di dekat kaki  Ibunya, duduk dengan membenamkan wajah di antara lututnya yang tertekuk. Kaos lengan panjang dan berwarna biru muda yang dikenakan si bocah tampak ternodai oleh bercak-bercak darah. Juga balok kayu yang ada pada tangan si wanita, membuat ia tidak habis pikir dan menggeleng-gelengkan kepala, “—YA! Hwang Ah Sung! Kau sama saja dengan Ayahnya. Tidak bertanggung jawab!”
            “Kau Chang Seok…” Ah Sung mengeraskan rahangnya menahan kekesalan yang teramat sangat atas pria menyebalkan di dapannya saat ini. Kilatan benci semakin memancar dari matanya, “—Jangan pernah ungkit masalah namja brengsek itu lagi di hadapanku. Dan jangan pernah samakan aku dengannya!” ucapnya setelah terlebih dahulu membuang pandangan dari wajah Chang Seok.
            “YA! Chang Seok~aa… Di mana Chae Rin? Kau menemukannya?”
            “Neneeek…” panggil Chae Rin serak. Membuat wanita tua itu berlaih menatap sosoknya yang menempel di samping Chang Seok. Segera ia mendekat ke arah mereka, “Chae Rin~ah, gwenchanayo?” tanyanya begitu melihat keadaan cucunya yang saat itu masih bergemetaran. Sementara tangannya membelai-belai wajah sembab Chae Rin.
            Tidak ada sahutan keluar dari mulut Chae Rin. Dan seketika si Nenek baru menyadari akan keberadaan orang lain di antara mereka, tatapannya menelisik, mencoba untuk mencerna kejadian apa sebenarnya yang terjadi sebelum ia datang kemari. “Aigoo~” pekiknya, dan dengan segera menghampiri sosok kecil bertubuh kurus itu, “Jun Hae~aa…” tangannya yang saat itu mencoba untuk menyentuh kepala seorang bocah yang sudah membuatnya mengerti akan situasi sebenarnya, tiba-tiba ditepis kasar oleh tangan seseorang,
            “Ayo, pulang!” tangan kasar itu meraih pergelangan tangan Jun Hae, lalu menyeretnya pergi. Membuat kaki kecil Jun Hae yang biru akibat terkena pukulan, terseok-seok mengikuti langkah Ibunya yang menyeretnya seperti tak punya perasaan.
            PLAKK!!
            Lagi-lagi sebuah pukulan menghamtan punggung Jun Hae. Membuat Ibu Chang Seok menarik nafas dalam melihatnya, sementara Chang Seok hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Tidak habis pikir dengan sikap Ah Sung yang tidak pernah berhenti memukuli anaknya sendiri demi melampiaskan kekesalannya.
            “Appa~” suara parau Chae Rin terdengar lirih memecahkan keheningan.
            Ayahnya merubah posisi memeluk tubuh Chae Rin yang semakin bergetar hebat. Dibelainya pundak anak gadis itu lembut sambil terus mencoba menenangkan. Namun Chae Rin tiba-tiba jadi terisak. Perasaan takut benar-benar menguasainya sekarang. Meski dua sosok manusia yang sudah membuat ia jadi seperti ini sudah tidak ada lagi, bahkan bayangannya sekali pun, tapi tetap saja ini menimbulkan sebuah trauma untuknya.
***
            Semenjak kejadian itu, Chae Rin tidak lagi menemukan sosoknya. Seorang bocah laki-laki kurus yang entah bagaimana bisa bertahan setiap kali menerima pukulan keras dari tangan sang Ibu. Ia tidak pernah mengelak, menangkis, atau sekedar mengeluarkan suara; “Ibu hentikan!” setiap kali pukulan-pukulan itu menghantam tubuhnya. Bahkan ia tidak menangis, sementara tubuhnya penuh dengan warna keungu-unguan akibat memar. Mengingat itu, Chae Rin sempat mengungkapkan perasaannya kepada sang Ayah.
            “Ayah, aku tidak ingin bertemu Eomma lagi.”
            “Kenapa?” tanya Chang Seok yang saat itu tengah duduk menikmati siaran radio dengan segelas teh hangat di atas meja juga Yangparing—cermilan khas Korea, bercita rasa bawang dan berbentuk bulat-bulat seperti cincin)— sebagai pelengkapnya.
            “Aku takut kalau Eomma juga akan segalak Ahjuma itu.” jawabnya polos. Membuat Chang Seok menyunggingkan senyum begitu mendengarnya.
            Dihampirinya putri semata wayangnya yang saat itu sedang asik dengan mainan boneka-bonekaannya yang Chang Seok belikan di toko boneka sewaktu liburan untuk menonton festival kepiting salju beberapa minggu lalu.
            “Chae Rin jangan berpikiran seperti itu terhadap Eomma. Eomma Chae Rin baik, dia juga sosok yang sangat lembut.”
            “Jeongmal?” tanya Chae Rin. Matanya menatap wajah sang Ayah seolah meminta kepastian. Chang Seok menganggukan kepalanya mantap.
            Namun seketika wajah Chae Rin berubah mendung. Ia beralih menundukan kepala, menatapi boneka di tangannya dengan pandangan sayu, “Tapi… Jika seandainya Eomma adalah Ibu yang baik, Eomma tidak mungkin meninggalkan Chae Rin. Iya kan, Appa~?” ucapnya, seraya kembali menatap wajah sang Ayah yang saat itu memilih bungkam mendengar pertanyaannya. Ia tidak menjawab—lebih tepatnya tidak bisa menjawab. Hanya senyum samar yang menyungging di bibirnya sebelum memutuskan untuk membelai lembut rambut sang Anak yang sudah kembali fokus dengan mainannya. Entahlah… Ucapan Chae Rin yang tiba-tiba, membuat Chang Seok tidak bisa berkata-kata lagi.
***
            Dengan langkah berlari, Chae Rin menyambangi rumah makan yang berada kurang lebih 100 meter dari tempat ia bersekolah dengan masih menggunakan seragam. Beberapa tahun berlalu sudah berhasil menyulap Chae Rin yang tadinya masih bocah, menjadi sosok remaja cantik yang sekarang duduk di bangku kelas 3 SMP. Tanpa polesan kosmetik apapun tidak mengurangi sama sekali daya tarik yang ia miliki. Bentuk tubuh yang semampai juga kaki jenjangnya yang indah, membuat tidak sedikit remaja seusianya yang iri dengan fostur tubuh Chae Rin.
            Dari wajah, ia memiliki sepasang lesung pipi yang akan terlihat apabila ia tersenyum, lalu matanya menyipit, membuat kesan orang yang melihatnya mengatakan kalau dia adalah sosok gadis yang imut. Hidungnya mancungnya yang tertaut dengan bibir merah tipis menjadi daya tarik utama seorang Yoon Chae Rin. Boleh dikatakan, kalau cantik yang ia miliki adalah alami, tanpa perlu polesan make-up apa pun.
            “Wooaa~ Appaku sudah kembali…” ucapnya dengan senyum lebar saat masuk ke dalam warung makan dan mendapati sang Ayah tengah duduk santai di belakang meja kasir. Ayahnya melebarkan tangannya begitu Chae Rin mendekat, tapi Chae Rin malah menghentikan langkah.
            “Waeyo?” tanya sang Ayah.
            “Haiissh~” Chae Rin mengerucutkan bibirnya cemberut, “Apa yang kau lakukan berlama-lama di Daegu, eoh?” ucapnya plin-plan seraya menyilangkan tangan di depan dada.
            Chang Seok terkekeh, “Annio~ Appa lama karena Appa sibuk mencarikan oleh-oleh untukmu.”
            “Jincha?” mendengar kata oleh-oleh, telinga Chae Rin mengembang. Dan begitu mendapat anggukan dari sang Ayah, giliran senyumnya yang melebar. Matanya berbinar-binar dan dengan segera menghambur memeluk tubuh sang Ayah. “Woaaa~ Appa… Saranghaeyo, .. Jeongmal saranghae~”
            “Chae Rin~ah… Kau sudah pulang?”
            Chae Rin melepaskan diri dari pelukan sang Ayah, begitu mendengar suara seseorang memanggilnya. Ia mengenali suara itu. Ya, itu adalah suara neneknya. Namun, ia tidak tahu siapa yang sekarang berdiri di samping sang Nenek. Seorang wanita cantik bertubuh semampai, mengenakan blouse orange tak berlengan yang diluarnya dilapisi cardigan putih, rambutnya yang panjang tergerai ikal menutupi sebagian dadanya. Cantik… itu yang pertama kali terlintas dibenak Chae Rin saat melihat wanita di samping neneknya itu. Kelihatannya mereka berdua baru saja keluar dari ruang belakang, tempat yang dijadikan dapur untuk karyawan-karyawan Ayah memasak.
            Wanita cantik itu tersenyum,  tapi Chae Rin tak membalasnya, melainkan malah beralih menatap sang Ayah, “Nugu?” tanyanya, terdengar menuntut.
            “Dia teman Appa di Daegu. Namanya Hyun Ji. Kau harus memanggilnya Bibi—Bibi Hyun Ji. Arra~?”
            “Untuk apa? Aku tak mengenalnya?” sahut Chae Rin ketus, kembali memandang wanita yang diperkenalkan Ayahnya bernama Hyun Ji itu dengan tatapan tak suka.
            “Chae Rin~ah. Jangan bicara seperti itu. Appa tidak pernah mendidikmu menjadi anak yang tidak punya sopan santun.” Ujar Chang Seok. Terdengar serius memperingatkan tingkah anaknya. Membuat Chae Rin yang mendengarnya semakin jengkel.
            “Dan Appa tidak pernah membentakku sekali saja sebelumnya,” Balas Chae Rin. “…Sebelum wanita itu ada.” Matanya kini menatap tajam wanita di samping Neneknya yang kini terlihat shock akan pertengkaran anak dan orang tuanya itu. Lalu berbalik mengambil langkah keluar dari rumah makan.
            “YA! Chae Rin~ah!” teriak Chang Seok. Mengejar anaknya yang memacu langkahnya berlari semakin jauh.
---
            Hampir saja! Benda berwarna orange itu melesat mengenai kepala seseorang yang melintasi lapangan olahraga sekolah SangDong. Ia menjerit kaget, kemudian mengelus dadanya dengan raut wajah shock. Bersyukur dalam hati karena bola besar yang menggelinding jauh dari lapangan itu tidak benar-benar mengenai kepalanya.
            “Hey, Nona gendut! Kau tidak lihat di sini sedang latihan?” teriak sebuah suara, mengalihkan pandangan satu-satunya yeoja di tempat itu.
            Seorang namja berjalan mendekat ke arahnya.
            “Sudah berapa kali kukatakan, jangan mengataiku gendut!” balas si yeoja dengan tatapan sangar miliknya. Melihatnya membuat si namja itu malah menyunggingkan senyum miring. Terkesan angkuh dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.
            “Lalu, jika bukan gendut, apalagi aku harus memanggilmu, eoh?” ucapnya, terdengar mencibir.
            Si yeoja di hadapannya hanya bisa mengepalkan kedua telapak tangannya di sisi rok seragam. Nafasnya naik turun menahan kegeramannya terhadap sosok makhluk berpeluh di depannya itu. Menatap namja itu tajam, sebelum akhirnya melangkah pergi dari tempat itu dengan kekesalan yang kelewat batas. Tak menyahut. Karena ia sadar itu hanya akan merugikannya.
            Sementara namja tadi, semakin mengembangkan senyumnya. Kali ini! Ia lagi-lagi berhasil membuat kesal yeoja yang adalah teman sekelasnya itu.
            “YA! Jun Hae~aa... Kau mau ke mana?” teriak temannya yang sedang duduk memegang botol minuman di bangku pinggir lapangan bersama beberapa teman-temannya yang lain.
            Jun Hae menoleh, mengangkat telapak tangan kanannya kepada namja berambut plontos itu, “Ngambil bola.” Sahutnya, kemudian nyengir.
---
            Jun Hae yang saat itu mau ngambil bola basket di dekat pos satpam, tiba-tiba berhenti. Memperhatikan apa yang sekarang menggaet matanya. Yeoja tadi… tampak sedang bercengkrama di dekat gerbang sekolah dengan seorang wanita yang mengenakan seragam kantor berwarna abu-abu pekat. Kakinya mengenakan sepatu berhak tinggi sementara di tangannya terkait hand bag hitam. Di sana… nun di depan gerbang terparkir sebuah mobil. Dari pengamatan Jun Hae, ia menebak bahwa dua manusia itu adalah anak-beranak.
            “Ada urusan apa kau ke sini? Aku tidak memintamu datang.” ucap si anak sembari menyilangkan tangannya. Benar-benar tidak sopan, pikir Jun Hae.
            Segera ia mencari tempat yang strategis untuk mendengarkan ucapan dua manusia itu tanpa bisa diketahui. Jadilah ia berjongkok di samping tong sampah. Menajamkan pendengarnnya di sana.
            “Hyo Min~ah…“
            “Lebih baik kembali. Pekerjaan lebih baik dari segalanya, eoh? Kau tak perlu datang. Bukannya kemarin-kemarin juga seperti itu.” ucapnya, tak mau memandang wajah kecewa orang di sampingnya. Melihat ini, Jun Hae semakin tertarik untuk tahu lebih lanjut.
            “Izinkan Eomma menghadiri pertemuan orang tua hari ini, Hyo Min~ah. Maafkan Eomma jika dulu Eomma tak pernah datang, karena memang Eomma sibuk di kantor. Hari ini Eomma tidak punya meeting apa pun, jadi biarkan Eomma hadir, ne~?”
            “Tidak perlu!” sahut Hyo Min, menatap datar Ibunya. “Aku sudah menelpon Paman. Dia akan datang. Jadi kau pulang saja.” Tanpa menunggu Ibunya membuka mulut lagi, Hyo Min bergegas pergi. Berlari menuju kelasnya. Tanpa di sadarinya, Jun Hae yang menangkap buliran air mata di pipi Hyo Min. Sementara Ibunya, tampak memandangi punggung sang anak yang semakin menjauh dengan tatapan nanar, sebelum akhirnya memutuskan pergi.
---
            Uap kecil mengepul, saat seseorang yang saat ini sedang bersandar pada tembok luar gerbang sekolah ByungHee High School menghembuskan nafasnya dari mulut. Kedua telinganya tersumpal earphone. Sementara tangannya ia jejalkan ke dalam saku jas seragamnya, karena udara cukup dingin siang ini. Hujan lebat baru saja berhenti, menyisakan rinai-rinai yang masih berjatuhan ke baju sosok makhluk satu-satunya di sana yang mengenakan seragam SMP.
            Ia celingukan, begitu menyadari bahwa siswa-siswa ByungHee High School sudah ada beberapa yang keluar dari gerbang sekolah. Ia berjinjit demi menambah tinggi ukuran tubuhnya yang sebenarnya tidak terlalu pendek itu. Lehernya ia jenjangkan guna memudahkan pencariannya. Sampai seseorang yang ditunggu itu pun tertangkap matanya, ia tersenyum lebar mengangkat tangan kanannya sembari meneriakan nama seseorng, “Jin Kyu Noona~”
            Sontak orang yang merasa namanya dipanggil, menoleh ke arah bocah ingusan berseragam SMP itu melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Ia ingin lari, tapi bocah itu keburu ada di hadapannya, “Ngapain ke sini lagi, hahh~? Nggak bosen-bosen ya ngikutin orang?—Kamu itu masih SMP, sekolahmu di situ, tu, ..” yeoja bernama Ji Kyu itu menunjuk ke arah sekolah SangDong yang ada di seberang jalan, nggak berjauhan dengan sekolah ByungHee High School.
            Bocah berseragam SMP itu nyengir, “—Ngapain nyengir-nyengir?” bentak si yeoja lagi,
            “Ah, annio~ aku ke sini, hanya ingin memastikan kalau Nuna hadir ke pertandingan basketku minggu depan.” Jawab si bocah polos, masih cengar-cengir nggak jelas.
            “Nggak bakal!—Minggir! Aku mau pulang.”
            “Aissh, nunaaa~” bocah itu lagi-lagi mengeluarkan suara memelas milikinya.
            “Kenapa, hah~? Tanpa aku juga pertandingan pasti berjalan. YA~ Jun Hae~aa, berhenti bersikap seperti ini. Sebentar lagi kau lulus SMP. Itu berarti kau akan masuk SMA dan kau seharusnya bisa bersikap sedikit lebih dewasa. Jangan terus bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Kau tidak di TK lagi sekarang.”
            Jun Hae terdiam. Kepalanya menunduk beberapa detik, sebelum akhirnya mengangkat wajah dan berbalik, “TAPI AKU SEPERTI INI KARENAMU! AKU HANYA INGIN NUNA MELIHAT KE ARAHKU!—NUNA, AKU MOHON! HADIR KE PERTANDINGAN BASKET ITU. TANPA NUNA, AKU TIDAK AKAN TURUN KE LAPANGAN!” teriaknya tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya dan di mana sekarang ia berada. Ia hanya ingin orang itu mendengarnya. Mendengar kesungguhannya selama ini.
            Tapi Ji Kyu terus saja menjauh, tak mau peduli sama sekali dengan apa yang dikatakan dan dilakukan bocah di belakangnya itu. Ia sudah cukup pusing selama ini dengan kehadiran Jun Hae di depan gerbang sekolahnya setiap kali ia mau masuk atau pulang. Dengan alasan hanya untuk menanyakan kabar dan mengucapkan satu kalimat, “Nuna aku selalu menunggumu sampai kapanpun.”
            “Benar-benar memalukan!” gerutu Ji Kyu sebal.

*
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar