CHAPTER
1
---
Meringis. Bocah perempuan itu terus
saja bersembunyi di sisi kanan Ayahnya. Tangannya mencengkram ujung baju sang
Ayah. Sirat matanya seperti mengatakan kalau ia benar-benar takut dengan apa
yang ia lihat sekarang.
Melihat keadaan sang anak, Ayahnya
menampilkan senyum menenangkan, “Sudah… Chae Rin jangan takut. Appa di sini.”
Katanya.
Tapi tetap saja tidak mudah untuk
menghentikan gemetar pada tubuh kecil Chae Rin. Ia masih bersembunyi, sampai
suara pukulan itu membahana lagi,
PLLAK!!
***
Pagi itu, cuaca cukup cerah. Tidak
tampak awan hitam menggelayut menutupi matahari. Dengan senyum manisnya Chae
Rin keluar, membawa sebuah wadah kecil yang berisi makanan ikan di tangannya.
Ia melangkah menuju kolam kecil yang
berada di halaman belakang rumah, lalu menebarkan isi di dalam wadah itu ke
kolam tersebut. Senyum itu kembali tertaut lebar begitu menyaksikan tingkah
saling rebut antar ikan-ikan saat ia menebarkan makanan.
Sampai seseorang memanggil namanya,
Chae Rin menghentikan aktifitas, mencoba mendengarkan baik-baik apa yang orang
itu katakan,
“Bisakah kau membelikan Appa kopi di
kedai Bibi Han?” begitu kalimat yang tertangkap oleh telinga Chae Rin yang saat
itu masih berdiri di depan kolam.
“Ye~, Appa… Aku akan ke sana.”
sahutnya lalu segera masuk menghampiri sang Ayah yang saat itu sibuk
mengutak-atik radio tuanya.
“Ini uangnya. Cepat kembali, ne~?”
Chae Rin mengangguk takzim begitu
menerima beberapa lembar uang dari sang Ayah.
Ayahnya tersenyum sembari mengacak
poni Anaknya pelan.
“Ah, Appa…” langkah kaki kecil Chae
Rin seketika terhenti di dekat pintu, berbalik ke arah sang Ayah yang menoleh
begitu mendengar suaranya, “—Berapa bungkus?”
“Satu saja.”
Chae Rin mengangguk sekali sebelum
ia benar-benar sudah menghilang dari balik pintu yang tertutup.
---
“Gamsahamnida~” Chae Rin menundukan
kepalanya saat menerima bungkusan yang berisi pesanan sang Ayah dari tangan
seorang wanita paruh baya pemilik kedai itu. Bibi Han, begitu ia sering
memanggilnya.
“Ne~”
Chae Rin melangkah keluar pagar
kedai Bibi Han, setelah akhirnya langkahnya seketika terhenti. Matanya
menangkap sosok bocah laki-laki bertubuh kurus itu berlari ketakutan, lalu
bersembunyi di balik drum besar samping rumah bibi Han. Sejenak ia menatapi
sosok itu, sampai sebuah teriakan membuatnya tersadar dari apa sebenarnya yang
saat itu terjadi.
“YA! Anak nakal! Kau bersembunyi,
eoh? Jangan harap kau akan selamat kalau kau tertangkap mataku!” seorang wanita
yang berada beberapa meter di hadapan Chae Rin itu berteriak keras. Suara
cemprengnya melengking seperti tidak takut kalau-kalau saja setelah itu pita
suaranya akan rusak. Penampilannya benar-benar sangat berantakan. Lihat saja
baju terusan dan jaket yang ia pakai, kumal sekali! Sudah begitu, rambutnya
juga kusut seperti tidak pernah mandi beberapa tahun.
Tangan kanannya menggantang sebuah
potongan kayu cukup besar. Dengan langkah yang lebar itu, ia menolehkan
kepalanya ke kiri dan ke kanan, mencari sosok yang sudah membuatnya persis
seperti orang kesurupan. Nafasnya menderu setiap kali ia berteriak, “YA! ANAK
NAKAL! CEPAT KELUAR! APA KAU AKAN BENAR-BENAR MATI SETELAH INI!”
Bengis! Itu yang sekarang berkelabat
di otak si kecil Chae Rin. Ia menoleh ke arah sosok yang berada pada arah
sebelah kiri dari tempat sekarang ia
berpijak. Chae Rin yakin bahwa bocah itu pasti masih bersembunyi di balik drum.
Perlahan ia mendekat. Benar saja! Bocah
laki-laki itu tampak menutup telinganya dengan kedua telapak tangan. Ia
memejamkan mata, sementara kedua lutunya menekuk. Tidak menyadari kalau
sekarang seseorang sudah mengambil tempat di sampingnya.
“Kau takut?” bisik Chae Rin di dekat
telinganya, berhasil membuat bocah itu tersentak kaget. “…Tenanglah! Aku—“
“Sstt!”
Seketika Chae Rin menutup mulut,
begitu bocah di sampingnya itu menyuruhnya untuk diam dengan isyarat jari
telunjuk tangannya menempel ke bibir. Chae Rin bisa merasakan gemetar yang
terjadi pada tubuh bocah laki-laki itu.
Sejenak ia menatapi sosok di
sampingnya. Kepalanya yang plontos menyembul untuk melihat situasi di depan
kedai. Ahjuma itu masih berteriak-teriak keras dengan kalimat yang sama. Lalu
memencak-mencak kesal, karena merasa panggilannya tidak juga diindahkan.
Bocah laki-laki itu menghembuskan
nafas begitu menyandarkan tubuh kurusnya pada badan drum. Masih gemetar, ia
memeluk kedua lututnya lalu membenamkan wajahnya di sana.
Ada rasa perihatin dalam benak Chae
Rin melihat apa yang terjadi pada bocah itu, ia masih memandanginya, lalu
mencoba untuk kembali membuka mulut, “Dia siapa?”
Mendengar pertanyaan Chae Rin, bocah
lelaki itu mengangkat wajah. Sejenak menatap Chae Rin datar, “Oori eomma~”
lirihnya. Lalu begitu hendak membenamkan kembali wajahnya, Chae Rin
mengeluarkan pertanyaan lagi,
“Boleh aku tau namamu?”
Kali ini, Chae Rin tidak mendapat
jawaban, selain tatapan bocah itu yang terasa mulai tidak menyukai akan adanya
ia di sana, “—Waeyo?”
PLLAKK!!!
Chae Rin tersentak kaget. Matanya
baru saja menangkap sebuah sendal karet besar melayang ke kepala si bocah.
Tepat! Tidak meleset sama sekali. Dan seketika juga matanya membulat. Sosok
yang berantakan dan berteriak-teriak kasar di jalan itu tadi sudah berdiri
beberapa meter di hadapan mereka. Tampak dadanya turun naik menatap siapa yang
bersembunyi di balik drum itu sedari tadi.
Gemetar tidak terjadi hanya pada
bocah lelaki itu, tapi juga pada Chae Rin. Tanpa ia sadari, kantong plastik
yang berisi bungkusan kopi pesanan sang Ayah itu sudah terlepas jatuh dari
tangannya.
---
“Chang Seok~ah!”
“Wae Ommonim?” sahut lelaki paruh
baya mengenakan kaos oblong putih itu, tanpa mengalihkan dari apa yang sekarang
menjadi fokusnya. Tangan kanannya memegang obeng kecil sementara tangan
kanannya memegangi sisi radio tua miliknya. Entahlah, apa sebenarnya sejarah
yang tersimpan dari benda rongsokan itu. Sampai-sampai ia lebih memilih untuk
terus berusaha memperbaikinya setiap kali mengalami ketidak-normalan, daripada
membeli yang baru.
Sosok wanita tua bertubuh kurus itu
melangkah ke dapur, meletakan keranjang belanjaannya yang penuh berisi sayuran
di dekat lemari masak, lalu kembali ke ruang tengah, mendekat ke arah meja kayu
panjang di depan jendela, tempat di mana sekarang anak lelakinya itu berkutat
dengan kesibukannya sendiri, “Dari kemarin kau selalu sibuk dengan ini.”
Gerutunya, “—YA! Chang Seok~ah… Chae Rin di mana?”
“Aku tadi menyuruhnya membeli kopi
di kedai depan—YA! Sekarang sudah jam berapa?” tiba-tiba Chang Seok menoleh
menatap jam di dinding rumah mereka, lalu tersentak kaget begitu menyadari
sudah pukul berapa sebenarnya sekarang, “—Aigoo~”
Ibunya yang tidak mengerti kenapa,
menatap heran keadaan wajah Chang Seok yang tiba-tiba berubah panik, “Waeyo?”
tanyanya penasaran begitu merasa ada aura yang tidak beres. Dan ini mungkin
berkaitan dengan Chae Rin.
“Ia keluar rumah saat jam
menunjukkan pukul 8 kurang sepuluh menit, sekarang sudah pukul 9 lewat 15.
Berarti hampir setengah jam. Tapi dia belum juga pulang.”
“YA~ Chang Seok~aa… Kenapa bisa
begini?”
“Aku juga tidak tahu, Omonim.”
Tampak gurat kekhawatiran di wajah
keduanya. Atmosfer rumah tiba-tiba berubah buruk. Chang Seok meraih jaket
hitamnya yang ada di sandaran kursi, lalu dengan segera melangkahkan kaki
keluar rumah diikuti Ibunya yang sama-sama dipenuhi perasaan khawatir dan
was-was akan keadaan si kecil Chae Rin.
---
“Anak nakal! Siapa yang mengajarimu
seperti ini, hahh? Bersembunyi dari orang tua! Tidak mendengar apa kata orang
tua! Mau jadi apa kau—Jangan menambah benci Eomma, Jun Hae~aa!”
Chae Rin meringis melihat aksi
kekerasan di depan mukanya. Ia menjerit tertahan setiap kali tangan dan balok
kayu itu menghantam kasar tubuh bocah lelaki di depannya. Bertubi-tubi dan
tanpa ampun. Sampai ketika wanita yang dikiranya bukan berasal dari golongan
manusia itu mengangkat tinggi-tinggi balok kayu di tangannya ke atas kepala si
bocah, Chae Rin sontak berteriak, “BIBI, HENTIKAN!—JANGAN PUKUL KEPALANYA!”
Sekita sepasang mata berwarna merah
tajam itu menghujam tubuh kecil Chae Rin yang menggigil ketakutan. Kilat
kemarahannya semakin terpancar. Nafasnya naik turun, “Siapa kau?” tanyanya
sinis.
Chae Rin tidak bersuara. Hanya
butiran kecil bening yang keluar dari sudut matanya. Membuat kekesalan wanita
bengis itu semakin memuncak, “YA! Kau tidak bertelinga?—Cepat pergi dari sini,
atau aku akan menghukummu!”
“—PERGI
DARI SINI AKU BILANG!” teriaknya semakin keras karena tidak menerima respon
apa-apa dari Chae Rin, “—ANAK NAKAL! SIAPA ORANG TUAMU, EOH?”
“Aku orang tuanya!” sahut sebuah
suara yang tiba-tiba datang dari arah belakang.
Wanita kasar itu segera menoleh ke
arah sumber suara, “Neo…” gumamnya tertahan.
“Dia anakku. Dan jangan pernah
sekali-kali kau menyentuhnya!” ucap orang itu lagi seraya meraih tangan Chae
Rin dan mendekap ke sisinya. “—Apa yang kaulakukan? Memukuli Jun Hae lagi?”
tanyanya kemudian begitu melihat tubuh kurus seorang bocah lelaki di dekat kaki Ibunya, duduk dengan membenamkan wajah di
antara lututnya yang tertekuk. Kaos lengan panjang dan berwarna biru muda yang
dikenakan si bocah tampak ternodai oleh bercak-bercak darah. Juga balok kayu
yang ada pada tangan si wanita, membuat ia tidak habis pikir dan
menggeleng-gelengkan kepala, “—YA! Hwang Ah Sung! Kau sama saja dengan Ayahnya.
Tidak bertanggung jawab!”
“Kau Chang Seok…” Ah Sung
mengeraskan rahangnya menahan kekesalan yang teramat sangat atas pria
menyebalkan di dapannya saat ini. Kilatan benci semakin memancar dari matanya,
“—Jangan pernah ungkit masalah namja brengsek itu lagi di hadapanku. Dan jangan
pernah samakan aku dengannya!” ucapnya setelah terlebih dahulu membuang
pandangan dari wajah Chang Seok.
“YA! Chang Seok~aa… Di mana Chae
Rin? Kau menemukannya?”
“Neneeek…” panggil Chae Rin serak. Membuat
wanita tua itu berlaih menatap sosoknya yang menempel di samping Chang Seok.
Segera ia mendekat ke arah mereka, “Chae Rin~ah, gwenchanayo?” tanyanya begitu
melihat keadaan cucunya yang saat itu masih bergemetaran. Sementara tangannya
membelai-belai wajah sembab Chae Rin.
Tidak ada sahutan keluar dari mulut
Chae Rin. Dan seketika si Nenek baru menyadari akan keberadaan orang lain di
antara mereka, tatapannya menelisik, mencoba untuk mencerna kejadian apa
sebenarnya yang terjadi sebelum ia datang kemari. “Aigoo~” pekiknya, dan dengan
segera menghampiri sosok kecil bertubuh kurus itu, “Jun Hae~aa…” tangannya yang
saat itu mencoba untuk menyentuh kepala seorang bocah yang sudah membuatnya mengerti
akan situasi sebenarnya, tiba-tiba ditepis kasar oleh tangan seseorang,
“Ayo, pulang!” tangan kasar itu
meraih pergelangan tangan Jun Hae, lalu menyeretnya pergi. Membuat kaki kecil
Jun Hae yang biru akibat terkena pukulan, terseok-seok mengikuti langkah Ibunya
yang menyeretnya seperti tak punya perasaan.
PLAKK!!
Lagi-lagi sebuah pukulan menghamtan
punggung Jun Hae. Membuat Ibu Chang Seok menarik nafas dalam melihatnya,
sementara Chang Seok hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Tidak habis pikir
dengan sikap Ah Sung yang tidak pernah berhenti memukuli anaknya sendiri demi
melampiaskan kekesalannya.
“Appa~” suara parau Chae Rin
terdengar lirih memecahkan keheningan.
Ayahnya merubah posisi memeluk tubuh
Chae Rin yang semakin bergetar hebat. Dibelainya pundak anak gadis itu lembut
sambil terus mencoba menenangkan. Namun Chae Rin tiba-tiba jadi terisak.
Perasaan takut benar-benar menguasainya sekarang. Meski dua sosok manusia yang
sudah membuat ia jadi seperti ini sudah tidak ada lagi, bahkan bayangannya
sekali pun, tapi tetap saja ini menimbulkan sebuah trauma untuknya.
***
Semenjak kejadian itu, Chae Rin
tidak lagi menemukan sosoknya. Seorang bocah laki-laki kurus yang entah
bagaimana bisa bertahan setiap kali menerima pukulan keras dari tangan sang
Ibu. Ia tidak pernah mengelak, menangkis, atau sekedar mengeluarkan suara; “Ibu
hentikan!” setiap kali pukulan-pukulan itu menghantam tubuhnya. Bahkan ia tidak
menangis, sementara tubuhnya penuh dengan warna keungu-unguan akibat memar.
Mengingat itu, Chae Rin sempat mengungkapkan perasaannya kepada sang Ayah.
“Ayah, aku tidak ingin bertemu Eomma
lagi.”
“Kenapa?” tanya Chang Seok yang saat
itu tengah duduk menikmati siaran radio dengan segelas teh hangat di atas meja
juga Yangparing—cermilan khas Korea, bercita rasa bawang dan berbentuk
bulat-bulat seperti cincin)— sebagai pelengkapnya.
“Aku takut kalau Eomma juga akan
segalak Ahjuma itu.” jawabnya polos. Membuat Chang Seok menyunggingkan senyum
begitu mendengarnya.
Dihampirinya putri semata wayangnya
yang saat itu sedang asik dengan mainan boneka-bonekaannya yang Chang Seok
belikan di toko boneka sewaktu liburan untuk menonton festival kepiting salju
beberapa minggu lalu.
“Chae Rin jangan berpikiran seperti
itu terhadap Eomma. Eomma Chae Rin baik, dia juga sosok yang sangat lembut.”
“Jeongmal?” tanya Chae Rin. Matanya menatap
wajah sang Ayah seolah meminta kepastian. Chang Seok menganggukan kepalanya
mantap.
Namun seketika wajah Chae Rin
berubah mendung. Ia beralih menundukan kepala, menatapi boneka di tangannya
dengan pandangan sayu, “Tapi… Jika seandainya Eomma adalah Ibu yang baik, Eomma
tidak mungkin meninggalkan Chae Rin. Iya kan, Appa~?” ucapnya, seraya kembali
menatap wajah sang Ayah yang saat itu memilih bungkam mendengar pertanyaannya.
Ia tidak menjawab—lebih tepatnya tidak bisa menjawab. Hanya senyum samar yang
menyungging di bibirnya sebelum memutuskan untuk membelai lembut rambut sang
Anak yang sudah kembali fokus dengan mainannya. Entahlah… Ucapan Chae Rin yang
tiba-tiba, membuat Chang Seok tidak bisa berkata-kata lagi.
***
Dengan langkah berlari, Chae Rin
menyambangi rumah makan yang berada kurang lebih 100 meter dari tempat ia
bersekolah dengan masih menggunakan seragam. Beberapa tahun berlalu sudah
berhasil menyulap Chae Rin yang tadinya masih bocah, menjadi sosok remaja
cantik yang sekarang duduk di bangku kelas 3 SMP. Tanpa polesan kosmetik apapun
tidak mengurangi sama sekali daya tarik yang ia miliki. Bentuk tubuh yang
semampai juga kaki jenjangnya yang indah, membuat tidak sedikit remaja
seusianya yang iri dengan fostur tubuh Chae Rin.
Dari wajah, ia memiliki sepasang
lesung pipi yang akan terlihat apabila ia tersenyum, lalu matanya menyipit,
membuat kesan orang yang melihatnya mengatakan kalau dia adalah sosok gadis yang
imut. Hidungnya mancungnya yang tertaut dengan bibir merah tipis menjadi daya
tarik utama seorang Yoon Chae Rin. Boleh dikatakan, kalau cantik yang ia miliki
adalah alami, tanpa perlu polesan make-up apa pun.
“Wooaa~ Appaku sudah kembali…”
ucapnya dengan senyum lebar saat masuk ke dalam warung makan dan mendapati sang
Ayah tengah duduk santai di belakang meja kasir. Ayahnya melebarkan tangannya
begitu Chae Rin mendekat, tapi Chae Rin malah menghentikan langkah.
“Waeyo?” tanya sang Ayah.
“Haiissh~” Chae Rin mengerucutkan
bibirnya cemberut, “Apa yang kau lakukan berlama-lama di Daegu, eoh?” ucapnya
plin-plan seraya menyilangkan tangan di depan dada.
Chang Seok terkekeh, “Annio~ Appa
lama karena Appa sibuk mencarikan oleh-oleh untukmu.”
“Jincha?” mendengar kata oleh-oleh,
telinga Chae Rin mengembang. Dan begitu mendapat anggukan dari sang Ayah,
giliran senyumnya yang melebar. Matanya berbinar-binar dan dengan segera
menghambur memeluk tubuh sang Ayah. “Woaaa~ Appa… Saranghaeyo, .. Jeongmal saranghae~”
“Chae Rin~ah… Kau sudah pulang?”
Chae Rin melepaskan diri dari
pelukan sang Ayah, begitu mendengar suara seseorang memanggilnya. Ia mengenali
suara itu. Ya, itu adalah suara neneknya. Namun, ia tidak tahu siapa yang
sekarang berdiri di samping sang Nenek. Seorang wanita cantik bertubuh
semampai, mengenakan blouse orange tak berlengan yang diluarnya dilapisi
cardigan putih, rambutnya yang panjang tergerai ikal menutupi sebagian dadanya.
Cantik… itu yang pertama kali terlintas dibenak Chae Rin saat melihat wanita di
samping neneknya itu. Kelihatannya mereka berdua baru saja keluar dari ruang
belakang, tempat yang dijadikan dapur untuk karyawan-karyawan Ayah memasak.
Wanita cantik itu tersenyum, tapi Chae Rin tak membalasnya, melainkan
malah beralih menatap sang Ayah, “Nugu?” tanyanya, terdengar menuntut.
“Dia teman Appa di Daegu. Namanya
Hyun Ji. Kau harus memanggilnya Bibi—Bibi Hyun Ji. Arra~?”
“Untuk apa? Aku tak mengenalnya?”
sahut Chae Rin ketus, kembali memandang wanita yang diperkenalkan Ayahnya
bernama Hyun Ji itu dengan tatapan tak suka.
“Chae Rin~ah. Jangan bicara seperti
itu. Appa tidak pernah mendidikmu menjadi anak yang tidak punya sopan santun.” Ujar
Chang Seok. Terdengar serius memperingatkan tingkah anaknya. Membuat Chae Rin
yang mendengarnya semakin jengkel.
“Dan Appa tidak pernah membentakku
sekali saja sebelumnya,” Balas Chae Rin. “…Sebelum wanita itu ada.” Matanya
kini menatap tajam wanita di samping Neneknya yang kini terlihat shock akan
pertengkaran anak dan orang tuanya itu. Lalu berbalik mengambil langkah keluar
dari rumah makan.
“YA! Chae Rin~ah!” teriak Chang
Seok. Mengejar anaknya yang memacu langkahnya berlari semakin jauh.
---
Hampir saja! Benda berwarna orange
itu melesat mengenai kepala seseorang yang melintasi lapangan olahraga sekolah
SangDong. Ia menjerit kaget, kemudian mengelus dadanya dengan raut wajah shock.
Bersyukur dalam hati karena bola besar yang menggelinding jauh dari lapangan
itu tidak benar-benar mengenai kepalanya.
“Hey, Nona gendut! Kau tidak lihat
di sini sedang latihan?” teriak sebuah suara, mengalihkan pandangan
satu-satunya yeoja di tempat itu.
Seorang namja berjalan mendekat ke
arahnya.
“Sudah berapa kali kukatakan, jangan
mengataiku gendut!” balas si yeoja dengan tatapan sangar miliknya. Melihatnya
membuat si namja itu malah menyunggingkan senyum miring. Terkesan angkuh dengan
menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Lalu, jika bukan gendut, apalagi
aku harus memanggilmu, eoh?” ucapnya, terdengar mencibir.
Si yeoja di hadapannya hanya bisa
mengepalkan kedua telapak tangannya di sisi rok seragam. Nafasnya naik turun
menahan kegeramannya terhadap sosok makhluk berpeluh di depannya itu. Menatap
namja itu tajam, sebelum akhirnya melangkah pergi dari tempat itu dengan
kekesalan yang kelewat batas. Tak menyahut. Karena ia sadar itu hanya akan
merugikannya.
Sementara namja tadi, semakin
mengembangkan senyumnya. Kali ini! Ia lagi-lagi berhasil membuat kesal yeoja
yang adalah teman sekelasnya itu.
“YA! Jun Hae~aa... Kau mau ke mana?”
teriak temannya yang sedang duduk memegang botol minuman di bangku pinggir
lapangan bersama beberapa teman-temannya yang lain.
Jun Hae menoleh, mengangkat telapak
tangan kanannya kepada namja berambut plontos itu, “Ngambil bola.” Sahutnya,
kemudian nyengir.
---
Jun Hae yang saat itu mau ngambil
bola basket di dekat pos satpam, tiba-tiba berhenti. Memperhatikan apa yang
sekarang menggaet matanya. Yeoja tadi… tampak sedang bercengkrama di dekat
gerbang sekolah dengan seorang wanita yang mengenakan seragam kantor berwarna
abu-abu pekat. Kakinya mengenakan sepatu berhak tinggi sementara di tangannya
terkait hand bag hitam. Di sana… nun di depan gerbang terparkir sebuah mobil.
Dari pengamatan Jun Hae, ia menebak bahwa dua manusia itu adalah anak-beranak.
“Ada urusan apa kau ke sini? Aku
tidak memintamu datang.” ucap si anak sembari menyilangkan tangannya.
Benar-benar tidak sopan, pikir Jun Hae.
Segera ia mencari tempat yang
strategis untuk mendengarkan ucapan dua manusia itu tanpa bisa diketahui.
Jadilah ia berjongkok di samping tong sampah. Menajamkan pendengarnnya di sana.
“Hyo Min~ah…“
“Lebih baik kembali. Pekerjaan lebih
baik dari segalanya, eoh? Kau tak perlu datang. Bukannya kemarin-kemarin juga
seperti itu.” ucapnya, tak mau memandang wajah kecewa orang di sampingnya.
Melihat ini, Jun Hae semakin tertarik untuk tahu lebih lanjut.
“Izinkan Eomma menghadiri pertemuan
orang tua hari ini, Hyo Min~ah. Maafkan Eomma jika dulu Eomma tak pernah
datang, karena memang Eomma sibuk di kantor. Hari ini Eomma tidak punya meeting
apa pun, jadi biarkan Eomma hadir, ne~?”
“Tidak perlu!” sahut Hyo Min,
menatap datar Ibunya. “Aku sudah menelpon Paman. Dia akan datang. Jadi kau
pulang saja.” Tanpa menunggu Ibunya membuka mulut lagi, Hyo Min bergegas pergi.
Berlari menuju kelasnya. Tanpa di sadarinya, Jun Hae yang menangkap buliran air
mata di pipi Hyo Min. Sementara Ibunya, tampak memandangi punggung sang anak
yang semakin menjauh dengan tatapan nanar, sebelum akhirnya memutuskan pergi.
---
Uap kecil mengepul, saat seseorang
yang saat ini sedang bersandar pada tembok luar gerbang sekolah ByungHee High
School menghembuskan nafasnya dari mulut. Kedua telinganya tersumpal earphone.
Sementara tangannya ia jejalkan ke dalam saku jas seragamnya, karena udara
cukup dingin siang ini. Hujan lebat baru saja berhenti, menyisakan rinai-rinai
yang masih berjatuhan ke baju sosok makhluk satu-satunya di sana yang
mengenakan seragam SMP.
Ia celingukan, begitu menyadari
bahwa siswa-siswa ByungHee High School sudah ada beberapa yang keluar dari
gerbang sekolah. Ia berjinjit demi menambah tinggi ukuran tubuhnya yang
sebenarnya tidak terlalu pendek itu. Lehernya ia jenjangkan guna memudahkan
pencariannya. Sampai seseorang yang ditunggu itu pun tertangkap matanya, ia
tersenyum lebar mengangkat tangan kanannya sembari meneriakan nama seseorng,
“Jin Kyu Noona~”
Sontak orang yang merasa namanya
dipanggil, menoleh ke arah bocah ingusan berseragam SMP itu melambai-lambaikan
tangan ke arahnya. Ia ingin lari, tapi bocah itu keburu ada di hadapannya,
“Ngapain ke sini lagi, hahh~? Nggak bosen-bosen ya ngikutin orang?—Kamu itu
masih SMP, sekolahmu di situ, tu, ..” yeoja bernama Ji Kyu itu menunjuk ke arah
sekolah SangDong yang ada di seberang jalan, nggak berjauhan dengan sekolah
ByungHee High School.
Bocah berseragam SMP itu nyengir,
“—Ngapain nyengir-nyengir?” bentak si yeoja lagi,
“Ah, annio~ aku ke sini, hanya ingin
memastikan kalau Nuna hadir ke pertandingan basketku minggu depan.” Jawab si
bocah polos, masih cengar-cengir nggak jelas.
“Nggak bakal!—Minggir! Aku mau
pulang.”
“Aissh, nunaaa~” bocah itu lagi-lagi
mengeluarkan suara memelas milikinya.
“Kenapa, hah~? Tanpa aku juga
pertandingan pasti berjalan. YA~ Jun Hae~aa, berhenti bersikap seperti ini.
Sebentar lagi kau lulus SMP. Itu berarti kau akan masuk SMA dan kau seharusnya
bisa bersikap sedikit lebih dewasa. Jangan terus bersikap kekanak-kanakan
seperti ini. Kau tidak di TK lagi sekarang.”
Jun Hae terdiam. Kepalanya menunduk
beberapa detik, sebelum akhirnya mengangkat wajah dan berbalik, “TAPI AKU
SEPERTI INI KARENAMU! AKU HANYA INGIN NUNA MELIHAT KE ARAHKU!—NUNA, AKU MOHON!
HADIR KE PERTANDINGAN BASKET ITU. TANPA NUNA, AKU TIDAK AKAN TURUN KE
LAPANGAN!” teriaknya tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya dan di mana
sekarang ia berada. Ia hanya ingin orang itu mendengarnya. Mendengar
kesungguhannya selama ini.
Tapi Ji Kyu terus saja menjauh, tak
mau peduli sama sekali dengan apa yang dikatakan dan dilakukan bocah di
belakangnya itu. Ia sudah cukup pusing selama ini dengan kehadiran Jun Hae di
depan gerbang sekolahnya setiap kali ia mau masuk atau pulang. Dengan alasan
hanya untuk menanyakan kabar dan mengucapkan satu kalimat, “Nuna aku selalu
menunggumu sampai kapanpun.”
“Benar-benar memalukan!” gerutu Ji
Kyu sebal.
*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar