*
Sudut bibir JinKi nampak sedikit
menyunggingkan senyum samar. Tubuhnya yang terbalut hoodie berwarna biru muda
yang dipadankan dengan celana jeans hitam, juga kaki yang dibungkus sepatu cads
itu berjalan menuju bangku kayu panjang di depan danau taman siang ini yang
adalah puncak dari musim semi. Pohon-pohon sakura yang tumbuh di taman itu
semuanya tengah lebat berbunga.
Sambil
membawa dua cup es cream strawberry yang ia genggam di kedua telapak tangannya
itu, JinKi membiarkan sejenak matanya menerawang, merasakan keadaan taman yang
masih persis suasananya dengan saat musim semi beberapa tahun yang lalu. Saat
itu adalah saat yang tak mungkin JinKi bisa lupakan. Bahkan gemetar pada
tubuhnya serta degup jantung yang begitu cepat berdetak begitu ia hendak
membuka mulut untuk sekedar mengucapkan kata; "Saranghamnida" kepada
yeoja yang adalah adik kelasnya di SMA itu pun masih bisa ia rasakan hingga
sekarang. Yeoja bermata sipit yang terlihat begitu manis apabila sedang
tersenyum dan tertawa (Oke, silahkan membayangkan wajah Lee Chae Rin di sini xD)
itu sudah berhasil membuat JinKi merasakan hal berbeda pada keadaan hatinya
semenjak mereka pertama kali bertemu di perpustakaan sekolah, beberapa tahun
yang silam. Saat itu JinKi berada di tahun kedua, sedangkan si yeoja penakluk
hatinya itu adalah murid baru yang baru saja menyelesaikan masa orientasi siswanya.
Beberapa tahun JinKi berusaha menekan perasaannya, bersikap seolah-olah bahwa
ia tidak pernah terpikir untuk berpacaran seperti teman-temannya yang lain dan
mementingkan prestasi sebagai pegangan hidupnya nomor 1, meski setiap malam ia
tidak pernah mengerti dengan suasana hatinya yang serba salah. Entahlah, setiap
kali bertemu dengan yeoja itu di sekolah, JinKi merasa degup jantungnya yang
tidak normal itu bertahan begitu lama hingga malam, apalagi wajah manis itu
sudah mencuri sebagian besar pikirannya, namun jika tidak melihatnya JinKi
malah merasakan hal yang lebih parah, ia gelisah dan perasaan ingin bertemu
semakin membuncah tanpa ampun.
Hingga
pada akhirnya, ketika JinKi sudah menyandang status sebagai Mahasiswa di sebuah
Universitas terbaik Korea Selatan yang sudah menjadi Universitas idamannya
semenjak ia masih duduk di Junior High School, JinKi kembali bertemu dengan
yeoja itu yang juga masuk di universitas yang sama dengannya dan lagi-lagi
menjadi juniornya. Ditambah lagi gadis itu ternyata mengambil fakultas yang
sama dengannya.
Mulai
saat itulah mereka jadi terlihat semakin dekat, JinKi sudah bisa mengatasi
dirinya yang dulu selalu bertingkah kikuk di depan yeoja itu apabila mereka
sedang berbicara berdua.
Sering
mereka membuat janji untuk mengisi waktu libur mereka berdua, meski hanya
sekedar ke cafe-cafe atau taman kota yang menampilkan mini showcase setiap
minggunya di sana. Semenjak mereka yang sering jalan berdua itu pula, JinKi
mengetahui hal yang menjadi kegemaran yeoja penarik hatinya itu. Yeah, ternyata
si yeoja sangat menyukai es cream strawberry.
Minggu
itu adalah awal-awalnya musim semi, mereka berdua memutuskan untuk mengunjungi
taman yang akhir-akhir itu menjadi tempat yang sering mereka kunjungi. Saat itu
keadaan taman lumayan ramai, tapi tidak ada yang terlihat menduduki bangku
panjang depan danau itu selain mereka berdua. Asik menikmati es cream di tangan
masing-masing, mereka berdua larut dengan dentuman musik yang indah dari mini
showcase di atas panggung sederhana yang tidak begitu dekat dengan tempat
mereka berdua duduk, namun memungkinkan mereka untuk masih bisa melihatnya.
Sesekali JinKi mencuri pandang ke arah yeoja di samping kanannya itu, setelah
sebelumnya sempat meletakkan cup es cream yang masih tersisa sedikit itu ke bangku,
lalu berdehem kecil membuat si yeoja beralih menatapnya dan kecanggungan pun
terjadi.
Beberapa
detik berlalu dalam keadaan diam satu sama lain tanpa ada yang membuka suara.
JinKi masih bergelut dengan hatinya antara katakan atau tidak. Padahal semalam
ia sudah menyiapkan kalimat yang ia pikir sudah bagus untuk menyatakan
perasaannya yang selama ini ia pendam terhadap gadis itu, tapi kenapa yang
terjadi malah kebekuan? Ragu-ragu, tapi tidak bisa dibatalkan. Ini adalah
kesempatan yang sangat disayangkan bila ia menunda-nundanya lagi. JinKi mencoba
memantapkan hati bahwa ia harus mengatakannya saat itu juga. Meskipun kalimat
yang ia siapkan dengan apik itu sudah memencar lari dari otaknya, tapi ia akan
mencoba menggunakan kata-kata lain yang lebih ringan untuk meluncur dari
mulutnya namun mampu mewakili semua perasaannya yang selama ini begitu dalam.
"ChaeRin~ah...
Aku..." tiba-tiba saja kalimat JinKi tersendat begitu yeoja di sampingnya
itu menoleh sempurna dan menatap wajahnya yang terasa semakin detik semakin
memanas.
"Waeyo?"
yeoja itu bertanya heran, namun tidak menghilangkan kesan lembut dari nada
bicaranya.
"Saranghamnida."
---
JinKi
mendudukan tubuhnya pada bangku panjang di depan danau kecil taman itu. Secup
es cream strawberry yang ada di salah satu tangannya itu ia letakkan di samping
bagian kanan tubuhnya. Senyumnya masih tersungging begitu ia mencoba untuk
menyedok sedikit es cream yang ada di tangan kirinya dengan menggunakan sendok
kecil, lalu melahapnya ke dalam mulut. Merasakan sensasi dingin yang membuatnya
kembali mengingat kejadian pada waktu ia benar-benar tidak bisa menahan dirinya
sendiri untuk tidak menangis lagi.
---
FLASHBACK
Hembusan
angin musim gugur, megusap lembut wajah mulus seorang namja yang sedari tadi
terlihat duduk di sebuah bangku taman dengan gelisah. Menengok ke kiri dan ke
kanan, seperti tengah mencari kehadiran seseorang yang ditunggu-tunggu. Sudah
berapa kali ia mengeluarkan benda berbentuk kotak kecil berwarna merah itu dari
saku jaket yang ia kenakan, memandangi untuk beberapa saat dengan senyum manis
yang tersungging penuh arti, lalu kembali memasukannya ke dalam saku.
“Kau
datang juga…” ucapnya seraya bangkit dari posisi duduknya begitu orang yang
ditunggu-tunggu itu tadi sudah hadir dan berdiri di hadapannya. “Aku menunggumu
cukup lama di sini, kau kemana saja?” tanyanya lagi yang belum sempat dijawab,
karena namja itu langsung saja kembali menyerobot, “O ya, aku punya sesuatu
untukmu!” katanya. Orang yang di hadapannya itu menatapnya dengan tatapan yang
menyiratkan kebingungan, tapi namja itu malah semakin lebar mengembangkan
senyum. Sebelah tangannya ia jejalkan ke dalam saku jaketnya, mengambil
sesuatu. Begitu sudah dapat dan merasa siap untuk menyerahkannya ia pun
mengeluarkan benda itu, sebuah kotak kecil berwarna merah tadi yang seringkali
ia pandangi saat menanti kehadarian seseorang yang saat ini sudah berhadapan
dengannya itu. Masih dengan senyum
menghiasi wajahnya yang mulus, begitu benda kecil di tangannya itu terbuka dan
memperlihatkan sepasang cincin dari emas putih yang berukir sebuah lambang
berbentuk hati itu pada tengah-tengahnya, si namja menatap ke arah gadis di
depannya yang masih terpaku untuk beberapa detik menatap apa yang sekarang
ditangkap oleh matanya sebelum akhirnya mengangkat wajah untuk beralih kepada
namja itu.
“Aku
harap kau bersedia untuk menemaniku sampai kapanpun. Dan cincin ini adalah
pengikat kita untuk tidak saling melepaskan… Chae Rin~ah.” gadis itu masih
terpaku begitu si namja meraih pergelangan tangan kanannya. “Kau
mencintaiku,kan?”
Gadis
itu tak bersuara.
“Kuharap
kau tak akan melepasnya.” Ucap namja itu lagi yang dengan segera meraih
punggung tangan kanan si gadis, menyematkan cincin dari kotak itu ke jari manis
gadisnya itu dan ia sendiri, lalu perlahan mendekatkan wajahnya, mengecup
kening gadis yang ia cintai itu dengan lembut.
Ini
memang sudah menjadi rencananya semenjak dulu untuk melamar si gadis pada akhir
musim gugur. Entah kenapa, ia berpikir maksud dari semua itu adalah akhir dari
musim gugur yang berarti akhir dari semua permasalahan-permasalahan yang -tak
dipungkiri- selama ini memang sering mewarnai hari-hari hubungan mereka. Ia
berharap dengan begitu ia akan memulai kehidupan yang indah bersama dengan
pasangannya, menjalin sebuah ikatan suci yang putih seperti butiran salju di
musim dingin yang akan segera menyambut.
“Mianhae~…”
tiba-tiba suara lirih keluar dari mulut gadis itu, matanya berkaca-kaca. “Tapi
aku tidak bisa menemanimu lebih lama lagi.” Katanya kemudian yang berhasil
membuat namja di hadapannya itu mengubah cara tatapnya yang semula tampak
berbinar-binar, kini jadi menatapnya dengan mata yang penuh menyiratkan
pertanyaan.
“K-kau
hanya bercanda, kan? Kau ingin membalas kejutan dariku dengan cara seperti ini
hanya untuk membuatku cemas, bukan?” namja itu mencoba menepis maksud kata-kata
aneh yang keluar dari mulut yeojachingunya itu, lalu tertawa kecil, berusaha
menutupi hatinya yang mulai cemas.
“Anni!”
yeoja itu menggelengkan kepala, “Aku serius. Aku tidak bisa bersamamu lagi.”
“W…waeyo?”
suaranya sudah mulai bergetar. Kejadian ini tidak pernah sama sekali terlintas
di benaknya. Ia tahu bahwa yeoja di depannya itu memiliki perasaan yang
sama-sama dalam dengan yang ia punya, lalu memutuskan untuk mengakhiri hubungan
mereka dengan cara seperti ini, adalah sesuatu yang mustahil untuknya.
Yeoja
itu lagi-lagi menggeleng, kali ini dengan kepala yang sedikit menduduk, “Aku
tidak mencintaimu lagi.” Ucapnya yang langsung menenggelamkan semua sisa-sisa
senyum si namja di hadapannya itu dan membuatnya tidak lagi bisa bersuara.
Mungkin semua ini sudah jelas, bahwa yeoja itu memang benar-benar serius dengan
apa yang ia katakan. “Mianhae… JinKi Hyeong~!”
Belum
hilang rasanya perasaan indah di hati JinKi saat menyematkan cincin putih itu
ke jari orang yang sangat ia cintai, ketika ia harus mendengar sebuah penuturan
yang membuatnya benar-benar seperti dipukul dengan palu yang besar dari arah
atas. Ia menciut, hatinya kecut, bahkan hanya sekedar untuk menelan ludah saja
ia merasakan kesusahan yang teramat. Ia masih terpaku beberapa saat di
tempatnya berdiri, sebelum akhirnya tersadar bahwa orang yang di hadapannya itu
tadi sudah pergi, melepaskan jari-jari kedua tangan mereka yang semula saling
mengait. Dengan langkah berlari, JinKi mencoba mengejarnya, ia masih tidak rela
jika hubungan mereka berakhir hanya dengan seperti ini, setidaknya harus
dibicarakan dengan baik-baik. Setibanya di depan taman, JinKi benar-benar tidak
bisa meneruskan langkahnya lagi, ia terhenti. Yeoja itu… Yeoja yang sudah ia
patrikan namanya sebagai orang special di dalam hati dan hidupnya, terlihat
naik ke sebuah motor seorang namja yang JinKi tidak tahu siapa karena wajahnya
yang ditutupi dengan helm. Sesak itu semakin bertambah begitu ia mendapati
yeojanya itu - yang sudah naik ke atas motor - langsung saja memeluk tubuh si
namja di hadapannya dengan erat. Masih terpaku mengamati dengan perasaan miris
akan apa pemandangan di depannya itu hingga sudah tidak tertangkap lagi, karena
motor itu sudah berlalu untuk beberapa detik yang lalu, sebelum JinKi teringat
sesuatu… Motor itu, JinKi sudah mengingat siapa pemiliknya.
“KyuHyun…
hyeong~”
---
JinKi
masih mencoba mencari tahu alasan kuat yang menjadi landasan Chae Rin untuk
mengakhiri hubungan mereka waktu itu. Meskipun Chae Rin selalu menghindari
pertemuan dengan dirinya di kampus, tidak pernah menggubris setiap pesan yang
ia layangkan juga panggilannya. Semakin hari kesan Chae Rin yang ingin
menjauhkan hubungan mereka semakin terasa. Hingga akhirnya pun sampai pada hari
itu, JinKi sengaja menunggunya di atap kampus yang ia tahu bahwa di sanalah untuk
beberapa minggu ini Chae Rin bersembunyi selain dari perpustakaan atau
laboraturim kampus. Suasana yang sepi, JinKi pikir tempat yang sekarang ia
berada ini memang tepat untuk sekedar merenung dan menyendiri. Ia meletakan
kedua telapak tangannya pada pagar pembatas setinggi perut. Menerawang ke
segela penjuru yang memungkinkan untuk bisa di tangkap matanya, JinKi pun
akhirnya mendapati ada seseorang yang datang, namun orang itu terhenti begitu
saja di tempatnya untuk beberapa saat karena menyadari bahwa ternyata ada orang
lain yang lebih dahulu mendatangi tempat itu daripada ia. Untuk beberapa detik
mereka saling berpandangan, setelah akhirnya orang di depan JinKi itu tersadar
dan bersiap membalik badan untuk segera pergi dari tempat itu, namun dengan
sigap JinKi menahan dengan menarik pergelangan tangannya.
“Lepaskan!”masih
dalam posisi membelakangi, orang itu memerintah JinKi untuk segera melepaskan
tangannya, namun bukannya menurut, JinKi malah memperkuat cengkramannya. “Aku
bilang lepaskan!” suaranya terdengar membentak. Mencoba untuk berusaha
melepaskan sendiri dengan cara meghentakkan tangannya, tapi itu membuatnya
merasakan sakit.
Mendengar
orang yang – jujur saja – sangat ia sayangi itu merintih kesakitan karena
ulahnya, JinKi merasa ada sedikit penyeselan. Sekalipun tidak pernah terpikir
di benaknya untuk menyakiti gadis itu, tapi mau bagaimana lagi? Ini adalah
satu-satunya cara untuk menahan gadis itu. JinKi ingin mengajaknya bicara
berdua, menyelesaikan semuanya dengan baik-baik. Meskipun kenyataannya nanti
gadis itu tetap memilih pergi darinya untuk orang lain, JinKi bisa menerima.
Setidaknya gadis itu bisa menjelaskan lebih terang akan apa permasalah dalam
diri JinKi yang membuatnya memutuskan untuk mencari pasangan lain? Jika sudah
mengetahui alasannya, mungkin JinKi bisa lebih melapangkan hatinya menerima
kenyataan pahit. Bagaimana pun ia sudah berpegang kuat pada prinsipnya untuk
tidak pernah membiarkan rasa cintanya menjadi sebuah keegoisan.
JinKi
meraih pundak gadis itu, memutar tubuh si gadis agar berhadapan dengannya.
“Chae Rin~ah…” gadis itu menundukkan wajah, menghindari tatapan mata JinKi.
“Aku akan melepaskanmu jika kau berkata yang sebenarnya tentang alasan kenapa
kau memutuskan mengakhiri hubungan kita? Kau-“
“LEPAS!”
Chae Rin kembali berusaha melepaskan diri, namun cengkraman JinKi pada bahu dan
lengannya sangat kuat, membuatnya lagi-lagi meringis kesakitan.
“CUKUP
BERI AKU PENJELASAN LEBIH ATAS SEMUA INI, CHAE-RIN~AH! APA ITU SULIT?”
“LEPASKAN
DIA!” suara seseorang yang tiba-tiba datang dari arah sebelah kiri tempat JinKi
dan Chae Rin berpijak, yang sontak membuat dua manusia itu – Chae Rin dan JinKi
- mengalihkan pandangan mereka ke arah namja bertubuh tinggi besar itu secara
bersamaan. Laki-laki itu melangkah mendekat karena menyadari warna kemerahan pada
sepasang mata milik Chae Rin. Dengan gerak kasar namja itu melibas tangan JinKi
dari bahu Chae Rin, lalu merengkuh pundak gadis itu ke sisinya. Tatapannya
tajam menyorot bola mata JinKi, “Apa semua ini tidak cukup untuk menjelaskan,
eoh? Chae Rin jelas-jelas menjauhimu dan ia juga sudah meminta putus akan
hubungan kalian, itu berarti dia memang tidak mencintaimu lagi! Jangan
bertindak egois JinKi~ssi!”
Kata-kata
si namja itu berhasil membungkam JinKi. Ia terpaku di tempat, tak bisa lagi
menahan tangan Chae Rin begitu si namja membawanya beranjak dari hadapan JinKi.
Ombak yang menghantam hatinya semakin mengganas setiap detik, menghancurkan
semuanya. Semua hal-hal indah yang dulu sempat ia lalui bersama yeojanya dan itu
terasa seperti hanya sekejap terjadi dalam hidupnya sebelum badai itu datang
untuk memporak-porandakan kebahagiannya secara mendadak.
Sedetik
kemudian JinKi terbangun dari keterpakuannya begitu menyadari ada sesuatu yang
hangat mengalir di kulit wajahnya. Air matanya tidak bisa ditahan, dan
berjatuhan semakin banyak, ketika ia mengalihkan pandang pada punggung dua
manusia yang berjalan beriringan dengan jarak yang begitu dekat di depannya
itu. Mereka semakin dekat, begitu si yeoja menyenderkan kepalanya ke bahu si
namja.
---
Semenjak
itu JinKi tidak lagi terlihat berusaha mencari-cari keberadaan Lee Chae Rin.
Beberapa bulan berlalu ia lalui dengan tetap berusaha tampil biasa di hadapan
siapapun. Terus menekan perasaannya setiap kali ada beberapa teman dekatnya
yang mecoba menanyakan hubungan ia dan Chae Rin, lalu begitu ia menjawab
semuanya sudah berakhir, tidak sedikit yang menyayangkan hal itu terjadi. Tapi
JinKi hanya bisa menanggapi semua komentar-komentar itu dengan senyum manis
yang sudah menjadi bagian dari dirinya dan dikenal banyak orang.
Hari
itu, JinKi tidak memiliki mata kuliah di kampus, karena itu ia memutuskan untuk
sekedar menenangkan hati dan pikiran dengan berjalan-jalan ke MyeongDong yang
selalu ramai setiap harinya. Bahkan tidak sedikit yang datang bersama
pasangannya. Mereka terlihat mesra sekali dengan berjalan sambil bergandengan
tangan. Dulu JinKi juga pernah mengungjungi tempat ini bersama Chae Rin dan
terlihat tidak kalah mesra dengan pasangan-pasangan itu. Mengingat semuanya,
JinKi hanya bisa tersenyum miris –kecut lebih tepatnya.
Sebenarnya,
JinKi sempat membuat rencana bersama beberapa teman dekatnya di kampus - yang sekelas
maupun Kakak tingkat - untuk mengisi
kekosong aktifitas mereka hari itu. Tapi entah kenapa, paginya satu persatu
dari mereka malah menelpon dan mengirim pesan pada JinKi untuk memberi tahu
bahwa mereka tidak bisa ikut dikarenakan urusan yang mendadak. JinKi hanya bisa
mengiyakan dan memaklumi semuanya.
Ia
terus melangkah dengan tapak kaki ringan di antara kerumunan-kerumunan
pengunjung siang itu di MyeongDong. Cuacanya sedikit mendung padahal, tapi
keadaannya tetap saja ramai. JinKi menjejalkan tangannya pada saku jaket kulit
yang ia kenakan, sampai sesuatu dari dalam saku jeansnya bergetar. JinKi
mengeluarkannya dan melihat nama seseorang yang memanggil terpampang pada layar
touchscreen handphone di tangannya itu.
“Yesung~hyeong!
Yeobosaeyo?” sapanya setelah meletakkan benda persegi itu dekat telinga sebelah
kanan. Sejenak mendengarkan suara orang yang keluar dari speaker handphonenya
itu berbicara, setelah akhirnya JinKi menghentikan langkah kakinya mendadak.
Orang itu memberitahunya akan sesuatu yang berhasil membuat JinKi hampir
menjatuhkan handphone di tangannya itu begitu saja ke tanah. “Mwo? Mworago?”
---
Berlari
seperti orang kesetanan, JinKi terus memacu langkah semampu yang bisa ia
jangkau untuk menuju suatu tempat yang diberitahukan Yesung saat menelponnya
barusan. Tidak peduli dengan orang-orang yang –tidak sedikit- mengomel akan
caranya berjalan seperti tidak punya mata. Dalam keadaan kacau seperti ini
ternyata otaknya pun tidak bisa bekerja dengan baik untuk hanya sekedar
mengajukan sebuah ide untuk menyetop taksi atau transportasi apapun yang memungkinkannya
lebih cepat sampai daripada terus berlari seperti itu. JinKi tidak bisa
berpikir banyak, otaknya sekarang memang hanya tertuju pada satu hal; Chae Rin.
Yeah, Yesung baru saja mengatakan lewat telpon bahwa sekarang Chae Rin berada
di rumah sakit yang berjarak lumayan jauh dari sekarang JinKi berada.
“Dia
sedang bersiap memasuki ruang operasi sekarang. Aku baru tahu tadi pagi setelah
KyuHyun memberi tahuku keadaan Chae Rin yang sebenarnya. Ternyata dia mengidap
tumor otak.”
Kata-kata
Yesung itu masih terngiang-ngiang jelas di telinga JinKi. Ia semakin memacukan
larinya di trotoar jalan. Tidak peduli dengan orang-orang yang terheran-heran
melihatnya berlari sambil dalam keadaan menangis. Sudah beberapa kali dia
mengusap wajahnya untuk menyeka airmatanya yang semakin detik terasa semakin
merembes deras. Melihat apa yang masih tertaut di jari manisnya membuat JinKi
akhirnya benar-benar terisak. Badai apalagi yang harus ia terima pada musim
ini?
---
Sesampainya
di rumah sakit, JinKi semakin mempercepat langkahnya, mencari-cari ruangan yang
diberitahukan Yesung lewat telpon tadi. Saat itu rasa cemas benar-benar sudah
memenuhinya. Ia berlari menaiki anak-anak tangga, menuju tempat yang di maksud,
hingga akhirnya langkahnya pun menjadi pelan begitu mendapati seseorang
laki-laki bertubuh tinggi besar itu berjalan di hadapannya. Merasakan tubuhnya
yang saat itu lemah dan nafasnya yang memburu tak beraturan, JinKi mencoba
menggapai tembok dengan sebelah tangannya. Terus berjalan menuju ruangan yang
ada di sudut koridor dengan langkah gontai, hingga akhirnya terhenti, begitu
namja itu meraih sebelah tangannya yang tidak berpegangan pada tembok. JinKi
menatapnya datar. Sementara orang itu mencoba membuka telapak tangan JinKi yang
mengepal. Kemudian menjejalkan satu tangannya ke dalam saku mantel putihnya,
seperti mengambil sesuatu, dan ternyata itu benar. Ia meletakan sebuah benda
yang ternyata adalah cincin itu ke telapak tangan JinKi yang terpaku beberapa
saat, lalu tersadar setelah akhirnya namja itu membuka suara, “Apapun yang
sudah ia katakan untuk menyakiti hatimu waktu itu, semuanya bohong. Dan aku
sebenarnya merasa sangat berdosa karena ikut bermain dalam kebohongan itu… Tapi
percayalah, alasannya melakukan ini semua karena ia begitu mencintaimu. Dia
malah lebih memilih untuk mati daripada terus hidup tapi kehilangan semua
ingatannya dan semua hal tentang kalian. Dia sangat mencintaimu, JinKi~ssi.”
Sepeninggal
namja itu dari hadapannya, JinKi benar-benar merasa bumi berputar sangat cepat.
Membuat langkahnya limbung menuju pintu sebuah ruangan yang di depannya ada
beberapa bangku tunggu diduduki oleh orang-orang yang ia kenal. Yeah, mereka
adalah teman-teman dekat JinKi yang pagi tadi membatalkan rencana mereka.
Menyadari bahwa ternyata ia adalah orang terakhir yang mengetahui semua ini,
JinKi merasakan sakit di hatinya menjadi berlipat-lipat. Ia terhuyung ke tubuh
Yesung di hadapannya yang langsung memeluk tubuhnya yang saat itu bergetar
hebat. Isaknya keluar menyayat siapapun yang mendengarnya. Ia tidak peduli jika
ini membuatnya dicap sebagai namja lemah, karena keadaannya memang benar-benar
lemah.
“Uljima!
Uljima!” DongHae menepuk-nepuk pundak JinKi yang masih menangis di dalam
pelukan Yesung, diikuti oleh 2 namja lainnya yang adalah Ki Bum dan Jong Hyun,
berusaha untuk menangkannya.
“Sekarang
bukan waktunya untuk menangis, JinKi~ah. Kita seharusnya berdoa demi kelancaran
operasi ini dan Chae Rim bisa melaluinya dengan baik.” JongHyun menasehati.
“Ta-tapi,,
masih a-ada harap-pan dia mengingat…ku?” tanya JinKi terputus-putus di
sela-sela isaknya. Semua yang mendengar pertanyaan itu, tidak ada satupun yang
bisa menjawab. Mereka terdiam.
Sampai
akhirnya JinKi melepaskan diri dari pelukan Yesung, dan kembali berucap, “Aku
terlalu egois ya? Di saat seperti ini masih mengharapkan untuk diingat olehnya.
Padahal yang terpenting itu adalah keselamatannya.” Ucapnya yang tersenyum
kecut, bermaksud menertawai dirinya sendiri. DongHae yang ada di sebelahnya
kini yang mengambil alih untuk merengkuh pundak bocah laki-laki itu, lalu
menepuk-nepuknya untuk sekedar memberi kekuatan. Tanpa bisa berkata apa-apa
lagi, JongHyun tertunduk, sementara Ki Bum melangkah mendekati pintu ruang
operasi yang masih tertutup rapat, dan Yesung ikut merebahkan diri di kursi yang tak jauh dari tempatnya seraya
menutup wajah. Baju kaos yang ia kenakan tampak basah pada bagian pundak
kanannya karena airmata JinKi.
---
“Bagaimana,
Dok?”
JinKi
yang saat itu duduk di salah satu kursi tunggu, bersampingan dengan DongHae,
mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk ketika mendengar suara Ki Bum
menegur seseorang. Dan begitu mendapati seorang dokter laki-laki yang cukup
berumur itu ternyata sudah berdiri di luar pintu dalam posisi berhadapan dengan
Ki Bum, JinKi langsung bangkit untuk menyambangi si dokter.
“Bagaimana
keadaan Chae Rin, Dok? Apa operasinya berjalan dengan baik?” serbu JinKi dengan
pertanyaan-pertanyaan yang begitu cepat terlontar dari mulutnya kepada dokter
di hadapannya itu yang masih terdiam untuk beberapa saat sambil menarik nafas
dalam, membuat kecemasan dalam hati JinKi semakin menjadi. DongHae yang selalu
setia berada di samping JinKi, masih terus berusaha menenangkan dengan
menepuk-nepuk pundak adik tingkatnya itu.
“Maafkan,
kami... Kami benar-benar-“
Seketika
itu juga JinKi merasakan bahwa kehidupannya benar-benar sudah berakhir,
jantungnya seperti berhenti berdetak. Bukan karena ucapan dokter laki-laki di
depannya itu, tapi karena matanya menangkap sesosok tubuh di atas sebuah
ranjang beroda yang di dorong oleh dua perawat itu keluar dari ruang operasi.
Dua
orang perawat itu pun berhenti sejenak mendorong ranjang itu, begitu melihat
JinKi yang mencoba mendekat dengan langkahnya yang gontai. Tak bisa menahan air
mata yang lagi-lagi berjatuhan ke wajahnya itu, JinKi meraih tangan gadisnya
yang kini sudah terbaring kaku tanpa nyawa. Satu helaan nafas pun tak terdengar
lagi darinya.
JinKi
sempat tak mempercayai akan apa yang telah terjadi saat itu, namun begitu
melihat wajah orang yang sudah membuatnya jatuh pada perasaan cinta yang
teramat dalam di hadapannya sekarang, dalam keadaan mata yang tertutup rapat
dan kulitnya yang memucat, JinKi merasakan tubuhnya yang semakin melemah dan
meresot begitu saja di samping ranjang itu. Ia menangis tak bersuara, namun
cara tatapannya yang begitu dalam kepada wajah gadisnya, membuat Yesung dan
JongHyun tak mampu menyaksikan pemandangan menyakitkan itu lebih lama. Mereka
memilih untuk kembali duduk di kursi, menutup wajah masing-masing dengan
telapak tangan. Sementara DongHae dan Ki Bum yang di belakang JinKi mematung
dengan wajah yang sama-sama basah.
"Maaf,
kami harus segera membawanya." Tegur salah satu dari perawat itu.
JinKi
yang masih belum bisa menerima awalnya melarang untuk membawa gadis itu dari
hadapannya. Namun seseorang bertubuh lebih besar menariknya dari belakang untuk
menjauh. JinKi sempat ingin melepaskan diri, tapi namja itu kuat memeganginya
dan JinKi sendiri merasa saat itu tubuhnya sudah terlalu lemah untuk
memberontak. Ia kehilangan seluruh tenaganya, dan dengan begitu saja langsung
ambruk ke lantai rumah sakit. Airmatanya semakin berjatuhan begitu namja yang
menariknya tadi merengkuh tubuhnya, menepuk-nepuk pundak JinKi sambil berusaha
menenangkan.
"Jangan
membuat ia teriksa di sana hanya karena melihatmu seperti ini. Dia sangat
mencintaimu, JinKi~yaa. Jangan seperti ini!"
"Apakah
dengan cara membohongiku seperti ini? Apa tidak ada cara lain yang ia lakukan
untuk membuatku lebih hancur daripada ini, Hyeong?" balas JinKi di
tengah-tengah isaknya.
"Sudahlah!
Uljima! Biarkan dia tenang…" jawab DongHae seraya menepuk-nepuk pundak
JinKi yang tidak mampu untuk menjawab lagi. Ia rasa ia sudah terlalu lemah,
bahkan sekedar hanya untuk mengeluarkan suara saja.
Sementara
di sana, di tembok ujung koridor seseorang memperhatikan apa yang ada di depan
ruang operasi itu sedari tadi. Menggigit bibir bawahnya, namja yang mengenakan
kaos hitam dilapisi blazzer putih diluarnya itu, membalik badannya untuk
sekedar bersandar pada tembok.
“Mianhae~”
lirihnya pelan seraya memukul-mukul pedih dadanya sendiri.
---
Suasana
area pemakaman itu sudah mulai terlihat sepi. Beberapa pelayat memutuskan bubar
pulang ke tempat masing-masing, bahkan yang dari keluarga Lee pun beranjak dari
tempat itu dengan air mata yang belum semuanya mengering. Terlihat shock yang
sangat pada Nyonya Lee Hae In, Ibu Chae Rin yang baru saja datang ke Seoul
setelah mendengar anaknya menghembuskan nafas terakhir di ruang operasi. Sikap
Chae Rin memang benar-benar keterlaluan, ia bahkan menyembunyikan tentang
penyakit itu bertahun-tahun dari kedua orang tuanya yang menjalankan bisnis di
Paris.
Sepeninggal
keluarga Tn. Lee, tampak beberapa orang laki-laki masih terdiam di tempatnya.
Salah seorang dari mereka yang sedari tadi bersusah payah menahan diri untuk
tidak menangis, berlutut di depan gundukkan tanah merah yang masih basah itu.
Mengelus misan yang bertuliskan nama seseorang yang sangat ia cintai dengan
perasaan miris.
“Aku
tidak tahu harus berkata apalagi… Kau begitu sombong. Beranggapan seolah-olah
kau yang paling tegar sendiri!” ucapnya bersungut-sungut di depan makam itu.
Sedangkan
Ki Bum yang berada pada posisi berseberangan dengannya itu bergumam mencibir,
“Cih~ Bilang tidak bisa berkata lagi, tapi malah mengatai orang sombong. Dasar
bocah~!” lalu melengos begitu melihat JinKi nyengir tidak jelas, sementara air
mata masih saja mengalir deras di wajahnya.
“Aku
benar-benar malu kepadamu. Aku tidak bisa untuk menekan rasa cemasku. Menangis
apabila terlalu takut… benar-benar namja yang lemah, bukan?” sejenak tersenyum
kecut, seraya mengusapkan kembali tangannya pada misan di hadapannya itu,
“---Tapi itu kulakukan hanya karenamu, Chae Rin~ah. Aku menangis karena takut
kehilanganmu. Melihatmu pergi
dengan namja lain saja membuatku hancur, apalagi jika harus menerima kenyataan
bahwa kau pergi selama-lamanya… Aku merasa aku benar-benar tidak hidup lagi
sekarang. Meski ragaku masih bergerak, tapi separuh nyawaku tidak ada lagi di
dalamnya.”
Kalimatnya
terhenti untuk beberapa detik ia mengumpulkan nafas. Hidungnya tersembut dan
itu membuatnya terdengar sengau setiap kali membuka suara.
Sementara
empat orang laki-laki yang berdiri di belakangnya hening sedari tadi. Juga
namja yang tadi sempat melengos mendengar ucapannya dan berjongkok di
seberangnya itu pun terdiam sambil menundukkan kepala.
“…
Melihat bagaimana aku sekarang, aku tidak yakin dengan ucapanku yang dulu
mengatakan bahwa aku akan menjagamu. Kau jauh lebih hebat dariku, Chae Rim~ah.
Menyembunyikan ini bertahun-tahun hanya karena tidak mau orang-orang yang
dicintainya merasakan apa yang ia rasakan… Tapi percayalah, aku masih bisa
untuk menjaga namamu di sini!” JinKi menepuk-nepukkan kepalan tangannya ke arah
dadanya, “Aku berjanji! Kau bisa memegangnya, kan? Dan ini… Aku sudah
mengatakan bahwa cincin ini adalah pengikat kita berdua. Aku akan menjaganya.
Percayalah! Sampai kapanpun hanya kau yang menjadi pemilik ini… tidak ada yang
lain.”
Seseorang
menepuk pundak JinKi dari belakang, lalu berbisik di dekat telinganya. JinKi
tertunduk sejenak, setelah akhirnya memutuskan bangkit dari posisinya. Masih
sulit untuk beralih dari misan itu, JinKi kembali bergumam, “Aku akan selalu
mengingatnya.” Setelah akhirnya ia ditarik oleh sebuah kuasa, membuat ia
terundur beberapa langkah ke belakang. Yesung merengkuh pundaknya untuk
menuntunya berjalan meninggalkan pemakaman. Meski hatinya masih ingin tetap di
sana, tapi tidak bisa menolak begitu diajak teman-temannya pulang. Ia memang
sangat lemah sekali.
---
Menatap
kosong apa yang ada di hadapannya. Air danau yang terlihat tenang, juga acara
mini showcase di atas panggung sederhana itu masih belum berakhir. Walaupun
sebenarnya pikirannya tidak berada di sana.
“Semalam
kau menemuiku dalam mimpi. Tapi kenapa kau tak bicara? Padahal aku sangat
merindukanmu. Bisakah nanti kau menemuiku dalam waktu yang lebih lama? Bahkan
jika harus tak pernah terbangun lagi pun aku tidak masalah, asal aku bisa
kembali bersamamu…” ia bergumam sendiri, lalu tersenyum miris. Syukurlah saat
itu tak banyak orang di sekitarnya. Jika saja ada yang melihat apa yang tengah
namja itu lakukan, mungkin orang itu bisa beranggapan miring tentangnya.
JinKi
kembali terdiam di tempat. Hembusan angin musim semi yang hangat membawa aroma
harum dari beragam bunga-bunga cantik yang bermekaran di puncak musim semi
tahun ini, lembut membelai penciumannya. JinKi melirik sejenak ke arah cup
kecil di samping kanannya, Ice cream itu sudah mulai melela. Berubah wujud
menjadi cairan merah muda. Setelah akhirnya ia beralih pada suatu benda yang
baru saja ia keluarkan dari balik saku jaketnya itu. Sebuah kotak kecil
berwarna merah muda, kembali membuat JinKi menyunggingkan senyum samar yang
sebenarnya terasa begitu hambar. Itu berlangsung beberapa detik, hingga suara
seorang bocah berteriak menyadarkannya dan membuatnya dengan langsung
mengembalikan benda itu ke tempatnya semula, di dalam saku.
“Appa~!
Ayo main!” bocah laki-laki yang tengah asik dengan layang-layangnya itu kembali
berteriak memanggil-manggil Appanya. JinKi tersenyum sebelum mengiyakan ajakkan
itu. Menarik nafas sejenak, dan menghelanya pelan-pelan. Kemudian segera
beranjak dari tempatnya duduk untuk memenuhi panggilan sang anak. JinKi
Meninggalkan se-cup ice cream berwujud cairan merah muda itu sendiri tergeletak
tak berpemilik.
*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar