Kamis, 30 Januari 2014

A Cup Of Ice Cream [Oneshot]




*

Sudut bibir JinKi nampak sedikit menyunggingkan senyum samar. Tubuhnya yang terbalut hoodie berwarna biru muda yang dipadankan dengan celana jeans hitam, juga kaki yang dibungkus sepatu cads itu berjalan menuju bangku kayu panjang di depan danau taman siang ini yang adalah puncak dari musim semi. Pohon-pohon sakura yang tumbuh di taman itu semuanya tengah lebat berbunga.
Sambil membawa dua cup es cream strawberry yang ia genggam di kedua telapak tangannya itu, JinKi membiarkan sejenak matanya menerawang, merasakan keadaan taman yang masih persis suasananya dengan saat musim semi beberapa tahun yang lalu. Saat itu adalah saat yang tak mungkin JinKi bisa lupakan. Bahkan gemetar pada tubuhnya serta degup jantung yang begitu cepat berdetak begitu ia hendak membuka mulut untuk sekedar mengucapkan kata; "Saranghamnida" kepada yeoja yang adalah adik kelasnya di SMA itu pun masih bisa ia rasakan hingga sekarang. Yeoja bermata sipit yang terlihat begitu manis apabila sedang tersenyum dan tertawa (Oke, silahkan membayangkan wajah Lee Chae Rin di sini xD) itu sudah berhasil membuat JinKi merasakan hal berbeda pada keadaan hatinya semenjak mereka pertama kali bertemu di perpustakaan sekolah, beberapa tahun yang silam. Saat itu JinKi berada di tahun kedua, sedangkan si yeoja penakluk hatinya itu adalah murid baru yang baru saja menyelesaikan masa orientasi siswanya. Beberapa tahun JinKi berusaha menekan perasaannya, bersikap seolah-olah bahwa ia tidak pernah terpikir untuk berpacaran seperti teman-temannya yang lain dan mementingkan prestasi sebagai pegangan hidupnya nomor 1, meski setiap malam ia tidak pernah mengerti dengan suasana hatinya yang serba salah. Entahlah, setiap kali bertemu dengan yeoja itu di sekolah, JinKi merasa degup jantungnya yang tidak normal itu bertahan begitu lama hingga malam, apalagi wajah manis itu sudah mencuri sebagian besar pikirannya, namun jika tidak melihatnya JinKi malah merasakan hal yang lebih parah, ia gelisah dan perasaan ingin bertemu semakin membuncah tanpa ampun.
            Hingga pada akhirnya, ketika JinKi sudah menyandang status sebagai Mahasiswa di sebuah Universitas terbaik Korea Selatan yang sudah menjadi Universitas idamannya semenjak ia masih duduk di Junior High School, JinKi kembali bertemu dengan yeoja itu yang juga masuk di universitas yang sama dengannya dan lagi-lagi menjadi juniornya. Ditambah lagi gadis itu ternyata mengambil fakultas yang sama dengannya.
            Mulai saat itulah mereka jadi terlihat semakin dekat, JinKi sudah bisa mengatasi dirinya yang dulu selalu bertingkah kikuk di depan yeoja itu apabila mereka sedang berbicara berdua.
            Sering mereka membuat janji untuk mengisi waktu libur mereka berdua, meski hanya sekedar ke cafe-cafe atau taman kota yang menampilkan mini showcase setiap minggunya di sana. Semenjak mereka yang sering jalan berdua itu pula, JinKi mengetahui hal yang menjadi kegemaran yeoja penarik hatinya itu. Yeah, ternyata si yeoja sangat menyukai es cream strawberry.
            Minggu itu adalah awal-awalnya musim semi, mereka berdua memutuskan untuk mengunjungi taman yang akhir-akhir itu menjadi tempat yang sering mereka kunjungi. Saat itu keadaan taman lumayan ramai, tapi tidak ada yang terlihat menduduki bangku panjang depan danau itu selain mereka berdua. Asik menikmati es cream di tangan masing-masing, mereka berdua larut dengan dentuman musik yang indah dari mini showcase di atas panggung sederhana yang tidak begitu dekat dengan tempat mereka berdua duduk, namun memungkinkan mereka untuk masih bisa melihatnya. Sesekali JinKi mencuri pandang ke arah yeoja di samping kanannya itu, setelah sebelumnya sempat meletakkan cup es cream yang masih tersisa sedikit itu ke bangku, lalu berdehem kecil membuat si yeoja beralih menatapnya dan kecanggungan pun terjadi.
            Beberapa detik berlalu dalam keadaan diam satu sama lain tanpa ada yang membuka suara. JinKi masih bergelut dengan hatinya antara katakan atau tidak. Padahal semalam ia sudah menyiapkan kalimat yang ia pikir sudah bagus untuk menyatakan perasaannya yang selama ini ia pendam terhadap gadis itu, tapi kenapa yang terjadi malah kebekuan? Ragu-ragu, tapi tidak bisa dibatalkan. Ini adalah kesempatan yang sangat disayangkan bila ia menunda-nundanya lagi. JinKi mencoba memantapkan hati bahwa ia harus mengatakannya saat itu juga. Meskipun kalimat yang ia siapkan dengan apik itu sudah memencar lari dari otaknya, tapi ia akan mencoba menggunakan kata-kata lain yang lebih ringan untuk meluncur dari mulutnya namun mampu mewakili semua perasaannya yang selama ini begitu dalam.
            "ChaeRin~ah... Aku..." tiba-tiba saja kalimat JinKi tersendat begitu yeoja di sampingnya itu menoleh sempurna dan menatap wajahnya yang terasa semakin detik semakin memanas.
            "Waeyo?" yeoja itu bertanya heran, namun tidak menghilangkan kesan lembut dari nada bicaranya.
            "Saranghamnida."
---
            JinKi mendudukan tubuhnya pada bangku panjang di depan danau kecil taman itu. Secup es cream strawberry yang ada di salah satu tangannya itu ia letakkan di samping bagian kanan tubuhnya. Senyumnya masih tersungging begitu ia mencoba untuk menyedok sedikit es cream yang ada di tangan kirinya dengan menggunakan sendok kecil, lalu melahapnya ke dalam mulut. Merasakan sensasi dingin yang membuatnya kembali mengingat kejadian pada waktu ia benar-benar tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak menangis lagi.
---
            FLASHBACK
            Hembusan angin musim gugur, megusap lembut wajah mulus seorang namja yang sedari tadi terlihat duduk di sebuah bangku taman dengan gelisah. Menengok ke kiri dan ke kanan, seperti tengah mencari kehadiran seseorang yang ditunggu-tunggu. Sudah berapa kali ia mengeluarkan benda berbentuk kotak kecil berwarna merah itu dari saku jaket yang ia kenakan, memandangi untuk beberapa saat dengan senyum manis yang tersungging penuh arti, lalu kembali memasukannya ke dalam saku.
            “Kau datang juga…” ucapnya seraya bangkit dari posisi duduknya begitu orang yang ditunggu-tunggu itu tadi sudah hadir dan berdiri di hadapannya. “Aku menunggumu cukup lama di sini, kau kemana saja?” tanyanya lagi yang belum sempat dijawab, karena namja itu langsung saja kembali menyerobot, “O ya, aku punya sesuatu untukmu!” katanya. Orang yang di hadapannya itu menatapnya dengan tatapan yang menyiratkan kebingungan, tapi namja itu malah semakin lebar mengembangkan senyum. Sebelah tangannya ia jejalkan ke dalam saku jaketnya, mengambil sesuatu. Begitu sudah dapat dan merasa siap untuk menyerahkannya ia pun mengeluarkan benda itu, sebuah kotak kecil berwarna merah tadi yang seringkali ia pandangi saat menanti kehadarian seseorang yang saat ini sudah berhadapan dengannya itu.         Masih dengan senyum menghiasi wajahnya yang mulus, begitu benda kecil di tangannya itu terbuka dan memperlihatkan sepasang cincin dari emas putih yang berukir sebuah lambang berbentuk hati itu pada tengah-tengahnya, si namja menatap ke arah gadis di depannya yang masih terpaku untuk beberapa detik menatap apa yang sekarang ditangkap oleh matanya sebelum akhirnya mengangkat wajah untuk beralih kepada namja itu.
            “Aku harap kau bersedia untuk menemaniku sampai kapanpun. Dan cincin ini adalah pengikat kita untuk tidak saling melepaskan… Chae Rin~ah.” gadis itu masih terpaku begitu si namja meraih pergelangan tangan kanannya. “Kau mencintaiku,kan?”
            Gadis itu tak bersuara.
            “Kuharap kau tak akan melepasnya.” Ucap namja itu lagi yang dengan segera meraih punggung tangan kanan si gadis, menyematkan cincin dari kotak itu ke jari manis gadisnya itu dan ia sendiri, lalu perlahan mendekatkan wajahnya, mengecup kening gadis yang ia cintai itu dengan lembut.
            Ini memang sudah menjadi rencananya semenjak dulu untuk melamar si gadis pada akhir musim gugur. Entah kenapa, ia berpikir maksud dari semua itu adalah akhir dari musim gugur yang berarti akhir dari semua permasalahan-permasalahan yang -tak dipungkiri- selama ini memang sering mewarnai hari-hari hubungan mereka. Ia berharap dengan begitu ia akan memulai kehidupan yang indah bersama dengan pasangannya, menjalin sebuah ikatan suci yang putih seperti butiran salju di musim dingin yang akan segera menyambut.
            “Mianhae~…” tiba-tiba suara lirih keluar dari mulut gadis itu, matanya berkaca-kaca. “Tapi aku tidak bisa menemanimu lebih lama lagi.” Katanya kemudian yang berhasil membuat namja di hadapannya itu mengubah cara tatapnya yang semula tampak berbinar-binar, kini jadi menatapnya dengan mata yang penuh menyiratkan pertanyaan.
            “K-kau hanya bercanda, kan? Kau ingin membalas kejutan dariku dengan cara seperti ini hanya untuk membuatku cemas, bukan?” namja itu mencoba menepis maksud kata-kata aneh yang keluar dari mulut yeojachingunya itu, lalu tertawa kecil, berusaha menutupi hatinya yang mulai cemas.
            “Anni!” yeoja itu menggelengkan kepala, “Aku serius. Aku tidak bisa bersamamu lagi.”
            “W…waeyo?” suaranya sudah mulai bergetar. Kejadian ini tidak pernah sama sekali terlintas di benaknya. Ia tahu bahwa yeoja di depannya itu memiliki perasaan yang sama-sama dalam dengan yang ia punya, lalu memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka dengan cara seperti ini, adalah sesuatu yang mustahil untuknya.
            Yeoja itu lagi-lagi menggeleng, kali ini dengan kepala yang sedikit menduduk, “Aku tidak mencintaimu lagi.” Ucapnya yang langsung menenggelamkan semua sisa-sisa senyum si namja di hadapannya itu dan membuatnya tidak lagi bisa bersuara. Mungkin semua ini sudah jelas, bahwa yeoja itu memang benar-benar serius dengan apa yang ia katakan. “Mianhae… JinKi Hyeong~!”
            Belum hilang rasanya perasaan indah di hati JinKi saat menyematkan cincin putih itu ke jari orang yang sangat ia cintai, ketika ia harus mendengar sebuah penuturan yang membuatnya benar-benar seperti dipukul dengan palu yang besar dari arah atas. Ia menciut, hatinya kecut, bahkan hanya sekedar untuk menelan ludah saja ia merasakan kesusahan yang teramat. Ia masih terpaku beberapa saat di tempatnya berdiri, sebelum akhirnya tersadar bahwa orang yang di hadapannya itu tadi sudah pergi, melepaskan jari-jari kedua tangan mereka yang semula saling mengait. Dengan langkah berlari, JinKi mencoba mengejarnya, ia masih tidak rela jika hubungan mereka berakhir hanya dengan seperti ini, setidaknya harus dibicarakan dengan baik-baik. Setibanya di depan taman, JinKi benar-benar tidak bisa meneruskan langkahnya lagi, ia terhenti. Yeoja itu… Yeoja yang sudah ia patrikan namanya sebagai orang special di dalam hati dan hidupnya, terlihat naik ke sebuah motor seorang namja yang JinKi tidak tahu siapa karena wajahnya yang ditutupi dengan helm. Sesak itu semakin bertambah begitu ia mendapati yeojanya itu - yang sudah naik ke atas motor - langsung saja memeluk tubuh si namja di hadapannya dengan erat. Masih terpaku mengamati dengan perasaan miris akan apa pemandangan di depannya itu hingga sudah tidak tertangkap lagi, karena motor itu sudah berlalu untuk beberapa detik yang lalu, sebelum JinKi teringat sesuatu… Motor itu, JinKi sudah mengingat siapa pemiliknya.
            “KyuHyun… hyeong~”
---
            JinKi masih mencoba mencari tahu alasan kuat yang menjadi landasan Chae Rin untuk mengakhiri hubungan mereka waktu itu. Meskipun Chae Rin selalu menghindari pertemuan dengan dirinya di kampus, tidak pernah menggubris setiap pesan yang ia layangkan juga panggilannya. Semakin hari kesan Chae Rin yang ingin menjauhkan hubungan mereka semakin terasa. Hingga akhirnya pun sampai pada hari itu, JinKi sengaja menunggunya di atap kampus yang ia tahu bahwa di sanalah untuk beberapa minggu ini Chae Rin bersembunyi selain dari perpustakaan atau laboraturim kampus. Suasana yang sepi, JinKi pikir tempat yang sekarang ia berada ini memang tepat untuk sekedar merenung dan menyendiri. Ia meletakan kedua telapak tangannya pada pagar pembatas setinggi perut. Menerawang ke segela penjuru yang memungkinkan untuk bisa di tangkap matanya, JinKi pun akhirnya mendapati ada seseorang yang datang, namun orang itu terhenti begitu saja di tempatnya untuk beberapa saat karena menyadari bahwa ternyata ada orang lain yang lebih dahulu mendatangi tempat itu daripada ia. Untuk beberapa detik mereka saling berpandangan, setelah akhirnya orang di depan JinKi itu tersadar dan bersiap membalik badan untuk segera pergi dari tempat itu, namun dengan sigap JinKi menahan dengan menarik pergelangan tangannya.
            “Lepaskan!”masih dalam posisi membelakangi, orang itu memerintah JinKi untuk segera melepaskan tangannya, namun bukannya menurut, JinKi malah memperkuat cengkramannya. “Aku bilang lepaskan!” suaranya terdengar membentak. Mencoba untuk berusaha melepaskan sendiri dengan cara meghentakkan tangannya, tapi itu membuatnya merasakan sakit.
            Mendengar orang yang – jujur saja – sangat ia sayangi itu merintih kesakitan karena ulahnya, JinKi merasa ada sedikit penyeselan. Sekalipun tidak pernah terpikir di benaknya untuk menyakiti gadis itu, tapi mau bagaimana lagi? Ini adalah satu-satunya cara untuk menahan gadis itu. JinKi ingin mengajaknya bicara berdua, menyelesaikan semuanya dengan baik-baik. Meskipun kenyataannya nanti gadis itu tetap memilih pergi darinya untuk orang lain, JinKi bisa menerima. Setidaknya gadis itu bisa menjelaskan lebih terang akan apa permasalah dalam diri JinKi yang membuatnya memutuskan untuk mencari pasangan lain? Jika sudah mengetahui alasannya, mungkin JinKi bisa lebih melapangkan hatinya menerima kenyataan pahit. Bagaimana pun ia sudah berpegang kuat pada prinsipnya untuk tidak pernah membiarkan rasa cintanya menjadi sebuah keegoisan.
            JinKi meraih pundak gadis itu, memutar tubuh si gadis agar berhadapan dengannya. “Chae Rin~ah…” gadis itu menundukkan wajah, menghindari tatapan mata JinKi. “Aku akan melepaskanmu jika kau berkata yang sebenarnya tentang alasan kenapa kau memutuskan mengakhiri hubungan kita? Kau-“
            “LEPAS!” Chae Rin kembali berusaha melepaskan diri, namun cengkraman JinKi pada bahu dan lengannya sangat kuat, membuatnya lagi-lagi meringis kesakitan.
            “CUKUP BERI AKU PENJELASAN LEBIH ATAS SEMUA INI, CHAE-RIN~AH! APA ITU SULIT?”
            “LEPASKAN DIA!” suara seseorang yang tiba-tiba datang dari arah sebelah kiri tempat JinKi dan Chae Rin berpijak, yang sontak membuat dua manusia itu – Chae Rin dan JinKi - mengalihkan pandangan mereka ke arah namja bertubuh tinggi besar itu secara bersamaan. Laki-laki itu melangkah mendekat karena menyadari warna kemerahan pada sepasang mata milik Chae Rin. Dengan gerak kasar namja itu melibas tangan JinKi dari bahu Chae Rin, lalu merengkuh pundak gadis itu ke sisinya. Tatapannya tajam menyorot bola mata JinKi, “Apa semua ini tidak cukup untuk menjelaskan, eoh? Chae Rin jelas-jelas menjauhimu dan ia juga sudah meminta putus akan hubungan kalian, itu berarti dia memang tidak mencintaimu lagi! Jangan bertindak egois JinKi~ssi!”
            Kata-kata si namja itu berhasil membungkam JinKi. Ia terpaku di tempat, tak bisa lagi menahan tangan Chae Rin begitu si namja membawanya beranjak dari hadapan JinKi. Ombak yang menghantam hatinya semakin mengganas setiap detik, menghancurkan semuanya. Semua hal-hal indah yang dulu sempat ia lalui bersama yeojanya dan itu terasa seperti hanya sekejap terjadi dalam hidupnya sebelum badai itu datang untuk memporak-porandakan kebahagiannya secara mendadak.
            Sedetik kemudian JinKi terbangun dari keterpakuannya begitu menyadari ada sesuatu yang hangat mengalir di kulit wajahnya. Air matanya tidak bisa ditahan, dan berjatuhan semakin banyak, ketika ia mengalihkan pandang pada punggung dua manusia yang berjalan beriringan dengan jarak yang begitu dekat di depannya itu. Mereka semakin dekat, begitu si yeoja menyenderkan kepalanya ke bahu si namja.
---
            Semenjak itu JinKi tidak lagi terlihat berusaha mencari-cari keberadaan Lee Chae Rin. Beberapa bulan berlalu ia lalui dengan tetap berusaha tampil biasa di hadapan siapapun. Terus menekan perasaannya setiap kali ada beberapa teman dekatnya yang mecoba menanyakan hubungan ia dan Chae Rin, lalu begitu ia menjawab semuanya sudah berakhir, tidak sedikit yang menyayangkan hal itu terjadi. Tapi JinKi hanya bisa menanggapi semua komentar-komentar itu dengan senyum manis yang sudah menjadi bagian dari dirinya dan dikenal banyak orang.
            Hari itu, JinKi tidak memiliki mata kuliah di kampus, karena itu ia memutuskan untuk sekedar menenangkan hati dan pikiran dengan berjalan-jalan ke MyeongDong yang selalu ramai setiap harinya. Bahkan tidak sedikit yang datang bersama pasangannya. Mereka terlihat mesra sekali dengan berjalan sambil bergandengan tangan. Dulu JinKi juga pernah mengungjungi tempat ini bersama Chae Rin dan terlihat tidak kalah mesra dengan pasangan-pasangan itu. Mengingat semuanya, JinKi hanya bisa tersenyum miris –kecut lebih tepatnya.
            Sebenarnya, JinKi sempat membuat rencana bersama beberapa teman dekatnya di kampus - yang sekelas maupun Kakak tingkat -  untuk mengisi kekosong aktifitas mereka hari itu. Tapi entah kenapa, paginya satu persatu dari mereka malah menelpon dan mengirim pesan pada JinKi untuk memberi tahu bahwa mereka tidak bisa ikut dikarenakan urusan yang mendadak. JinKi hanya bisa mengiyakan dan memaklumi semuanya.
            Ia terus melangkah dengan tapak kaki ringan di antara kerumunan-kerumunan pengunjung siang itu di MyeongDong. Cuacanya sedikit mendung padahal, tapi keadaannya tetap saja ramai. JinKi menjejalkan tangannya pada saku jaket kulit yang ia kenakan, sampai sesuatu dari dalam saku jeansnya bergetar. JinKi mengeluarkannya dan melihat nama seseorang yang memanggil terpampang pada layar touchscreen handphone di tangannya itu.
            “Yesung~hyeong! Yeobosaeyo?” sapanya setelah meletakkan benda persegi itu dekat telinga sebelah kanan. Sejenak mendengarkan suara orang yang keluar dari speaker handphonenya itu berbicara, setelah akhirnya JinKi menghentikan langkah kakinya mendadak. Orang itu memberitahunya akan sesuatu yang berhasil membuat JinKi hampir menjatuhkan handphone di tangannya itu begitu saja ke tanah. “Mwo? Mworago?”
---
            Berlari seperti orang kesetanan, JinKi terus memacu langkah semampu yang bisa ia jangkau untuk menuju suatu tempat yang diberitahukan Yesung saat menelponnya barusan. Tidak peduli dengan orang-orang yang –tidak sedikit- mengomel akan caranya berjalan seperti tidak punya mata. Dalam keadaan kacau seperti ini ternyata otaknya pun tidak bisa bekerja dengan baik untuk hanya sekedar mengajukan sebuah ide untuk menyetop taksi atau transportasi apapun yang memungkinkannya lebih cepat sampai daripada terus berlari seperti itu. JinKi tidak bisa berpikir banyak, otaknya sekarang memang hanya tertuju pada satu hal; Chae Rin. Yeah, Yesung baru saja mengatakan lewat telpon bahwa sekarang Chae Rin berada di rumah sakit yang berjarak lumayan jauh dari sekarang JinKi berada.
            “Dia sedang bersiap memasuki ruang operasi sekarang. Aku baru tahu tadi pagi setelah KyuHyun memberi tahuku keadaan Chae Rin yang sebenarnya. Ternyata dia mengidap tumor otak.”
            Kata-kata Yesung itu masih terngiang-ngiang jelas di telinga JinKi. Ia semakin memacukan larinya di trotoar jalan. Tidak peduli dengan orang-orang yang terheran-heran melihatnya berlari sambil dalam keadaan menangis. Sudah beberapa kali dia mengusap wajahnya untuk menyeka airmatanya yang semakin detik terasa semakin merembes deras. Melihat apa yang masih tertaut di jari manisnya membuat JinKi akhirnya benar-benar terisak. Badai apalagi yang harus ia terima pada musim ini?
---
            Sesampainya di rumah sakit, JinKi semakin mempercepat langkahnya, mencari-cari ruangan yang diberitahukan Yesung lewat telpon tadi. Saat itu rasa cemas benar-benar sudah memenuhinya. Ia berlari menaiki anak-anak tangga, menuju tempat yang di maksud, hingga akhirnya langkahnya pun menjadi pelan begitu mendapati seseorang laki-laki bertubuh tinggi besar itu berjalan di hadapannya. Merasakan tubuhnya yang saat itu lemah dan nafasnya yang memburu tak beraturan, JinKi mencoba menggapai tembok dengan sebelah tangannya. Terus berjalan menuju ruangan yang ada di sudut koridor dengan langkah gontai, hingga akhirnya terhenti, begitu namja itu meraih sebelah tangannya yang tidak berpegangan pada tembok. JinKi menatapnya datar. Sementara orang itu mencoba membuka telapak tangan JinKi yang mengepal. Kemudian menjejalkan satu tangannya ke dalam saku mantel putihnya, seperti mengambil sesuatu, dan ternyata itu benar. Ia meletakan sebuah benda yang ternyata adalah cincin itu ke telapak tangan JinKi yang terpaku beberapa saat, lalu tersadar setelah akhirnya namja itu membuka suara, “Apapun yang sudah ia katakan untuk menyakiti hatimu waktu itu, semuanya bohong. Dan aku sebenarnya merasa sangat berdosa karena ikut bermain dalam kebohongan itu… Tapi percayalah, alasannya melakukan ini semua karena ia begitu mencintaimu. Dia malah lebih memilih untuk mati daripada terus hidup tapi kehilangan semua ingatannya dan semua hal tentang kalian. Dia sangat mencintaimu, JinKi~ssi.”
            Sepeninggal namja itu dari hadapannya, JinKi benar-benar merasa bumi berputar sangat cepat. Membuat langkahnya limbung menuju pintu sebuah ruangan yang di depannya ada beberapa bangku tunggu diduduki oleh orang-orang yang ia kenal. Yeah, mereka adalah teman-teman dekat JinKi yang pagi tadi membatalkan rencana mereka. Menyadari bahwa ternyata ia adalah orang terakhir yang mengetahui semua ini, JinKi merasakan sakit di hatinya menjadi berlipat-lipat. Ia terhuyung ke tubuh Yesung di hadapannya yang langsung memeluk tubuhnya yang saat itu bergetar hebat. Isaknya keluar menyayat siapapun yang mendengarnya. Ia tidak peduli jika ini membuatnya dicap sebagai namja lemah, karena keadaannya memang benar-benar lemah.
            “Uljima! Uljima!” DongHae menepuk-nepuk pundak JinKi yang masih menangis di dalam pelukan Yesung, diikuti oleh 2 namja lainnya yang adalah Ki Bum dan Jong Hyun, berusaha untuk menangkannya.
            “Sekarang bukan waktunya untuk menangis, JinKi~ah. Kita seharusnya berdoa demi kelancaran operasi ini dan Chae Rim bisa melaluinya dengan baik.” JongHyun menasehati.
            “Ta-tapi,, masih a-ada harap-pan dia mengingat…ku?” tanya JinKi terputus-putus di sela-sela isaknya. Semua yang mendengar pertanyaan itu, tidak ada satupun yang bisa menjawab. Mereka terdiam.
            Sampai akhirnya JinKi melepaskan diri dari pelukan Yesung, dan kembali berucap, “Aku terlalu egois ya? Di saat seperti ini masih mengharapkan untuk diingat olehnya. Padahal yang terpenting itu adalah keselamatannya.” Ucapnya yang tersenyum kecut, bermaksud menertawai dirinya sendiri. DongHae yang ada di sebelahnya kini yang mengambil alih untuk merengkuh pundak bocah laki-laki itu, lalu menepuk-nepuknya untuk sekedar memberi kekuatan. Tanpa bisa berkata apa-apa lagi, JongHyun tertunduk, sementara Ki Bum melangkah mendekati pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat, dan Yesung ikut merebahkan diri  di kursi yang tak jauh dari tempatnya seraya menutup wajah. Baju kaos yang ia kenakan tampak basah pada bagian pundak kanannya karena airmata JinKi.
---
            “Bagaimana, Dok?”
            JinKi yang saat itu duduk di salah satu kursi tunggu, bersampingan dengan DongHae, mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk ketika mendengar suara Ki Bum menegur seseorang. Dan begitu mendapati seorang dokter laki-laki yang cukup berumur itu ternyata sudah berdiri di luar pintu dalam posisi berhadapan dengan Ki Bum, JinKi langsung bangkit untuk menyambangi si dokter.
            “Bagaimana keadaan Chae Rin, Dok? Apa operasinya berjalan dengan baik?” serbu JinKi dengan pertanyaan-pertanyaan yang begitu cepat terlontar dari mulutnya kepada dokter di hadapannya itu yang masih terdiam untuk beberapa saat sambil menarik nafas dalam, membuat kecemasan dalam hati JinKi semakin menjadi. DongHae yang selalu setia berada di samping JinKi, masih terus berusaha menenangkan dengan menepuk-nepuk pundak adik tingkatnya itu.
            “Maafkan, kami... Kami benar-benar-“
            Seketika itu juga JinKi merasakan bahwa kehidupannya benar-benar sudah berakhir, jantungnya seperti berhenti berdetak. Bukan karena ucapan dokter laki-laki di depannya itu, tapi karena matanya menangkap sesosok tubuh di atas sebuah ranjang beroda yang di dorong oleh dua perawat itu keluar dari ruang operasi.
            Dua orang perawat itu pun berhenti sejenak mendorong ranjang itu, begitu melihat JinKi yang mencoba mendekat dengan langkahnya yang gontai. Tak bisa menahan air mata yang lagi-lagi berjatuhan ke wajahnya itu, JinKi meraih tangan gadisnya yang kini sudah terbaring kaku tanpa nyawa. Satu helaan nafas pun tak terdengar lagi darinya.
            JinKi sempat tak mempercayai akan apa yang telah terjadi saat itu, namun begitu melihat wajah orang yang sudah membuatnya jatuh pada perasaan cinta yang teramat dalam di hadapannya sekarang, dalam keadaan mata yang tertutup rapat dan kulitnya yang memucat, JinKi merasakan tubuhnya yang semakin melemah dan meresot begitu saja di samping ranjang itu. Ia menangis tak bersuara, namun cara tatapannya yang begitu dalam kepada wajah gadisnya, membuat Yesung dan JongHyun tak mampu menyaksikan pemandangan menyakitkan itu lebih lama. Mereka memilih untuk kembali duduk di kursi, menutup wajah masing-masing dengan telapak tangan. Sementara DongHae dan Ki Bum yang di belakang JinKi mematung dengan wajah yang sama-sama basah.
            "Maaf, kami harus segera membawanya." Tegur salah satu dari perawat itu.
            JinKi yang masih belum bisa menerima awalnya melarang untuk membawa gadis itu dari hadapannya. Namun seseorang bertubuh lebih besar menariknya dari belakang untuk menjauh. JinKi sempat ingin melepaskan diri, tapi namja itu kuat memeganginya dan JinKi sendiri merasa saat itu tubuhnya sudah terlalu lemah untuk memberontak. Ia kehilangan seluruh tenaganya, dan dengan begitu saja langsung ambruk ke lantai rumah sakit. Airmatanya semakin berjatuhan begitu namja yang menariknya tadi merengkuh tubuhnya, menepuk-nepuk pundak JinKi sambil berusaha menenangkan.
            "Jangan membuat ia teriksa di sana hanya karena melihatmu seperti ini. Dia sangat mencintaimu, JinKi~yaa. Jangan seperti ini!"
            "Apakah dengan cara membohongiku seperti ini? Apa tidak ada cara lain yang ia lakukan untuk membuatku lebih hancur daripada ini, Hyeong?" balas JinKi di tengah-tengah isaknya.
            "Sudahlah! Uljima! Biarkan dia tenang…" jawab DongHae seraya menepuk-nepuk pundak JinKi yang tidak mampu untuk menjawab lagi. Ia rasa ia sudah terlalu lemah, bahkan sekedar hanya untuk mengeluarkan suara saja.
            Sementara di sana, di tembok ujung koridor seseorang memperhatikan apa yang ada di depan ruang operasi itu sedari tadi. Menggigit bibir bawahnya, namja yang mengenakan kaos hitam dilapisi blazzer putih diluarnya itu, membalik badannya untuk sekedar bersandar pada tembok.
            “Mianhae~” lirihnya pelan seraya memukul-mukul pedih dadanya sendiri.
---
            Suasana area pemakaman itu sudah mulai terlihat sepi. Beberapa pelayat memutuskan bubar pulang ke tempat masing-masing, bahkan yang dari keluarga Lee pun beranjak dari tempat itu dengan air mata yang belum semuanya mengering. Terlihat shock yang sangat pada Nyonya Lee Hae In, Ibu Chae Rin yang baru saja datang ke Seoul setelah mendengar anaknya menghembuskan nafas terakhir di ruang operasi. Sikap Chae Rin memang benar-benar keterlaluan, ia bahkan menyembunyikan tentang penyakit itu bertahun-tahun dari kedua orang tuanya yang menjalankan bisnis di Paris.
            Sepeninggal keluarga Tn. Lee, tampak beberapa orang laki-laki masih terdiam di tempatnya. Salah seorang dari mereka yang sedari tadi bersusah payah menahan diri untuk tidak menangis, berlutut di depan gundukkan tanah merah yang masih basah itu. Mengelus misan yang bertuliskan nama seseorang yang sangat ia cintai dengan perasaan miris.
            “Aku tidak tahu harus berkata apalagi… Kau begitu sombong. Beranggapan seolah-olah kau yang paling tegar sendiri!” ucapnya bersungut-sungut di depan makam itu.
            Sedangkan Ki Bum yang berada pada posisi berseberangan dengannya itu bergumam mencibir, “Cih~ Bilang tidak bisa berkata lagi, tapi malah mengatai orang sombong. Dasar bocah~!” lalu melengos begitu melihat JinKi nyengir tidak jelas, sementara air mata masih saja mengalir deras di wajahnya.
            “Aku benar-benar malu kepadamu. Aku tidak bisa untuk menekan rasa cemasku. Menangis apabila terlalu takut… benar-benar namja yang lemah, bukan?” sejenak tersenyum kecut, seraya mengusapkan kembali tangannya pada misan di hadapannya itu, “---Tapi itu kulakukan hanya karenamu, Chae Rin~ah. Aku menangis karena takut kehilanganmu.        Melihatmu pergi dengan namja lain saja membuatku hancur, apalagi jika harus menerima kenyataan bahwa kau pergi selama-lamanya… Aku merasa aku benar-benar tidak hidup lagi sekarang. Meski ragaku masih bergerak, tapi separuh nyawaku tidak ada lagi di dalamnya.”
            Kalimatnya terhenti untuk beberapa detik ia mengumpulkan nafas. Hidungnya tersembut dan itu membuatnya terdengar sengau setiap kali membuka suara.
            Sementara empat orang laki-laki yang berdiri di belakangnya hening sedari tadi. Juga namja yang tadi sempat melengos mendengar ucapannya dan berjongkok di seberangnya itu pun terdiam sambil menundukkan kepala.
            “… Melihat bagaimana aku sekarang, aku tidak yakin dengan ucapanku yang dulu mengatakan bahwa aku akan menjagamu. Kau jauh lebih hebat dariku, Chae Rim~ah. Menyembunyikan ini bertahun-tahun hanya karena tidak mau orang-orang yang dicintainya merasakan apa yang ia rasakan… Tapi percayalah, aku masih bisa untuk menjaga namamu di sini!” JinKi menepuk-nepukkan kepalan tangannya ke arah dadanya, “Aku berjanji! Kau bisa memegangnya, kan? Dan ini… Aku sudah mengatakan bahwa cincin ini adalah pengikat kita berdua. Aku akan menjaganya. Percayalah! Sampai kapanpun hanya kau yang menjadi pemilik ini… tidak ada yang lain.”
            Seseorang menepuk pundak JinKi dari belakang, lalu berbisik di dekat telinganya. JinKi tertunduk sejenak, setelah akhirnya memutuskan bangkit dari posisinya. Masih sulit untuk beralih dari misan itu, JinKi kembali bergumam, “Aku akan selalu mengingatnya.” Setelah akhirnya ia ditarik oleh sebuah kuasa, membuat ia terundur beberapa langkah ke belakang. Yesung merengkuh pundaknya untuk menuntunya berjalan meninggalkan pemakaman. Meski hatinya masih ingin tetap di sana, tapi tidak bisa menolak begitu diajak teman-temannya pulang. Ia memang sangat lemah sekali.
---
            Menatap kosong apa yang ada di hadapannya. Air danau yang terlihat tenang, juga acara mini showcase di atas panggung sederhana itu masih belum berakhir. Walaupun sebenarnya pikirannya tidak berada di sana.
            “Semalam kau menemuiku dalam mimpi. Tapi kenapa kau tak bicara? Padahal aku sangat merindukanmu. Bisakah nanti kau menemuiku dalam waktu yang lebih lama? Bahkan jika harus tak pernah terbangun lagi pun aku tidak masalah, asal aku bisa kembali bersamamu…” ia bergumam sendiri, lalu tersenyum miris. Syukurlah saat itu tak banyak orang di sekitarnya. Jika saja ada yang melihat apa yang tengah namja itu lakukan, mungkin orang itu bisa beranggapan miring tentangnya.
            JinKi kembali terdiam di tempat. Hembusan angin musim semi yang hangat membawa aroma harum dari beragam bunga-bunga cantik yang bermekaran di puncak musim semi tahun ini, lembut membelai penciumannya. JinKi melirik sejenak ke arah cup kecil di samping kanannya, Ice cream itu sudah mulai melela. Berubah wujud menjadi cairan merah muda. Setelah akhirnya ia beralih pada suatu benda yang baru saja ia keluarkan dari balik saku jaketnya itu. Sebuah kotak kecil berwarna merah muda, kembali membuat JinKi menyunggingkan senyum samar yang sebenarnya terasa begitu hambar. Itu berlangsung beberapa detik, hingga suara seorang bocah berteriak menyadarkannya dan membuatnya dengan langsung mengembalikan benda itu ke tempatnya semula, di dalam saku.
            “Appa~! Ayo main!” bocah laki-laki yang tengah asik dengan layang-layangnya itu kembali berteriak memanggil-manggil Appanya. JinKi tersenyum sebelum mengiyakan ajakkan itu. Menarik nafas sejenak, dan menghelanya pelan-pelan. Kemudian segera beranjak dari tempatnya duduk untuk memenuhi panggilan sang anak. JinKi Meninggalkan se-cup ice cream berwujud cairan merah muda itu sendiri tergeletak tak berpemilik.
*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar