*
Kalender kecil yang
biasanya di letakan di atas meja, tak lagi ada di sana. Sudah berpindah dari
tempatnya entah ke mana. Membuat seorang pria paruh baya berkacamata itu
kebingungan. Tidak mungkin jika ada pencuri yang masuk ke dalam rumahnya hanya
untuk mengambil kalender. Dan mustahil kalau kalender itu tiba-tiba punya kaki
untuk membawanya berjalan lari dari tempatnya.
Sebal karena tidak juga kunjung menemukan apa yang ia
cari sejak 10 menit yang lalu, pria itu bercekak pinggang di depan meja yang terletak
di sudut ruang tengah. Mencoba menghela nafas karena tidak ingin pagi ini
emosinya terkuras hanya karena masalah kalender yang hilang. Sampai seseorang
mengeluarkan suara dari arah meja dapur, mengalihkan perhatian pria itu,
“Yeobo, .. cepat sarapan.”
Pria itu tidak mengindahkan panggilan itu. Masih saja mondar-mandir
di tempatnya.
“—Apa yang kaucari
lagi, eoh? Kalender kecil begitu saja membuatmu repot pagi ini. Cepat sarapan!
Biar nanti aku yang cari.” Ucap wanita di dapur itu lagi. Membuat si pria
menghentikan pencariannya. Menghela nafas pendek, sebelum melangkah menuju meja
makan, di mana sekarang sang istri duduk menunggu.
“Aku tidak percaya. Kemarin aku baru saja melihat
kalender itu masih di tempatnya. Tapi kenapa ini tidak ada lagi.” Gerutunya
masih mempermasalahkan hilangnya kalender yang entah kenapa berhasil membuat
namja tua itu pusing pagi ini. Apa itu adalah kalender keramat? Sampai-sampai
sebegitu berartinya untuknya.
Istrinya yang saat itu tengah mengoleskan selai ke roti,
hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
“Appa~, .. Eomma~, …” teriak seseorang dari arah tangga.
Membuat dua orang di meja makan itu beralih menatap ke arahnya. Ia tersenyum
lebar, lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan sang Eomma. Entahlah, .. apa
sebenarnya yang terjadi pada bocah itu. Hari ini ia terlihat girang sekali.
Sampai-sampai membuat kedua orang tuanya saling bertatapan heran.
“Eomma.” Panggilnya, “Tinggal 5 bulan lagi!”
Eommanya mengerutkan kening. “5 bulan apanya?” tanya si
Eomma bingung. Nggak ngerti yang diucapan sang anak maksudnya apa.
“Iya. Masa SMP Hye Rim tersisa 5 bulan lagi.”
“O ya?”
“Iya—Jamkanman!” sahutnya. Kemudian membuka resleting
ranselnya yang ia letakan di kursi samping kiri tempat ia duduk. Mengeluarkan
sesuatu dari dalamnya, “—Coba lihat!”
Hye Rim menyuruh kedua orang tuanya memperhatikan apa
yang sekarang ada di pegangannya. Mencoba menjelaskan. Namun Ibunya malah
terpaku di tempat, dan sang Ayah shock
begitu mengetahui kalau ternyata Hye Rim-lah penyebab hilangnya kalender di
atas meja ruang tengah itu. Kalender yang ia beli dengan harga yang lumayan
sewaktu liburan ke Tokyo beberapa bulan yang lalu.
Melihat wajah kedua orang tuanya, Hye Rim berhenti bersuara.
Menatapi mereka satu persatu, lalu dengan polosnya bertanya, “—Waeyo? Apa aku
salah pakai seragam hari ini?”
---
“Hey, Nona Gendut, tunggu aku!” teriak seseorang
menghentikan langkah kaki Hyo Min. Di belakang, Jun Hae berlari memasuki
gerbang sekolah menuju ke arahnya. Hyo Min mengerucutkan bibir, berniat tidak
mempedulikan panggilan itu dan melanjutkan langkahnya. Namun makhluk
menyebalkan itu sudah berjalan di sampingnya sambil cengar-cengir tanpa alasan,
“—Kemarin yang jadi walimu siapa?” tanyanya sok ramah. Padahal biasanya juga
bikin gedeg orang.
“Paman.” Sahut Hyo Min ketus.
“Ah, jadi, .. Paman Kyu Hyun itu, pamanmu ya?”
“Mwo? Di mana kau tahu namanya?”
Jun Hae nyengir, “Iya, aku tahu. Dia itu teman Ayahku.”
Jawabnya.
“—Ngomong-ngomong, nanti hadir ya ke pertandingan?”
“Pertandingan?” kening Hyo Min berkerut.
“Iya, pertandingan. Pertandingan basket! Nggak dengar? Woaah~
jincha…” Jun Hae berdecak. “—Aku pikir benar! Yang ada di otakmu hanya makanan.
Dan selamanya makanan.” Tambah Jun Hae lagi yang sukses membuat Hyo Min
menghentikan langkah dan menatapnya tajam. Seperti ada tanduk yang tumbuh dari
kepalanya juga asap yang mengepul keluar dari telinga.
“YA! Lee Jun Hae!
Neo…” teriaknya penuh kegeraman. Sementara Jun Hae sudah ngacir #kabur
maksudnya xD, di koridor sekolah menuju ruang kelas mereka. “Kurang ajar!”
umpatnya seraya menghentakan kasar kakinya ke tanah. Entahlah, .. Emosi Hyo Min
selalu saja tersulut setiap kali berhadapan dengan bocah bernama Lee Jun Hae
itu. Benar-benar menyebalkan!
---
“Chae Rin~ah… Dengarkan Appa—“
“Pergi!”
“Appa—“
“AKU BILANG PERGI!” bentak Chae Rin lagi yang tidak mau
sama sekali mengangkat kepalanya untuk sekedar menatap sang Ayah yang sedari
tadi mati-matian membujuknya. Ia terus saja membenamkan kepalanya di antara
lutut yang ia tekuk. Membuat sang Ayah yang berdiri di sampingnya tampak
kewalahan, lalu beralih menatap sayu wanita yang berdiri di sampingnya.
Wanita itu menyentuh pundak Chang Seok. Membalas menatap
Chang Seok dengan tatapan menguatkan. Chang Seok tak tahu harus bagaimana lagi
caranya agar Chae Rin mau diajak bicara baik-baik seperti biasanya.
Mungkin ini memang salahnya sendiri yang mengabarkan
suatu hal secara mendadak kepada anaknya saat makan malam tadi berlangsung. Ia
tahu bahwa dari awal Chae Rin bertatap muka dengan Hyun Ji, ia tidak pernah
terlihat menyukai. Ia selalu bersikap dingin dengan wanita yang adalah teman
sekantornya sewaktu mereka masih tinggal di Seoul beberapa tahun yang lalu.
Hanya karena perceraian itulah, Chang Seok memutuskan
untuk kembali ke kampung halamannya di salah satu desa terpencil kabupaten
Yongdeok. Membuka usaha warung makan demi menghidupi Chae Rin, anak semata
wayangnya yang dulu sempat menjadi pertengkaran besar antara ia dan mantan
istrinya karena saling memperebutkan hak asuh. Namun keberuntungan memang
berpihak pada Chang Seok, karena hak asuh itu jatuh ke tangannya. Dan setelah
perkara itulah, Chang Seok memutuskan untuk kembali ke kampungnya, memulai
lembar baru hidupnya di sana bersama anak semata wayang yang begitu sangat ia
sayangi itu.
“Appa sangat berharap Chae Rin Appa yang sekarang bisa
bersikap lebih dewasa. Appa—“
“Dengan merestui hubungan kalian?—Begitu?” sambar Chae
Rin yang saat itu juga mengangkat wajahnya. Menatap sang Ayah di sampingnya
dengan mata yang sembab. Namun tidak menghilangkan kesan tajam karenanya. “—Apa
aku belum mengatakan ini sebelumnya? Ataukah Appa yang tidak mendengar setiap
kali aku mengatakan kalau aku TIDAK MAU PUNYA IBU.” Ujar Chae Rin menenkankan
suaranya. Sementara Chang Seok tampak hanya bisa menundukan kepala.
“Baik! Sesuai keinginan Appa dan demi kebahagian Appa,
aku akan coba bersikap lebih dewasa. Aku menerima hubungan kalian dan merestui
kalian menikah bulan depan, tapi dengan satu syarat, .. pergi dari sini dan
jangan pernah temui aku lagi! Silahkan berbahagia dengan kehidupan barumu di
sana.” ujarnya, kemudian segera pergi dengan langkah kasar memasuki rumah.
Meninggalkan Ayahnya yang terduduk lemas di teras. Benar-benar tidak mengira
akan mendengar kalimat seperti tadi keluar dari mulut anaknya.
“Mianhae, .. Karena aku—“
“Jangan pernah berkata seperti itu!” ucap Chang Seok
memotong ucapan wanita yang berada di sampingnya sedari tadi. Dan begitu
menyadari butiran-butiran bening sudah memupuk di rongga matanya, Chang Seok
segera merengkuh tubuh itu dan memeluknya seraya mencoba menguatkan,
“—Tenanglah, .. Dan yakin bahwa Chae Rin pasti akan menerimamu.”
Tidak ada suara yang
keluar menjawab ucapan Chang Seok selain hanya isakan perih yang terdengar.
---
Tentang seorang Ayah. Setiap orang punya cerita
sendiri-sendiri tentang mereka. Punya kenangan masing-masing. Kesan tersendiri
dan tanggapan pribadi.
Selayaknya yang terjadi pada seorang bocah perempuan yang
tinggal nun di desa terpencil di kabupaten Yongdoek. Ia masih ingat saat ia
berada pada tahun ke tiga di sekolah dasar, saat ia mengatakan dengan girangnya
kepada teman sebangkunya, ‘Pendampingku nanti haruslah seperti Ayahku.’
Dan prinsip itu terus ia pegang sampai menginjak tahun ke
tiga di sekolah menengah pertama. Sampai suatu hal yang ia permalasahkan muncul
ke permukaan hidupnya, membuat angan-angan itu terhempas. Menghancurkan apapun
yang dulu sudah ia isi dalam hatinya. Dan kini hidupnya hampa akan sesuatu yang
membahagiakan. Dunianya terputar pada arah mata angin yang gelap. Ia hilang
arah, tidak punya satu orang pun yang bisa ia banggakan lagi seperti dulu.
Selain hanya ada satu kesimpulan yang ia tarik dari apa yang telah terjadi
dalam hidupnya, bahwa ‘kehidupan memang untuk keegosian’.
Ia menutup hati untuk orang-orang di sekitarnya. Tidak
lagi meyakini akan adanya ketulusan. Karena seseorang yang ia pikir adalah
orang yang paling tulus di muka bumi ini pun mengkhianatinya.
“Chae Rin~ah. Ayo, makan. Hari ini kau tidak mengisi
perutmu sama sekali.” Bujuk sang nenek memelas. Chae Rin tak kunjung membukakan
pintu untuknya, atau sekedar menyahut dari dalam kamar. Semenjak keputusan
Ayahnya yang tetap ingin mempertahankan pernikahannya bersama wanita bernama
Hyun Ji itu, sikap Chae Rin benar-benar berubah haluan. Ia yang dulu begitu
ceria, kini menjadi sosok yang pemurung.
Dalam benaknya terlintas akan memori beberapa tahun yang
lalu. Tentang seorang bocah laki-laki yang hidup dengan harus menerima
pukulan-pukulan keras dari tangan orang yang adalah Ibu kandungnya sendiri. Dia
pikir, nasibnya sekarang tidaklah jauh berbeda dari si bocah itu. Walaupun
memar itu tidak terlukis di kulitnya, atau sakit yang menyerang tubuh hingga di
persendiaannya, tetap saja ia merasa terluka. Dan itu tidak kalah sakit, karena
ia menyerang bagian dalam, tepat pada hatinya, .. Luka itu terkoyak mengerikan.
---
Hyundai itu berhenti tepat di depan gerbang sekolah
ShanDong. Menarik perhatian beberapa pasang mata siswa yang saat itu baru saja
keluar. Menatap ke arah sosok namja paruh baya yang masih terlihat gagah dengan
stelan jas hitamnya itu keluar dari balik pintu mobil yang dibukakan seorang
bodyguard. Bentuk rahangnya menegaskan bahwa sosok itu memiliki wibawa yang
tinggi.
Siapa yang tidak kenal dia? Seorang CEO di perusahaan
GyeoYang Departement Store, Lee Jung Hwan. Masuk dalam jajaran 5 besar orang
terkaya di Korea dan sudah pasti jadi namanya juga tercantum di daftar
peringkat secara dunia. Tapi yang membingungkan saat ini adalah rencana
kedatangannya yang tidak terduga sama sekali.
Lee Jung Hwan tersenyum dan sesekali mengangguk kecil
membalas setiap sapaan dari seorang siswa yang melewatinya. Hingga pandangannya
tertubruk pada seseorang yang berdiri di dekat tembok gerbang. Langkahnya
terhenti. Wanita kurus itu juga turut menatapnya dengan raut keterkejutan lalu
perlahan-lahan berubah dingin. Beberapa detik berlangsung, sampai si wanita
kurus itu melarikan diri.
“Kakek…” panggil sebuah suara mengalihkan perhatian Lee
Jung Hwan. Seorang bocah berseragam SMP itu berlari ke arahnya dengan senyum
lebar dan tangan kanan yang melambai-lambai ke atas. Seketika aura tidak beres
yang tadi sempat bertandang ke hatinya semenjak melihat wanita kurus itu sirna
begitu melihat wajah sang cucu. “—Kakek ke sini ada pertemuan, ya?” tanyanya
polos.
“Annio. Kakek ke sini untuk menjemputmu Jun Hae~aa.” Sahut
si Kakek yang sukses membuat Jun Hae tak berkedip mendengarnya.
“Jeongmalyo? Kakek menjemputku?”
Jung Hwan terkekeh kecil. Ya, bagaimana Jun Hae tidak
terkejut? Ini adalah kali pertamanya ia pulang sekolah di jemput oleh sang
Kakek yang dulu sempat mengacuhkannya dan bersikap seolah-olah ia tidak pernah
ada.
“Ne—Kkaja!” ajak Jung Hwan seraya merangkul pundak
cucunya dan langsung membawanya masuk ke dalam mobil.
Jun Hae pikir, ini
adalah catatan terindah pertama kali yang terjadi bersama sang Kakek. Sepanjang
perjalanan ia tidak pernah berhenti tersenyum bahagia. Mendengarkan sang Kakek
bercerita tentang masa mudanya dulu. Lalu tertawa terbahak-bahak sampai matanya
berair. Ah, Kakeknya yang sekarang memang bukan Kakeknya yang dulu. Dan Jun Hae
pikir, ini adalah sesuatu yang patut ia syukuri.
---
“Aku pulang…” suara lesu Hyo Min terdengar beriringan
dengan decitan pintu yang tertutup. Tubuhnya yang masih terbalut seragam
sekolah tampak gontai memasuki ruang tengah rumah. Lalu langkahnya terhenti di
depan anak tangga, begitu matanya menangkap sosok bocah laki-laki berumur
sekitar 11 tahunan itu tengah asik menatapi layar TV di hadapannya dengan
jari-jari yang sibuk memencet-mencet tombol Playstation di tangannya.
“Gyun Hee~aa…” panggilanya, tapi tidak mendapat respon.
Jangankan menjawab, menoreh pun bocah itu tidak. “—YA! Kau punya telinga
tidak?—GYUN HEE~aa!”
“WAE? Kau tahu kalau suaramu itu menganggu konsentrasiku?
Pergi sana! Kau itu sama saja dengan mereka!” sahut Gyun Hee kasar. Sedikit pun
tidak mengalihkan pandangan dari layar TV di depannya.
“Apa maksudmu berbicara seperti itu?” balas Hyo Min,
“Siapa yang kau sebut mereka, eoh?”
Dengan wajah suntuk yang sudah kelewat batas, Gyun Hee
menghempaskan begitu saja PS di tangannya. Bangkit dari posisi duduknya.
Berdiri menghadap Hyo Min dengan tatapan yang begitu tajam.
“Apa Nuna tau bagaimana perasaanku setiap kali mendengar
Eomma dan Appa beradu mulut? Apa Nuna peduli denganku yang harus menutup
telinga dalam-dalam di bawah bantal sendirian?! Sementara Nuna di luar sana
bersenang-senang dan pulang malam seperti ini? Benar-benar tidak punya
perasaan!” bentaknya nyaring. Matanya merah menahan emosi yang begitu sangat
dalam hatinya.
Mendengar itu, dan melihat bagaimana ekspresi
namdongsaengnya, Hyo Min tak bisa bersuara. Ia terpaku di tempat. Kata-kata
Gyun Hee benar-benar membuatnya seperti terkena setrum. Hyo Min bungkam, dan
perlahan-lahan warna matanya berubah.
Dengan langkah besar Gyun Hee melewati Hyo Min. Berniat
meninggalkan Noonanya itu masuk ke dalam kamar. Tapi sebuah cengkraman
menyambar pergelangan tangannya. Membuat langkah Gyun Hee terhenti di depan
anak tangga pertama.
GREPP!
Seketika Hyo Min langsung memeluk erat tubuh kurus Gyun
Hee. Awalnya ia sempat berusaha melepaskan diri, tapi begitu mendengar nunanya
itu terisak, ia diam. Merasakan dagu seseorang mendarat di bahunya. Bergetar.
Dan cairan hangat yang ia yakini berasal dari mata sang Kakak itu
perlahan-lahan membasahi bajunya.
“Mianhae, Gyun Hee~aa… Jeongmal, .. mianhae…” Ucap Hyo
Min sengau.
Gyun Hee tidak bisa
menjawab dan tidak berhasil menahan dirinya untuk tidak ikut menangis.
---
“Ayo, makan ramyeon-nya.” Kata Hyo Min menyuruh adik lelaki
di depannya itu untuk makan. Tapi si adik tetap acuh dan memilih asik dengan
PSP di tangannya. “Ya~ Gyun Hee~aa… Nuna sudah susah payah membuatkannya
untukmu. Kau tak mau memakannya?”
Gyun Hee menggeleng.
“Aissh…” desah Hyo Min. Memilih meletakan kembali sumpit
di tangannya ke samping mangkuk ramyeonya.
Awal rencana ia memasak ramyeon malam ini kan adalah
untuk meluruskan kembali hubungannya dengan adiknya, Gyun Hee. Ia ingin
terlihat memperhatikan dan Gyun Hee mau membuka diri untuknya. Menghilangkan
kesan awkward seperti saat biasanya saat mereka berdua bersama.
Hyo Min meletakan kedua siku ke meja, lalu mengaitkan
jari-jari tangannya satu sama lain, supaya ia bisa menyandarkan dagunya di
sana. Sejenak tampak berpikir, “Ah!” serunya begitu mendapatkan ide. Telunjuk
tangannya terangkat ke atas. Seperti ada bohlam terang yang menyala di
kepalanya. “—Chejun pajeoni eottaeyo?”
Mendengar nama makanan kesukaannya disebut seseorang,
Gyun Hee akhirnya teralihkan dari PSP-nya.
“Nuna mau membelikannya?” tanyanya sudah mulai tergoda
akan tawaran sang Kakak.
“Nde~ Nuna akan mentraktirmu malam ini. Yah, setidaknya
untuk ucapan maaf Nuna yang akhir-akhir ini tidak mempedulikanmu. Eottae? Kau
mau, kan?—Ayo, lah…”
Gyun Hee bimbang. Melihat tatapan meyakinkan Nuna-nya,
iman Gyun Hee goyah. Sejenak mempertimbangkannya dalam hati, “Algeseo, ..” dan
akhirnya Gyun Hee pun menganggukan kepala.
“Anak pintar!” seru Hyo Min dengan senyum kemenangannya.
Lalu merangkul sang adik menuju rumah makan yang dulu menjadi langganan
keluarga mereka.
Hyo Min berharap semoga malam ini bisa membuat mereka
melupakan sejenak tentang sakit akibat pertengkaran kedua orang tua mereka, dan
ia bisa kembali akur dengan adiknya, .. Gyun Hee.
---
“Ada yang tidak beres sepertinya. Apa yang dia lakukan di
sana?” gerutu seorang namja setengah baya itu seraya melepas kacamatanya, lalu
meletakannya begitu saja ke atas meja kerja di hadapannya. Wajahnya menerawang,
mencoba menelisik kejadian di depan gerbang sekolah tadi sore saat ia menjemput
Jun Hae. Tapi otaknya tidak juga mengajukan pendapat. Dan tidak bisa ia
pungkiri sekarang, hatinya mulai dijalari rasa cemas akan suatu hal yang tidak
diinginkan terjadi di masa depan. “—Aku harus bertemu dengan wanita itu!”
ucapnya dengan raut wajah penuh keseriusan.
---
“Sekali Appa bilang tidak boleh, ya tidak boleh!”
Hye Rim tertunduk di sofa ruang tengah. Ayahnya
membentaknya keras. Tidak tahu lagi harus bagaimana caranya ia menyampaikan
keinginannya agar orang tuanya menyetujui. Ia sudah berusaha membujuk mereka
dengan kesungguhan, tapi tetap tak ada izin yang ia dapat.
Ibunya tampak prihatin melihat putrinya yang kini seperti
sudah kehabisan tenaga melawan kerasnya pendapat sang Ayah. Ia duduk di samping
Hye Rim, membelai punggung anaknya itu untuk menenangkan. Matanya menatap ke
arah suaminya, seperti mengatakan “Sudah, jangan bentak dia lagi!”. Sang suami
hanya bisa menghela nafas, lalu kembali mengambil tempat di kursi malasnya.
“Ikuti apa kata Appa sama Eomma, ne~? Di sini pun kau
masih bisa melanjutkan sekolah di sekolah mana pun yang kau mau. Mau yang
sekolah internasional, Appa dan Eomma selalu mendukung. Asal dengan satu
syarat, kamu tetap harus di sini. Jangan berpikir untuk hidup di luar sana sendirian.
“Hye Rim~aa… Appa dan Eomma mengambil keputusan untuk
tidak mengizinkanmu sekolah ke Seoul, bukan karena Eomma dan Appa jahat dan
memutuskan untuk mengekangmu. Tapi karena Appa dan Eomma sayang. Kita berdua
tidak tega membiarkanmu hidup sendiri di luar sana.”
Hye Rim tetap diam. Tidak menyahut.
“—Sekarang kau sudah besar. Tahu bagaimana berpikir lebih
dewasa. Jadi mengertilah dengan Appa dan Eomma. Ini juga demi kebaikanmu.”
“Geurae, .. aku sudah besar. Tapi Appa dan Eomma
memperlakukanku seperti anak kecil.” Sahutnya yang sukses membuat sang Ayah di
kursi malas kembali menatapnya dengan raut terkejut.
“Aku sudah berusaha berpikir dewasa. Memutuskan untuk
bersekolah di Seoul dan belajar untuk hidup mandiri di sana. Karena Appa dan
Eomma tidak mungkin menemani sampai aku tua. Dan mustahil aku harus bergantung
selamanya kepada kalian.
“Tapi Eomma dan Appa malah tidak mengijinkan. Lalu
menyuruhku berpikir sedikit dewasa. Benar-benar aneh, .. bagaimana mungkin aku
bisa berpikir dan bersikap dewasa kalau terus-terusan dikekang dalam kemanjaan
seperti ini?!”
“Tutup mulutmu Hye Rim~ah!”
“Appa, .. Kau ingatkan waktu itu sempat mengatakan kalau
kau akan mendukung apapun cita-citaku? Aku bilang aku ingin sekolah
setinggi-tingginya dan mendapat beasiswa luar negeri, Appa pun tersenyum
mendengarnya. Dan dengan tegas mengatakan, kalau Appa akan selalu ada di
belakangku untuk memberi semangat. Tapi kenapa sekarang Appa malah
mengingkarinya? Bagaimana mungkin aku bisa mendapat beasiswa keluar negeri
sementara hanya untuk ke Seoul pun Appa melarang?!”
Seketika Ayahnya terdiam.
“Sudah, Hye Rim~ah, .. sudah…” ucap Ibunya berusaha
mengendalikan suasana panas di ruangan itu.
Tapi Hye Rim seolah tidak memiliki telinga, ia tidak
mempedulikan sang Ibu di sampingnya dan terus saja menatapi sang Ayah yang
bungkam di kursi malasnya dengan tatapan menuntut.
“Lebih baik sekarang masuk kamarmu, nanti biar Eomma sama
Appa bicarakan lagi, ne~? Kkaja!”
“Jangan bermimpi terlalu tinggi, Hye Rim~ah, .. Appa
tidak ingin kau sakit seperti bibimu.” Akhirnya, setelah sepersekian detik
menutup mulut, Appa-nya pun angkat bicara. Suaranya terdengar lemah. Seperti
ada luka tersendiri yang selama ini menuntutnya untuk bersikap keras pada Hye
Rim.
“Dengan mengekangku seperti ini, sama saja membuat aku
sakit lebih awal. Appa membuat aku benar-benar harus mematikan keinginanku
sebelum mencoba berusaha, .. Appa yakinlah, aku bukan bibi.” Ujarnya terdengar
memelas. Berharap Ayahnya meyakini kesungguhannya selama ini. Tapi si Ayah
malah tidak menjawab dan memilih bangkit dari kursi malasnya, lalu melangkah
masuk ke kamar.
---
“YA! Di mana bocah itu? Kalian sudah menelponnya?”
“Sudah. Malah sudah berpuluh-puluh kali, tapi tidak
diangkat.” Jawab salah satu altlet basket sekolah Sang Dong.
“Bagaimana ini bisa terjadi, sih? Kalian melihatnya sudah
ke sini, bukan?” tanya Coach lagi dengan raut wajah kelewat cemas. Bagaimana
tidak, salah satu pemain andalan mereka tiba-tiba menghilang.
“Ne~, .. Dia sudah ke sini sebelumnya. Malah kita berdua
sempat ngobrol. Lalu dia bilang, dia mau ke toilet. Tapi, setelah itu tidak
kembali-kembali lagi.”
“Kalian sudah ng-cek ke toilet?” si Coach nanya lagi yang
langsung mendapat anggukan kompak dari atlet-atlet didikannya.
“Lima kali malah!—Wae? Pelatih nyuruh kita ng-cek lagi ke
sana? Gile aje, .. lima kali aja udah bikin kita dapat tatapan aneh dari si
OB.” Celetuk salah seorang dari mereka yang berambut plontos. Dan langsung
diaminkan sama anggukan setuju dari yang lain.
Coach hanya bisa menghela nafas. Wajahnya kusut. Nggak
nyangka disuruh ngurus anak-anak nggak beres kayak gitu.
“Coba telpon lagi! Waktu kita tinggal 10 menit. Pokoknya
saya nggak mau tahu, gimana caranya kalian bisa buat dia kembali ke sini!”
“MWO?”
*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar