Kamis, 30 Januari 2014

A Cup Of Ice Cream [Sekuel]




*

Author’s POV—
Kenangan masa lalu kembali membentang seperti layar lebar di benak seorang Kyu Hyun. Menatap nanar sebuah benda yang ia pegang sedari tadi. Pigura kayu berukir itu… Foto seseorang terpampang manis di dalamnya. Selayaknya senyum orang itu, rasanya begitu membekas. Kadang dengan mengingatnya, ia menemukan sesuatu yang berbeda, juga rasa sakit yang mengiringi. Tak berubah sama sekali, semenjak skenario Tuhan itu dimainkan. Waktu seperti sudah berhenti dan tanah yang ia pijak runtuh. Bahkan saat menarik nafas, ia rasa yang dihirup bukanlah oksigen lagi, tapi debu yang membuat sesak paru-parunya. Semua karena seseorang… yang dulu pernah membuatnya kesal karena ejekkan, lalu sebuah senyum ketulusan mengubahnya menjadi cinta, dan entah kenapa karenanya ia terseret dalam sebuah skenario kebohongan. Ah, terdengar sangat memiriskan memang...
“Dasar cengeng! Kenapa kau menangis di sini?” suara itu, masih diingat Kyu Hyun. Bahkan intonasinya sekali pun. Seorang bocah perempuan datang dengan tiba-tiba, menghampirinya dan mengatainya sembarangan.
Kyu Hyun bahkan sempat memperlihatkan kemarahannya dengan menatap tajam bocah itu. Masih dalam posisi memeluk lutut di bawah pohon. Waktu itu Kyu Hyun berumur sekitar 10 tahun, saat diajak pergi ke acara resepsi pernikahan sahabat Ibunya yang kedua. Ia sempat tidak mau, karena ia takut kalau-kalau Ibunya juga akan melakukan hal serupa. Yeah, sudah dua tahun lamanya memang, Ibu Kyu Hyun juga menyandang status single parent. Ayahnya meninggal karena kecelakaan, dan saat itu ia masih berumur sekitar 8 tahun.
Alasan Kyu Hyun melarikan diri ke taman dekat hotel yang menjadi tempat berlangsungnya resepsi pernikahaan itu, ialah karena ia marah dengan Ibunya yang asik bercengkrama dengan seorang laki-laki berjas. Sampai-sampai seperti tidak mengingat dirinya lagi yang berdiri mematung dengan perasaan was-was di samping. Ia pikir, tidak ada yang istimewa juga dari laki-laki itu. Ya, memang sih dilihat dari fostur tubuh, beliau terlihat sangat gagah. Tapi kalau dari wajah, ia pikir Ayahnya lumayan lebih baik.
“Kenapa kau menatapku begitu?” ucap bocah di hadapannya itu lagi terdengar menantang. “Apa kau tidak malu?—Hey! Kau itu laki-laki!”
Kyu Hyun membuang wajah, sementara bocah itu melangkah mendekat, kemudian duduk di sampingnya. “Matamu bengkak!” ucapnya, dan seketika itu juga Kyu Hyun memalingkan wajah ke arah lain. Tidak ingin bocah tidak dikenal itu lebih intens menelisik bagaimana raut wajahnya sekarang.
“Kau punya masalah?” tiba-tiba nadanya merendah, bertanya kepada Kyu Hyun. Tapi tidak mendapat jawaban. Beberapa detik berlalu dalam kebisuan. Bocah itu berhenti mengoceh sementara Kyu Hyun berusaha menahan isaknya agar tidak keluar.
“—Kau merindukan Ayahmu, ya? Aku tadi mendengarmu mengatakan itu.”
Kyu Hyun tersentak. Jadi, bocah itu sudah mendengar semuanya? Semua yang ia lontarkan selama menangis tadi?
“Ah, aku pikir kita berdua sama. Aku juga merindukan Ayahku.”
Kali ini, Kyu Hyun pun menoleh. Menatap gadis di sampingnya itu. Mendengarkan ia bercerita, kali ini terlihat menghayati tanpa menatapnya dengan tatapan tajam lagi.
Gadis itu, suaranya tiba-tiba membuat hati Kyu Hyun bergetar. Wajahnya yang tadi berhasil mengesalkan hatinya, kini tiba-tiba menjadi sangat miris. Tatapannya lurus ke depan, seperti membaca wacana yang menyakitkan tentang kehidupan di sana.
“Aku merindukan Ayahku, meskipun aku tidak pernah melihatnya secara langsung. Aku hanya mendengar cerita Ibu, Ayahku adalah sosok yang gagah. Hehehe~. –Ia juga sangat menyayangi keluarganya. Setiap hari, ia selalu menyempatkan diri berkunjung ke tempat Nenek, membawakan makanan kesukaannya. Namun itu harus terputus, saat keadaan Ayahku benar-benar lemah karena kanker otak.”
Ia menarik nafas sejenak, memberi jeda ucapannya. “Dan sekarang, Ibuku menikah lagi. Aku punya Ayah sekarang. Dia baik kepadaku, juga sering mentraktir es krim strawbery,” Bocah itu nyengir. Matanya yang sipit jadi terlihat seperti bulan sabit. Tanpa ia sadari, Kyu Hyun juga ikut menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyum manis.
“—Kau suka es krim?”
“Ng?”
“Suka tidak?” tanya bocah itu lagi.
Kyu Hyun mengangguk canggung, “Nde~”
Bocah itu menjentikkan jarinya girang, “Kalau begitu, ayo ikut aku beli!”
“Di mana?”
“Di sana!” ia menunjuk sebuah kedai yang berada tidak jauh di depan. “—Kkaja!”
Kyu Hyun tidak bisa mengelak, begitu bocah yang ia belum tahu siapa dan datang darimana itu menarik pergelangan tangannya. Membawanya menuju tempat yang ia maksudkan tadi.
---
“Berarti kita sama, ya?”
Kyu Hyun mengangguk, menanggapi komentar bocah perempuan yang berjalan di sampingnya. Mereka lalu duduk berdua di bangku kayu yang ada di taman. “Ayahku kecelakaan.” Ucapnya, kemudian kembali menikmati es krim di tangannya.
“Tapi syukurlah, aku tidak cengeng sepertimu!” celetuk si bocah itu lagi, tapi kali ini tidak mendapat respon sebal dari Kyu Hyun ataupun tatapan tajam seperti awal mereka bertemu.
“—Ah, ne~… Hampir lupa! –Chae Rin imnida.”
Kyu Hyun menolah, bocah itu tersenyum lebar dengan tangan kanan terulur.
“Nde~! Kyu Hyun imnida~” ucapnya membalas uluran tangan mungil itu.
“Sekarang kita berteman, ya?”
“Ng?”
***
Kyu Hyun tersenyum miris. Potongan kenangan masa lalu itu, kembali terulang. Ditatapnya kembali benda persegi berukir di tangannya itu.
“Kau terlalu hebat. Tapi itu sangat menyebalkan!” ucapnya lalu mendesah lemah.
***
Kyu Hyun’s POV
Sempat aku berpikir bahwa keajaiban pernah dengan nyata menghampiriku. Malaikat kecil yang kukira adalah utusan dari langit itu menemuiku hanya dalam kurun waktu tak sampai 1 jam. Setelahnya aku tak pernah bertemu dengannya lagi, atau sekedar berpapasan dengannya di jalan secara tak sengaja.
Bertahun-tahun aku hidup dalam pencarian yang tak kunjung mendapatkan titik terang. Menantinya di tempat pertemuan tak beralasan itu, sampai rasanya tubuhku yang sudah berbalut beberapa lapis kaos dan dilindungi mantel diluarnya itu benar-benar membiru ditimpa butir-butir salju putih dari langit. Tak beranjak hingga jam menunjukkan pukul 1 malam. Aku mulai memupuskan harapanku di saat itu, mengerti bahwa semuanya hanya kesia-siaan jika diteruskan.
Entah kenapa, tiba-tiba dengan mudahnya embun hangat keluar dari sudut mataku, berbaur dengan udara musim dingin yang menusuk tahun ini. Aku tidak mempunyai tujuan lagi, bahkan alasan untuk apa aku masih bisa bernafas. Seperti pohon kering di tengah tandusnya gurun, aku pikir begitulah yang bisa kupaparkan tentang bagaimana aku saat itu.
Hanya berselang beberapa bulan setelah pesta pernikahan Bibi Hae In. Ibuku memutuskan menikah lagi dengan seorang CEO atau pemegang kekuasaan tertinggi di SHINHAEDONG Corp. Sebuah perusahaan bisnis yang membawahi beberapa perusahaan bisnis lainnya.
Ibu pun mulai jarang berada di rumah, karena harus mengikuti suaminya menghadiri beberapa acara konverensi pers, talk show dan sebagainya. Lalu diperkenalkan sebagai istri sah Tn. Choi Siwon, duda beranak 2 yang termasuk dalam jajaran konglomerat di Korea Selatan.
Tidak jarang aku menemukan berita tentang itu hadir dalam majalah. Bahkan menjadi covernya. Dan aku melihat itu terpampang setiap harinya saat aku lewat hendak menuju sekolah. Atau juga hadir di layar televisi yang menayangkan acara-acara talk show di mana Ibuku dan suami barunya itu diundang sebagai bintang tamu. Tidak membutuhkan waktu lama setelah pesta pernikahannya, nama Ibuku mulai dikenal banyak orang. Dibicarakan di sana-sini, bahkan tak sedikit yang beranggapan miring tentangnya. Berpikir bahwa ada maksud lain-lah dari rencana Ibuku memutuskan menikah dengan seorang Choi Siwon.
Entah kenapa, aku merasa perubahan atmosfer itu tak hanya terjadi di rumahku, tapi juga di sekolah. Teman-temanku seperti sedikit demi sedikit menjauh. Tidak tahu, apakah memang benar mereka yang mulai tak menyukaiku, atau karena aku yang setiap hari merasa bahwa kepercayaan diriku digrogoti perlahan-lahan.
Sering menghabiskan waktu sendiri, tak punya lawan bicara, aku pun berubah menjadi sosok yang pendiam. Tertutup dengan siapapun. Di dalam hati, aku merasa ada tekanan yang membuat aku menciut setiap kali melangkahkan kaki. Berpikir, jika seandainya bumi bisa melenyapkanku dengan segera, mungkin akan lebih baik.
Disaat seperti itulah, harapan untuk dipertemukan dengan sosok malaikat kecil yang sempat menemuiku beberapa bulan sebelumnya kembali timbul. Mungkin… jika dengannya aku bisa menemukan kecocokan.
Aku dan dia berada dalam posisi yang sama. Meskipun kepahitan ini lebih dahulu ia rasakan. Aku ingin berbagi dengannya. Tidak masalah jika sambil menangis dan mendengarnya mengataiku cengeng lagi. Yang kuinginkan hanya ingin bertemu malaikat kecil itu, tapi sepertinya Tuhan tidak memperkenankan do’aku.
---
Sampai pada datangnya suatu hari… Ketika aku benar-benar sudah bisa melupakannya. Melupakan semua harapan-harapanku untuk kembali bertemu dengan ia yang dulu pernah kusebut malaikat.
Bertahun-tahun mengubur namanya dan semua hal tentang ia dan pertemuan tak beralasan itu, aku menemukan sosok lain yang berhasil mengatasi juga menghilangkan tekanan-tekanan batin yang selama ini membebaniku. Hubungan kami begitu sangat mesra memang, bahkan aku sudah hampir akan menyematkan cincin platina indah ke jari manis gadisku. Jika saja waktu itu Eomma tidak menggagalkannya dengan cara mengajakku pada acara kumpul bersama keluarga yang tiba-tiba saja setelah itu langsung memutar balik duniaku yang terasa baru saja mendapat cahaya, kini menjadi menghadap pada arah yang gelap.
Acara yang semula kukira adalah hal yang biasa terjadi dikeluarga kami beberapa tahun ini—semenjak pernikahan Ibu— ternyata sebenarnya adalah rencana penjodohan yang ditujuakan kepadaku dan seorang gadis yang adalah putri dari Bibi Hae In. Kau bisa menebak siapa dia? Benar sekali jika sudah bisa berpikir bahwa dia adalah sosok bernama Lee Chae Rin, malaikat kecil yang dulu beberapa kali mengatai diriku namja cengeng.
Demi Tuhan… Jika seandainya rencana mereka ini terjadi beberapa tahun yang lalu, saat aku masih memiliki harapan untuk melihatnya, walaupun hanya tersisa segelintir, mungkin akan menjadi hadiah terindah dalam hidupku. Tapi disayangkan untuk sekarang, perasaan itu berubah menjadi kekesalan. Bukan aku membencinya, hanya saja aku kesal kenapa ia hadir di waktu yang terlambat dan sangat tidak tepat. Kenapa saat aku membutuhkannya dia sama sekali tidak hadir, membiarkan aku sendiri menunggunya di taman hingga jam 1 malam dan hampir saja mati beku kedinginan?
Hhh~
Hidup benar-benar sulit untuk dimengerti memang.
***
Setelah kejadian beberapa hari sebelumnya, di restourant mewah yang sengaja dibooking kedua orang tuaku untuk mengadakan acara kumpul bersama yang melibatkanku secara mendadak itu, benar-benar membuat keadaan rumah semakin tidak membaik. Aku tak menjawab setiap kali Eomma mengajakku bicara, atau menyahut saat ia berusaha membangunkanku dipagi hari. Seharian tidak pernah berada di rumah dan pulang saat jam menunjukkan lebih dari angka 12 malam.
Dan hari ini, sepulang dari kegiatanku di kampus, aku memutuskan untuk bertemu dengan seseorang di sebuah café daerah kawasan Sinsa-dong. Sudah lebih dari 5 menit sepertinya aku duduk di bangku sebuah meja pojok café berkapasitas 4 orang ini. Menunggu orang itu untuk memenuhi janji kami beberapa jam yang lalu lewat sambungan telpon.
Hingga beberapa menit kemudian, aku melihat sosok yang memiliki perubahan dari penampilannya yang dulu itu memasuki café dan berjalan mendekat ke arahku.
“Kau ingin memesan?” tawarku begitu ia mengambil tempat di sebuah bangku yang berhadapan denganku.
Ia menggeleng, “Tidak usah. Aku tidak punya banyak waktu, jadi cepat sampaikan apa yang ingin kau katakan.”
Sejenak aku berpikir, mendengar ucapan orang ini, ah… aku semakin merasa dia memang bukanlah sosok yang dulu menemuiku. Seorang malaikat kecil kini sepertinya memang tak bisa lagi digunakan untuk memanggilnya. Dia tidak sehangat dulu. Semua tentangnya kini terasa sangat dingin. Dari raut wajah hingga cara bicara dan nada ucapannya. Semua berbeda.
Aku berdehem sebentar, sebelum memutuskan memulai pembicaraan, “Kau menyukai rencana ini?—Ah, maksudku… Apa kau menerima kalau kita ditunangkan?”
“Sama sepertimu. Aku tak pernah menginginkannya.” Jawabnya masih dengan ekspresi dingin.
“Lalu—?”
“Aku tau kita masing-masing sudah memiliki seseorang. Dan itu mustahil untuk kita tinggalkan. Kau memiliki seorang yeoja dan aku juga memiliki namja. –Meskipun aku tahu, dengan mencoba menolak penjodohan itu bukan sesuatu yang mudah.” Ucapnya lalu terdengar mendesah lemah.
“Apa yang bisa kita lakukan?” tanyaku yang berusaha menutupi sesuatu yang… entah kenapa tiba-tiba merasakan kekecewaan yang semakin menumpuk. Aku tidak terpikir ia akan menjawab “Iya”, tapi kenapa mendengarnya memiliki sosok lain aku malah kecewa? Apakah selama ini yang sebenarnya adalah aku masih menaruh perasaan lebih terhadap gadis ini? Ah… Kyu Hyun~ah! Apa yang sebenarnya terjadi padamu?
Gadis itu sejenak menarik nafas, tampak berpikir sebelum ia menghembuskannya keluar dan mulai bersuara, “Maaf… Untuk saat ini aku belum menemukan sesuatu yang mungkin bisa membatalkan rencana orang tua kita, juga aku tidak bisa jika harus meninggalkan namjaku. Hidup seperti biasanya saja dan beranggapan pertemuan beberapa hari yang lalu itu tidak pernah terjadi, aku rasa akan lebih baik untuk sementara. Tentang rencana pembatalan ini, kita bahas lain kali—Sepertinya aku harus pergi sekarang. Masih banyak urusan penting yang harus kukerjakan.”
“Ah, ne~! Mianhae, mengganggu waktumu.”
“Gwenchana.” Sahutnya sembari mengenakan hand bag miliknya ke pundak, “Annyeonghi gyeseyo.”
“Annyeonghigaseyo.”
---
Aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi denganku semenjak pertemuan singkat di café waktu itu. Entahlah… Seperti ada sebagian dari hatiku yang tidak menerima dia yang ternyata juga sudah memiliki seseorang. Egoiskah itu? Aku pikir ini tidak salah terjadi pada seseorang yang dulu sempat menanti kedatangannya. Hanya saja ini terlihat sangat bodoh memang, dan bahkan disadari oleh sosok yang saat ini bersamaku.
“KyuHyun~ah, kau kenapa? Kau terlihat sering melamun akhir-akhir ini. Ada masalah?”
Mendengar pertanyaannya, aku mencoba menampilkan senyum sebiasa mungkin. Meraih tangannya yang terdampar di meja, dan menggenggamnya erat. Aku membalas menatapnya dalam, “Annio~ Aku baik-baik saja.”
“Jeongmal?”
Aku mengangguk meyakinkannya. Dia menarik nafas dalam dan membalas genggaman tanganku. Itu berlangsung sampai Kim Saem masuk untuk menyampaikan mata kuliah hari ini. Ia mengalihkan pandangannya ke depan kelas, sementara aku masih tetap mencoba memandangi wajahnya dari bagian samping. Demi Tuhan… Gadis yang berada di sampingku setiap harinya ini, benar-benar memiliki hampir seluruh hatiku. Seseorang yang selalu menanyakan bagaimana keadaanku, mencemaskan bila sesuatu terjadi kepadaku. Terlalu kejam sekiranya apabila aku berani meninggalkannya. Siapapun tolong yakinkan aku, bahwa dia adalah segala-galanya. Dialah malaikatku untuk saat ini dan seterusnya. Bukan orang lain… Dan tidak akan pernah ada yang lain.
---
“Mwo? Paman masuk rumah sakit?”
“YA! Kyu Hyun~ah. Dia ayahmu. Berhenti memanggilnya paman!”
Ah, Eomma~ Baru saja kumendengar suara panikmu memberitahukan Tn. Choi Siwon masuk rumah sakit, tapi tiba-tiba berubah memekik memperingatkanku, “—Cepat datang ke sini!”
“Aku tidak tahu di rumah sakit mana.” ucapku mencoba untuk membela diri. Ah, padahal sebenarnya malas sekali. Paling hanya karena asam lambung yang berlebihan seorang Paman Choi bisa masuk rumah sakit. Eomma saja yang berlebihan.
Setelah mendapat keterangan yang lengkap dari Eomma, aku langsung memutar haluan yang semula hendak menuju rumah, kini berbelok untuk menyusul mereka di rumah sakit.
---
Tidak perlu waktu lama untuk seorang Cho Kyu Hyun menemui Tn. Choi Si Won yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan wajah yang kentara sekali pucatnya. Hanya menyapa, lalu menanyakan keadaannya, aku rasa sudah cukup. Lihatlah! Dengan begitu saja aku melihat gurat kebahagiaan di wajah seorang yang selama ini selalu kuhindari walaupun tidak secara terang-terangan. “Lain kali, Paman, —Aaakkk!!” refleks! Aku menjerit begitu merasakan ada yang mencubitku di bagian pinggang. Aku menatap Eomma mendelik di sampingku.
“Kau kenapa Kyu Hyun~ah?” Paman Choi bertanya. Terdengar khawatir.
“Gwenchanayo, Pa… Pa… hehehe…” aku nyengir begitu Eomma kembali menunjukkan kesangaran cara tatap matanya kepadaku. “—Aku pulang dulu. Anyeonghi gyeseyo.” Segera saja aku memutuskan berpamitan. Mengundang kebingungan memang untuk seorang Choi Si Won, aku tahu karena aku melihat raut wajahnya yang seperti menyimpan tanda tanya besar saat aku membungkuk kepadanya sebelum mengambil langkah menuju keluar pintu. Dan masih sempat kutangkap, Eomma menggelengkan kepalanya.
---
Aku melangkahkan ringan kakiku, menapaki koridor rumah sakit. Sampai suatu pemandangan di depanku, membuat langkahku terhenti. Seorang gadis berjalan berlawanan arah dengan tujuanku, dengan kepala menunduk dan tangan yang meremas-remas geram selembar kertas yang ia pegang.
Sejenak aku memandangi ia yang semakin mendekat ke arahku. Merasa bahwa aku mengenalinya, aku memutuskan untuk menegur begitu jarak di antara kami tak sampai dari 1 meter,
“Chae Rin~ssi.”
Gadis itu menghentikan langkahnya, menatapku lalu tersentak selangkah ke belakang. Entahlah… Apa reaksi itu hanya karena terkejut menyadari keberadaanku, atau ada sesuatu yang ia coba sembunyikan. Aku tidak tahu, tapi ini sangat membuatku penasaran.
“Kau… di sini? Sedang apa?” tanyaku menyelidiki.
“Itu bukan urusanmu!” sahutnya datar, lalu memutuskan melanjutkan langkahnya melewatiku, tapi dengan segera aku mencegat pergelangan tangannya.
“—Beritahu aku itu apa.”
Dan ia terlihat semakin gugup saat aku memintanya menunjukkan isi dari selembar kertas yang sudah kumal di tangannya itu, “—Ige mwoya?”
“Bukan apa-apa!” jawabnya, “—YA! Kyu Hyun~ah! Lepaskan tanganku! Aku masih punya urusan penting.”
“Pilih! Tetap menyembunyikannya atau—“
“Hoekk!”
“YA! Neon—“
“HOEEK!”
“Chae Rin-ah? Kau kenapa?”
---
Aku tidak peduli dengan keadaanku sekarang bagaimana. Rambut yang sudah berapa kali kuusak-usak kasar. Wajah yang terasa begitu kaku. Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana sebenarnya Tuhan menyusun skenario kehidupanku. Kenapa begitu sangat rumit. Aku belum bisa menangkap apa sebenarnya yang tersurat dari semua ini, selain hanya perasaan nyeri yang teramat menikam batinku.
Masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai, dan seperti tidak bertenaga sama sekali untuk memijak anak tangga demi anak tangga menuju kamar yang berada di lantai dua. Sesampai di sana, aku menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur. Suara itu… masih sangat jelas terputar di dalam otakku.
“Aku tidak membiarkanmu sendiri, hanya saja kau yang tidak pernah menyadari keberadaanku. Kau menungguku hingga jam 1 malam di taman itu, kan? Aku mengetahuinya. –Tapi kau tak pernah tahu tentang aku, bahkan saat kita berada pada Universitas yang sama, kau juga tak menyadarinya.”
***
Author’s POV
            Gambaran masa lalunya masih jernih sekali untuk Kyu Hyun ingat. Saat ia dan seorang gadis masa kecilnya itu keluar dari kedai sembari menantang se-cup es krim di tangan masing-masing, lalu bagaimana si gadis yang juga ia sebut malaikat kecil itu tersenyum kepadanya setelah menceritakan akan kecintaannya terhadap apa yang disebut dengan es krim strawberry itu.
            Ia tersenyum, lalu menarik nafas dan menghembuskannya pelan-pelan. Tertangkap matanya, seorang yeoja yang ia kenal melangkah menuju ke arahnya yang sore itu tengah duduk pada sebuah bangku di bawah pohon taman.
            “Mianhae, kau menunggu lama.”
Kyu Hyun menggeleng, “Anni, aku belum lama di sini… Duduklah!” ucapnya, mempersilahkan yeoja di hadapannya untuk duduk.
Yeoja itu pun mengambil tempat di sampingnya,
            “Chae Rin~ah, apa kau ingat kedai itu?” tanya Kyu Hyun, mengarahkan jari telunjuknya pada kedai yang ada di seberang taman.
“Eemmm…” Chae Rin mengangguk-nganggukkan kepalanya. Lalu menatap Kyu Hyun seolah-olah bertanya; mengapa?
“Kau masih menyukai es krim strawberry, kan? … Ah, karena hari ini aku sedang berbaik hati, aku akan mentraktirmu. Kau mau?”
Chae Rin menggeleng, “Sepertinya… Aku tidak menginginkannya untuk saat ini. Mian~”
“Wae?”
Melihat suasana wajah Kyu Hyun yang berubah begitu mendapat jawaban darinya, Chae Rin tersenyum, “Alasanku mengajakmu ke sini kan karena aku ingin menyampaikan sesuatu.”
“Ah…” Kyu Hyun mengangguk paham, “—Lalu? Kau ingin menyampaikan apa?”
Chae Rin mengalihkan pandangannya ke depan, sejenak menarik nafas sebelum ia memutuskan untuk memulai pembicaraan,
“Seperti apa yang sudah kau ketahui beberapa hari yang lalu. Aku berada dalam kondisi yang dulu juga pernah dialami almarhum Ayahku. Hanya saja, jika dulu ayah mengalami tumor otak metastatis, sedangkan aku adalah tumor otak primer.”
“—Ini termasuk dalam keadaan serius, karena tumor yang bersarang di dalam kepalaku tergolong ganas. Perkembangannya sangat pesat. Dokter menyarankan agar aku segera menjalani operasi pengangkatan.”
“Kau menyetujuinya?” serobot Kyu Hyun di sela ucapan Chae Rin.
“Untuk saat ini belum…”
“—Kemungkinan berhasil sangat tipis dibandingkan gagal, karena tumor ini sudah mencapai stadium yang gawat. Lagi pula, resiko lain yang harus kuterima adalah aku akan kehilangan semua memori ingatanku. Aku tidak bisa membayangkan apabila nanti tidak bisa mengingat tentang es krim strawberry. Hehehe.”
“Orang tuamu mengetahui tentang ini?” Kyu Hyun yang terlanjur masuk dalam garis cemas, tidak terpengaruh dengan kalimat lelucon yang sempat Chae Rin lontarkan.
“Nde~ mereka tahu. Tapi… aku menyembunyikan tentang bagaimana perkembangannya akhir-akhir ini.”
“—Aku sempat berusaha untuk menyembunyikan ini dari mereka, tapi tetap saja tidak bisa. Ibuku bahkan terlampau khawatir. Jika saja aku tidak pintar-pintar menyiasatinya, mungkin sudah lama aku diboyong ke Paris.”
“—Tapi aku beralasan kalau aku masih smesteran. Dan dengan berbagai alasan lainnya, akhirnya mereka menyerah, asal dengan satu syarat, yaitu aku harus rutin menjalani check up, mengikuti saran dokter, dan memberi kabar kepada mereka di sana.”
“Hhh~, kau ini.” Kyu Hyun melengos, “Kenapa kau tak mengikuti saran orang tuamu saja, eoh? Ikut mereka ke Paris itu lebih baik daripada hidup sendirian di sini!”
“Siapa bilang aku sendiri?” balas Chae Rin, “Aku tidak sendiri. Aku punya seseorang yang selama membuatku berhasil melupakan tentang penyakitku.”
“O ya? Tapi jangan katakan dia juga tidak tahu tentang keadaanmu yang sebenarnya?”
Chae Rin nyengir, “Hehehe. Dia memang tidak tahu.”
“OH, TUHAN!!” Kyu Hyun mengusak-usak geram rambutnya, “Bahkan dalam kondisi buruk seperti ini, kau masih bisa tersenyum seperti itu? –Jincha!”
“Aku tidak pernah beranggapan kalau kondisiku ini buruk. Dalam keadaan bagaimana pun, aku sangat sadar bahwa semuanya adalah skenario Tuhan. Bukankah kita hidup memang untuk bersiap menunggu kematian?”
Kyu Hyun terhenyak mendengar sahutan dari mulut gadis di sampingnya itu. Membuat Kyu Hyun tak bisa menjawab. Dan memilih untuk bungkam.
“Kyu Hyun~ssi, kau bersedian membantuku, kan?”
“NDE~?”
***
“Aku tidak bisa. Entahlah, aku tidak tahu kenapa. Tapi ini benar-benar sulit. Untuk memberitahunya akan keadaanku, aku tidak mampu membayangkannya bagaimana.”
“Ini sama saja menyakitinya dua kali lipat Chae Rin~ah.”
“Kyu Hyun-ssi, aku mohon. Ini hanya sekali, yang pertama dan yang terakhir aku perlu bantuanmu. Jebal… dowajusaeyo.”
“Neon… Jincha~”
“Terserah kau mau mengataiku bagaimana. Aku memang hampir gila hanya karena memikirkan bagaimana nanti jika harus menerima bahwa aku akan kehilangan semua ingatanku. Yang berarti aku juga akan melupakan semua tentangnya dan kami berdua. Aku pikir, lebih baik jika operasi nanti dinyatakan gagal dan aku tidak bisa diselamatkan.”
“Aku bahkan tidak mengerti bagaimana jalan pikiranmu, Chae Rin~ah…”
***
“Kyu Hyun~ah. Kau bisa mengantarkanku ke butik?“
“Mianhae, sepertinya-“
“Ah, algesseoyo. Aku mengerti…”
Tampak gurat kekecewaan pada wajah yeoja di samping Kyu Hyun, menyadari itu, dengan segara Kyu Hyun meraih tangannya, “Ji Hye~yya…” ucapnya dengan tatapan mata yang dalam, “Kau marah?”
“Anni!” sahut Ji Hye, “Sudahlah. Aku bisa sendiri, kok. Kau selesaikan saja urusanmu.” Lalu tersenyum tulus, membuat Kyu Hyun merasa benar-benar tidak nyaman, “Ah, Kyu Hyun~ah. Aku harus segera pergi sepertinya—Jangan memasang wajah seperti itu. Aku pergi dulu, ne~?”
Kyu Hyun membuang nafas sebelum menganggukkan kepalanya, mengiyakan Ji Hye yang melepaskan genggaman tangannya untuk pergi.
Sepeninggal Ji Hye dari hadapannya, Kyu Hyun merasakan ketidak-beresan suasana hidupnya akhir-akhir ini bertambah. Dia bukan seorang tunanetra yang tidak bisa melihat bagaimana ekspresi wajah Ji Hye begitu ia tidak bisa memenuhi keinginannya untuk sekedar diantarkan ke butik tempat Ji Hye bekerja. Ia bisa menangkap itu dan tentu saja ini semua membuatnya merasa benar-benar tidak nyaman. Lagi-lagi Kyu Hyun hanya bisa menarik nafas begitu menatap arah pergi sang yeoja yang tak terlihat lagi punggungnya.
“Mianhae, chagi~yya.” Desahnya lemah di sela-sela hembusan nafasnya.
---
Kyu Hyun sudah siap di atas motor sport berwarna biru tua miliknya di depan gerbang universitas. Sampai seseorang datang dengan langkah setengah berlari mendekat ke arahnya.
“Maafkan aku, lagi-lagi membuatmu menunggu.” Ucap orang di depan Kyu Hyun itu dengan nafas terengah-engah.
Kyu Hyun mengambil sebuah helm berwarna hitam yang tersangkut di kaca spion motornya, lalu menyodorkannya kepada orang itu, “Ini! Pakailah!”
“Ah, ne~”
“Chae Rin~ah, kau yakin dengan rencana ini?”
Sejenak Chae Rin terdiam. Ia baru saja selesai mengenakan helm ke kepalanya dan bersiap untuk naik ke motor, tapi mendengar pertanyaan Kyu Hyun, ia jadi terhenti. “—Aku sangat berharap jika kau mau memikirkan semua ini lagi.”
“Kau sudah bersedia membantuku. Jadi tinggal jalani saja apa yang sudah direncanakan. Aku tidak mengambil keputusan yang perlu dipikirkan dua kali!” jawab Chae Rin yang dengan segera naik ke atas motor.
Kyu Hyun yang tidak bisa menyahut lagi, kali ini hanya bisa menghela nafas panjang. Lalu menghidupkan motornya dan membawanya ke tempat yang sudah diberitahukan Chae Rin lewat SMS saat mata kuliah Kang saem tadi berlangsung.
Sementara di sana… Di balik pohon besar yang berada di seberang jalan, seseorang memperhatikan dua manusia yang kini sudah melaju dengan motornya. Matanya tampak berkaca-kaca, sementara tangannya meremas bajunya pada bagian dada. Seperti tidak percaya dengan apa yang sudah ia amati sedari tadi.
---
Kyu Hyun’s POV
Ini boleh dibilang seperti drama… Saat seseorang yang sudah mendapat janji bertemuan di sebuah taman—tempat dimana dulu ia meresmikan hubungannya dengan kekasihnya— tersenyum lebar begitu melihat sang kekasih yang ditunggu itu hadir tanpa tahu maksud dari kedatangan itu sebenarnya. Disongsongnya orang itu dengan senyuman termanis, lalu mengatakan kalau hari ini adalah hari spesial, karena itu ada sesuatu yang spesial pun yang ingin ia tunjukkan. Si kekasih masih menunggu dalam kebingungan sampai orang itu mengeluarkan sebuah kotak persegi kecil berwarna merah yang rupanya berisi sepasang cincin platina asli.
Menyematkan cincin itu ke jari sang kekasih dan ia sendiri, lalu memberi kecupan hangat pada dahinya, sampai sebuah kata “putus” membuatnya seperti tersambar petir pada sore hari yang cerah. Benar-benar mengejutkan, dan… Ah, IYA! Ini semua terkesan drama sekali memang. Tapi aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa bisa-bisanya aku menjadi salah satu tokoh dari skenario konyol ini?
Aku beranjak dari tempat pengintaianku, menuju motor yang kuparkir di depan. Beberapa menit menunggu, yeoja itu datang sambil menyeka air matanya dengan sebelah tangan. Aku ingin merutuk. Ini sebuah permainan bodoh! Dan parahnya, aku tidak bisa menghentikan semuanya. Bahkan tak bisa membantah begitu orang yang sudah ada di belakangku itu, menyuruhku untuk segera pergi.
Maafkan aku, atas kebohongan yang konyol ini. Terutama untuk dia yang sudah kukenal dengan baik. Adik tingkatku, Lee JinKi.
“Mianhae~”
Dan kurasakan pergelangan tangan seseorang melingkar di pinggangku. Saling terkait dan sangat erat.
---
Menggantungkah eposide drama ini? Ah, aku tidak tahu! Hanya saja aku ragu untuk tetap bermain di dalamnya. Sudah lebih 1 minggu aku tidak bertemu dengan seorang Lee Chae Rin, juga tidak mendapat apapun info tentangnya. Ini berlangsung semenjak kejadian di atap kampus waktu itu. Aku benar-benar menyesal…
Aku menghempaskan tubuhku begitu saja ke atas tempat tidur. Masalah Ji Hye yang akhir-akhir ini berubah dingin dan sulit diajak bicara juga membuat bebanku terasa bertambah 10x lipat.
Sampai handphone yang kuletakan di atas meja kecil samping tempat tidur bergetar. Aku bangkit untuk membaca isinya yang ternyata setelah kubuka adalah dari Chae Rin.
From: Lee Chae Rin
            Lusa aku akan menjalani operasi pengangkatan. Aku harap kau bisa datang sebelum aku memasuki ruangan x)
---
Author’s POV
            Hujan rintik membasahi bumi pagi itu. Keadaan langit hitam. Jam sudah menunjukkan pukul 10 lebih, tapi matahari belum juga menampakan diri.
Kyu Hyun melihat tetesan-tetesan kecil dari langit itu menabrak jendela rumah sakit. Semakin banyak dan bertambah setiap detiknya. Membuat kabur setiap pandangan yang mengarah ke keadaan luar.
Ia sudah berapa kali menghela nafas begitu memandangi apa yang sekarang ada dalam genggamannya.
“Maaf kalau harus meminta bantuanmu lagi. Hehehe… Tapi kau tidak keberatan, kan? Tidak susah, kok. Hanya memberikan surat ini untuk Ibuku apabila nanti aku sudah selesai dikuburkan, dan… Tolong kembalikan cincin ini kepada JinKi.”
---
“Kyu Hyun~ah! Bagaimana dengan Chae Rin? Kau tidak berbohong?”
Kyu Hyun melengos, menatap empat namja baru saja sampai di hadapannya dengan berbondong-bondong dan langkah yang tergopoh-gopoh itu. Salah satu dari mereka langsung melemparkan pertanyaan yang… entahlah, mendengarnya saja membuat mood Kyu Hyun bertambah buruk.
Begitu berniat menyahut, namun tidak sempat karena Dong Hae yang adalah teman sekelasnya itu menyerobot dengan pertanyaan yang lain,
“Orang tuanya di mana?”
“Chae Rin sudah masuk ruang operasi. Dan orang tuanya… Dia berpesan untuk jangan menghubungi mereka sebelum semuanya selesai.”
“MWO?” kaget empat namja di depannya itu serempak dengan ekspresi wajah yang sama.
“Lalu? Di mana ruangannya sekarang?” Ki Bum bertanya lagi.
“Ikuti aku!”
---
Empat orang namja itu terlihat hanyut dalam kerisauan satu-persatu. Duduk di bangku tunggu depan ruang operasi dengan gaya masing-masing. Ada yang tertunduk menatapi ujung sepatunya, menempelkan kedua siku tangan di atas lutut sementara telapak tangan menutup wajah, juga ada yang bersandar pada punggung kursi dengan tangan yang bersilang di dada.
Kyu Hyun menatap jengkel namja satu-satunya yang kini sedang mondar-mandir di hadapan mereka. Menggiggit jari-jari tangannya, lalu berhenti mendadak, “Jin Ki… Dia tahu ini?”
Mendengarnya, Kyu Hyun tersentak. Sedangkan 4 namja itu menatapnya dengan tatapan menuntut untuk mendapat jawaban.
Kyu Hyun menggeleng lemas, “Dia tidak tahu.”
“MWO?”
“—Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa kau menjadi satu-satunya yang tahu tentang Chae Rin?”
Lagi-lagi, namja yang bernama Kim Ki Bum itu membombardirnya dengan berbagai pertanyaan yang kali ini terdengar sedikit tidak enak di telinga Kyu Hyun.
“YA! Apa maksudmu? Tentang penyakit Chae Rin, bukan hanya aku yang mengetahuinya. Mustahil jika dokter yang sekarang mengoperasinya juga tidak mengetahui tentang hal ini!”
Aish, kenapa jadi kekanak-kanakan seperti ini? Entahlah… Dalam situasi seperti ini, Kyu Hyun benar-benar kalut.
“Sudah, sudah.” Sela Dong Hae, mencoba menyetabilkan suasana sembari menepuk-nepuk ringan pundak Kyu Hyun di sampingnya, “—Yesung~ah, kau bisa menghubungi Jin Ki, kan?”
Mendengar kalimat Dong Hae yang mengarah untuknya, Yesung menganggukan kepala. Kemudian mengeluarkan handphonenya dari saku, mencari nomer Jin Ki dan menghubunginya, sampai saat terdengar nada tunggu Yesung berjalan mencari tempat untuk berbicara.
---
Kyu Hyun’s POV
Beberapa menit setelah kembalinya Yesung, suasana kembali hening sekarang. Jin Ki sudah diberi tahu. Sementara Ki Bum kini sudah menghentikan tingkahnya yang mondar-mandir seperti setrika itu, menjadi berdiri dengan punggung bersandarkan tembok.
Aku menghela nafas. Baiklah! Hari ini akan ada perombakan skenario yang menjadikan kebohongan itu terbongkar. Cantik sekali! Dalam keadaan yang darurat seperti ini. Berhasil membuat aku kehabisan akal. Lalu melampiaskan apa yang bercampur aduk dalam benakku itu dengan mengusak-usak rambut sampai berantakan. Dong Hae sudah berapa kali menenangkan, tapi tetap saja hatiku merutuki akan apa yang sekarang terjadi. Kenapa harus ada perencanaan konyol itu? Yeoja yang benar-benar membuatku tidak habis pikir bagaimana sebenarnya jalan pikirannya. Apa ini memang adalah efek samping dari penyakitnya? Lalu aku… Demi Tuhan! Aku masih tidak mengerti kenapa aku bisa terseret dalam alur ini?
“Kau mau kemana?” salah seorang dari mereka bertanya, begitu aku melangkah meninggalkan kursi yang tadi kududuki.
Aku menatapnya, namja bertubuh paling pendek di antara kami, “Mencari angin.” Jawabku singkat yang setelahnya langsung melanjutkan langkah, berniat mencari tempat yang sedikit terbuka.
Namun beberapa meter saja, aku mendadak menghentikan langkah. Seorang namja yang tampak acak-acakan tatanan rambutnya juga wajah yang kentara sembab, kini turut menghentikan langkah begitu tatapannya menubrukku, kemudian menundukan wajah. Nafasnya terengah-engah dengan sebelah tangan menggapai tembok di sampingnya, berniat meneruskan langkahnya yang gontai. Namun dengan sigap aku menahan pergelangan tangannya yang lain.
Okay! Kebohongan konyol ini akan berakhir.
Aku merogoh saku jaket tebalku, di mana tadi aku mengamankan barang titipan Chae Rin sebelum memasuki ruang operasi.
Setelah merasa siap untuk menyerahkannya dan menjelaskan semuanya kepada bocah laki-laki di depanku ini, aku mencoba membuka telapak tangannya yang mengepal, lalu meletakan sesuatu yang semula berada dalam jaketku ke telapaknya, “Apapun yang sudah ia katakan untuk menyakiti hatimu waktu itu, semuanya bohong. Dan aku sebenarnya merasa sangat berdosa karena ikut bermain dalam kebohongan itu… Tapi percayalah, alasannya melakukan ini semua karena ia begitu mencintaimu. Dia malah lebih memilih untuk mati daripada terus hidup tapi kehilangan semua ingatannya dan semua hal tentang kalian. Dia sangat mencintaimu, JinKi~ssi.”
---
Seperti apa yang sudah kukatakan, kebohongan ini berakhir. Selayaknya skenario yang Tuhan ciptakan untuknya, ini telah menjadi episode terakhir untuk seorang malaikat masa kecilku. Aku tidak bisa mendekat. Hanya bersembunyi di sini… di balik tembok ujung koridor. Menyaksikan scene terakhir yang memilukan. Sebelum merasa benar-benar lemah hingga gravitasi menguasaiku dan membuatku jatuh begitu saja. Masih bersandar pada tembok, aku menepuk-nepuk dadaku yang setiap detik terasa semakin sakit.
Skenario konyol yang diciptakan seseorang yang mencoba untuk terlihat baik-baik saja di sisa pertahanan terakhirnya. Menutupi tentang apa yang selama ini membuatnya sakit, agar orang-orang disekitarnya tidak ikut merasakan.
Hebat! Kau benar-benar mengajariku tentang berartinya sebuah makna dari setiap helaan nafas, Lee Chae Rin~ssi…
***
Tersadar dari apa yang beberapa menit sudah membuatnya mengembara pada masa lalu, Kyu Hyun merasakan sebuah getaran yang membangunkannya. Ia menatap layar touchscreen android miliknya yang ia biarkan tergeletak di meja, sebelum memutuskan untuk memungutnya. Ia memencet tombol answer seteleh terlebih dahulu mengembalikan pigura kecil di tangannya tadi kembali ke tempat semula.
“Yeobosaeyo?”
“Ah, Hyeong~ah. Kau sedang sibuk?” terdengar jawaban dari speaker android Kyu Hyun.
“Tidak… Kenapa?”
“Bisakah kita bertemu di tempat biasa?”
“Nde~” sahut Kyu Hyun, “Sekarang kau di mana?”
“Aku sudah menunggumu di sini, Hyeong.”
“Ah, tunggulah. Aku segera ke sana.”
***
Author POV’s
Kyu Hyun berjalan memasuki café yang berada tidak terlalu jauh dari rumahnya, masih pada kawasan Apgujeong. Matanya menangkap sosok berjaket coklat di pojok ruangan cafe yang saat ini tidak begitu ramai, tengah duduk ditemani secangkir espresso. Senyum merekah di wajah orang tersebut begitu menyadari kehadiran Kyu Hyun di hadapannya.
“Ah, Hyeong~ Kau sudah datang. Duduk Hyeong.”
Kyu Hyun mengangguk, membalas senyumnya, “Kau juga penyuka espresso kan, Hyeong~? Aku akan memesankannya.” Ucap namja di hadapannya itu lagi, kemudian dengan segera melambaikan tangannya kepada salah satu pelayan wanita.
“Kau mengajakku ke sini bukan hanya untuk menemanimu menghabiskan secangkir espresso, kan?” tanya Kyu Hyun yang membuat namja di depannya itu menyunggingkan senyum tipis.
“Anni.”
“Wajahmu selalu saja begitu. YA! Jin Ki~ah, sudah berapa kali kukatakan, kalau ada masalah jangan dipendam.”
Tampak Jin Ki melemparkan pandangannya ke arah luar, melalu jendela kaca bening di samping mereka, lalu menghela nafas, membuat asap kecil terlihat mengepul keluar dari mulut dan lubang hidungnya.
“—Masalah dengan Ayahmu?” tanya Kyu Hyun seperti bisa menebak apa sebenarnya yang membuat suasana wajah namja di hadapannya itu mendung, seperti keadaan cuaca hari ini.
Jin Ki beralih menatap wajah Kyu Hyun, lalu mengangguk kecil, “Abeoji menuntut hal itu lagi.” Ucapnya dengan mimik wajah yang semakin tak bersemangat untuk hidup. Mendengarnya, Kyu Hyun membuang nafas kasar.
“Lalu? Apa yang akan kau lakukan?”
“Aku meminta Abeoji menyetujui permohonanku untuk mengadopsi anak.” Sahut Jin Ki yang berhasil mengundang keterkejutan Kyu Hyun,
“MWO?”
Jin Ki membuang pandangan kembali ke jalan luar, “Ini adalah cara terakhir untuk mewujudkan keinginan Abeoji. Mengingat janjiku, aku tidak mungkin memenuhi keinginan beliau untuk segera menikah.”
“Ayahmu menyetujuinya?—Ah, ye~ gamsahamnida…” Kyu Hyun menganggukan kepala begitu seorang pelayan datang meletakan secangkir espresso ke meja di depannya. Lalu kembali beralih menatap Jin Ki.
“Untuk saat ini aku belum menerima respon.” Jawab Jin Ki sepergi pelayan itu dari hadapan mereka berdua.
“Kau sama saja seperti Chae Rin.” balas Kyu Hyun “Aneh! Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana jalan pikiran kalian.”
“—Aku tidak bisa membayangkan kalau seandainya aku yang menjadi Ayahmu.” Celetuknya kemudian meraih cangkir espresso di hadapannya dan menyeruputnya perlahan-lahan. Sementara Jin Ki tersenyum kecut memandangi cangkir di hadapannya dengan tatapan hambar.
---
“Annyeonghasimnikka, Ahjussi~” sapa seorang bocah laki-laki di hadapannya sembari membungkukkan badan. Saat itu Kyu Hyun baru saja turun dari mobilnya hendak menuju kantor tempat sekarang ia bekerja sebelum nantinya benar-benar harus menerima jabatan sebagai penerus CEO di Shinhaedong Corp. Langkah Kyu Hyun terhenti begitu seorang namja dan seorang bocah laki-laki datang menyambanginya.
Awalnya Kyu Hyun tidak percaya dengan apa yang kini ada di depannya. Jin Ki tersenyum lebar sebelum menyuruh bocah yang ia bawa itu menyapa Kyu Hyun.
“Annyeonghasimnikka.” Balas Kyu Hyun, lalu menatap Jin Ki dengan penuh tanda tanya besar.
“Dia anakku Hyeong~” jawab Jin Ki yang masih menautkan senyum lebar di wajahnya. Sampai beberapa detik kemudian, Kyu Hyun baru bisa mengerti, “—Namanya Lee Jun Hae.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar