Selasa, 29 Oktober 2013

Catatan: 29 Oktober 2013

Asrama dan kost itu punya cerita masing-masing, dan aku sudah merasakan semuanya, semua manis-kecutnya, menjadi mozaik-mozaik berharga yang kukumpulkan dalam masa-masa penjelajahanku saat ini, dan sampai kapanpun nanti.

Menjadi salah satu dalam daftar anak-anak terpilih itupun aku teramat sangat bahagia. Menjadi salah satu di antara barisan saat upacara bendera di halaman sekolah tercinta. Satu tahun aku di sini, bersama-sama mereka--member exogen--menjadi tonggak berdirinya sebuah sekolah yang mendambakan ke-tawajun (keselarasan) dalam pribadi generasi-generasi penerus. Tawajun dalam jasadiyah, rohaniyah, serta fikriyahnya.

Satu tahun di sini, aku--lebih tepatnya kami-- selalu merindukan haru Jum'at. Sangat mendamba-dambakan ke datangannya. Pada hari yang penuh berkah itu, hari besar umat Islam, kami berkumpul bersama begitu usai pulang sekolah, membentuk sebuah lingkaran, mendengarkan murabbi kami membagikan ilmunya, dan pada saat itu kami merasa seperti diguyur air segar. Kami yang haus, kering, lelah, tiba-tiba kembali menemukan sumber mata air yang membawa kepuasan, kelegaan, dan kebahagiaan. Di sanalah kami, membentuk team Liqo' yang dibimbing oleh seorang murabbi cantik lagi anggun.

1 tahun berlalu...

Setelah melewati manisnya menjadi angkatan pertama, yang menjadi pusat perhatian, yang menjadi pelabuhan kasih-sayangnya Ustadz dan Ustadzah, kini kami sudah memiliki adik. Keadaan tidak lagi sepi seperti dulu, suara riuh-rendahnya mereka, menambah hangatnya suasana kekeluargaan di lingkungan penuh berkah ini.

Kini kami sudah memiliki teman untuk berjuang, teman yang bisa bersama-sama kami ajak menapaki bermacam-macam panggung perlombaan, teman yang bisa memberikan suara semangatnya begitu kami selesai menjalankan misi kami: memperkenalkan identitas kami sebagai murid-murid pilihan yang bernaung di bawah asuhan cahaya-cahaya ilmu.

Kami juga sudah memiliki banyak orang tua di sini. Tempat kami bercerita, berbagi, dan bercanda. Aku sering bercerita tentang impian-impianku ke depan kepada wali kelasku yang kami senang jika memanggilnya dengan sebutan "Mamah". Aku sangat menyukai bagaimana cara dia merespon curahan hati kami masing-masing, menanggapi sifat-sifat kami yang beragam dengan kejelian beliau mengamati pola tingkah laku anak-anak didiknya, lalu memberikan kami siraman tepat pada bagian yang kami merasa sangat kurang, merasa bahwa dengan satu hal itu kami tidak bisa menemukan dunia kami.

Aku mungkin belum bisa menjabarkan bagaimana serunya perjuangan kami untuk saat ini, tapi aku akan berusaha untuk menuliskannya kelak menjadi sejarah penting yang tertuang dalam lembaran-lembaran kertas yang disampul cantik. Tentang bagaimana gemetar saat menapaki tangga panggung pencarian bakat Da'i, tentang aku yang tertidur begitu sudah menyelesaikan soal-soal astronomi, juga tentang airmata yang jatuh saat penyusunan lembar akhir makalah-makalah kami. Semuanya... aku pasti akan merindukannya kelak.

Aku bersyukur di sini... karena Allah mengizinkanku bertemu dengan mereka yang mengajarkanku bagaimana caranya melaksanakan sholat dhuha, mendekatkanku dengan Al-Qur'an, serta mengajarkanku betapa indahnya hidup dalam ke-zuhudan.

I love them coz Allah...

In Dorm, 29 Oktober 2013

Rima Ha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar