Hal yang paling berkesan hari ini adalah saat aku mampu menghabiskan satu novel berjudul Totto-chan yang ditulis oleh seorang penulis besar dari Jepang bernama Tetsuko Kuroyanagi hanya dalam satu hari. Buku dengan jumlah halaman 272 ini aku dapatkan dari guruku yang merekomendasikan buku-buku bagus yang ia punya dari sekian banyak bukunya yang bertumpuk di dalam lemari.
Saat awal aku membaca buku ini, yang ada dalam imajinasiku adalah seorang anak peerempuan kecil hiperaktif yang mempunyai banyak mimpi dalam hidupnya. Mulai dari hendak menjadi penjual karcis, penari ballet, dan guru di sebuah sekolah yang diberi nama Tomoe. Aku sangat terkesan dengan karakter dari Kepala Sekolah yang dengan ikhlas mendengarkan seorang Totto-chan kecil bercerita hingga 4 jam lamanya. Sampai pada akhirnya perlahan-lahan aku pun mulai hanyut dalam alur ceritanya.
Memang, aku tidak menemukan konflik yang pelik di awal dan tengah cerita. Saat membaca buku ini, aku hanya diajak untuk membayangkan seorang anak yang sangat mencintai keluarganya, sekolahnya, teman-temannya, Kepala Sekolahnya yang bijak dan seekor anjing peliharannya yang bernama Rocky. Aku hanya menemukan sebuah permasalah yang 'wow' itu pada saat kejadian di akhir cerita yang menjelaskan bagaimana bom berhasil melahap habis gerbong-gerbong kelas Tomoe Gakuen pada tahun 1945.
Namun, satu hal yang tidak pernah aku temukan dalam buku-buku yang pernah aku baca sebelumnya. Tetsuko Kuroyanagi telah menyisipkan tentang amanah yang besar untuk dunia pendidikan dari dalam alur cerita Totto-chan yang ringan. Betapa pembentukan karakterlah yang harus dinomor satukan. Aku benar-benar terharu saat membaca Catatan Akhir Tetsuko Kuroyanagi dalam Totto-chan, yang menceritakan bahwa bukunya telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa di dunia, menjadi best seller dan bahkan dijadikan bahan ajar di sekolah-sekolah di Jepang, dan yang paling kuingat ialah, bab "Sekolah tua yang Usang" menjadi bahan ajar bidang Budi Pekerti.
Aku sempat berbincang dengan seorang temanku setelah menyelesaikan buku ini, ya, sedikit bernostalgia akan pelajaran-pelajaran yang kami dapatkan saat kelas 1 SD dulu, namun tidak pernah lagi kami temukan hingga tingkat kedua di Sekolah Menengah Atas saat ini: yaitu bidang study Budi Pekerti. Dulu, sewaktu aku hendak masuk sekolah dasar, Ibuku sibuk menyiapkan buku-buku tulis untukku sekolah. Jauh sebelum aku benar-benar resmi menjadi seorang siswa kelas satu. Beliaulah yang menuliskan nama dan Bidang Study pada sebuah kertas putih yang digunting kecil lalu ditempelkan pada sampul buku bergambar kartun itu. Aku juga masih ingat saat dulu guruku membagikan buku paket kecil tentang Budi Pekerti. Sekarang, aku tidak menemukan mata pelajaran itu lagi. Aku tidak tahu apakah bidang studi itu diganti namanya, seperti PPKn menjadi PKn, atau digabungkan materinya dalam salah satu mata pelajaran, ataukah memang sudah ditiadakan. -__-
Dan dalam salah satu halaman buku Totto Chan ada dua paragraf yang sangat menarik hatiku, hingga kukutip menjadi sebuah status di jejaring sosial facebook.
Walaupun
sebenarnya pemandangan seekor katak yang melompat ke kolam pasti sudah
pernah dilihat banyak orang. Sejak berabad-abad yang lalu, di seluruh
dunia, Watt dan Newton pasti bukan satu-satunya orang yang pernah
melihat uap keluar dari ketel berisi air mendidih dan mengamati jatuhnya
apel dari pohon.
Punya mata, tapi tidak melihat keindahan; punya telinga tapi tidak mendengar musik; punya pikiran, tapi tidak memahami kebenaran; punya hati tapi hati itu tak pernah tergerak dan karena itu tidak pernah terbakar. Itulah hal-hal yang harus ditakuti, kata Kepala Sekolah.
Kutipan novel Toto-chan, Tetsuko Kuroyanagi.
Punya mata, tapi tidak melihat keindahan; punya telinga tapi tidak mendengar musik; punya pikiran, tapi tidak memahami kebenaran; punya hati tapi hati itu tak pernah tergerak dan karena itu tidak pernah terbakar. Itulah hal-hal yang harus ditakuti, kata Kepala Sekolah.
Kutipan novel Toto-chan, Tetsuko Kuroyanagi.
Kebanyakan orang tidak tertarik dengan hal-hal yang dianggap mereka spele padahal besar manfaatnya, contohnya ialah bagaimana apel bisa jatuh dari pohonnya. Mungkin mereka beranggapan bahwa itu sudah menjadi hukum alam. Namanya jatuh ya pasti ke bawah. Namun, sebagian orang termasuk Newton, saat melihat apel jatuh, ia memiliki sebuah ketertarikan yang kuat untuk memencahkan sebuah permasalahan. Apel jatuh yang dianggap spele itu, tiba-tiba memunculkan sebuah ilmu pengetahuan baru tentang gaya tarik bumi atau yang biasa kita kenal dengan gravitasi. Yang kemudian menjadi ilmu pengetahuan penting untuk perkembangan teknologi masa depan.
Seketika aku teringat dengan isi dari kitab suci kepercayaanku (Al-Qur'an) tentang bagaimana di sana Allah menyeru hamba-hamba-Nya dengan sebutan orang-orang yang berpikir, atau meminta hamba-hamba-Nya berpikir akan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Bahwa hal-hal yang besar, termasuk ilmu pengetahuan dan pendidikan hanya didapatkan oleh orang-orang yang mau berpikir.
Mungkin ini saja yang bisa saya tulisan dalam Catatan Kecil Tentang Totto-chan karya Tetsuko Kuroyanagi. Untuk siapapun yang tertarik dengan dunia pendidikan, buku ini adalah buku hebat yang bisa menuntun cara berpikir Anda tetang penting pendidikan daripada pembelajaran.
Terimakasih. ^^
Oh ya, untuk yang mau tau biodata dari penulis Totto-chan silahkan klik link di bawah:
Tetsuko Kuroyanagi
Oh ya, untuk yang mau tau biodata dari penulis Totto-chan silahkan klik link di bawah:
Tetsuko Kuroyanagi
Menikmati sejuknya kipas angin di sebuah kamar asrama, 13 Oktober 2013
Rima Ha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar