Minggu, 13 Oktober 2013

Catatan: 13 Oktober 2013

Atas sebuah permasalah, setiap orang punya spekulasi yang kuat tentang dirinya, dan hari ini aku bisa menarik sebuah kesimpulan. Allah menunjukkanku makna dari dua belah mata. Ya, siapapun, tidak bisa dipermasalahkan atas sebuah permasalahan. Jika kita menerima sebuah pendapat, lalu pada ruang dan waktu yang lain juga menerima dalam alasan yang berbeda, aku yakin semua akan goyah, kecuali kita mau berdiam sejenak, memikirkan hal yang ada, dan mengamati keadaan, pada saat itulah titik yang terang akan kita dapatkan.

Kalimat di atas yang kutulis menjadi sebuah status pada jejaring sosial Facebook bukanlah tanpa alasan yang jelas. Hari ini, aku bisa menarik sebuah benang merah dari permasalah yang akhir-akhir ini menjadi tranding topic di sekolahku. Bahkan akupun sempat  menjadi salah satu yang mengikuti perkembangannya. Hahaha...

Tapi sebelumnnya, aku ingat salah satu teman kostku pernah berkata, "Setiap tahun pasti berbeda," ucapnya pada suatu siore saat aku sibuk mengepak barang-barangku ke dalam sebuah ransel hitam besar bertuliskan "Say NO to Narkoba!" yang kudapatkan dalam sebuah seminar beberapa bulan yang lalu. Temanku berkata begitu, karena pada saat itu aku memutuskan untuk pindah ke asrama yang disediakan yayasan tempatku bersekolah. Setelah satu tahun kami bersama-sama hidup sebagai anak kost, tiba-tiba aku menyatakan akan pindah, dan aku hanya bisa tersenyum kecut saat menyaksikan ekspresi satu persatu temanku.

Kali ini, apa yang terjadi di sekolah juga membuatku kembali teringat akan kalimat: "Setiap tahun pasti berbeda." 

Teman-temanku banyak yang mengeluh dengan kondisi saat ini. Jadwal pelajaran semakin bertambah, beberapa karakter adik kelas yang kadang menjadi sorotan, hal-hal spele yang dijadikan permasalahan besar, dan keadaan kelas yang mulai berkubu-kubu. Aku yang pada saat ini tengah menjabat amanah sebagai Ketua Kelas cukup merasa down. Ternyata pada periode jabatanku, semua tidak terorganisir seperti dulu.

Namun, aku bingung, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk mencari jalan keluar ini.

Maka, aku memutuskan untuk sejenak berbincang dan saling bertukar pikiran dengan salah satu guruku. Beliau juga menyampaikan keluhan-keluhannya selama ini. Dan dari pembicaraan itu, aku bisa menangkap suatu sudut pandang yang baru. Aku mencoba memendamnya, dan kembali menguak informasi-informasi dari teman-temanku. Pada akhir perbincangan, kami menemukan satu titik fokus yang tertuju pada seseorang.

Dan pada suatu kesempatan yang lain, aku kembali bertukar pikiran pada guru yang lain, dan menemukan sudut pandang yang lain tentang permasalahan. Aku merenung sejenak, menyatukan spekulasi-spekulasi dari orang-orang yang berbeda, dan mencoba menarik sebuah benang merah.

Kini aku sadar, dan ingin berfilosofi tentang dua belah mata yang Allah ciptakan. Bahwa pada suatu permasalahan kita tidak bisa memandang dengan sebelah mata, berdasarkan hanya pada satu sudut pandang, dan memihak pada seseorang. Ada baiknya kita mengamati, mencerna dan menarik sebuah kesimpulan atas setiap spekulasi-spekulasi yang kita kumpulkan.

Aku sudah mengerti, setiap orang punya pendapat masing-masing yang kuat atas suatu permasalah. Aku tidak bisa memihak pada satu spekulasi, termasuk spekulasiku sendiri sebelum semua kucermati berdasarkan kondisi yang ada. Terimkasih. Seketika aku merasa hari ini aku seperti mendapatkan sekolah kehidupan.
In Dorm, 13 Oktober 2013

Rima Ha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar