Minggu, 13 Oktober 2013

Cerpen: Jerit Pilu Masa Lalu Ibu



Ini sebenarnya cerpen saya udah lamaaa bangeeets. Kalo enggak salah waktu masih kelas 2 SMP, dan pada saat itu saya emang lagi produktiv-produktivnya nelurin tulisan, walaupun masih acakadul enggak kenal EYD dan sebagainya. Hehehe... But, kalo dipikir-pikir saya lebih seneng tulisan saya yang dulu malah. Dulu itu enggak ribet kayak sekarang mesti pikir panjaaang sebelum nulis, kalo dulu apa yang ada di otak langsung aja tak tuangin.
Eniwei, ini cerpen dulu pernah saya kirim dalam sebuah event di dunia maya yang sayangnya enggak jelas, dan sampe sekarang orang yang ngadain itu enggak keliatan sama sekali. So, mending saya documentasiin di blog saya aja, ya ngeramein beranda yang udah lama enggak saya bersihkan. Hahaha...

Enjoy with my story... ^^

*


            ---IBU---
            Sesekali suara jerit sakit itu keluar lirih dari mulut seorang wanita yang sedang berusaha mempertaruhkan hidup dan matinya. Urat-urat di dahinya bertimbulan. Tangannya mengepal, guna menahan rasa sakit. Butir-butir peluh yang bersembunyi di balik kulit, satu persatu keluar melalui pori-pori.
            Khotbah Jum’at menggema. Detakan jarum jam yang terus merangkak, sedikit demi sedikit hantarkan napas pada satu titik pemberhentian. Shalat Jum’at usai, pada saat itu jua tarikan napas wanita itu terhenti. Sesosok manusia yang berlindung selama 9 bulan lebih di dalam perutnya itu tak bisa keluar. Mereka pergi bersamaan dalam detik yang sama pula.
            Seorang laki-laki masuk dengan langkah tergopoh-gopoh. Peci putih yang terpajang di kepalanya, menjadi saksi bisu suasana pada saat itu. Langkahnya terhenti di  ambang pintu kamar. Ia terpaku. Senyum indah yang terukir di wajahnya, tiba-tiba hilang entah kemana.
            Ditatapnya nanar wajah wanita yang kini terbaring kaku di atas pembaringan. Aku bisa merasakan sakit itu. Sakit yang melanda batin Ayah, ketika mendapati istrinya sudah tak lagi bernyawa. Istrinya meninggal, ketika hendak melahirkan anak ketiganya tepat pada hari Jum’at.
            Pertama, aku pun tak menyangka Ibu sudah pergi. Sempat aku menghampirinya dan mengatakan aku sedang kehausan. Adik laki-lakiku yang usianya terpaut satu tahun setengah dari usiaku juga turut mengikuti perbuatanku. Dingin, itu yang kurasakan ketika menggenggam tangan Ibuku.
            Ayahku menghampiri kami. Diusapnya kepala aku dan adikku dengan lembut. Bibirnya ia gigit. Berusaha melawan rasa sakit yang menghantam batinnya tanpa ampun. Lebih pedih dari pada digores sembilu. Dan lebih sakit daripada ditikam mata belati beracun.
            Adikku melepaskan pelukannya dari tubuh Ibu yang tak kunjung bergerak. Ditatapnya wajah Ayah yang mulai digelinangi airmata.
            “Ayah, Ibu kenapa tidak bangun-bangun?” rengek Ikhsan, adikku itu kepada Ayah.
            Ayah hanya tertunduk lesu. Menyembunyikan hantaman giginya yang dahsyat menggigit bibirnya sendiri. Airmatanya semakin deras tercurah. Sekuat tenaga dia kuasai dirinya. Berusaha tak menampakan goncangan dahsyat yang melanda batinnya.
            “Ibu kenapa, Yah?” kali ini aku yang angkat bicara.
            Ayah mengangkat wajahnya. Lalu menatap kami.
            “Aih, sudahlah. Ibu tak kenapa-kenapa.” jawab Ayah dengan senyum yang menyungging di bibirnya. Lalu diusapnya lagi kepala kami. Dan sekarang aku baru mengerti senyum itu. Senyum itu adalah senyum getir yang berusaha ditampakan olehnya dalam keperihan hati yang menyiksanya.
***
            Sejak aku berumur tiga tahun, dan adikku satu setengah tahun, kami harus menerima takdir yang pahit. Takdir menjadi seorang anak piatu. Kami hidup tanpa kehadiran Ibu lagi. Ibu yang seharusnya menjadi pendidik, pemerhati, dan sebagai tempat kami menghambur dalam tangis. Menumpahkan segala keluh kesah kami.
            Sejak kejadian waktu itu, aku dan adikku hanya dibesarkan oleh Nenek dan Kakek kami. Kami besar tanpa kasih sayang sang Ibunda. Dia sudah pergi dipanggil Sang Maha Kuasa. Aku masih ingat waktu itu, ketika adikku bertanya kepada Nenek, dimanakah sekarang Ibu? Nenekku hanya menjawab, kalau Ibu kami sekarang sedang bersama Allah di surga. Lalu Nenek berpesan, agar kami selalu mendo’akan Ibu agar di sana Ibu selalu mengingat kami dan nanti bisa berkumpul bersama-sama.
            Kami besar dalam didikan Nenek. Ayahku pindah ke kampung sebelah dan tinggal bersama istri dan keluarga barunya. Kerap kali rasa iri terbit di hatiku apabila melihat teman-teman sebayaku berjalan bergandengan dengan Ibunya. Jika mau pergi ke sekolah diantar. Diperhatikan dengan sebaik-baik perhatian yang tak akan pernah bisa aku rasakan lagi dan kutemukan ketika hidup bersama Nenek.
            Kadang, aku sering terisak sendiri di balik selimut yang menutupi tubuhku. Orang-orang rumah sudah pada terlelap dan hanyut dalam mimpi masing-masing. Sedangkan aku merintih lemah dalam selimutku sambil menyebut lirih nama Ibu. Betapa rindunya aku kepada Ibu. Aku ingin Ibu ada di sampingku. Mengusap lembut rambutku, menyisirnya, mengikatnya, lalu menggandeng tanganku ketika hendak ke sekolah.
            Nyilu perasaanku hanya bisa kualihkan ketika bermain dengan teman-teman sebayaku. Itu juga tak lama. Jika kami sedang asik bermain hingga tak kenal waktu, Ibu teman-temanku satu persatu datang dan menyuruh anaknya pulang dan mandi karena hari sudah mulai petang. Sedangkan aku? Aku pulang sendiri, ketika teman-temanku sudah pulang ke rumah masing-masing.
            Rasa hangat kembali terbit di mataku. Menjatuhkan sebutir mutiara mata, lalu merangkak pelan di pipiku. Aku berjalan dengan perasaan gontai menuju rumah. Gontai menanggung rasa iri yang tak terperikan. Di perjalanan aku terhenti sejenak. Menyaksikan pemandangan sore itu. Seorang anak yang melengkingkan suaranya tepat di depan muka Ibunya. Malah lebih keras dari suara Ibunya. Mata mereka saling bertatapan tajam. Aku menangkap warna kemerah-merahan di mata Ibunya. Mungkin amarahnya sudah sampai di ubun-ubun. Tapi sang anak tak menampakan wajah takut. Dia malah tambah keras menyahut perkataan Ibunya.
            “Astaghfirullah.” ucapku sambil mengelus dadaku. Kulanjutkan kembali langkahku yang sempat terhenti. Dalam langkah demi langkah kakiku, hatiku terus menggerutu. Betapa bodohnya anak yang tadi membentak Ibunya. Seharusnya dia bersyukur masih diberi waktu dan kesempatan oleh Allah untuk berbakti kepada Ibunya. Sedangkan aku? Aku sudah tak lagi ada kesempatan untuk membaktikan diriku kepada Ibuku. Aku tidak punya kesempatan untuk membanggakannya.
            Mungkin kejadian sore itu menjadi amanat tersendiri untukku. Menjadi pesan yang kelak bisa aku sampaikan kepada anak-anakku. Agar tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berbakti kepada orang tuanya. Jangan sampai melukai hati mereka. Karena banyak orang-orang yang tidak bernasib seberuntung mereka. Banyak anak yang tidak punya Ibu, tidak punya Ayah, atau bahkan tidak punya Ibu dan Ayahnya. Hidup sendiri, terlunta-lunta, dan tidak ada yang memperhatikan. Dalam hati ku bersyukur, karena Allah masih menitipkan Nenek dan Kakek yang masih memperhatikan kami.
***
            Malam ini, aku dan anak bungsuku, Archika namanya duduk di kursi teras rumah. Sinar terang bulan purnama menjadi penerang malam itu. Sungai Mahakam mengalir tenang mengikuti arusnya. Sungai yang menjadi mata pencaharian sebagian masyarakat desa kami. Desa terpencil nun di pedalaman Kalimantan.
            Anakku tadi siang mendapatkan piagam dari oliempiade yang diikutinya. Aku sangat bangga sekali. Aku selalu mendo’akan yang terbaik untuknya. Mendo’akan agar dia bisa menggapai cita-citanya untuk bisa lancar berbahasa Inggris dan menjadi penulis yang mampu memotivasi. Ya, aku tahu seperti apa anakku. Dia punya cita-cita yang tinggi untuk masa depannya. Aku sebagai orang tua hanya bisa mendo’akan dan menuntunnya agar tak salah jalan, serta mendidiknya agar menjadi pribadi yang baik yang tidak besar kepala kelak jika sudah menjadi orang besar. Aku berpesan kepadanya agar tidak membangkang kepada orang tua.
            "Jangan sia-siakan kesempatan, selagi orang tuamu masih ada. Sedangkan di sana, masih banyak anak-anak yang tidak bisa berbakti, karena orang tuanya sudah terlebih dahulu diambil Sang Maha Pemberi Hidup."
            Kulihat ia menundukan kepalanya. Mungkin otaknya sedang mencerna maksud ucapanku dan menanamkannya dalam hatinya. Tidak ada yang lain yang diharapkan seorang Ibunda selain keberhasilan  dan sikap patuh anaknya.
***
            ---Archika---
            "Jangan sia-siakan kesempatan, selagi orang tuamu masih ada. Sedangkan di sana, masih banyak anak-anak yang tidak bisa berbakti, karena orang tuanya sudah terlebih dahulu diambil Sang Maha Pemberi Hidup."
            Sejenak aku tertunduk. Kata-kata Ibu tertancap membekas dalam relung kalbuku. Sebutir mutiara mata yang sedari tadi kuusahakan untuk ditahan, kini merembes keluar dan satu persatu jatuh ke atas lembar piagam yang sedari tadi kugenggam dengan perasaan bangga. Piagam yang pertama kali kudapatkan, ketika mengikuti oliempiade Bahasa Inggris waktu itu.
            Entah berapa menit waktu yang tertelan dalam tundukku. Entah beberapa butir mutiara mata yang jatuh satu persatu. Akhirnya, kuangkat sedikit kepalaku yang terasa berat terpikuli seonggok beban di atasnya. Kutatap sejenak wajah Ibu. Buram. Ya, buram, karena pandanganku dihalangi cairan di mataku. Cairan itu saling berdesak-desakan, melonjak-lonjak ingin keluar.
            Kualihkan pandanganku ke depan. Sungai Mahakam menjadi saksi bisu kejadian malam itu. Ketika Ibu menceritakan betapa pilunya masalalu yang dia jalani dengan keikhlasan dalam kepedihan yang pasti sangat memerihkan rasanya. Hidup dalam rasa iri, ketika melihat teman-temannya berjalan digandeng oleh sang bunda tercinta, diusap dengan lembut kepalanya, disuapi makannya, dilengkapi segala kebutuhannya. Sedangkan Ibu? Ibuku tak pernah merasakan itu sejak berumur kurang lebih 3 tahun. Dia seorang anak piatu yang ditinggal mati Ibunya ketika hendak melahirkan adiknya yang kedua.
            Aliran sungai Mahakam tenang menuju hilir. Terus mengalir, seperti kasih sayang yang selalu Ibuku berikan. Perhatian yang tidak pernah terbagi. Nasihat yang hakikat. Kebenarannya tak bisa diganggu gugat. Ibuku adalah sosok yang penyayang. Penawar kegundahaan, pendengar yang baik, pahlawan yang paling berjasa, orang yang paling mengerti keadaan hatiku, karena darahnya mengalir ditubuhku.
            Kukembalikan pandanganku menatap wajah Ibuku. Matanya menatap nanar ke depan, ke arah Sungai Mahakam yang tepat berada di depan rumah panggung kami di pelosok tanah Kalimantan. Wajahnya mulai tampak garis-garis keriput. Pengorbanan dan kerja kerasnya membantu Ayah demi membiayai sekolah anak-anaknya tergambar lewat urat-urat tangannya yang bertimbulan. Rambut-rambut putih sedikit demi sedikit tumbuh di kepalanya. Semua pengorbanan itu, tak cukuplah jika hanya dibayar dengan prestasi demi prestasi yang kuraih selama ini. Tak akan pernah sebanding dengan piagam dalam genggamanku sekarang. Tak akan pernah terbayar dengan ranking demi ranking yang kuraih selama duduk di bangku Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama. Tak akan pernah lunas itu, dan tak akan pernah bisa dilunasi.
            Ibu, tak akan kusia-siakan waktu yang diberikan Allah untuk kita bersama. Aku akan berusaha sekuat tenaga dan sekuat kemampuanku meraih apa yang aku cita-citakan demi membanggakanmu. Meski kutahu, itu tak akan pernah bisa membayar semua ketulusanmu. Tapi, setidaknya bisa membanggakanmu adalah keindahan tersendiri dalam benakku. Biarlah Allah yang mengganti semuanya dengan kebahagian yang ia tujukan untukmu. Seperti do'aku dalam setiap sholatku.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar