(Status FB: Rhima CiiDdeqqjleqq)
Hampir pukul 07.00 teng! aku keluar dari area Jafar Seman menunggangi sepeda motor kesayanganku: si Fevan. Seperti biasa, Teteh masih duduk di boncengan belakang, tapi kali ini dengan tumpukan buku-buku paket di tangannya. Buku-buku itu sengaja aku titipin ke dia, soalnya aku enggak mau ngambil resiko nyungsep ke dalam parit kalau harus ngebawa si Fevan sambil nenteng-nenteng buku paket segala.
Datang di sekolah, temen-temen, adik-adik kelas, juga ustadzah-ustadzah, udah duduk berjejer rapi di depan kelas sambil nenteng juz 'ama masing-masing. Dalam hati aku bergumam: ketua kelas teladan (telat datang)
Seperti hari-hari biasa, muraja'ah adalah awal kegiatan kami setiap pagi di sekolah. Karena hari ini hari rabu, jadwalnya adalah Al-mutafifin sampai An-naba'.
Usai muraja'ah, Nikko bilang, "Rim, kita izin aja yuk enggak belajar,"
"Aku sih ngikut aja," responku, lalu beralih menatap ke arah wali kelas kami yang saat itu masih duduk di dalam lingkaran kami.
"Kita turun aja dulu ke bawah, nanti sharing dulu bareng Ustadzah pembimbing kalian,"
Kami (aku dan Nikko) mengangguk setuju dengan pendapat wali kelas kami. Kemudian bersama-sama berjalan menuruni tangga untuk menuju kantor guru.
Seperti hari-hari biasa, muraja'ah adalah awal kegiatan kami setiap pagi di sekolah. Karena hari ini hari rabu, jadwalnya adalah Al-mutafifin sampai An-naba'.
Usai muraja'ah, Nikko bilang, "Rim, kita izin aja yuk enggak belajar,"
"Aku sih ngikut aja," responku, lalu beralih menatap ke arah wali kelas kami yang saat itu masih duduk di dalam lingkaran kami.
"Kita turun aja dulu ke bawah, nanti sharing dulu bareng Ustadzah pembimbing kalian,"
Kami (aku dan Nikko) mengangguk setuju dengan pendapat wali kelas kami. Kemudian bersama-sama berjalan menuruni tangga untuk menuju kantor guru.
Di sana, sudah ada beberapa guru yang datang, termasuk Ustadz Novian, Ustadz Ikin, dan Ustadzah Elizabet selaku wali kelas kami.
Kami duduk di bangku tamu bersampingan. Ustadzah Eliz datang menghampiri, beliau melihat kami satu persatu. Lalu beralih ke arah Ustadz Ikin yang saat itu sedang berbincang dengan Ustadz Busra.
"Anak-anak maunya dikasih dispensasi (izin enggak ikut belajar) selama dua hari, biar mereka bisa fokus sama KIRnya. Gimana Ustadz, boleh enggak?" jelas Ustadzah Eliz meminta persetujuan. Dalam hati kami berharap: boleh dong, boleh dong, boleh dong.
Lalu, tanggapannya bermacam-macam. Beberapa guru ada yang langsung dengan terbuka bilang: ya, nggak masalah. Ada juga yang setuju asalkan harus ikut ulangan susulan, tapi ada juga nih yang enggak ngasih izin sama sekali.
Lalu, tanggapannya bermacam-macam. Beberapa guru ada yang langsung dengan terbuka bilang: ya, nggak masalah. Ada juga yang setuju asalkan harus ikut ulangan susulan, tapi ada juga nih yang enggak ngasih izin sama sekali.
"Besok tetap ulangan ya. Enggak masalahkan sambil belajar entar malam?"
Aku sama Nikko saling nyenggol. Nggak ngasih respon sedikit pun. Cukup diem dan berpura-pura fokus dengan halaman makalah yang belum beranjak dari BAB II sementara waktu hanya tersisa dua hari.
Siapapun pasti paham dengan kondisi dua orang anak sekolah seperti kami yang harus membagi fokus antara pelajaran sekolah dengan event-event yang diikuti. Malam tidur jam 23.00 adalah yang terhitung paling cepat. Itupun dengan tumpukan kertas-kertas referensi di atas kasur yang belum tuntas dikerjain. Juga, laptop yang belum di shut down-kan -__-
Tapi, yang menganggu, kenapa sih ada gitu orang yang seolah-olah kita itu enggak punya beban. Kayak kita ini main-main. Well, aku tau kok gimana kami tahun lalu. Ikut, gagal, ikut, gagal.
But, mencoba bersabarlah. Setidaknya aku masih bisa curhat di sini ^^
But, mencoba bersabarlah. Setidaknya aku masih bisa curhat di sini ^^
senasib sama aq. hahaha
BalasHapusHahahaha... bunyi nek min ada anggota fahmil yg jua pringkatnya nurun yaa, dirimu kan din?
HapusMe too.. pringkatku anjlok seanjlok2nya, btw *lol*