Kamis, 30 Januari 2014

LOVE (Oneshot)



            “Egghhhrr…” aku meremas roti kejuku geram. Orang di hadapanku meringis melihat roti yang ada di tanganku seketika menjadi gepeng kubuat. Kubidik matanya tajam. Bagaimana tidak, ia benar-benar membuatku geregetan tingkat atas setiap kali ia menceritakan akan pertengkaran ia dengan kekasihnya kepadaku. “Kalau ada apa-apa jangan cerita kepadaku lagi. Aku bosan mendengarnya!”
            “Ta-tapi, aku butuh masukanmu sekarang, ..” ucapnya menahanku yang saat itu berniat bangkit dari posisiku untuk meninggalkannya.
            “Masukan apalagi? Bukannya aku sudah sering memintamu untuk memutusi saja laki-laki itu? Lalu harus berapa kali aku mengatakannya lagi, eoh? Sampai mulutku berbusa.” Sahutku. Membuat Emily menundukan kepala dengan bibir yang mengerucut. Suatu kebiasaannya setiap kali merajuk karena tidak bisa mengelak lagi ucapanku. Dia benar-benar seperti anak kecil. Padahal statusnya adalah tanteku. Lebih tua satu tahun pula dariku. Aku hanya bisa membuang wajah lalu berdecak sebal.
---
            Aku tidak pernah berpikir akan terlibat dalam hubungan rumit mereka. Bagaimana bisa aku menjadi pihak yang pusing hanya karena mengurusi kisah cinta mereka seperti ini? Sebenarnya kalau dipikir-pikir ini bukan urusanku, sih. Aku bisa angkat tangan kapan saja, lalu membiarkan Emily uring-uringan sendiri menikmati sakit hatinya yang hampir terjadi 3 kali seminggu. Tapi bagaimanapun sisi kemanusiaanku juga tetap muncul. Emily adalah tante sepermainanku. Dia adik Ibuku yang paling bungsu. Kebersamaan kami dari kecil membuat kami malah terlihat seperti adik-kakak.
            Aku bukannya tidak peduli. Malah aku sangat peduli dengan Emily. Sudah berapa kali aku mengusulkan pendapatku supaya ia memutusi Jhon segera, lalu jadian saja dengan Kakak Pelatih. Bukannya dia juga sering berhubungan dengan Kakak Pelatih beberapa minggu ini? Jika kuamat-amati mereka berdua cocok sebenarnya apabila menjadi sepasang kekasih. Kakak Pelatih jauh lebih dewasa dibandingkan dengan Jhon yang tingkahnya lebih menyebalkan daripada anak kecil. Aku yang setiap kali melihat Jhon bersikap terlalu over terhadap Emily saja selalu makan hati. Apa Emily tidak merasa jenuh jika seperti itu terus? Benar-benar pasangan aneh.
---
            “Apa? Jadi dia-”
            “Ssttt!” Emily langsung menarik leherku dengan sebelah tangannya. Sementara sebelah tangannya yang lain membekap mulutku rapat. Aku yang ingin meronta seketika menjerit tertahan di dalam cekikan lengan Emily. Kakiku kananku menginjak batu kerikil dan itu sakit sekali. “Jangan keras-keras!” bentaknya.
            Setelah beberapa kali meronta, Emily menghentikan penganiayaannya terhadapku. Aku bisa menarik nafas dalam setelahnya. Meskipun leherku mau patah akibat lengannya yang terlalu kuat. Langkahku juga limbung karenanya.  
            “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku sembari berlari seperti sedia kala. Beriringan dengan Emily yang berada di sebelah kananku tanpa mengoceh-ngoceh panjang seperti biasanya hanya karena kakinya yang terinjak batu, atau karena perutnya sakit akibat makan duluan sebelum latihan.
            “Dia yang memberitahu semalam.” Jawab Emily pelan. Aku cukup kecewa mendengarnya. Itu berarti peluang rencanaku untuk mempersatukan mereka sudah berubah gelap. Titik terang yang kuharapkan seperti semenjak pertemuan kami pada awal latihan kini redup. “Mangkanya sekarang aku tidak menghubungi Kakaknya lagi.” Lanjut Emily. Aku menoleh ke arahnya. Mencoba menelisik wajahnya di bawah pencahayaan malam yang redup.
            “Kau kecewa dengan ini?” tanyaku yang sontak membuat Emily membulatkan mata begitu mendengarnya.
            “Ti-tidak!” sahutnya, “Siapa bilang, ..”
            “Sungguh kau tidak apa-apa?” tanyaku lagi, sedikit terdengar menggoda.
            “Kau, .. apa-apaan, sih? Aku betul tidak kenapa-kenapa! Aku punya Jhon dan aku tidak mungkin berpaling darinya. Dan yang perlu kauingat, aku tidak sama sekali menaruh perasaan terhadap Kak William!” ucapnya panjang lebar.
            “Apa kau yakin dalam minggu ini kau tidak akan bertengkar lagi dengan Jhon?” Emily terdiam mendengar pertanyaanku kali ini. “Jika kenyataannya kalian masih bertengkar, maka jangan temui aku lagi sebelum kalian benar-benar putus.”
---
            “Averi… Averi…” aku menoleh begitu mendengar seseorang memanggilku dengan suara yang berbisik. Irene di ujung rak dalam lorong yang sama denganku, tengah berdiri dengan tumpukan buku yang ia dekap. Ia tersenyum sembari melambaikan tangan dan beberapa detik kemudian melangkah mendekat ke arahku. “Apa yang kaulakukan di sini?” tanyanya seraya membetulkan letak kacamata besarnya yang agak melorot ke bawah.
            “Cari bukulah, masak beli nasi goreng?” -__-
            “Nggak biasanya gitu, .. Biasanyakan tongkronganmu di atap sekolah sambil baca komik.” Ucapnya lagi yang bikin aku bergeser beberapa langkah menjauh. Jujur saja, aku tidak pernah suka dengan anak ini. Kelakuannya kalau boleh dibilang sama saja dengan sepupunya yang adalah pacar Emily. Namun sayangnya, bocah ini terus saja mengikutiku. Jika aku bergeser 5 langkah, dia juga bergeser 5 langkah ke arahku. Membuatku  hampir saja meledak memarahinya seperti ketika aku meneriakinya “bocah aneh” di lapangan saat jam pelajaran olahraga pertama. Tapi aku menahannya saat mengingat sekarang aku tengah berada di perpustakaan. Ini adalah kunjungan pertamaku soalnya, jadi aku tidak ingin meninggalkan kesan tidak baik.
            “Apa kau sudah tahu?” Irene kembali mengoceh di sampingku. Aku yang tidak ingin menghiraukannya memilih berpura-pura sibuk dengan buku. Sementara dalam hatiku berdoa agar Tuhan menurunkan utusaannya dari langit untuk mendepak bocah menyebalkan ini dari kehidupanku. Aku benar-benar sudah tidak tahan sekarang. “Kemarin aku melihat Jhon. Dia tidak seperti biasanya.”
            “Ehhem..” aku berdehem begitu menutup buku yang aku pegang dan menaruhnya kembali ke tempat. Mencoba memberi tahu bocah di dekatku itu bahwa aku tidak sama sekali tertarik dengan topik pembicaraannya. Aku pikir ini adalah salah satu cara peneguranku yang halus. Dan aku berharap sekali untuk dia tidak kembali mengeluarkan suara kalau tidak mau aku benar-benar memuntahkan semua kejengkelan yang sedari tadi kutahan mati-matian.
            “Apa kau sudah tahu sesuatu?” bisiknya lagi. Kini aku benar-benar sudah jenuh. “Mereka sudah putus, … kemarin!”
            “Apa?” pekikku tertahan, “Me-mereka siapa maksudmu?”
            “Aissh, kau ini. Jangan bicara keras-keras! Kau taukan ini perpustakaan?!” ucapnya memperingatkanku. Seandainya saja dia tidak tengah membawa info yang aku pikir cukup penting, pasti aku sudah merebahkan salah satu rak buku agar menindihinya. “Mereka siapa lagi kalau bukan Jhon dengan tante mudamu itu.”
            “Sungguh?”
---
            “Kenapa lagi?” ucapku menegur Emily yang dari tadi tidak mengubah ekspresi mukanya. Dari kemarin dia terus-terusan cemberut seperti ini. Aku tau, … putus cinta memang tidak enak. Dan sekarang Emily sedang mengalami itu. Tapi, tidak seharusnya ia seperti ini berlarut-larut. Ia sebenarnya patut bersyukur karena Tuhan menunjukkan kebenaran apa yang selama ini selalu ia tampik setiap kali aku memberitahunya. “Sudahlah, .. kau jangan terlihat lebih bodoh hanya karena namja itu. Lebih baik kau berdoa dan berterimakasih kepada Tuhan karena matamu sudah dibukakan untuk melihat bagaimana kelakukan Jhon yang sebenarnya.”
            Emile tidak menanggapi perkataanku. Dia masih saja memain-mainkan sedotan minuman di hadapannya. Sementara satu tangannya menopang wajahnya yang menekuk sedari tadi. Aku sendiri heran, kenapa Emily harus ditakdirkan menjadi tanteku?
            “Ini semua bukan karena Jhon,” suara Emily keluar setelah sedari tadi diam. Matanya masih tidak berpaling dari gelas minumannya yang sedotannya masih dimain-mainkan oleh tangannya, “Tapi ini karena—“
            “Karena?” potongku yang sudah tidak sabar dengan apa yang sebenarnya ingin Emily sampaikan.
            “Aish~ Entahlah, .. aku hanya merasa sepi akhir-akhir ini. Kakak pelatih tidak menghubungiku seperti biasanya lagi.”
            TEPAT! Apa yang aku harap-harapkan keluar dari mulut Emily akhirnya pun keluar juga. Ini menjadi lampu hijau rencanaku yang sempat menggantung nasibnya, meskipun Emily tidak menyatakannya secara langsung, tapi dari ucapannya tadi aku menjadi benar-benar yakin dengan apa sebenarnya yang ia rasakan selama ini. Aku pikir, dia memang benar-benar menyukai… menyukai.
            “Tu-tunggu!” ucapku seraya mengeluarkan handphoneku dari saku jas seragam yang kukenakan, “Sepertinya ada pesan masuk!” Emily hanya diam. Terawangannya kini beralih ke arah luar jendela. Ini kesempatan emas. Aku harus menjalankan misi pertamaku. Suara Emily akan kurekam dan lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya.
            PLLIPP!
---
            “Kau benar-benar tidak kenapa-kenapa kalau aku pergi duluan?” tanya Emily yang saat itu sudah menunggangi sepedanya. Aku mengangguk dengan senyum untuk meyakinkannya.
            “Sungguh. Kau pulang saja duluan. Aku mungkin agak lama di tempat temanku. Tugas kami terlalu banyak.”
            Emile menganggukan kepalanya mendengar ucapanku, “Baiklah. Kalau begitu aku pergi. Bye~”
            “Bye~” sahutku seraya melambaikan tangan. Emily sudah beberapa meter menjauh dari tempatku berdiri. Aku tersenyum puas. Ah, sebenarnya belum seharusnya puas. Karena ini baru menginjak misi kedua. Aku harap semua berjalan dengan lancar.
---
            “Kakak Pelatih…” panggilku. Seseorang yang membelakangiku dan yang sepertinya sudah siap menghidupkan sepeda motornya, menoleh ke arahku yang berada beberapa meter di belakangnya.
            “Averi. Kau masih di sini? Kenapa belum pulang?” tanyanya. Aku belum menjawab. Memilih kembali melangkah untuk mendekat ke arahnya.
            “Ada yang ingin kubicarakan,” ucapku. Kulihat Kakak Pelatih mengernyitkan keningnya sebelum benar-benar menyetujui permintaanku dengan menganggukan kepala.
---
            Kakak Pelatih tampak semakin mengeratkan jaketnya. Malam ini memang cukup dingin. Kami sekarang duduk di sebuah bangku panjang yang berada di pinggir lapangan tempat kami latihan.
            Aku merogoh handphone di dalam sakuku dan mengeluarkannya. Sementara headset putih menggantung karena sebelumnya sudah kusambungkan. Aku memencet-mencetnya sebentar. Mencari rekaman yang tadi siang berhasil kudapatkan. Lalu menyodorkan headset itu ke arah Kakak Pelatih.
            “Kau harus mendengarkannya.” Ucapku. Kakak Pelatih hanya menatap apa yang kusodorkan, tidak mengambilnya segera. “Kau cobalah dengarkan dulu, baru nanti bertanya.” Kataku lagi. Ia pun mengambilnya meskipun terlihat sedikit canggung.
            Setelah ia mengenakan headset itu ke telinganya, aku pun mulai menyetel suara rekaman Emily di handphoneku.
            5 detik…
            15 detik…
            30 detik…
---
            “Apa semua itu benar?” tanya Averi. Suara dan tatapannya terkesan benar-benar menyelidiki. Membuat orang di sampingnya ketar-ketir dalam hati karena bimbang harus menjawab bagaimana. Ia membuang wajah ke sembarang arah dengan telapak tangan yang saling bergesek-gesekan. “Apa kau memang sudah memiliki seorang, .. girlfriend?”
            William menggeleng.
            “Lalu?”
            “Aku berbohong.” Ucap William singkat. Kepalanya menunduk.
            “Untuk apa?” Averi kembali menyerangnya dengan pertanyaan yang sulit sekali untuk dia jawab.
            “Karena, ..” sahutnya terbata, “Ka-karena aku pikir hanya dengan berbohong seperti itu aku jadi tidak terlihat seperti menutupi mati-matian perasaanku selama ini.”
            ‘Konyol!’ itu kata-kata yang terbersit pertama kali di benak Averi setelah mendengar pengakuan William. Ia terkekeh pelan. Benar-benar tidak habis pikir kenapa sepanjang hidupnya harus bertemu dengan orang-orang aneh seperti mereka? Emile, William, .. mereka semua hidup dalam pemahaman yang sulit sekali ditebak dan dicerna.
            “Lalu apa yang akan kaulakukan setelah ini? Kau sudah mengetahui semuanya. Tentang perasaan Emily terhadapmu selama ini dan kau juga tidak bisa lagi berbohong dengan perasaanmu sendiri, .. Kakak Pelatih!” Averi menekankan suaranya pada akhir kalimatnya. William yang mendengar hanya bisa membuang nafas berat. Apa yang dikatakan Averi itu semua benar. Dalam hati ia mengutuk kenapa Averi hidup dengan jalan pikiran yang lebih dewasa daripada dirinya? Padahal umur mereka terbilang cukup jauh.
            “Aku harap kau tidak mengambil tindakan bodoh. Cepat ungkapkan apa yang seharusnya kauungkapkan. Kau mengerti?”
            “Tapi aku masih tidak yakin dengan perasaannya yang sebenarnya. Aku takut jika itu hanya karena ia memiliki masalah dengan Jhon, dan-“
            “Dengar! Aku ini keponakannya. Aku sudah dekat dengannya dari semenjak kami kecil. Dan aku tahu semua tentang dirinya.” Balas Averi yang membuat ucapan William terpotong dan saat itu juga bungkam tak bisa berkata-kata lagi. “Besok adalah kesempatan. Aku harap kau bisa melakukannya.”
            William tidak bergeming saat Averi menepuk pundak William layaknya seseorang yang labih tua darinya. Dengan mimik wajah yang sok-sokan dewasa. Sementara William masih sibuk berkelut dengan hatinya. Antara mengikuti ucapan bocah tengik di hadapannya itu atau tidak. Telapak tangannya terasa panas sudah karena sedari tadi ia gosok-gosokkan. Suatu kebiasaannya apabila sedang gelisah.
            “Aku pulang duluan. Kita bertemu lagi besok. Oke, Kakak Pelatih?”
---
            Malam ini cuaca cerah. Ini adalah pertemuan ke-15 kami semenjak aku dan Emily memutuskan untuk mengikuti latihan di sini. Setiap waktu yang kami lalui di tempat latihan ini semua terangkum indah dalam memori otakku dan akan menjadi sebuah kenangan yang indah.
            ‘Kau harus mengatakannya malam ini jika tidak mau minggu depan perut dan tanganmu yang menjadi sasaranku. Mengerti?’
            Aku tidak tahu pasti apakah Kak William membaca pesanku atau tidak. Yang pasti aku hanya melihat ia yang terkekeh-kekeh sendiri, lalu menoleh ke arahku sambil mengacungkan ibu jari tangan kanannya.
            Yah… Aku harap semua akan menjadi happy ending. Karena aku pikir itulah tujuan hidupku sesungguhnya. Kebahagiaan yang sejati adalah ketika kita bisa membahagiakan orang-orang disekitar kita. Aku ingin Emily bahagia. Itu saja.
---
            “Emily,” suara seseorang menghentikan niatan Emily yang ingin segera mengayuh sepedanya untuk kembali pulang ke rumah. Lalu menoleh dan mendapati William berdiri di belakangnya.
            “Iya. Ke-kenapa?” tanyanya yang tidak berhasil menyembunyikan kegugupan.
            William melangkah beberapa tapak mendekat. “Ada satu pengumuman penting yang belum aku sampaikan.” Ucapnya begitu sudah berada di samping sepeda Emily.
            “Apa itu? Ke-kenapa tidak disampaikan saat penutupan tadi saja kalau itu sesuatu yang penting?”
            “Karena ini hanya menyangkut dirimu.” Sahut William yang sukses membuat Emily mengerutkan kening.
            “A-ada apa dengan aku?” tanyanya semakin gugup.
            “Kau bermasalah.” Balas William santai. Sementara Emily merasakan hawa tidak nyaman menyelimutinya. “Kau sudah membuat otakku mengalami permasalahan karena hanya memikirkan tentangmu. Dan selalu ingin berbicara mengenaimu.”
            “Maksudmu?” tanya Emily masih memasang tampang polosnya. Walaupun semburat kemerah-merahan tidak bisa ia cegah muncul di kedua belah pipinya. Ia bisa mencerna sedikit maksud perkataan itu karena ia tidak tuli dan bodoh. Tapi karena sesuatu yang membuatnya tidak yakinlah yang akhirnya menjadikan ia memutuskan untuk mengajukan pertanyaan yang menuntut kepastian terhadap William.
            “Aissh~” William mendengus lirih. “Kau belum juga mengerti, eoh?” tanyanya yang dijawab Emily dengan gelengan kepala. “Baiklah! Kali ini kau harus paham!” ucap William yang setelah itu pelan-pelan mendekatkan wajahnya. Emile benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi selain hanya menikmati detak jantungnya yang semakin detik semakin berdegup kencang tak beraturan. Ia berpikir sebentar lagi ia akan mendengarkan suara Ibunya berteriak membangunkannya. Jadi ia tidak ingin terlalu berharap jauh.
            “I love you.” Namun yang ditangkap oleh telinganya malah itu, bukan teriakan Ibunya. Ya, William baru saja mendekatkan wajahnya ke telinga sebelah kanannya hanya untuk mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang sebenarnya berhasil membuat Emily terenyuh beberapa saat. Seperti rohnya dicabut beberapa detik untuk sekedar melayang sejenak ke negeri kayangan. Sebelum akhirnya ia menyadari kenyataan bahwa sebenarnya ia masih di sini. Masih berada di dekat lapangan untuk mereka latihan. 
*

A Cup Of Ice Cream [Sekuel]


A Cup Of Ice Cream [Oneshot]


HEART - Chapter 2





HEART - Chapter 1