Selasa, 29 Oktober 2013

Catatan: 29 Oktober 2013

Asrama dan kost itu punya cerita masing-masing, dan aku sudah merasakan semuanya, semua manis-kecutnya, menjadi mozaik-mozaik berharga yang kukumpulkan dalam masa-masa penjelajahanku saat ini, dan sampai kapanpun nanti.

Menjadi salah satu dalam daftar anak-anak terpilih itupun aku teramat sangat bahagia. Menjadi salah satu di antara barisan saat upacara bendera di halaman sekolah tercinta. Satu tahun aku di sini, bersama-sama mereka--member exogen--menjadi tonggak berdirinya sebuah sekolah yang mendambakan ke-tawajun (keselarasan) dalam pribadi generasi-generasi penerus. Tawajun dalam jasadiyah, rohaniyah, serta fikriyahnya.

Satu tahun di sini, aku--lebih tepatnya kami-- selalu merindukan haru Jum'at. Sangat mendamba-dambakan ke datangannya. Pada hari yang penuh berkah itu, hari besar umat Islam, kami berkumpul bersama begitu usai pulang sekolah, membentuk sebuah lingkaran, mendengarkan murabbi kami membagikan ilmunya, dan pada saat itu kami merasa seperti diguyur air segar. Kami yang haus, kering, lelah, tiba-tiba kembali menemukan sumber mata air yang membawa kepuasan, kelegaan, dan kebahagiaan. Di sanalah kami, membentuk team Liqo' yang dibimbing oleh seorang murabbi cantik lagi anggun.

1 tahun berlalu...

Setelah melewati manisnya menjadi angkatan pertama, yang menjadi pusat perhatian, yang menjadi pelabuhan kasih-sayangnya Ustadz dan Ustadzah, kini kami sudah memiliki adik. Keadaan tidak lagi sepi seperti dulu, suara riuh-rendahnya mereka, menambah hangatnya suasana kekeluargaan di lingkungan penuh berkah ini.

Kini kami sudah memiliki teman untuk berjuang, teman yang bisa bersama-sama kami ajak menapaki bermacam-macam panggung perlombaan, teman yang bisa memberikan suara semangatnya begitu kami selesai menjalankan misi kami: memperkenalkan identitas kami sebagai murid-murid pilihan yang bernaung di bawah asuhan cahaya-cahaya ilmu.

Kami juga sudah memiliki banyak orang tua di sini. Tempat kami bercerita, berbagi, dan bercanda. Aku sering bercerita tentang impian-impianku ke depan kepada wali kelasku yang kami senang jika memanggilnya dengan sebutan "Mamah". Aku sangat menyukai bagaimana cara dia merespon curahan hati kami masing-masing, menanggapi sifat-sifat kami yang beragam dengan kejelian beliau mengamati pola tingkah laku anak-anak didiknya, lalu memberikan kami siraman tepat pada bagian yang kami merasa sangat kurang, merasa bahwa dengan satu hal itu kami tidak bisa menemukan dunia kami.

Aku mungkin belum bisa menjabarkan bagaimana serunya perjuangan kami untuk saat ini, tapi aku akan berusaha untuk menuliskannya kelak menjadi sejarah penting yang tertuang dalam lembaran-lembaran kertas yang disampul cantik. Tentang bagaimana gemetar saat menapaki tangga panggung pencarian bakat Da'i, tentang aku yang tertidur begitu sudah menyelesaikan soal-soal astronomi, juga tentang airmata yang jatuh saat penyusunan lembar akhir makalah-makalah kami. Semuanya... aku pasti akan merindukannya kelak.

Aku bersyukur di sini... karena Allah mengizinkanku bertemu dengan mereka yang mengajarkanku bagaimana caranya melaksanakan sholat dhuha, mendekatkanku dengan Al-Qur'an, serta mengajarkanku betapa indahnya hidup dalam ke-zuhudan.

I love them coz Allah...

In Dorm, 29 Oktober 2013

Rima Ha

Minggu, 13 Oktober 2013

Cerpen: Jerit Pilu Masa Lalu Ibu



Ini sebenarnya cerpen saya udah lamaaa bangeeets. Kalo enggak salah waktu masih kelas 2 SMP, dan pada saat itu saya emang lagi produktiv-produktivnya nelurin tulisan, walaupun masih acakadul enggak kenal EYD dan sebagainya. Hehehe... But, kalo dipikir-pikir saya lebih seneng tulisan saya yang dulu malah. Dulu itu enggak ribet kayak sekarang mesti pikir panjaaang sebelum nulis, kalo dulu apa yang ada di otak langsung aja tak tuangin.
Eniwei, ini cerpen dulu pernah saya kirim dalam sebuah event di dunia maya yang sayangnya enggak jelas, dan sampe sekarang orang yang ngadain itu enggak keliatan sama sekali. So, mending saya documentasiin di blog saya aja, ya ngeramein beranda yang udah lama enggak saya bersihkan. Hahaha...

Enjoy with my story... ^^

*


            ---IBU---
            Sesekali suara jerit sakit itu keluar lirih dari mulut seorang wanita yang sedang berusaha mempertaruhkan hidup dan matinya. Urat-urat di dahinya bertimbulan. Tangannya mengepal, guna menahan rasa sakit. Butir-butir peluh yang bersembunyi di balik kulit, satu persatu keluar melalui pori-pori.
            Khotbah Jum’at menggema. Detakan jarum jam yang terus merangkak, sedikit demi sedikit hantarkan napas pada satu titik pemberhentian. Shalat Jum’at usai, pada saat itu jua tarikan napas wanita itu terhenti. Sesosok manusia yang berlindung selama 9 bulan lebih di dalam perutnya itu tak bisa keluar. Mereka pergi bersamaan dalam detik yang sama pula.
            Seorang laki-laki masuk dengan langkah tergopoh-gopoh. Peci putih yang terpajang di kepalanya, menjadi saksi bisu suasana pada saat itu. Langkahnya terhenti di  ambang pintu kamar. Ia terpaku. Senyum indah yang terukir di wajahnya, tiba-tiba hilang entah kemana.
            Ditatapnya nanar wajah wanita yang kini terbaring kaku di atas pembaringan. Aku bisa merasakan sakit itu. Sakit yang melanda batin Ayah, ketika mendapati istrinya sudah tak lagi bernyawa. Istrinya meninggal, ketika hendak melahirkan anak ketiganya tepat pada hari Jum’at.
            Pertama, aku pun tak menyangka Ibu sudah pergi. Sempat aku menghampirinya dan mengatakan aku sedang kehausan. Adik laki-lakiku yang usianya terpaut satu tahun setengah dari usiaku juga turut mengikuti perbuatanku. Dingin, itu yang kurasakan ketika menggenggam tangan Ibuku.
            Ayahku menghampiri kami. Diusapnya kepala aku dan adikku dengan lembut. Bibirnya ia gigit. Berusaha melawan rasa sakit yang menghantam batinnya tanpa ampun. Lebih pedih dari pada digores sembilu. Dan lebih sakit daripada ditikam mata belati beracun.
            Adikku melepaskan pelukannya dari tubuh Ibu yang tak kunjung bergerak. Ditatapnya wajah Ayah yang mulai digelinangi airmata.
            “Ayah, Ibu kenapa tidak bangun-bangun?” rengek Ikhsan, adikku itu kepada Ayah.
            Ayah hanya tertunduk lesu. Menyembunyikan hantaman giginya yang dahsyat menggigit bibirnya sendiri. Airmatanya semakin deras tercurah. Sekuat tenaga dia kuasai dirinya. Berusaha tak menampakan goncangan dahsyat yang melanda batinnya.
            “Ibu kenapa, Yah?” kali ini aku yang angkat bicara.
            Ayah mengangkat wajahnya. Lalu menatap kami.
            “Aih, sudahlah. Ibu tak kenapa-kenapa.” jawab Ayah dengan senyum yang menyungging di bibirnya. Lalu diusapnya lagi kepala kami. Dan sekarang aku baru mengerti senyum itu. Senyum itu adalah senyum getir yang berusaha ditampakan olehnya dalam keperihan hati yang menyiksanya.
***
            Sejak aku berumur tiga tahun, dan adikku satu setengah tahun, kami harus menerima takdir yang pahit. Takdir menjadi seorang anak piatu. Kami hidup tanpa kehadiran Ibu lagi. Ibu yang seharusnya menjadi pendidik, pemerhati, dan sebagai tempat kami menghambur dalam tangis. Menumpahkan segala keluh kesah kami.
            Sejak kejadian waktu itu, aku dan adikku hanya dibesarkan oleh Nenek dan Kakek kami. Kami besar tanpa kasih sayang sang Ibunda. Dia sudah pergi dipanggil Sang Maha Kuasa. Aku masih ingat waktu itu, ketika adikku bertanya kepada Nenek, dimanakah sekarang Ibu? Nenekku hanya menjawab, kalau Ibu kami sekarang sedang bersama Allah di surga. Lalu Nenek berpesan, agar kami selalu mendo’akan Ibu agar di sana Ibu selalu mengingat kami dan nanti bisa berkumpul bersama-sama.
            Kami besar dalam didikan Nenek. Ayahku pindah ke kampung sebelah dan tinggal bersama istri dan keluarga barunya. Kerap kali rasa iri terbit di hatiku apabila melihat teman-teman sebayaku berjalan bergandengan dengan Ibunya. Jika mau pergi ke sekolah diantar. Diperhatikan dengan sebaik-baik perhatian yang tak akan pernah bisa aku rasakan lagi dan kutemukan ketika hidup bersama Nenek.
            Kadang, aku sering terisak sendiri di balik selimut yang menutupi tubuhku. Orang-orang rumah sudah pada terlelap dan hanyut dalam mimpi masing-masing. Sedangkan aku merintih lemah dalam selimutku sambil menyebut lirih nama Ibu. Betapa rindunya aku kepada Ibu. Aku ingin Ibu ada di sampingku. Mengusap lembut rambutku, menyisirnya, mengikatnya, lalu menggandeng tanganku ketika hendak ke sekolah.
            Nyilu perasaanku hanya bisa kualihkan ketika bermain dengan teman-teman sebayaku. Itu juga tak lama. Jika kami sedang asik bermain hingga tak kenal waktu, Ibu teman-temanku satu persatu datang dan menyuruh anaknya pulang dan mandi karena hari sudah mulai petang. Sedangkan aku? Aku pulang sendiri, ketika teman-temanku sudah pulang ke rumah masing-masing.
            Rasa hangat kembali terbit di mataku. Menjatuhkan sebutir mutiara mata, lalu merangkak pelan di pipiku. Aku berjalan dengan perasaan gontai menuju rumah. Gontai menanggung rasa iri yang tak terperikan. Di perjalanan aku terhenti sejenak. Menyaksikan pemandangan sore itu. Seorang anak yang melengkingkan suaranya tepat di depan muka Ibunya. Malah lebih keras dari suara Ibunya. Mata mereka saling bertatapan tajam. Aku menangkap warna kemerah-merahan di mata Ibunya. Mungkin amarahnya sudah sampai di ubun-ubun. Tapi sang anak tak menampakan wajah takut. Dia malah tambah keras menyahut perkataan Ibunya.
            “Astaghfirullah.” ucapku sambil mengelus dadaku. Kulanjutkan kembali langkahku yang sempat terhenti. Dalam langkah demi langkah kakiku, hatiku terus menggerutu. Betapa bodohnya anak yang tadi membentak Ibunya. Seharusnya dia bersyukur masih diberi waktu dan kesempatan oleh Allah untuk berbakti kepada Ibunya. Sedangkan aku? Aku sudah tak lagi ada kesempatan untuk membaktikan diriku kepada Ibuku. Aku tidak punya kesempatan untuk membanggakannya.
            Mungkin kejadian sore itu menjadi amanat tersendiri untukku. Menjadi pesan yang kelak bisa aku sampaikan kepada anak-anakku. Agar tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berbakti kepada orang tuanya. Jangan sampai melukai hati mereka. Karena banyak orang-orang yang tidak bernasib seberuntung mereka. Banyak anak yang tidak punya Ibu, tidak punya Ayah, atau bahkan tidak punya Ibu dan Ayahnya. Hidup sendiri, terlunta-lunta, dan tidak ada yang memperhatikan. Dalam hati ku bersyukur, karena Allah masih menitipkan Nenek dan Kakek yang masih memperhatikan kami.
***
            Malam ini, aku dan anak bungsuku, Archika namanya duduk di kursi teras rumah. Sinar terang bulan purnama menjadi penerang malam itu. Sungai Mahakam mengalir tenang mengikuti arusnya. Sungai yang menjadi mata pencaharian sebagian masyarakat desa kami. Desa terpencil nun di pedalaman Kalimantan.
            Anakku tadi siang mendapatkan piagam dari oliempiade yang diikutinya. Aku sangat bangga sekali. Aku selalu mendo’akan yang terbaik untuknya. Mendo’akan agar dia bisa menggapai cita-citanya untuk bisa lancar berbahasa Inggris dan menjadi penulis yang mampu memotivasi. Ya, aku tahu seperti apa anakku. Dia punya cita-cita yang tinggi untuk masa depannya. Aku sebagai orang tua hanya bisa mendo’akan dan menuntunnya agar tak salah jalan, serta mendidiknya agar menjadi pribadi yang baik yang tidak besar kepala kelak jika sudah menjadi orang besar. Aku berpesan kepadanya agar tidak membangkang kepada orang tua.
            "Jangan sia-siakan kesempatan, selagi orang tuamu masih ada. Sedangkan di sana, masih banyak anak-anak yang tidak bisa berbakti, karena orang tuanya sudah terlebih dahulu diambil Sang Maha Pemberi Hidup."
            Kulihat ia menundukan kepalanya. Mungkin otaknya sedang mencerna maksud ucapanku dan menanamkannya dalam hatinya. Tidak ada yang lain yang diharapkan seorang Ibunda selain keberhasilan  dan sikap patuh anaknya.
***
            ---Archika---
            "Jangan sia-siakan kesempatan, selagi orang tuamu masih ada. Sedangkan di sana, masih banyak anak-anak yang tidak bisa berbakti, karena orang tuanya sudah terlebih dahulu diambil Sang Maha Pemberi Hidup."
            Sejenak aku tertunduk. Kata-kata Ibu tertancap membekas dalam relung kalbuku. Sebutir mutiara mata yang sedari tadi kuusahakan untuk ditahan, kini merembes keluar dan satu persatu jatuh ke atas lembar piagam yang sedari tadi kugenggam dengan perasaan bangga. Piagam yang pertama kali kudapatkan, ketika mengikuti oliempiade Bahasa Inggris waktu itu.
            Entah berapa menit waktu yang tertelan dalam tundukku. Entah beberapa butir mutiara mata yang jatuh satu persatu. Akhirnya, kuangkat sedikit kepalaku yang terasa berat terpikuli seonggok beban di atasnya. Kutatap sejenak wajah Ibu. Buram. Ya, buram, karena pandanganku dihalangi cairan di mataku. Cairan itu saling berdesak-desakan, melonjak-lonjak ingin keluar.
            Kualihkan pandanganku ke depan. Sungai Mahakam menjadi saksi bisu kejadian malam itu. Ketika Ibu menceritakan betapa pilunya masalalu yang dia jalani dengan keikhlasan dalam kepedihan yang pasti sangat memerihkan rasanya. Hidup dalam rasa iri, ketika melihat teman-temannya berjalan digandeng oleh sang bunda tercinta, diusap dengan lembut kepalanya, disuapi makannya, dilengkapi segala kebutuhannya. Sedangkan Ibu? Ibuku tak pernah merasakan itu sejak berumur kurang lebih 3 tahun. Dia seorang anak piatu yang ditinggal mati Ibunya ketika hendak melahirkan adiknya yang kedua.
            Aliran sungai Mahakam tenang menuju hilir. Terus mengalir, seperti kasih sayang yang selalu Ibuku berikan. Perhatian yang tidak pernah terbagi. Nasihat yang hakikat. Kebenarannya tak bisa diganggu gugat. Ibuku adalah sosok yang penyayang. Penawar kegundahaan, pendengar yang baik, pahlawan yang paling berjasa, orang yang paling mengerti keadaan hatiku, karena darahnya mengalir ditubuhku.
            Kukembalikan pandanganku menatap wajah Ibuku. Matanya menatap nanar ke depan, ke arah Sungai Mahakam yang tepat berada di depan rumah panggung kami di pelosok tanah Kalimantan. Wajahnya mulai tampak garis-garis keriput. Pengorbanan dan kerja kerasnya membantu Ayah demi membiayai sekolah anak-anaknya tergambar lewat urat-urat tangannya yang bertimbulan. Rambut-rambut putih sedikit demi sedikit tumbuh di kepalanya. Semua pengorbanan itu, tak cukuplah jika hanya dibayar dengan prestasi demi prestasi yang kuraih selama ini. Tak akan pernah sebanding dengan piagam dalam genggamanku sekarang. Tak akan pernah terbayar dengan ranking demi ranking yang kuraih selama duduk di bangku Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama. Tak akan pernah lunas itu, dan tak akan pernah bisa dilunasi.
            Ibu, tak akan kusia-siakan waktu yang diberikan Allah untuk kita bersama. Aku akan berusaha sekuat tenaga dan sekuat kemampuanku meraih apa yang aku cita-citakan demi membanggakanmu. Meski kutahu, itu tak akan pernah bisa membayar semua ketulusanmu. Tapi, setidaknya bisa membanggakanmu adalah keindahan tersendiri dalam benakku. Biarlah Allah yang mengganti semuanya dengan kebahagian yang ia tujukan untukmu. Seperti do'aku dalam setiap sholatku.
***

Catatan Kecil Tentang Totto-chan si Gadis Kecil (The Little Girl at The Window) Karya Tetsuko Kuroyanagi

Bismillahirrahmanirrahiim...

Hal yang paling berkesan hari ini adalah saat aku mampu menghabiskan satu novel berjudul Totto-chan yang ditulis oleh seorang penulis besar dari Jepang bernama Tetsuko Kuroyanagi hanya dalam satu hari. Buku dengan jumlah halaman 272 ini aku dapatkan dari guruku yang merekomendasikan buku-buku bagus yang ia punya dari sekian banyak bukunya yang bertumpuk di dalam lemari.

Saat awal aku membaca buku ini, yang ada dalam imajinasiku adalah seorang anak peerempuan kecil hiperaktif yang mempunyai banyak mimpi dalam hidupnya. Mulai dari hendak menjadi penjual karcis, penari ballet, dan guru di sebuah sekolah yang diberi nama Tomoe. Aku sangat terkesan dengan karakter dari Kepala Sekolah yang dengan ikhlas mendengarkan seorang Totto-chan kecil bercerita hingga 4 jam lamanya. Sampai pada akhirnya  perlahan-lahan aku pun mulai hanyut dalam alur ceritanya.

Memang, aku tidak menemukan konflik yang pelik di awal dan tengah cerita. Saat membaca buku ini, aku hanya diajak untuk membayangkan seorang anak yang sangat mencintai keluarganya, sekolahnya, teman-temannya, Kepala Sekolahnya yang bijak dan seekor anjing peliharannya yang bernama Rocky. Aku hanya menemukan sebuah permasalah yang 'wow' itu pada saat kejadian di akhir cerita yang menjelaskan bagaimana bom berhasil melahap habis gerbong-gerbong kelas Tomoe Gakuen pada tahun 1945.

Namun, satu hal yang tidak pernah aku temukan dalam buku-buku yang pernah aku baca sebelumnya. Tetsuko Kuroyanagi telah menyisipkan tentang amanah yang besar untuk dunia pendidikan dari dalam alur cerita Totto-chan yang ringan. Betapa pembentukan karakterlah yang harus dinomor satukan. Aku benar-benar terharu saat membaca Catatan Akhir Tetsuko Kuroyanagi dalam Totto-chan, yang menceritakan bahwa bukunya telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa di dunia, menjadi best seller dan bahkan dijadikan bahan ajar di sekolah-sekolah di Jepang, dan yang paling kuingat ialah, bab "Sekolah tua yang Usang" menjadi bahan ajar bidang Budi Pekerti.

Aku sempat berbincang dengan seorang temanku setelah menyelesaikan buku ini, ya, sedikit bernostalgia akan pelajaran-pelajaran yang kami dapatkan saat kelas 1 SD dulu, namun tidak pernah lagi kami temukan hingga tingkat kedua di Sekolah Menengah Atas saat ini: yaitu bidang study Budi Pekerti. Dulu, sewaktu aku hendak masuk sekolah dasar, Ibuku sibuk menyiapkan buku-buku tulis untukku sekolah. Jauh sebelum aku benar-benar resmi menjadi seorang siswa kelas satu. Beliaulah yang menuliskan nama dan Bidang Study pada sebuah kertas putih yang digunting kecil lalu ditempelkan pada sampul buku bergambar kartun itu. Aku juga masih ingat saat dulu guruku membagikan buku paket kecil tentang Budi Pekerti. Sekarang, aku tidak menemukan mata pelajaran itu lagi. Aku tidak tahu apakah bidang studi itu diganti namanya, seperti PPKn menjadi PKn, atau digabungkan materinya dalam salah satu mata pelajaran, ataukah memang sudah ditiadakan. -__-

Dan dalam salah satu halaman buku Totto Chan ada dua paragraf yang sangat menarik hatiku, hingga kukutip menjadi sebuah status di jejaring sosial facebook.

Walaupun sebenarnya pemandangan seekor katak yang melompat ke kolam pasti sudah pernah dilihat banyak orang. Sejak berabad-abad yang lalu, di seluruh dunia, Watt dan Newton pasti bukan satu-satunya orang yang pernah melihat uap keluar dari ketel berisi air mendidih dan mengamati jatuhnya apel dari pohon.
Punya mata, tapi tidak melihat keindahan; punya telinga tapi tidak mendengar musik; punya pikiran, tapi tidak memahami kebenaran; punya hati tapi hati itu tak pernah tergerak dan karena itu tidak pernah terbakar. Itulah hal-hal yang harus ditakuti, kata Kepala Sekolah.

Kutipan novel Toto-chan, Tetsuko Kuroyanagi.

Kebanyakan orang tidak tertarik dengan hal-hal yang dianggap mereka spele padahal besar manfaatnya, contohnya ialah bagaimana apel bisa jatuh dari pohonnya. Mungkin mereka beranggapan bahwa itu sudah menjadi hukum alam. Namanya jatuh ya pasti ke bawah. Namun, sebagian orang termasuk Newton, saat melihat apel jatuh, ia memiliki sebuah ketertarikan yang kuat untuk memencahkan sebuah permasalahan. Apel jatuh yang dianggap spele itu, tiba-tiba memunculkan sebuah ilmu pengetahuan baru tentang gaya tarik bumi atau yang biasa kita kenal dengan gravitasi. Yang kemudian menjadi ilmu pengetahuan penting untuk perkembangan teknologi masa depan.

Seketika aku teringat dengan isi dari kitab suci kepercayaanku (Al-Qur'an) tentang bagaimana di sana Allah menyeru hamba-hamba-Nya dengan sebutan orang-orang yang berpikir, atau meminta hamba-hamba-Nya berpikir akan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Bahwa hal-hal yang besar, termasuk ilmu pengetahuan dan pendidikan hanya didapatkan oleh orang-orang yang mau berpikir.

Mungkin ini saja yang bisa saya tulisan dalam Catatan Kecil Tentang Totto-chan karya Tetsuko Kuroyanagi. Untuk siapapun yang tertarik dengan dunia pendidikan, buku ini adalah buku hebat yang bisa menuntun cara berpikir Anda tetang penting pendidikan daripada pembelajaran. 

Terimakasih. ^^

Oh ya, untuk yang mau tau biodata dari penulis Totto-chan silahkan klik link di bawah:

Tetsuko Kuroyanagi

Menikmati sejuknya kipas angin di sebuah kamar asrama, 13 Oktober 2013

Rima Ha

Catatan: 13 Oktober 2013

Atas sebuah permasalah, setiap orang punya spekulasi yang kuat tentang dirinya, dan hari ini aku bisa menarik sebuah kesimpulan. Allah menunjukkanku makna dari dua belah mata. Ya, siapapun, tidak bisa dipermasalahkan atas sebuah permasalahan. Jika kita menerima sebuah pendapat, lalu pada ruang dan waktu yang lain juga menerima dalam alasan yang berbeda, aku yakin semua akan goyah, kecuali kita mau berdiam sejenak, memikirkan hal yang ada, dan mengamati keadaan, pada saat itulah titik yang terang akan kita dapatkan.

Kalimat di atas yang kutulis menjadi sebuah status pada jejaring sosial Facebook bukanlah tanpa alasan yang jelas. Hari ini, aku bisa menarik sebuah benang merah dari permasalah yang akhir-akhir ini menjadi tranding topic di sekolahku. Bahkan akupun sempat  menjadi salah satu yang mengikuti perkembangannya. Hahaha...

Tapi sebelumnnya, aku ingat salah satu teman kostku pernah berkata, "Setiap tahun pasti berbeda," ucapnya pada suatu siore saat aku sibuk mengepak barang-barangku ke dalam sebuah ransel hitam besar bertuliskan "Say NO to Narkoba!" yang kudapatkan dalam sebuah seminar beberapa bulan yang lalu. Temanku berkata begitu, karena pada saat itu aku memutuskan untuk pindah ke asrama yang disediakan yayasan tempatku bersekolah. Setelah satu tahun kami bersama-sama hidup sebagai anak kost, tiba-tiba aku menyatakan akan pindah, dan aku hanya bisa tersenyum kecut saat menyaksikan ekspresi satu persatu temanku.

Kali ini, apa yang terjadi di sekolah juga membuatku kembali teringat akan kalimat: "Setiap tahun pasti berbeda." 

Teman-temanku banyak yang mengeluh dengan kondisi saat ini. Jadwal pelajaran semakin bertambah, beberapa karakter adik kelas yang kadang menjadi sorotan, hal-hal spele yang dijadikan permasalahan besar, dan keadaan kelas yang mulai berkubu-kubu. Aku yang pada saat ini tengah menjabat amanah sebagai Ketua Kelas cukup merasa down. Ternyata pada periode jabatanku, semua tidak terorganisir seperti dulu.

Namun, aku bingung, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk mencari jalan keluar ini.

Maka, aku memutuskan untuk sejenak berbincang dan saling bertukar pikiran dengan salah satu guruku. Beliau juga menyampaikan keluhan-keluhannya selama ini. Dan dari pembicaraan itu, aku bisa menangkap suatu sudut pandang yang baru. Aku mencoba memendamnya, dan kembali menguak informasi-informasi dari teman-temanku. Pada akhir perbincangan, kami menemukan satu titik fokus yang tertuju pada seseorang.

Dan pada suatu kesempatan yang lain, aku kembali bertukar pikiran pada guru yang lain, dan menemukan sudut pandang yang lain tentang permasalahan. Aku merenung sejenak, menyatukan spekulasi-spekulasi dari orang-orang yang berbeda, dan mencoba menarik sebuah benang merah.

Kini aku sadar, dan ingin berfilosofi tentang dua belah mata yang Allah ciptakan. Bahwa pada suatu permasalahan kita tidak bisa memandang dengan sebelah mata, berdasarkan hanya pada satu sudut pandang, dan memihak pada seseorang. Ada baiknya kita mengamati, mencerna dan menarik sebuah kesimpulan atas setiap spekulasi-spekulasi yang kita kumpulkan.

Aku sudah mengerti, setiap orang punya pendapat masing-masing yang kuat atas suatu permasalah. Aku tidak bisa memihak pada satu spekulasi, termasuk spekulasiku sendiri sebelum semua kucermati berdasarkan kondisi yang ada. Terimkasih. Seketika aku merasa hari ini aku seperti mendapatkan sekolah kehidupan.
In Dorm, 13 Oktober 2013

Rima Ha