Ini sebenarnya cerpen saya udah lamaaa bangeeets. Kalo
enggak salah waktu masih kelas 2 SMP, dan pada saat itu saya emang lagi
produktiv-produktivnya nelurin tulisan, walaupun masih acakadul enggak kenal
EYD dan sebagainya. Hehehe... But, kalo dipikir-pikir saya lebih seneng tulisan
saya yang dulu malah. Dulu itu enggak ribet kayak sekarang mesti pikir
panjaaang sebelum nulis, kalo dulu apa yang ada di otak langsung aja tak
tuangin.
Eniwei, ini cerpen dulu pernah saya kirim dalam sebuah event di dunia maya yang
sayangnya enggak jelas, dan sampe sekarang orang yang ngadain itu enggak
keliatan sama sekali. So, mending saya documentasiin di blog saya aja, ya
ngeramein beranda yang udah lama enggak saya bersihkan. Hahaha...
Enjoy with my story... ^^
*
---IBU---
Sesekali suara jerit sakit itu
keluar lirih dari mulut seorang wanita yang sedang berusaha mempertaruhkan
hidup dan matinya. Urat-urat di dahinya bertimbulan. Tangannya mengepal, guna
menahan rasa sakit. Butir-butir peluh yang bersembunyi di balik kulit, satu
persatu keluar melalui pori-pori.
Khotbah Jum’at menggema. Detakan
jarum jam yang terus merangkak, sedikit demi sedikit hantarkan napas pada satu
titik pemberhentian. Shalat Jum’at usai, pada saat itu jua tarikan napas wanita
itu terhenti. Sesosok manusia yang berlindung selama 9 bulan lebih di dalam
perutnya itu tak bisa keluar. Mereka pergi bersamaan dalam detik yang sama
pula.
Seorang laki-laki masuk dengan
langkah tergopoh-gopoh. Peci putih yang terpajang di kepalanya, menjadi saksi bisu
suasana pada saat itu. Langkahnya terhenti di ambang pintu kamar. Ia terpaku. Senyum indah
yang terukir di wajahnya, tiba-tiba hilang entah kemana.
Ditatapnya nanar wajah wanita yang
kini terbaring kaku di atas pembaringan. Aku bisa merasakan sakit itu. Sakit
yang melanda batin Ayah, ketika mendapati istrinya sudah tak lagi bernyawa.
Istrinya meninggal, ketika hendak melahirkan anak ketiganya tepat pada hari
Jum’at.
Pertama, aku pun tak menyangka Ibu
sudah pergi. Sempat aku menghampirinya dan mengatakan aku sedang kehausan. Adik
laki-lakiku yang usianya terpaut satu tahun setengah dari usiaku juga turut
mengikuti perbuatanku. Dingin, itu yang kurasakan ketika menggenggam tangan
Ibuku.
Ayahku menghampiri kami. Diusapnya
kepala aku dan adikku dengan lembut. Bibirnya ia gigit. Berusaha melawan rasa
sakit yang menghantam batinnya tanpa ampun. Lebih pedih dari pada digores
sembilu. Dan lebih sakit daripada ditikam mata belati beracun.
Adikku melepaskan pelukannya dari
tubuh Ibu yang tak kunjung bergerak. Ditatapnya wajah Ayah yang mulai
digelinangi airmata.
“Ayah, Ibu kenapa tidak
bangun-bangun?” rengek Ikhsan, adikku itu kepada Ayah.
Ayah hanya tertunduk lesu.
Menyembunyikan hantaman giginya yang dahsyat menggigit bibirnya sendiri.
Airmatanya semakin deras tercurah. Sekuat tenaga dia kuasai dirinya. Berusaha
tak menampakan goncangan dahsyat yang melanda batinnya.
“Ibu kenapa, Yah?” kali ini aku yang
angkat bicara.
Ayah mengangkat wajahnya. Lalu
menatap kami.
“Aih, sudahlah. Ibu tak
kenapa-kenapa.” jawab Ayah dengan senyum yang menyungging di bibirnya. Lalu
diusapnya lagi kepala kami. Dan sekarang aku baru mengerti senyum itu. Senyum
itu adalah senyum getir yang berusaha ditampakan olehnya dalam keperihan hati
yang menyiksanya.
***
Sejak aku berumur tiga tahun, dan
adikku satu setengah tahun, kami harus menerima takdir yang pahit. Takdir
menjadi seorang anak piatu. Kami hidup tanpa kehadiran Ibu lagi. Ibu yang
seharusnya menjadi pendidik, pemerhati, dan sebagai tempat kami menghambur
dalam tangis. Menumpahkan segala keluh kesah kami.
Sejak kejadian waktu itu, aku dan
adikku hanya dibesarkan oleh Nenek dan Kakek kami. Kami besar tanpa kasih
sayang sang Ibunda. Dia sudah pergi dipanggil Sang Maha Kuasa. Aku masih ingat
waktu itu, ketika adikku bertanya kepada Nenek, dimanakah sekarang Ibu? Nenekku
hanya menjawab, kalau Ibu kami sekarang sedang bersama Allah di surga. Lalu Nenek
berpesan, agar kami selalu mendo’akan Ibu agar di sana Ibu selalu mengingat
kami dan nanti bisa berkumpul bersama-sama.
Kami besar dalam didikan Nenek.
Ayahku pindah ke kampung sebelah dan tinggal bersama istri dan keluarga
barunya. Kerap kali rasa iri terbit di hatiku apabila melihat teman-teman
sebayaku berjalan bergandengan dengan Ibunya. Jika mau pergi ke sekolah diantar.
Diperhatikan dengan sebaik-baik perhatian yang tak akan pernah bisa aku rasakan
lagi dan kutemukan ketika hidup bersama Nenek.
Kadang, aku sering terisak sendiri
di balik selimut yang menutupi tubuhku. Orang-orang rumah sudah pada terlelap
dan hanyut dalam mimpi masing-masing. Sedangkan aku merintih lemah dalam
selimutku sambil menyebut lirih nama Ibu. Betapa rindunya aku kepada Ibu. Aku
ingin Ibu ada di sampingku. Mengusap lembut rambutku, menyisirnya, mengikatnya,
lalu menggandeng tanganku ketika hendak ke sekolah.
Nyilu perasaanku hanya bisa
kualihkan ketika bermain dengan teman-teman sebayaku. Itu juga tak lama. Jika
kami sedang asik bermain hingga tak kenal waktu, Ibu teman-temanku satu persatu
datang dan menyuruh anaknya pulang dan mandi karena hari sudah mulai petang.
Sedangkan aku? Aku pulang sendiri, ketika teman-temanku sudah pulang ke rumah
masing-masing.
Rasa hangat kembali terbit di
mataku. Menjatuhkan sebutir mutiara mata, lalu merangkak pelan di pipiku. Aku
berjalan dengan perasaan gontai menuju rumah. Gontai menanggung rasa iri yang
tak terperikan. Di perjalanan aku terhenti sejenak. Menyaksikan pemandangan
sore itu. Seorang anak yang melengkingkan suaranya tepat di depan muka Ibunya.
Malah lebih keras dari suara Ibunya. Mata mereka saling bertatapan tajam. Aku
menangkap warna kemerah-merahan di mata Ibunya. Mungkin amarahnya sudah sampai
di ubun-ubun. Tapi sang anak tak menampakan wajah takut. Dia malah tambah keras
menyahut perkataan Ibunya.
“Astaghfirullah.” ucapku sambil
mengelus dadaku. Kulanjutkan kembali langkahku yang sempat terhenti. Dalam
langkah demi langkah kakiku, hatiku terus menggerutu. Betapa bodohnya anak yang
tadi membentak Ibunya. Seharusnya dia bersyukur masih diberi waktu dan
kesempatan oleh Allah untuk berbakti kepada Ibunya. Sedangkan aku? Aku sudah
tak lagi ada kesempatan untuk membaktikan diriku kepada Ibuku. Aku tidak punya
kesempatan untuk membanggakannya.
Mungkin kejadian sore itu menjadi
amanat tersendiri untukku. Menjadi pesan yang kelak bisa aku sampaikan kepada
anak-anakku. Agar tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berbakti kepada orang
tuanya. Jangan sampai melukai hati mereka. Karena banyak orang-orang yang tidak
bernasib seberuntung mereka. Banyak anak yang tidak punya Ibu, tidak punya
Ayah, atau bahkan tidak punya Ibu dan Ayahnya. Hidup sendiri, terlunta-lunta,
dan tidak ada yang memperhatikan. Dalam hati ku bersyukur, karena Allah masih
menitipkan Nenek dan Kakek yang masih memperhatikan kami.
***
Malam ini, aku dan anak bungsuku,
Archika namanya duduk di kursi teras rumah. Sinar terang bulan purnama menjadi
penerang malam itu. Sungai Mahakam mengalir tenang mengikuti arusnya. Sungai
yang menjadi mata pencaharian sebagian masyarakat desa kami. Desa terpencil nun
di pedalaman Kalimantan.
Anakku tadi siang mendapatkan piagam
dari oliempiade yang diikutinya. Aku sangat bangga sekali. Aku selalu
mendo’akan yang terbaik untuknya. Mendo’akan agar dia bisa menggapai
cita-citanya untuk bisa lancar berbahasa Inggris dan menjadi penulis yang mampu
memotivasi. Ya, aku tahu seperti apa anakku. Dia punya cita-cita yang tinggi
untuk masa depannya. Aku sebagai orang tua hanya bisa mendo’akan dan
menuntunnya agar tak salah jalan, serta mendidiknya agar menjadi pribadi yang
baik yang tidak besar kepala kelak jika sudah menjadi orang besar. Aku berpesan
kepadanya agar tidak membangkang kepada orang tua.
"Jangan sia-siakan kesempatan,
selagi orang tuamu masih ada. Sedangkan di sana, masih banyak anak-anak yang
tidak bisa berbakti, karena orang tuanya sudah terlebih dahulu diambil Sang
Maha Pemberi Hidup."
Kulihat ia menundukan kepalanya.
Mungkin otaknya sedang mencerna maksud ucapanku dan menanamkannya dalam
hatinya. Tidak ada yang lain yang diharapkan seorang Ibunda selain
keberhasilan dan sikap patuh anaknya.
***
---Archika---
"Jangan sia-siakan kesempatan,
selagi orang tuamu masih ada. Sedangkan di sana, masih banyak anak-anak yang
tidak bisa berbakti, karena orang tuanya sudah terlebih dahulu diambil Sang
Maha Pemberi Hidup."
Sejenak aku tertunduk. Kata-kata Ibu
tertancap membekas dalam relung kalbuku. Sebutir mutiara mata yang sedari tadi
kuusahakan untuk ditahan, kini merembes keluar dan satu persatu jatuh ke atas
lembar piagam yang sedari tadi kugenggam dengan perasaan bangga. Piagam yang
pertama kali kudapatkan, ketika mengikuti oliempiade Bahasa Inggris waktu itu.
Entah berapa menit waktu yang
tertelan dalam tundukku. Entah beberapa butir mutiara mata yang jatuh satu
persatu. Akhirnya, kuangkat sedikit kepalaku yang terasa berat terpikuli
seonggok beban di atasnya. Kutatap sejenak wajah Ibu. Buram. Ya, buram, karena
pandanganku dihalangi cairan di mataku. Cairan itu saling berdesak-desakan,
melonjak-lonjak ingin keluar.
Kualihkan pandanganku ke depan.
Sungai Mahakam menjadi saksi bisu kejadian malam itu. Ketika Ibu menceritakan
betapa pilunya masalalu yang dia jalani dengan keikhlasan dalam kepedihan yang
pasti sangat memerihkan rasanya. Hidup dalam rasa iri, ketika melihat
teman-temannya berjalan digandeng oleh sang bunda tercinta, diusap dengan
lembut kepalanya, disuapi makannya, dilengkapi segala kebutuhannya. Sedangkan
Ibu? Ibuku tak pernah merasakan itu sejak berumur kurang lebih 3 tahun. Dia
seorang anak piatu yang ditinggal mati Ibunya ketika hendak melahirkan adiknya
yang kedua.
Aliran sungai Mahakam tenang menuju
hilir. Terus mengalir, seperti kasih sayang yang selalu Ibuku berikan.
Perhatian yang tidak pernah terbagi. Nasihat yang hakikat. Kebenarannya tak
bisa diganggu gugat. Ibuku adalah sosok yang penyayang. Penawar kegundahaan,
pendengar yang baik, pahlawan yang paling berjasa, orang yang paling mengerti
keadaan hatiku, karena darahnya mengalir ditubuhku.
Kukembalikan pandanganku menatap
wajah Ibuku. Matanya menatap nanar ke depan, ke arah Sungai Mahakam yang tepat
berada di depan rumah panggung kami di pelosok tanah Kalimantan. Wajahnya mulai
tampak garis-garis keriput. Pengorbanan dan kerja kerasnya membantu Ayah demi
membiayai sekolah anak-anaknya tergambar lewat urat-urat tangannya yang
bertimbulan. Rambut-rambut putih sedikit demi sedikit tumbuh di kepalanya.
Semua pengorbanan itu, tak cukuplah jika hanya dibayar dengan prestasi demi
prestasi yang kuraih selama ini. Tak akan pernah sebanding dengan piagam dalam
genggamanku sekarang. Tak akan pernah terbayar dengan ranking demi ranking yang
kuraih selama duduk di bangku Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama.
Tak akan pernah lunas itu, dan tak akan pernah bisa dilunasi.
Ibu, tak akan kusia-siakan waktu
yang diberikan Allah untuk kita bersama. Aku akan berusaha sekuat tenaga dan
sekuat kemampuanku meraih apa yang aku cita-citakan demi membanggakanmu. Meski
kutahu, itu tak akan pernah bisa membayar semua ketulusanmu. Tapi, setidaknya
bisa membanggakanmu adalah keindahan tersendiri dalam benakku. Biarlah Allah
yang mengganti semuanya dengan kebahagian yang ia tujukan untukmu. Seperti
do'aku dalam setiap sholatku.
***