Selasa, 24 September 2013

Catatan: 24 September 2013

Kota Tenggarong hari ini terbakar oleh cahaya matahari. Sejak tadi pagi rasanya tubuh gue udah dibanjiri keringat. Padahal enggak ngapa-ngapain, cuman duduk diem dengerin guru-guru ngejelasin pelajaran, tapi keringatnya udah kayak orang maraton 10 kilo.

Beberapa hari yang lalu, gue sempat nukerin kartu memori hape gue yang lama ke hape gue yang sekarang, awalnya cuman iseng-iseng sih masukin, berhubungan kartu memori gue yang dihape sekarang udah penuh sama documentasi-documentasi gokil gue sama temen-temen kelas gue selama satu tahun. Mp3nya penuh sama lagu korea, dan rekaman-rekaman gue nyanyi-nyanyi sama sepupu gue, si Tabi. Hahaha.

Gue jadi ingat, satu tahun yang lalu, sebelum gue masuk SMA, gue masih hanyut dalam asik-asiknya masa ABG :D Gue suka banget sama Korean Music. Sampe sekarang juga masih, tapi kayaknya lebih gilaan dulu, deh. 

Dulu gue kayaknya girang banget kalo ada orang yang nanya, "Fandommu apa?" lalu dengan bangganya gue jawab, "SHAWOL, dong!" Ya, gue jatuh cinta untuk pertama kali sama Boyband Korea itu gegara SHINee. Gue sering nyebut-nyebut diri gue sendiri 'Istrinya Onyu' waktu itu. Gila banget ya? Tapi enggak sih, banyak kok yang lebih gila lagi daripada gue. Hahaha.

Dan gegara Korea juga nih, hubungan gue sama sepupu gue si Tabi yang awalnya jauuuh banget, jadi lengket kayak permen karet. Dia lebih dulu keserang virus Korean Wave daripada gue. Dia bangga kalo bilang dirinya itu VIP, dan punya harapan tinggi kalo TOP Big Bang bakal nunggu dia meskipun sampe umur 41 tahun. Hampir setiap hari gue sama dia telponan, udah lebih parah daripada orang pacaran. Udah biasa kita ngehabisin 200 menit telponan dalam satu malam. Pernah gue diteriakin sama Ibu gegara telponan sambil ngakak-ngakak sampe pukul 2 malam. Itulah parahnya kita.

Video-video Korea udah ngehabisin setengah memori laptop kita. Kalau udah ke warnet, pernah enggak ingat jam, 12 ribu sekali ngenet, dan dalam 1 minggu bisa 5 kali ke warnet. Kaliin aja sudah 12 kali 5 berapa. -__-

Enggak cukup cuman donlod di warnet, gue sama sepupu gue juga berburu kaset-kaset variety shownya mereka, bahkan sampe melakukan transaksi belanja lewat online. Satu lagi, Korea bikin gue deket sama bank :D Dan yang bener-bener gila, sumpah gila, sampe Ibu gue marahnya berhari-hari baru reda itu gegara gue sama sepupu gue beli album originalnya mereka yang harganya hampir 300 ribu. Awalnya Ibu gue enggak pernah permasalahin gue yang sering transfer-transfer di bank, karena kalo enggak gue transfer biaya penerbitan buat antologi-antologi gue (hasil ikut lomba di FB), beli buku, atau gue beli baju-baju online yang nantinya gue distribusiin lagi ke teman-teman. Tapi, pas dia lihat barang yang datang itu cuman sekotak kecil DVD Korea, Ibu gue meledak. Dan waktu itu gue sama si Tabi menikmati masa-masa sulit kami karena ditentang orangtua -___-

Balik lagi ke masalah hape, jadi dulu, waktu masih SMP, hampir setiap hari gue karokean sendiri di kamar. Nyalain laptop, puter mp3 korea, buka lirik lagunya yang gue copas di ms word, gue pun berdendang penuh penghayatan dengan pintu terkunci rapat. Enggak boleh ditegur, enggak boleh diganggu! Apabila gue nyanyi adalah sama aja ganggu orang ibadah.

Setiap si Tabi libur, dan dia bisa pulang kampung, kita berdua duet di kamar, lalu ngerekam suara kita di hape. Sebagai documentasi masa-masa kegokilan kita berdua.

Begitu gue masukin memori hape gue yang lama, tiba-tiba hape gue sekarang penuh dengan klip-klip suara enggak jelas. Suara-suara sumbang pun dengan kerasnya keluar dari speaker hape gue. Di sekolah tadi, gue cuman bisa senyam-senyum. Kegilaan-kegilaan tahun lalu, jujur gue kangen banget. Gue kangen banget mau nanyi sambil ngedance enggak jelas di kamar gue bareng si Tabi, lalu ngerekam suara kita bedua di hape. Gue kangen kamar gue, kangen meja belajar gue tempat gue ngeletakin lapton gue yang berdebu. Gue kangen tempat tidur gue yang dulu sempat gue jadiin panggung buat gue konser lagu korea. Gue kangen begadang sampe pukul 4 dini hari cuman buat baca fanfic atau enggak donlod video sama lagunya korea. Gue kangen sama omelan Ibu yang sekarang cuman bisa gue nikmatin kalau libur panjang.

Sekarang gue udah SMA. Gue udah ngambil jurusan yang mesti gue pertanggung jawabkan ke depannya. Gue enggak bisa leha-leha lagi. Teknik belajar yang aua-ua sempat bikin gue keteteran waktu kelas 10. Karena semakin lama tinggal di perantauan, kayaknya tanggung jawab gue makin bertambah. Apalagi kalau ingat orangtua di kampung. Dosa banget gue kalau seandainya biaya hidup gue di sini cuman gue habisin buat donlod video di warnet, sementara di sana orang tua gue susah payah cari duit. 

Untuk kegilaan-kegilaan itu, cukuplah waktu itu saja. Sekarang gue udah bisa berpikir dengan apik, ya setidaknya lebih jernih daripada beberapa tahun yang lalu. 

Catatan ini gue tulis dalam rangka kegalauan yang hebat akibat rindu kampung halaman.

In Dorm, Tenggarong, 24 September 2013

Rima Ha

Rabu, 18 September 2013

18 September 2013

Setiap orang punya watak dan prinsip yang berbeda2, juga punya sudut pandang tidak sama. Well, aku mencoba untuk tersenyum menanggapi ini. ^^

(Status FB: Rhima CiiDdeqqjleqq)

Hampir pukul 07.00 teng! aku keluar dari area Jafar Seman menunggangi sepeda motor kesayanganku: si Fevan. Seperti biasa, Teteh masih duduk di boncengan belakang, tapi kali ini dengan tumpukan buku-buku paket di tangannya. Buku-buku itu sengaja aku titipin ke dia, soalnya aku enggak mau ngambil resiko nyungsep ke dalam parit kalau harus ngebawa si Fevan sambil nenteng-nenteng buku paket segala.

Datang di sekolah, temen-temen, adik-adik kelas, juga ustadzah-ustadzah, udah duduk berjejer rapi di depan kelas sambil nenteng juz 'ama masing-masing. Dalam hati aku bergumam: ketua kelas teladan (telat datang)

Seperti hari-hari biasa, muraja'ah adalah awal kegiatan kami setiap pagi di sekolah. Karena hari ini hari rabu, jadwalnya adalah Al-mutafifin sampai An-naba'.

Usai muraja'ah, Nikko bilang, "Rim, kita izin aja yuk enggak belajar,"

"Aku sih ngikut aja," responku, lalu beralih menatap ke arah wali kelas kami yang saat itu masih duduk di dalam lingkaran kami.

"Kita turun aja dulu ke bawah, nanti sharing dulu bareng Ustadzah pembimbing kalian,"

Kami (aku dan Nikko) mengangguk setuju dengan pendapat wali kelas kami. Kemudian bersama-sama berjalan menuruni tangga untuk menuju kantor guru. 

Di sana, sudah ada beberapa guru yang datang, termasuk Ustadz Novian, Ustadz Ikin, dan Ustadzah Elizabet selaku wali kelas kami.

Kami duduk di bangku tamu bersampingan. Ustadzah Eliz datang menghampiri, beliau melihat kami satu persatu. Lalu beralih ke arah Ustadz Ikin yang saat itu sedang berbincang dengan Ustadz Busra.

"Anak-anak maunya dikasih dispensasi (izin enggak ikut belajar) selama dua hari, biar mereka bisa fokus sama KIRnya. Gimana Ustadz, boleh enggak?" jelas Ustadzah Eliz meminta persetujuan. Dalam hati kami berharap: boleh dong, boleh dong, boleh dong.

Lalu, tanggapannya bermacam-macam. Beberapa guru ada yang langsung dengan terbuka bilang: ya, nggak masalah. Ada juga yang setuju asalkan harus ikut ulangan susulan, tapi ada juga nih yang enggak ngasih izin sama sekali.

"Besok tetap ulangan ya. Enggak masalahkan sambil belajar entar malam?"

Aku sama Nikko saling nyenggol. Nggak ngasih respon sedikit pun. Cukup diem dan berpura-pura fokus dengan halaman makalah yang belum beranjak dari BAB II sementara waktu hanya tersisa dua hari. 

Siapapun pasti paham dengan kondisi dua orang anak sekolah seperti kami yang harus membagi fokus antara pelajaran sekolah dengan event-event yang diikuti. Malam tidur jam 23.00 adalah yang terhitung paling cepat. Itupun dengan tumpukan kertas-kertas referensi di atas kasur yang belum tuntas dikerjain. Juga, laptop yang belum di shut down-kan -__-

Tapi, yang menganggu, kenapa sih ada gitu orang yang seolah-olah kita itu enggak punya beban. Kayak kita ini main-main. Well, aku tau kok gimana kami tahun lalu. Ikut, gagal, ikut, gagal.

But, mencoba bersabarlah. Setidaknya aku masih bisa curhat di sini ^^


Kamis, 12 September 2013

Random Day (Cerpen)



Pucuk dicinta ulam pun tiba!
Sampai saat ini aku belum tahu tentang sejarah dari pepatah itu. Dari mana bahasanya dan siapa pencetusnya. Tapi, aku tidak tengah berbohong saat ini ketika aku mengatakan kalau aku mengalaminya. Aku merasakan makna dari kalimat itu. Pepatah itu, entah kenapa terasa dekat sekali denganku hari ini.
Aku tidak peduli dengan reaksi orang-orang yang kami lalui di jalan, ketika melihatku yang tengah mengendarai motor sambil menjerit-jerit kegirangan, tanpa bisa menghapus tautan lebar yang terkembang di wajahku. Aku bahagia sekali, sampai-sampai membuat teman yang berada di belakangku, beberapa kali menggoyang-goyangkan kepalaku yang tertutup helm berwarna putih, bermaksud agar aku sadar saat itu juga bahwa tingkahku lebih tepat dikira orang gila daripada orang yang jatuh cinta.
“Aaaa... Dokter,” pekikku lagi, sambil menyalip satu mobil Avanza hitam yang awalnya ada di depan kami. Sukses membuat temanku menjerit dan secara langsung menghantamkan kepalan tangannya ke punggungku. Dia shock!
“Ah, dia tampan sekali,” ucapku lagi, dan tersenyum semakin lebar. Entah kenapa, aku merasakan udara sangat lembut hari ini. Apakah memang begini? Tidak terlalu terlambat untukku merasakan yang namanya jatuh cinta, kan?
Tapi seseorang yang berada di belakangku tidak merespon sama sekali. Maafkan aku jika ini adalah karma.
Tapi, satu hal yang bisa digaris bawahi, seseorang yang jatuh cinta tidak bisa berhenti mengoceh tentang seseorang yang disukainya.Ya, aku yakin kau setuju.
“Shindi, kau lihat sendirikan? Dia memang keren! Aku tidak salahkan? Aku memang benar-benar jatuh cinta pada seseorang yang tepat, kan?”
“Iya...” sahut Shindi di belakang. Aku tersenyum. Meskipun tidak tahu jawaban itu memang benar-benar tulus atau hanya menutupi prinsipnya yang lebih keseringan abstain dengan pilihan.
“Hahh... Aku harap kami akan bertemu lagi pada suasana yang lebih indah.”
Entah dari mana datangnya udara yang menggerakan hatiku untuk mengucapkan kalimat yang lebih tepat disebut munajat: “Oh, Tuhan.. kalau memang dia jodohku maka dekatkanlah kami, Ya Tuhan.”
Dan aku tidak tahu bagaimana keadaan Shindi di belakangku. Apakah jeruk-jeruk yang baru dimakannya sudah habis dimuntahkannya? Yang bisa kudengar dia hanya mendengus sambil mengucapkan sesuatu, “Kau gila!”
Tapi, itu membuat senyumku semakin lebar.
*
Sore itu, aku baru menginjakkan kaki ke plat saat jam menunjukkan pukul 8 malam. Padahal hari ini hari libur yang seharusnya aku gunakan untuk beristirahat dari segala kegiatan yang menguras tenaga. Satu minggu lagi kami akan menghadapi ujian semester genap, tapi aku malah tetap menenggelamkan diriku dalam kesibukan organisasi-organisasi yang kuikuti.
Book Club adalah salah satunya. Bersama Miss Jus, pembina dari organisasi ini, kami menyusun agenda untuk acara bedah buku yang akan dilaksanakan 2 minggu kedepan. Rapat kerja untuk membentuk siapa saja yang menjadi panitia, cukup memakan waktu. Menentukan di mana acaranya, siapa penanggung jawab, serta hal-hal yang berbau dana dan sponsor harus kami susun rapi mulai hari ini, agar senin besok bisa dijalankan oleh penanggung jawab yang sudah diberi tugas.
Setibanya aku di plat, tidak ada tanda kehidupan sama sekali. Sepi. 3 orang temanku tengah berada di kampungnya masing-masing untuk menyelesaikan prakerin mereka selama 2 bulan. Hanya tersisa aku dan Shindi di sini. Tapi dia belum pulang sejak 2 hari yang lalu, dan terpaksa izin dari kantor tempatnya praktek, karena terserang diare. Dia masih di kampung sampai hari ini.
“Oh,”
Aku baru teringat, kalau aku belum mengecek handphoneku sama sekali. Biasanya jam-jam seperti ini, sms dari Ibuku masuk untuk sekedar menanyakan kabar.
Aku mendudukan tubuhku pada salah satu bangku meja makan, sambil mencoba membetulkan letak tulak punggungku dan pundakku yang sedikit melorot.
‘Kamu dimana, Mei? Udah ada di kost belum?’
Aku menggaruk kepala. Ini tidak seperti biasanya. Yang masuk bukan sms Ibuku, tapi saudara perempuanku.
‘Aku sudah di plat, nih. Kenapa?’
Tidak lama setelah aku membalas pesannya, handphoneku berdering, menandakan bahwa seseorang menelponku. Aku melirik. Penelponnya kakakku.
“Ya, hallo!”
“Kamu baru pulang?”
“Baru aja. Kenapa, kak?”
“Itu.. tadi Bapak di bawa ke Rumah Sakit.”
“Apa?!”
Aku tidak tahu bagaimana keadaan pendengaran kakakku saat ini. Yang aku peduli hanya informasi mengapa Bapak sampai harus dibawa ke Rumah Sakit kota?
“Ayah tadi sakit perut. Mungkin 10 menit lagi udah di sana. Kamu cek ya, kakak tadi enggak bisa ikut. Keponakanmu ini kasiannya. Nanti kasih kabar, oke?”
“Tapi keadaannya enggak parah-parah banget, kan?” tanyaku lagi yang cukup terundungi rasa panik.
“Enggak. Tadi bisa jalan, kok.”
“Ya, sip! Aku ke sana, nih. Nanti aku kabarin.”
Aku meletakan handphoneku begitu saja ke atas meja makan. Perasaanku tidak enak sama sekali sekarang. Belum hilang rasa pegal di tubuhku, sudah mendapat kabar kalau Ayah di bawa ke rumah sakit.
Aku bergegas bangkit dari posisiku. Melesat ke kamar mandi untuk sekedar membasahi wajah dan kepala, setelah itu segera mengganti seragam organiasai yang sejak tadi pagi kugunakan dengan kemeja coklat panjang dan rok hitam panjang.
Keadaan Ayah benar-benar mengganggu konsentrasiku. Aku terus berpikir bagaimana bisa Ayah yang selama ini jarang sakit-sakitan, malah harus dibawa ke Rumah Sakit seperti saat ini. Setelah sempat berkeliling hanya untuk mencari kunci motor yang memang sering terlupakan olehku, aku pun berangkat dengan tas ransel biru di pundak. Tas ransel yang selalu menjadi bahan ejekan Ayah dan Ibuku. Ah, Ayah.. Bagaimana keadaanmu?
*
Sesampainya aku di tempat tujuan, aku bisa melihat om-omku tengah menunggu di bangku panjang depan ruang IGD. Dari parkiran, aku berlari-lari kecil. Membawa selembar kertas kecil berwarna abu-abu di tanganku.
Menyempatkan menyapa saudara-saudara Ayahku yang hampir semuanya datang mengantar, aku langsung melesak ke dalam, mencari Ayahku. Dan tidak jauh dari pintu, aku melihat Ayahku duduk di atas sebuah ranjang sambil menekan perutnya dengan kain panas tebal. Ibuku berdiri di sampingnya untuk menunggu.
“Kok bisanya sakit perut sampai masuk rumah sakit?” tanyaku entah tertuju kepada siapa, dan belum sempat dijawab, aku kembali melempar pertanyaan, “Masih sakit kah, Yah?”
“Sekarang udah kurang.” Sahut Ayah.
“Udah disuntik tadi sama dokter.” Ibuku menimpali. Aku bisa melihat raut kusut yang belum semuanya hilang dari wajahnya.
Aku mengedarkan pandanganku. Bau rumah sakit yang khas dan membuatku tidak terlalu suka untuk datang ke sini. Terakhir aku datang sewaktu mendapat kabar adik Ibuku masuk ICU karena operasi usus buntu yang harus dilakukan hingga dua kali. Dan malam ini, aku datang lagi.
Sosok tinggi berkacamata, mengenakan seragam putih—yang bisa segera kutangkap bahwa dia adalah seorang dokter—keluar dari balik tirai yang mana di sana terbaring pasien perempuan dalam keadaan perut membuncit. Di lehernya melingkar alat medis yang biasa digunakan seorang dokter. Dan entah kenapa tiba-tiba bau khas rumah sakit yang tidak kusukai berubah menjadi aroma harum-haruman yang menyejukkan. Jika ini sebuah drama, mungkin saat ini adalah scene dimana cupid-cupid kecil mengarahkan anak panahnya ke hatiku. Tapi aku belum bisa menyimpulkan, apakah ini yang namanya terpesona? Yang kutahu jantungku tiba-tiba berdetak tanpa irama, dan mataku.. ah, kenapa sulit sekali teralihkan ke arah yang lain.
Hingga sebuah suara menghentikanku, “Emei, beliin bapak sate. Bapak mau makan satu kambing, nih..”
*

My Mom said, ...


Ibu bilang, kalau laki-laki itu tonggak pembaharuan. Dia merintis jalan untuk keturun-keturunannya dengan berpatokan dari mimpi yang ia dapatkan. Itu bukan sekedar mimpi belaka yang lantas dilupakan saat terbangun di pagi hari, tapi itu mimpi yang membuatnya menangis saat harus menyampaikan kepada keluarganya, dan tak pelak membuat semuanya ikut meneteskan airmata.
Aku tidak pernah melihat rupanya, bahkan Ibuku yang menceritakannya. Tapi, itu tidak mengurangi rasa kagumku terhadapnya. Bagaimanapun jauhnya perbedaan masa yang memisahkan kami, tapi yang ada dalam diriku adalah bagiannya dan dalam dirinya adalah bagianku. Karenanya aku ada, dan sampai kapapun aku merasakannya di sampingku.
Aku bisa melihatnya di cermin, dan aku tidak berbohong tentang ini. Jika aku melihat sepasang mata kecil di depanku, itu adalah matanya. Jika aku melihat kulit putih pucat, itupun kulitnya. Ya, kami sama. Walaupun hanya setetes, tapi ditubuhku mengalir darahnya. Dan walaupun sebait, aku menyukai ceritanya.
Aku tidak bisa membayangkan jika saja ia tidak mengalami perjalanan dalam komanya, sebagaimana yang aku dengar dari cerita Ibuku. Bagaimana jadinya kami, jika seandainya nyalinya ciut untuk mengatakan tentang niatnya kepada keluarganya saat ia terbangun setelah berbulan-bulan terbaring sebagai pasien yang kehilangan fungsi otak? Apakah tetap akan ada kami? Apakah aku ada di dunia sebagai seorang gadis yang gemar menelisik masalalu dan menuliskannya ulang sebagai sebuah cerita?
Tuhan memang Mahatahu.
            Ibuku bilang, dari laki-laki itulah lahir seorang wanita cerdas. Mengelola kebutuhan keluarga tanpa mengenyampingkan tugas utamanya sebagai madrasah pertama. Dari rahimnya pun lahir seorang wanita manis yang tak ingin jadi tebu. Dia nenek yang disayangi oleh cucu-cucunya. Dia nenek yang bisa berkata dengan tegas, “Kalau kamu memang tidak sanggup menghidupi anak cucuku, lebih baik kembalikan saja kepadaku. Hidup denganku, anak cucuku mustahil kelaparan. Kalau memang kamu tidak menyukai anak itu dan membenci status istrimu dulu, jangan berpikir untuk menyakiti mereka dengan sikapmu. Kembalikan saja kalau memang tidak sanggup. Anak cucuku tidak pernah sengsara hidup denganku!”
Well, seharusnya lelaki manapun berpikir dua kali karena ini. Bersabarlah, tuan!
            Ibuku bilang, dia perempuan yang paling teguh dengan pendirian. Dia perempuan yang mampu berdiri di atas dua kakinya, meskipun diterpa angin kencang dari arah mana saja.
Ditinggalkan saat mengandung, disisihkan karena statusnya sebagai janda beranak satu, itu tidak pernah membuatnya berpikir bahwa harga dirinya bisa diremehkan begitu saja. Siapapun mereka yang bisa bersikap semena-mena dengannya, jangan harap akan mendapat dengan mudah keterbukannya kembali. Dia tidak pernah mengharapkan belas-kasih siapapun, karena dia terbiasa dengan didikan di madrasah pertamanya untuk hidup mandiri. Maka begitulah sosoknya. Dia manis, tapi dia bukanlah tebu yang bisa dicicipi lalu dibuang begitu saja. Dia bisa hidup dan menghidupi keturunannya dengan kedua tangannya sendiri. Dia akan menunjukan kepada siapapun, sepeninggalnya nanti, dia tidak akan meninggalkan hutang melainkan sebuah kapal berisi barang dagangannya untuk diwariskan. Dialah wanita bermata sipit dan berkulit putih yang paling tangguh.
Aku mengangguminya sebagaimana Ibuku yang selalu memujinya.
            Ibuku bilang, dia lelaki berdarah tionghoa yang paling tampan. Dan aku setuju, meskipun frame berisi fotonya tidak terselamatkan dari kejadian si jago merah 18 tahun yang lalu.
Aku tidak memerlukan sebuah barang bukti dari selembar kertas berisi gambar, saat orang yang diceritakan tengah tersenyum kepadaku setiap kali aku datang menemuinya. Walaupun rambut itu sudah memutih hampir keseluruhan, kulit beningnya terbakar oleh cahaya matahari di tengah luasnya sebuah perkebunan, di wajah dan tangannya nyata setiap lipat keriputan, tapi wibawa seorang laki-laki berumur 70 tahunan itu tidak akan sirna dikikis zaman. Dari pundaknya yang tegap telah memancarkan bahwa dirinya lelaki mandiri. Kenangan pahitnya bahkan semenjak tingginya belum mencapai 1 meter, sudah membentuknya sebagai lelaki yang gagah. Dia tampan! Aku tidak pernah menampiknya.
Aku menyukai setiap kali ia memanggilku dengan panggilan kesayangannya. Dan aku sangat menyukai apabila ia membelaku. Ia bilang dari mataku, sejarah laki-laki yang bermimpi di tengah kegagalan fungsi otak itu terbaca dengan jelas. Pada tubuhku mengalir darah marga mereka, bukan marga yang lain.
Ya, aku menyukai ini, sebagaimana aku menyukainya sebagai kakekku.
            Dia perempuan yang cantik. Tapi Ibuku tidak pernah mengatakannya. Ibuku tidak pernah memujinya. Aku melihatnya hanya dalam sebuah lembar foto hitam putih kecil berukuran 3 x 4 yang sisi-sisinya telah robek karena usia. Foto itu aku dapatkan dari tangan seorang wanita tua berumur 90 tahunan lebih. Ia menangis saat menyerahkannya kepadaku sambil memberi tahu bahwa itulah nenekku.
Seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa hanya bisa memandanginya dengan nanar. Ibuku tersenyum meski kutahu di dalam hatinya bergetar. Mungkin dulu aku sulit untuk mengerti, tapi sekarang semua sudah jelas sekali. Dia tidak mungkin bisa menjelaskannya secara rinci. Aku tidak mungkin memaksanya bercerita lebih banyak ketimbang menceritakan seorang wanita tionghoa yang sudah merawatnya hingga dewasa. Karena dia tidak melihat orang itu. Ia tidak ingat bahkan jika harus dipaksa sekalipun. Bahkan bagaimanapun wanita tua itu menceritakan kejadian pada ba’da jum’at puluhan tahun yang lalu, ia tidak akan pernah sanggup.
Ya, aku mengerti ini, Ibu, sebagaimana engkau mengerti semua hal tentangku
Kampung Halaman, 31 Juli 2013

  Rima Ha

12 September 2013

Sebagian ada yang mengharapkan untuk cepat-cepat menginjak angka itu, sebagian lagi terdiam di tempat sambil celingak-celinguk dengan pertanyaannya: 'apakah benar aku di sini? Siapa yang mengantarkanku ke sini?', lalu sebagian yang lain tenggelam dalam kegalauannya sendiri: 'apa yang sudah kulakukan sementara waktu berlalu begitu cepat?'
Ketika itu kita tidak sadar, bahwa nikmat yang tak terhitung banyaknya, luput untuk kita syukuri...

Ketika otak saya mentok dan enggak bisa nulis satu kalimat pun yang terasa pas, pada saat itu rasanya saya pengen teriak dan jedotin kepala ke dinding. Tapi, sebelumnya saya sadar, bahwa jangankan untuk berteriak, mau ngomong aja susahnya minta ampun, filek saya yang kemarin dikira bakal hilang dalam hitungan jam, tiba-tiba memperparah keadaan dengan menyerang bagian tenggorokan saya -__-
Mau jedotin kepala di dinding? Berani? Ingat, sekarang bukan dikostan lagi 

 (Status FB Rima CiiDdeqleqq 12/09/13)
Gue lagi ngambang, nih. Enggak bisa nulis sama sekali. Dari mulai setengah jam yang lalu, gue sendirian mantengin layar laptop di luar, sementara temen-temen gue yang lain udah pada hanyut di dalam iler masing-masing.

Awalnya tadi kepikiran mau nulis tentang masalalu gitu, ya, gimana dulu waktu gue kecil dan sering banget main ke kawasan tempat gue sekarang berada. Waktu masih kecil itu, masih unyu-unyunya dengan daki yang masih sering melingkar di leher, gue enjoy aja datang ke sini sebagai anak kampung yang jalan-jalan ke Kabupaten buat jengukin kakaknya yang lagi nyelesein tugas magang,

Kawasan Jafar Seman di Kelurahan Baru, Tenggarong. 

Dan sekarang, takdir gue yang bersekolah di salah satu sekolah menengah atas swasta, menghantarkan gue kembali dan tinggal di daerah yang sama dengan tempat gue bermain-main dulu waktu kecilnya. Satu tahun yang lalu, gue emang udah tinggal di sini (di Tenggarong) tapi di kelurahan sebelah sebagai anak kost, tapi sekarang, gue udah jadi anak asrama mamen, dan tempatnya ya di sini, di Jafar Seman. Tiba-tiba ingatan-ingatan masa yang silam terkuak lagi. Apalagi pas gue lewat di depan jejeran rumah-rumah kontrakan tempat kakak gue dulu tinggal beberapa bulan di sana. Bentuknya masih sama, cuman catnya udah diperbaharui. Enggak kusam-kusam kayak dulu lagi.

Hampir setiap temen gue yang gue bonceng dan begitu kita ngelewatin kawasan ini, gue bakal cerita panjang lebar, "Dulu di sini tempat gue main pas masih bocah ingusan," dan tanggapan temen gue pun bermacam-macam.

Dan begitu gue sendirian, gue bakal bawa motor sepelan mungkin, sambil menghayati daerah ini. Dulu di depan kontrakan kakak gue, ada rumah yang baru dibangun, dan sekarang ternyata udah jadi sebuah tempat pembelian motor. Mewah banget!

Gue juga inget, dulu, malem-malem pas mati lampu, gue baring desek-desekan bareng ayah sama ibu gue di kamar tengah yang disedian buat ngobrol sama tamu, cerita-ceritaan gitu, sampai akhirnya gue tergoda dengan kelintingan suara piringnya pak lek penjual tahu tek-tek. Dan malam itu adalah malam bersejarah buat gue: malam pertama gue ngersain yang namanya tahu tek-tek. Setelah makan dengan polosnya gue bilang, "Ini bukannya gado-gado?"

Pernah juga waktu itu gue gelisah cuman karena janji ayah gue yang mau ngajak ke museum. Sedikit-sedikit gue ngedeketin ayah, lalu masuk kamar tempat kakak tidur, sebentar-sebentar jengukin ibu yang lagi masak di dapur. Ayah gue enggak nunjukin gelagat dia bakal nepatin janjinya, malah kayak biasa gitu, gue jadi takut kalau-kalau ayah gue lupa mau ngajak gue ke museum Mulawarman.

Tahu sendiri kalau dari kecil gue orangnya enggak bisa dijanjiin, pokoknya sampai kapanpun bakal gue tagih. Begitu ayah gue minta diinjakin punggungnya (Iye, ayah gue kalau pegel memang sering minta anak-anaknya naik ke punggung dia) gue langsung bilang, "Upahnya ke museum," ayah gue cuman bilang, "Iya, nanti," gue sahut, "Tapi hari ini," ayah cuman ngerespon dengan deheman setelahnya.

Dan singkat cerita hari itu gue berhasil ngewujudin impian gue buat jalan-jalan ke museum. Tempat yang paling pengen banget gue kunjung waktu itu ialah Goa Kombeng, ini karena cerita guru gue di sekolah. Dia bilang Goa Kombeng itu dulunya sebuah desa yang dikutuk jadi batu, dan Goanya ada di Museum. Gue terobsesi banget dan syukurnya kakak ipar gue yang dulunya masih berstatus sebagai pacar kakak gue rajin ngasih tau tata letaknya di mana. Syukurlah waktu itu belum ada istilah kepo buat gue.

Namun sayang, hari itu gue emang berhasil ke museum, tapi enggak buat nemuin Goa Kombengnya. Gue udah keliling ke sana kemari, sambil nenteng hape Nokia berkemara yang dulunya sering disebut hape getas, karena bentuknya kayak kue getas. Niatnya nyiapin buat foto di depan Goa Kombeng, biar entar gue pamerin di kelas: Ye, gue udah ngeliat Goa Kombeng! Gue udah liat! Lo, lo semua pasti belum pernah ke Museum, kan? Ih, kasian banget. Gue udah ke sana lagi bareng ayah. Museum gede banget. Di sana gue foto-foto, dan ini foto gue di depan Goa Kombeng. Senyam-senyum gue ngbayanginnya.

Tapi, karena bukan nasib, Atau emang Allah tahu niatnya cuman buat pamer, akhirnya gue enggak kesampean mau berfoto di depan goa kombeng. Gue sama bapak udah muter-muter berapa kali. Dan pada akhirnya enggak ketemu juga. Jadilah, gue cuman berfoto di bagian tengah museum, di dekat miniatur orang-orang pendulang emas (waktu itu pemikiran gue: tempat ini Goa Kombengnya. Soalnya di sana ada patung-patung batu manusia gitu). Gue sama bapak manggil tukang foto sekali jadi, dan mengambil di pojokan. Hasilnya... muka gue sama bapak gelap -___- Dalam hati gue bilang: ini pasti karena kamera tukang fotonya deh yang bermasalah.

Keluar dari museum, gue sama bapak kehujanan di jalan, dan tiba-tiba aja motor bapak mogok, "Udah dibilangin, kan. Motor ini enggak pernah tahan kalau dibawa ujan-ujanan," gue cuman celingukan, cariin orang yang diomelin sama bapak.

Selesai ujan, dan motor bapak mau jalan lagi, kita langsung bergegas menuju kontrakan kakak. Di sana gue cerita pengalaman gue sama orang-orang rumah, dan kebetulan waktu itu pacarnya kakak gue datang, "Kak, ini bukan Goa Kombengnya?"

"Di mana ni?"

"Di tengah museum,"

"Ya, elah. Kan udah dibilangin, Goa Kombeng itu di belakang museum, bukan di tengah. Dia enggak di dalam, tapi di dekat kuburan Raja,"

Gue ngangguk-ngangguk takzim akan kebodohan gue.

Mengingatnya, gue lagi-lagi senyam-senyum doang. Betapa polosnya gue waktu itu. Enggak pernah ada beban kayak sekarang. Enggak pernah galau mikirin nanti mau gimana dan jadi apa. 

Waktu kecil, kayaknya apa yang kita inginkan pasti tercapai. Kayak di pengalaman di Museum ini. Entah kenapa, gue kayak ngerasa gue itu lebih ngototan pas lagi kecil daripada udah gede kayak sekarang. Ketika orang bilang nanyain tentang cita-cita gue, dengan santainya gue jawab sambil ngehirup sisa sayur asam mamak di piring gue, "Gubernur,"

Rasanya gimana ya... ya, kayak dulu itu semuanya enggak ada yang mustahil gitu pokoknya. Enggak kayak sekarang, ketika ditanya mau jadi apa, perlu mikir-mikir dulu mau jawabnya gimana. Padahal di hati udah kepingin banget ngungkapin: "Aku mau jadi dosen fisika!" atau "Aku mau jadi Diplomat!" rasanya, mau ngeluarin kata-kata itu kayak mau ngeluarin bola bekel yang nyangkut di tenggorokan, susah!

Tapi, mau gimana lagi, kayaknya semua orang pasti ngalamin ini.

Untunglah sekarang, gue dekat dengan orang-orang yang punya semangat optimisme. Bapak asrama tempat gue tinggal bareng temen-temen seperjuangan gue adalah orang yang berpengaruh di wilayah Kaltim, terutama di daerah Kukar. Beliau selalu memberikan petuah-petuahnya yang membuat peti-peti mimpi kami kembali terkuak satu persatu.

Suatu hari beliau bertitah, "Semakin ilmu itu susah untuk didapatkan, maka akan semakin melekat dalam otak kita,"

Apapun itu, jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Bermanfaat bagi agama, bangsa dan keluarga. 
In dorm, 12/09/13

Rima. Ha

 

Selasa, 10 September 2013

I JUST WANNA SAY (Drabble)



Title: I Just Wanna Say I Love You
Author: Araiemei
Cast: Lee Jihyun (OC)
Yoo Seungho
Genre: Romance
Rate: General
-
Lagi enggak bisa bikin cover :D
^^-^^
Malam itu dingin sekali. Aku membungkus tubuhku dalam-dalam dengan selimut. Baru saja pulang dari lembur di supermarket cukup membuatku merasakan bahwa otot-ototku menjadi kaku dan seluruh persendianku ngilu.
            Entah sudah berapa jam aku hanya membolak-balik posisi di atas tempat tidur. Tidak bisa memejamkan mata sama sekali dari tadi. Aku yang biasanya selalu terlelap dengan cepat apabila cuaca dingin seperti, namun ternyata tidak dengan hari ini. Beberapa percakapan yang berhasil kudengar dari karyawan-karyawan lain saat tengah membereskan barang-barang di locker cukup berhasil menganggu pikiranku sampai sekarang.
            “Jeongmal?”
            “Ne, aku mendengarnya dari Yooweon. Dia bilang seperti itu.”
            “Ah, mungkin dia hanya membawa kabar tidak benar.”
            “Kalau soal itu sih, aku tidak tahu. Tapi, kalau memang benar bagaimana? Aish, pasti akan sulit sekali mencari pekerjaan lain.”
            “Ne, aku sudah nyaman di sini.”
            “Aku tidak ingin ada pengurangan karyawan.”
            “Aku juga!”
            “Pengurangan karyawan!” tanpa sadar, kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Pengurangan karyawan adalah hal yang sering didengarnya, malah sering terjadi kepadanya. Pada dasarnya, ia dan Seungho sudah terbiasa untuk mencari penghasilan sendiri semenjak mereka masih kecil.  
            Dia memang sering menjalaninya. Ya, pengurangan karyawan adalah hal yang lazim ia dapatkan saat bekerja, namun pada saat ini pengurangan karyawan adalah hal yang paling tidak ingin ia dengar. Jika seandainya kabar itu benar, dan ia menjadi salah satu dari mereka yang dikeluarkan, Jihyun berpikir ujian besar akan kembali datang kepadanya. Saat ini, ia tengah sibuk menyelesaikan tugas akhir sekolahnya, juga berburu untuk mendapatkan beasiswa impiannnya, maka untuk mencari pekerjaan yang lain pasti akan menganggu konsentrasinya. Ia sudah nyaman dengan jadwalnya saat ini. Menjadi mahasiswa yang tengah merampungkan tugas akhir, dan karyawan tetap yang pasti mendapatkan gaji setiap bulan.
            Jihyun termangu di atas tempat tidurnya. Menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, melainkan pusing. Pusing memikirkan hal-hal buruk yang akan terjadi kepadanya.
            Sampai suara dering handphone di samping bantalnya berbunyi membuat buyar pikiran Jihyun. Ia mendapati nama seseorang tertera di sana memanggilnya.
            “Seungi,” gumamnya begitu meraih benda persegi itu.
            Untuk apa ia memanggilnya malam-malam seperti ini? Bukankah biasanya sudah terlelap? Tiba-tiba pemikiran tidak benar mampir ke otak Jihyun. Bagaimana kalau Seungho sebenarnya belum ada di rumah? Dan dia mengalami hal tidak-tidak di luar sana? Ya, bukankah mereka tidak pulang bersama-sama tadi.
            “Ne, seungi-aa. Eodiseo?” tanya langsung begitu mengangkat panggilan tersebut.
            “Wae?” sahut orang di telepon itu, “aku di kamar. Kau kenapa? Suaramu seperti tidak dalam keadaan-“
            “Ah, gwenchana,” potong Jihyun saat itu juga, “kau kenapa menelponku? Inikan sudah malam? Kau belum tidur?” lalu merebahkan kembali tubuhnya ke kasur.
            “Aku tidak bisa tidur,” sahut Seungho.
            “Wae?”
            Seungho menghembuskan nafas, mengangkat tangannya untuk menjadi selat antara kepalanya dengan bantal, “I can’t stop think about you, Jihyun-aa. Ah, aku pikir, aku sudah mulai merindukanmu sekarang,” ia terkekeh kemudian.
            “Aish!” dengus Jihyun, “bilang saja sudah dari dulu!”
            “Kenapa kau bisa tahu? Apa kau juga merasakan hal yang sama dari dulu?”
            “Eoh?” kaget Jihyun, “percaya diri sekali!”
            Seungho tergelak, lalu diam seketika. Tiba-tiba suaranya menghilang begitu saja. Jihyun mengernyitkan kening. Ia menatap layar handphonenya. Panggilan itu belum terputus.
            Ia kembali menempelkan benda itu ke telinganya, “Wae?” tanyanya, “apa yang terjadi padamu, eoh? Kau sudah tidur?”
            “...”
            “Seungi-aa!”
            “...”
            “Ah, sepertinya kau memang sudah tidur. Geurrom, aku matikan, ya?” bisiknya.
            “Saranghae,” ucap seseorang tiba-tiba. Jihyun seketika kaku di tempat. Ia bahkan belum sempat menggeser handphone itu dari telinganya sedikitpun. Dan tiba-tiba suara itu menyerang jantungnya begitu saja.
            “Saranghae, Lee Jihyun,” ujarnya sekali lagi, bahkan saat Jihyun belum mengeluarkan jawaban apapun.
            “Eoh?”
            “Wae?” tanya suara berat itu dari speaker handphone Jihyun. Suara yang selalu dirindukannya setiap saat, padahal kenyatannya mereka selalu bertemu setiap hari. “Hanya ingin mengatakan kalau aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.”
            “Ah,” Jihyun kembali sadar secara utuh, ia mengangguk. “Nado,” ucapnya di tengah gejolak perasaan yang tidak bisa dijabarkan dengan apapun. Jihyun bisa merasakan bagaimana hangatnya wajahnya saat itu. Tentang jantungnya yang bekerja secara abnormal pun, ia sadar.
            “Jalja!”
            Jihyun mengangguk, seolah-olah Seungho berada di sampingnya saat itu.
            “Jaljayo!”
            Dan malam itu, Jihyun berhasil meredam pikiran kusutnya hanya karena sebuah panggilan dari seseorang yang sangat ia rindukan.
*